Hak Mahasiswa

1 01 2008

111.jpgSaya tertarik menulis tentang topik ini setelah membaca berita di Detik Com 31/12/2007 berjudul “Mahasiswa Hilang di Gunung Agung, Kampus Panggil Ortu.

Berita tersebut menceritakan tentang tiga mahasiswa sebuah universitas swasta di Bandung yang hilang ketiga mendaki Gunung Agung, Bali. Orang tua ketiga mahasiswa diundang pihak universitas ke Bandung. (Foto kiri: http://www.viewimages.com)

Menurut Humas univeritas, tujuan pemanggilan orang tua korban adalah untuk menentukan langkah selanjutnya. Para orang tua yang diundang belum memberi jawaban, karena mereka tinggal jauh dari bandung: di Banten, Jakarta, dan Bukit Tinggi.

Sementara itu, teman-teman korban sesama pengurus Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) universitas tersebut sudah bertolak ke lokasi hilangnya anggota mereka di Gunung Agung, Bali via jalur darat dan udara.

Setelah membaca berita ini, saya teringat sebuah anekdot lama. Diceritakan dalam sebuah penerbangan terdapat tiga orang sahabat, masing-masing berasal dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Pesawat tiba-tiba mengalami kerusakan. Pilot mengumumkan kondisi tersebut dan mengaku tidak punya solusi. Pilot meminta semua penumpang menyalamatkan diri masing-masing menggunakan parasut yang tersedia, karena pesawat segera meledak.

Si Amerika langsung memasang parasut dan melompat keluar sambil meneriakkan “God Bless America.” Tidak mau terlambat, si Jepang menyusul sambil meneriakkan “Banzaaaiii.’

Saat hendak bersiap-siap melompat, pilot melihat sekelompok orang belum memasang parasut. Mereka berbicara satu sama lain, sambil minum dan makan snack. Pilot menanyakan, “apa yang kalian lakukan, ayo cepat, pesawat segera meledak.” Orang-orang tersebut, yang ternyata adalah orang-orang Indonesia menjawab, “sabar pak, kami musyawarah dan mufakat dulu.”

Berita dan anekdot di atas dapat dihubungkan secara pas. Ketika mahasiswanya hilang, pihak universitas di Bandung tersebut malah memanggil orang tua untuk bermusyawarah. Padahal, yang perlu dilakukan universitas dalam kondisi kritis seperti itu adalah mengambil tindakan langsung. Mereka mesti memastikan bawa tim penyelamat telah melakukan pencarian. Mereka juga perlu membiayai tim penyelamat professional untuk membantu. Terhadap orang tua, universitas sebaiknya menelepon mereka, atau mengunjungi mereka dan mengatakan, “pihak keluarga tenang saja, kami sedang melakukan pencarian, bantu dengan do’a.” Tapi sayang, univeritas tersebut malah mengundang untuk bermusyawarah. Bagaimana bisa bermusyawarah dengan orang tua yang panik? Lalu apa yang akan dimusyawarahkan? Musyawarah bisa menghabiskan waktu 2 hari mengingat tempat tinggal para orang tua yang terpisah. Dalam dua hari, jika masih selamat, para korban bisa kehabisan bahan makanan di gunung.

Dalam hal ini, univeritas kalah sigap dengan pengurus Mapala yang segera meluncur ke lokasi.

Kasus ini memunculkan pertanyaan, “sebenarnya apa hak mahasiswa di sebuah perguruan tinggi?”

Menurut sistem pendidikan Indonesia, ada tiga alasan berdirinya sebuah perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan adalah proses belajar-mengajar di mana mahasiswa adalah pihak yang belajar. Penelitian dan pengabdian masyarakat dilakukan oleh dosen dan atau mahasiswa.

112.jpgJelas bahwa mahasiswa memainkan sepertiga peran terpenting di perguruan tinggi. Apakah mahasiswa telah mendapat sesuatu yang sepadan dengan posisi mereka dari pengelola perguruan tinggi? (Sumber foto kiri: http://www.intisar.edu.my).

Sebagian perguruan tinggi masih memperlakukan mahasiswa sebagai objek, tidak berdaya, mesti mengikuti semua keinginan dosen dan pengelola perguruan tinggi. Bahkan yang lebih parah, mahasiswa seolah-olah tidak diberi ruang untuk memperjuangkan kepentingannya. Akhirnya mahasiswa menciptakan ruang sendiri. Demonstrasi.

Jika mahasiswa terlambat masuk kelas, bisa diusir ke luar oleh dosen. Sebaliknya jika dosen terlambat, selalu ada alasan yang mesti dibenarkan mahasiswa. Jika jumlah kehadiran mahasiswa tidak cukup, yang bersangkutan tidak boleh ikut ujian. Sebaliknya, jika jumlah kehadiaran mengajar dosen kurang, selalu ada alasan membenarkan.

Jika mahasiswa tidak bisa menjawab pertanyaan, dosen kadang-kadang memberi hukuman, nilai jelek misalnya. Tapi saat dosen tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswa, dosen berdalih ‘tidak ada manusia yang tahu segala sesuatu’ atau ‘karena anda yang bertanya maka anda dapat tugas mencari jawabannya di rumah dan besok pagi-pagi sudah ada di meja saya.’

Ketika mahasiswa terlambat membayar SPP, selalu ada hukuman atau denda. Tapi jika saat mahasiswa ingin bayar SPP loket pembayaran tutup, dengan ringannya petugas berkata ‘tadi saya sarapan dulu.’ Jika mahasiswa berkata ‘peralatan praktikum kami tidak ada,’ pengelola perguruan tinggi kadang berkilah ‘tidak ada dana,’ tapi mobil baru untuk para pejabat hilir mudik di kampus. Saat mahasiswa menuntut, ‘berikan kami internet gratis,’ pimpinan menjawab ‘permintaan anda tidak masuk akal,’ padahal selalu ada dana untuk membeli seragam dosen/pegawai.

Terlalu banyak contoh yang bisa diungkapkan tentang ketidakseimbangan peran antara mahasiswa, dosen, pegawai dan pengelola perguruan tinggi ini. Singkat kata, mahasiswa sering menjadi pihak yang tidak berdaya. Sesekali mahasiswa agak kuat ketika demonstrasi beramai-ramai. Tapi secara individu, saat sendiri-sendiri, mereka sering dalam kondisi tertekan. Padahal, semestinya mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi adalahpusat segala perhatian. Pimpinan pergurua tinggi dipilih dan pegawai-pegawai direkrut untuk melayani mereka dalam menuntut ilmu dan melakukan penelitian.

Kalau kita bandingkan dengan mahasiswa di perguruan tinggi negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dll., kondisi malah sebaliknya. Mahasiswa dan dosen di sini adalah ‘pusat segala perhatian” terpenting pimpinan dan pegawai perguruan tinggi.

Pengalaman pribadi saya selaku mahasiswa di negeri ‘orang lain’ ini membuktikan. Sebagai contoh, jika saya perlu surat, saya cukup menulis email, lalu mereka akan bekerja untuk saya hingga surat tersebut selesai. Ketika saya sakit, mereka punya dokter untuk mengobati saya secara gratis. Saat saya kesulitan mengerjakan tugas, mereka menyiapkan tenaga ahli untuk membantu saya. Ketika saya ingin mencari kerja part-time, mereka mencarikan pekerjaan untuk saya. Saat saya ingin pindah rumah, mereka mencarikan rumah untuk saya. Jika saya mengalami kejenuhan belajar, mereka memberi saya seorang psikolog untuk memotivasi saya. Ketika saya merasa nilai saya mestinya lebih baik daripada yang diberikan dosen, mereka membantu saya mengurusnya. Jika saya perlu software tertentu, mereka carikan untuk saya. Saat saya takut pulang malam dari kampus, atau ingin ke kampus saat sudah malam, mereka punya mobil dan petugas untuk mengantar dan menjemput saya (kisah ini sudah saya bahas di blog ini pada bagian BELAJAR MENULIS, masuk ke SURAT DARI TENGGARA, lalu cari artikel berjudul KEAMANAN KAMPUS).

Yang mengagumkan, semua permintaan saya itu mereka lakukan dengan penuh tanggungjawab dan gembira. Tidak ada kata-kata ketus, helaan nafas, pandangan tajam, muka masam, melambat-lambatkan pekerjaan atau penolakan.

Jika mereka bisa, perguruan tinggi kita mestinya juga bisa. Memang perlu perjuangan berat karena perubahan ini memerlukan revolusi mental para penyelenggara dan pegawai perguruan tinggi yang sudah terbentuk puluhan tahun. Tapi yang jelas, sudah saatnya kita kembalikan mahasiswa ke posisi aslinya, yaitu “satu dari tiga alasan berdirinya perguruan tinggi.” Mereka mestinya menjadi pihak yang dilayani, bukan diabaikan, dikecewakan, apalagi disakiti.

Selaku pemilik masa depan, mahasiswa perlu ketenangan dalam belajar.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: