Energi terbarukan makin mendapat tempat dalam wadah kebijakan ekonomi dunia. Makin banyak negara – terutama negara-negara maju – membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Walhasil, sekitar 36% pertumbuhan energi angin diraih tahun 2007, terutama dari pasar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia (Sumber: Renewableenergyworld). Begitu juga dengan energi surya, justru mengalami pertumbuhan lebih tinggi, hampir 50% per tahun (Sumber: Worldofrenewables).
Salah satu kelemahan dari energi surya dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan kapasitas energi besar. Sebuah inovasi kebijakan yang digagas di Amerika sungguh menarik.
Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV systems). Instalasi solar energi rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasari atas filosofi pembangkit listrik tersebar (distributed power generation), bukan terpusat sebagaimana lazimnya. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema solar power purchase agreements (PPAs) dan penyewaan atap rumah (solar leasing).
Solar system di atap Perpustakaan Universitas Murdoch Australia, almamater saya. Merupakan sistem surya tersambung jaringan listrik (grid) terbesar di Western Australia. Kapsital 26 kW terdiri dari hampir 200 panel surya, menghasilkan sekitar 30kWh energi listrik sehari. (Sumber: Murdoch University)
Sebegaimana dirilis Worldofrenewables, pemerintah kota Santa Barbara di California baru-baru ini menyewakan atap bangunan pemerintah kota untuk sistem PV berkapasitas 330 kW untuk masa 20 tahun PPA. Proyek ini tidak hanya menguntungkan secara estetika, tapi juga memberi peluang bagi 1.040 rumah untuk mendapat suplai listrik dari sistem PV. Mengingat besarnya peluang dari inovasi ini, pemerintah kota dalam waktu dekat juga akan menyewakan lokasi parkir di Santa Barbara Airport.
Desain solar sistem pada lokasi parkir. Memiliki 3 keuntungan; menghasilkan listrik, tidak memerlukan lokasi khusus, dan melindungi kendaraan dari panas sinar matahari (Foto: PV-tech)
Penyewaan atap untuk solar sistem juga penting untuk pengembangan energi surya di perkotaan, seiring dengan biaya pengadaan dan instalasi solar sistem yang makin murah.
Bagaimana Indonesia. Tertarik?

tertarik, sepertinya lebih baik dibuat proyek percontohan di daerah2 tertentu
mas kunaifi mungkin bisa melakukan feasibility analisis untuk proyek ini, sampai jelas ke angka2 dan bep-nya
siapa tahu di respons sama pemerintah mas, hehehe
oh ya, salam kenal
Memang begitulah rencananya setelah saya pulang ke tanah air, pak. Moga-moga lancar. Salam kenal juga.
Amin, saya doain. demi Indonesia tercinta
setuju bang kunaifi, apalagi untuk warga dipedalaman yang gak tersentuh listrik mungkin sangat bermanfaat teknologi seperti ini. Sama tahu aja, listrik sekarang gak mencukupi dan ditempat saya masih giliran dan masih banyak yg perlu listrik tapi daya dan kapasitasnya terbatas. Usulkan saja bang dengan pemerintah biar buat kebijakan untuk memanfaatkan teknologi ini, mumpung negara kita katanya sumber suryanya berpotensi untuk dimanfaatkan disamping panas bumi juga. wassalam
satu lagi ketinggalan, pembiayaannya tentunya harus murah praktis dan efisien, serta mudah pengoperasiannya soal
nya buat masyarakat pedesaan juga.
saya rasa investasi unuk panel surya saat ini sangan tinggi dibandingkan dengan mikrohidro. bayangkan untuk mendapatka +- 15 watt kita rogo kocek 5juta rupiah. ini sangat mahal dibandingkan dengan ,ikrohidro cuma saya luapa besar investasi untuk 500KW. mungkin kita harus bersuara biar pemerintah memberikan subsidi untuk PV sendiri…
Pak Afif.
Setahu saya, biaya investasi untuk PLTS tidak semahal yang pak Afif sebutkan (5 juta rupiah cuma dapat 15 Watt).
Dalam panduan pembangkit listrik dari energi terbarukan yang dirilis ESDM Pusat, biaya PLTS adalah US$10/Watt atau sekitar Rp.90 ribu/watt. Untuk mendapatkan 15 watt, sebenarnya pak Afif cuma butuh biaya awal 1.3 juta rupiah.
Sebagai pembanding, Aviotech International, distributor panel PV menjual panel 130 Wp seharga 6.6 juta rupiah.
Memang benar, diabandingkan dengan pembangkit diesel atau bahkan mikrohidro masih mahal. Tapi sebenarnya masalah biaya tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Jika dipandang dari biaya awal saja, mala PLTS mahal. Tapi, jika dipandang dari biaya total selama 15 tahun, misalnya, justru diesel yang paling mahal (walaupun biaya awalnya paling murah).
Nah, karena pengembangan PLTS ini kebanyakan dilakukan dalam bentuk proyek, maka hitungan yang masuk akal adalah biaya total selama kurun waktu tertentu (project lifetime).
Lifetime costs mencakup: biaya awal, biaya perawatan, biaya operasional, biaya BBM, biaya penggantian komponen, dll.