Bukti baru pemanasan global (New evidence of climate change)

7 04 2009

Jika anda ragu apakah climate change merupakan kenyataan atau tidak, mungkin hasil riset ratusan ilmuwan berbagai negara di dunia bisa membuat anda percaya bahwa perubahan iklim sudah terjadi. Jika anda masih belum percaya, mungkin laporan Steve Gorman (Reuters) berikut bisa membuat anda percaya.

Es di kutub selatan adalah komponen utama untuk menjaga suhu Bumi sejuk. Namun penipisan lapisan es kini terus berlangsung. Dari pengamatan satelit, luas kawasan es yang menipis kini mencapai 70% dari keseluruhan kutub selatan, meningkat tajam dari 40%-50% tahun 80 hingga 90an.

216

Es di kutub mencair (Foto: Dailymail)

Para ilmuwan telah bertahun-tahun berteriak tentang bahaya berkurangnya lapisan es di kutub yang berfungsi sebagai Air Conditioner (AC) raksasa bagi planet Bumi. Ketika es di kutub mencair, sinar matahari tidak lagi jatuh ke permukaan es yang terang yang bersifat memantulkan cahaya, melainkan jatuh ke air laut yang berwarna lebih gelap. Akibatnya, lebih banyak cahaya matahari di kutub diserap daripada dipantulkan, mengakibatkan panas Bumi meningkat. Hal ini terjadi akibat ulah manusia melepaskan gas rumah kaca ke udara, sehingga panas cahaya matahari terperangkap antara Bumi dan atmosfer dan mencairkan es di kutub.

Dari pengamatan satelit, luas maksimum es kutub selatan yang mencair sepanjang musim dingin 2008-09 adalah 15,2 juta kilometer persegi.

Silahkan simak berita langkapnya di SINI. Lihat juga video es mencair di kutub di SINI.

Bencana perubahan iklim memang tidak datang tiba-tiba seperti gempa bumi atau tsunami. Namun bahayanya tidak kurang mengerikan. Kita sering terlena karena perubahan sedikit demi sedikit ini tidak kita sadari.

Lakukan sesuatu, sekecil apapun, untuk Bumi dan mahluk hidup di dalamnya, termasuk manusia.





Siapa berkompromi?

20 12 2007

Oleh: Kunaifi

Riau Pos, 26 Desember 2007 (Redaksi Riau Pos mengganti judulnya menjadi “UNFCCC, Siapa yang Berkompromi?).

0442.jpg

Setelah tertunda sekitar 23 jam, konferensi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) PBB di Bali akhirnya selesai Sabtu sore (15 Desember 2007). Sidang dua pekan itu mestinya selesai Jum’at pukul 12.00 siang. Namun kata sepakat tak kunjung dicapai di hari terakhir. Penutupan ditunda paling tidak empat kali. Deadlock dipicu perbedaan pendapat negara-negara berkembang (didukung Uni Eropa) dengan Amerika (didukung Jepang dan Canada). Penyebabnya adalah penolakan Amerika dan dua sekutunya terhadap draft Bali Roadmap. Ketiga negara tersebut tidak setuju jika pada dokumen hasil UNFCCC Bali dicantumkan target negara maju (Annex 1) menurunkan emisi karbon sebesar 25-40 persen di bawah level 1999 pada 2020.

Lobi-lobi tingkat tinggi diupayakan untuk melunakkan Amerika, termasuk oleh Al Gore, mantan presiden Amerika, pemenang hadiah Nobel Perdaiaman 2007. Dia menghimbau agar Amerika tidak menghalangi UNFCCC menuju kesepakatan. Dia bahkan sempat mengusulkan supaya isu berkaitan Amerika dikesampingkan dulu. Dibicarakan pada pertemuan lain. Namun himbauan Al Gore tidak membuahkan hasil. Lalu presiden COP-13 Rahmat Witoelar mambagi delegasi menjadi dua kelompok guna mengurangi debat berkepanjangan di sidang pleno. Usaha ini juga kandas. Akhirnya Presiden SBY dan Sekjen PBB Ban Ki-moon kembali ke ruang sidang Sabtu pagi. SBY memberi ‘tekanan’ supaya sidang segera mengambil keputusan, dan menghasilkan sesuatu. Sedangkan Ban menyampaikan kekecewaan atas situasi memanas. “Tugas anda semua belum selesai, setiap orang mesti membuka diri untuk kompromi,” kata Ban. Upaya ini juga tidak mempan melunakkan hati kedua pihak. Maka terjadilah peristiwa mengharukan. Sekjen UNFCCC Yvo de Boer yang melanjutkan memimpin sidang, seperti tidak sanggup menahan gumpalan perasaan di dada. Dia menangis. “Saya kecewa dan dikhianati. Ada deal-deal di luar sepengetahuan saya,” kata dia (Detikcom).

Sepenting apa peran Amerika dan dua sekutunya sehingga mampu berhadapan sama kuat dengan 177 negara peserta lain? Menurut ketua delegasi Indonesia Prof Emil Salim, ketiga negara tersebut menyumbang lebih separuh emisi gas rumah kaca dunia. Amerika menempati posisi teratas (36 persen), disusul Jepang (18 persen) dan Kanada (8 persen). Jika mereka tidak ikut dalam ‘gerbong’ pencegahan climate change, segala hasil konferensi, bahkan Protokol Kyoto sekalipun, tidak akan membuahkan hasil berarti. Negara-negara lain bisa kehilangan motivasi, lalu ikut-ikutan tidak melakukan apa-apa menyelamatkan Bumi.

Bali Roadmap adalah dokumen memuat arahan dan agenda sidang-sidang berikut. Sidang pertama dilakukan 2008 di Warsawa. Setahun kemudian, diadakan sidang final di Copenhagen. Target pembicaraan dua tahun tersebut adalah menyepakati pengganti Protokol Kyoto yang akan kadaluarsa 2012. Di Copenhagen juga akan ditetapkan persentase pengurangan emisi karbon masing-masing negara.

Hal positif dari Bali Roadmap adalah terdapat empat pilar sebagai tonggak awal upaya penyelamatan Bumi dari bencana global warming. Pilar pertama adalah mitigasi. Perundingan-perundingan terkait mitigasi adalah paling panas, membuat sidang deadlock berkali-kali. Awalnya, di sini terdapat kewajiban negara maju menurunkan emisi karbon. Inilah yang ditentang Amerika, Jepang dan Canada. Pada pilar ini juga dibahas skema Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD). REDD mengatur mekanisme perdagangan karbon antara negara maju dan negara berkembang. Banyak kalangan menilai REDD sebagai konsep adil karena menuntut komitmen kedua belah pihak; negara berkembang dituntut memelihara hutan untuk menyerap karbon, terutama yang dihasilkan negara-negara maju. Sebagai imbalan, negara maju akan membayar negara berkembang atas ‘jasa’ tersebut. Namun aktivis lingkungan, terutama Walhi justru melihat mekanisme tersebut sebagai tidak efektif. Walhi meyakini bahwa dagang karbon tidak membuat negara maju mengurangi emisi karbon, malah mendorong mereka semakin semena-mena melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer, karena mereka membayar.

Pilar lain dalam Bali Roadmap adalah adaptasi, teknologi, dan pendanaan. Mekanisme yang akan diwujudkan dalam bentuk transfer teknologi tersebut adalah salah satu capaian bagus dari UNFCCC Bali. Transfer teknologi penting bagi negara-negara berkembang, terutama Cina dan India yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi menakjubkan. Dengan mekanisme dan pendanaan transfer teknologi, negara berkembang tidak perlu mengorbankan ekonomi terlalu besar ketika mengurangi emisi karbon. Terdapat nuansa lebih harmonis di sini.

Berita-berita pada Sabtu (15 Desember 2007) sore menyebutkan bahwa Amerika akhirnya berkompromi. Keputusan yang disebut ‘mengejutkan’ tersebut disambut gembira seluruh delegasi. Tapi sebenarnya siapa berkompomi? Amerika dan kawan-kawan bersedia sepakat setelah negara berkembang setuju bahwa titik berat pengendalian global warming dibagi rata antara negara berkembang dan negara maju. Sikap mereka mencair juga setelah negara berkembang setuju bahwa kewajiban menurunkan emisi karbon 25-40 persen dari level 1999 tahun 2020 dihilangkan dari preambule Bali Roadmap. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya negara berkembang, bukan Amerika dan sekutunya yang berkompromi (baca: mengalah). Jelas, keinginan sebagian besar bangsa meminta tanggung jawab Amerika selaku penghasil emisi karbon terbesar dunia belum berhasil.

Maka tidak ada yang ‘luar biasa’ dihasilkan UNFCCC Bali. Kekurangan utama Bali Roadmap adalah penghapusan kewajiban negara maju mengurangi emisi 20-40 persen tersebut. Dengan kata lain, Bali Roadmap memang hanya sekedar peta jalan, tanpa komitmen apapun. Semua negara masih leluasa menghamburkan karbon ke udara sesukanya. Sepertinya, sidang sebesar UNFCCC yang diselenggarakan institusi sebeesar PBB mubazir jika hanya menghasilkan sebuah roadmap.

Amerika masih seperti dulu, ‘keras kepala.’ Padahal Australia, satu-satunya sekutu Amerika yang menolak Protokol Kyoto telah berpaling. Negeri Kangguru meratifikasi protokol dunia itu di awal sidang. Amerika tetap tidak mengakui Protokol Kyoto, Juga tidak mengakui temuan ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tentang climate change dan target penurunan emisi tiap negara. Sikap Paman Sam perlu disesalkan.

Keterlibatan Jepang dan Canada sebagai ’sekutu’ dadakan Amerika di UNFCCC Bali juga menarik disimak. Ketiga negara punya kepentingan sama. Jika digabung, ketiganya menyumbang lebih separuh emisi karbon dunia. Kesuksesan menghilangkan angka 25-40 persen membuat posisi mereka tidak terusik, minimal hingga 2009. Mereka tidak dibebani kewajiban menurunkan emisi karbon, dalam bahasa mereka, “tidak perlu mengorbankan ekonomi dalam negeri.” Sangat ironis, karena Canada adalah penandatangan Protokol Kyoto, dan Jepang bahkan sekaligus menjadi pelaksana konferensi yang melahirkan protokol tersebut pada 1997.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan helat besar ini, sidang ini merupakan prestasi tersendiri bagi Indonesia. Tidak berlebihan jika dunia mengucapkan selamat pada presiden SBY, Meneg LH sekaligus Presiden Conference of the Parties (COP) 13 Rachmat Witoelar, ketua delegasi Indonesia Prof Emil Salim, Menlu Hassan Wirajuda dan seluruh delegasi atas kepiawaian mereka di meja sidang.

Ban Ki-moon mengingatkan, “Ini adalah awal, bukan akhir. Kita masih punya perundingan lebih panjang, lebih kompleks dan lebih sulit.” Persidangan Warsawa dan Kopenhagen mesti meyakinkan bahwa pengganti Protokol Kyoto akan menjadi solusi bagi kesinambungan hidup di Bumi. Setiap negara mesti mendapat tanggungjawab proporsional dengan kontribusi pada kerusakan atau kelestarian Bumi. “Jangan sampai Road Map menjadi “Road Kill,” kata Greenpeace Australia.

Padahal, Amerika punya kata-kata bijak seperti, “Kita bukan mewarisi planet ini dari generasi terhadulu, tapi kita meminjamnya dari generasi yang akan datang.” Amerika juga punya senator yang punya kata-kata “Sains telah mengatakan bahwa pemanasan iklim adalah nyata, makin lama menunggu, makin sulit masalah ini ditangani.”

Kali ini kita mesti lebih banyak berdo’a.

Penulis adalah dosen UIN Suska Riau

Kini belajar Energy Studies di Australia




Akhirnya Amerika sepakat.

15 12 2007

Menurut jadwal, sidang UNFCCC PBB di Bali yang dimulai 4 Desember 2007 mestinya berakhir Jum’at 14 Desember pukul 12 siang. Tapi situasi di gedung sidang berbicara lain. Beberapa kali terjadi perdebatan yang berujung deadlock. Penyebab deadlock adalah karena Amerika keras kepala tidak menyepakati konsensus.

Sepenting itukah peran Amerika dan sekutunya sehingga bisa menggalkan kesepakatan 177 negara lain? Menurut Emil Salim, tanpa keikutsertaan ketiga negara itu, segala hasil konferensi-termasuk Protokol Kyoto tidak bias berjalan. Amerika adalah negara yang emisi gas rumah kacanya paling tinggi di dunia (36%), disusul Jepang 18% dan Kanada 8%. Jika mereka tidak ikut dalam gerbong pencegahan climate change, usaha negara-negara lain tidak akan membuahkan hasil berarti. Akhirnya negara-negara lain bisa patah semangat, lalu ikut-ikutan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Bumi.

Awal deadlock disebabkan tarik-menarik antara Amerika dan Uni Eropa. Negara-negara Uni Eropa sudah menyatakan kesediaan mengurangi emisi gas rumah kaca 25-40 % di bawah tingkat emisi 1999 pada tahun 2020, sebagaimana akan dicantumkan pada preambule Bali Road Map. Tapi delegasi Amerika tidak bersedia pencantuman itu, karena akan mengikat mereka. Amerika membuat alasan bahwa target itu mestinya dibicarakan pada sidang di Denmark 2009, bukan sekarang. Sikap Amerika makin kokok karena didukung oleh Jepang dan Canada. Sidang yang mestinya diakhiri pukul 12.00 diundur menjadi pukul 15.00 Jum’at 14 Desember 2007.

094.jpg

Foto:http://unfccc.int/2860.php

Lobi-lobi tingkat tinggi telah diupayakan untuk melunakkan sikap Amerika, termasuk oleh Al Gore, mantan presiden Amerika dan pemenang hadiah Nobel Perdaiaman 2007. Al Gore menghimbau supaya Amerika tidak menghalangi keberhasilan UNFCCC yang diikuti oleh 190 negara itu. Karena khwatir UNFCCC yang berlangsung selama dua pecan itu tidak menghasilkan apa-apa, Al Gore bahkan sempat mengusulkan supaya isu yang berkaitan dengan Amerika dikesampingkan dulu untuk dibicarakan di Polandia pada 2008. Tapi Amerika dan dua seukutu barunya bergeming. Akibatnya, penundaan penutupan sidang kembali dilakukan menjadi pukul 18.00 WITA.

Pimpinan sidang berusaha sekuat tenaga supaya sidang membuahkan hasil, yaitu Bali Road Map. Salah satu strategi yang ditempuh Presiden COP-13 Rahmat Witular adalah memecah delegasi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 20 negara membahas soal mitigasi, adaptasi, teknologi dan pendanaan. Sedangkan kelompok kedua membahas pembukaan (preambule) Bali Road Map. Batas waktu pukul 18.00 telah lewat. Tapi hingga pukul 21.00 delegasi Amerika masih bergeming. Penutupan sidang diundur lagi menjadi pukul 23.00.

Para delegasi sudah sangat lelah, kata putus belum juga tercapai, Amerika masih bertahan dengan penolakannya. Pukul 23.00 panitia mengumumkan sidang akan ditutup pukul 8.00 Sabtu. Peserta diberi waktu hingga pukul 03.00 dinihari untuk mengambil keputusan. Tapi hingga pukul 03.00 dinihari, tetap tidak ada kesepakatan dihasilkan. Saat itu, Amerika dan sekutunya punya tuntutan baru, bahwa jangan hanya negara maju yang diberikan target 20-40%, tapi negara berkembang juga mesti diberi kewajiban yang sama. Negara-negara berkembang menolak usulan tersebut dengan alasan tidak masuk akal. Negara-negara berkembang bersedia memberikan kontribusi lebih, tapi tidak mau disamakan dengan Negara maju, karena emisi karbon mereka jauh di bawah Negara maju.

Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang sedang berkunjung ke Timor Leste terpaksa memutuskan kembali ke Bali hari Sabtu pagi karena persidangan tak kunjung menampakkan titik terang. Sidang dibuka Sabtu pagi pukul 09.00 di mana para peserta menyampaikan pendapat akhir. Sebelum itu para delegasi sibuk melakukan lobi-lobi. Sidang tahap dua pagi Sabtu dimulai pukul 11.00 WITA. Tapi tidak lama, karena begitu dibuka, sidang kembali ditutup atas permintaan China, India dan Pakistan. Mereka menginginkan supaya ketua G-77, kelompok negara-negara berkembang hadir dalam persidangan.

Tidak lama kemudian SBY dan Ban Ki-Moon memasuki ruang sidang. Sebelumnya mereka melakukan pembicaraan tertutp. Kehadiran mereka adalah untuk memberikan pidato khusus guna mendesak supaya sidang dua pekan itu tidak berakhir sia-sia. Pidato SBY yang mewajibkan sidang UNFCCC menghasilkan Bali Road Map disambut meriah para delegasi. Setelah itu Ban Ki-Moon pun berpidato. “Saya kecewa karena sedikitnya perkembangan di sini. Ingat! Tugas anda semua belum selesai. Setiap orang mesti membuka diri untuk kompromi,” katanya.

Rupanya pidato SBY dan Ban Ki Moon tidak mempan memecahkan kebuntuan. Lalu terjadilah peristiwa mengharukan. Sekjen UNFCCC Yvo de Boer yang melanjutkan memimpin sidang, akhirnya tidak dapat menahan gumpalan perasaan di dadanya. Dia menangis, lalu walk out. “Saya kecewa dan dikhianati, karena ada deal-deal di luar sepengetahuan saya,” kata de Boer (Detik Com). Adanya deal-deal di luar konferensi dibenarkan delegasi Australia “Ternyata ada deal-deal tanpa sepengetahuan de Boer, yang menganggu proses utama konferensi ini,” katanya. Hingga pukul 14.00 WITA sidang masih berlangsung. Para delegasi belum makan siang.

Tidak lama kemudian terjadi sesuatu yang mengejutkan. Amerika berubah pikiran. Karena terus-menerus ditekan, delegasi senior AS Paula Dobriansky akhirnya menyatakan AS menerima konsensus yang dihasilkan dalam konferensi. “Kami akan terus bergerak maju dan bergabung dalam konsensus dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ini, meski ini memiliki syarat-syarat komitmen dari negara-negara berkembang. Kami sudah datang jauh-jauh dan ingin meyakinkan semuanya bahwa kami ikut konsensus yang dihasilkan hari ini,” kata Dobriansky (Detik Com 15 Des 07).

Hassan Wirajuda menyatakan kegembiraannya atas perkembangan sangat penting itu. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya delegasi AS berada pada posisi dilematis. Di satu sisi mereka mendapat tekanan hebat dari negara peserta. Tapi di sisi lain mereka mendapat misi khusus dari pemerintahnya (Detik Com 15 Des 07).

Ketagangan sidang langsung mereka setelah Amerika menyatakan sepakat. Bali Road Map disepakati semua negara paserta UNFCCC. Masih ada satu hal penting yang mengganjal, bahwa Amerika tetap tidak menandatangani Protokol Kyoto. Sidang pleno ditutup pukul 16.10 WITA. Welcome the better future for Earth.





Akankah UNFCCC Bali berakhir sia-sia?

14 12 2007

Kalau ditanya negara mana yang paling bebal di dunia, jawabannya adalah Jepang, Kanada dan tentu saja Amerika. Ikuti laporan Detik Com tanggal 14 Desember 2007, 2 jam setelah penutupan konferensi PBB tentang climate change (UNFCCC) di Bali.

Gagal Sepakati Bali Road Map
Ari Saputra – detikcom

Masa depan Bali Road Map kian suram. Tiga negara maju, AS, Kanada dan Jepang mematahkan semangat 177 negara peserta Konferensi Perubahan Iklim (UNCCC). Alhasil, UNCCC hanya berisi pernyataan umum tanpa ada mekanisme praktis untuk mencegah pemanasan global.

“Menurut perkiraan saya draft yang sampai sekarang masih dibuat, hanya sebatas berisi pernyataan umum,” kata Munir Akram, Ketua Group of 77 (G-77) dan China, dalam jumpa pers di Bali International Convention Centre (BICC), Jumat (14/12/2007).

Sayangnya, Munir tidak mau menyebut persis negara mana yang mengganjal kesepakatan tersebut. Akan tetapi, diduga kuat tiga negara maju yakni AS, Kanada dan Jepang yang menolak kesepakatan tersebut. Sebab, AS sampai pukul 21.00 Wita belum mau untuk menyepakati protokol Kyoto. Kanada dan Jepang mendukung AS.

“Ada beberapa negara yang bersikap agnostis, acuh tak acuh, terhadap temuan ilmiah IPPC. Sebab, jika mereka mengakui temuan IPPC maka mereka harus siap menjalankan rekomendasi IPPC,” ujarnya.

IPPC adalah riset ilmiah yang merekomendasikan negara maju menurunkan emisi sebesar 20-40 persen pada tahun 2020.

091.jpg

Foto: www.smh.com.au

Sebagai catatan, UNFCCC dihadiri 10.000 peserta dari 180 negara dan 144 menteri. Selama 2 minggu menggelar konferensi total uang yang dihabiskan diperkirakan mencapai Rp 144 miliar.





Batubara, monster lingkungan.

14 12 2007

058.jpgBanyak negara kini mengembangkan energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga air dan tenaga angin untuk menghasilkan listrik. Tapi pada saat yang sama dua negara kaya baru, penggerak ekonomi utama Asia (juga dunia), China dan India malah meningkatkan konsumsi batu bara. Mereka diperkirakan akan sangat tergantung pada batubara selaku sumber energy kotor selama beberapa dekade ke depan.

Saat sebagian besar perwakilan negara-negara yang bersidang dalam konferensi perubahan iklim (UNFCCC) di Bali bersepakat menurunkan emisi gas rumah kaca mereka sebagai upaya mengurangi pemanasan global, lima negara menentang. Mereka adalah China, India, Jepang, Kanada, dan tentu saja Amerika. Lima sekawan dalam “keburukan” ini menggunakan alasan klasik, bahwa kesepakatan itu akan menghambat kemajuan ekonomi mereka. Artinya, mereka tetap akan menggunakan batubara sebanyak-banyaknya.

092.jpg

Salah satu pertambangan batubara di Indonesia (GLOBAL DISTRIBUTION OF ELEMENTS)

Jika tidak memikirkan keadaan Bumi yang sudah sakit parah, batubara memang menarik, sebab murah dan tersedia dalam jumlah besar. Kontribusi batubara pada suplai energi komersial dunia pada 2006 mencapai 25 %, diikuti minyak bumi. Tapi, sehubungan dengan densitas karbonnya yang tinggi, batubara bertanggungjawab terhadap sekitar 40 % pelepasan karbon dioksida ke udara, sementara karbon dioksida menyumbang 80 % pada keseluruhan gas rumah kaca. Jadi dapat dikatakan bahwa Batubara adalah monster lingkungan. (World Renewables).

018.jpgBulan lalu, pembangkit listrik berbahan bakar batubara terbesar di Cina dengan kapasitas 4 ribu MW, mulai beroperasi. Sementara, awal tahun 2007, Cina juga mengoperasikan pembangkit-pembangkit listrik serupa dengan kapasitas total 90 ribu MW.

Bukan hanya Cina, tapi India, beberapa negara Eropa, Australia, dan tentu saja Amerika, adalah negara-negara yang membakar monster global warming ini untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. International Energy Agency (IEA) memperkirakan akan terjadi kenaikan emisi karbon dioksida di udara sebesar 57 % sejak 2005 hingga 2030, jika negara-negara ini tidak menghentikan kebiasaan buruknya.

China di akhir 2007 ini diperkirakan melampaui Amerika sekaligus menjadi negara paling banyak melepaskan karbon dioksida ke udara. Posisi ketiga ditempati Indonesia, dan India segera menyusul.

Indonesia?

Ada dua alasan mengapa Indonesia harus memperhatikan persoalan global warming secara serius. Pertama, Indonesia adalah negara ketiga penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Kedua, Indonesia adalah negara kedua yang memiliki hutan terluas di dunia setelah Brazil, disusul Congo. Jika Indonesia meningkatkan penggunaan batubara sekaligus membiarkan terjadinya pembabatan hutan (resmi atau illegal), maka Indonesia akan menjadi negara yang menghancurkan dunia.

Tapi sayang, walaupun dalam pidato-pidato para menteri dan pemimpin negeri ini mengatakan peduli terhadap global warming, belum terlihat dalam tindakan nyata. Jutaan hektar hutan Indonesia telah dibabat, baik untuk bahan baku Indah Kiat dan RAPP, maupun diubah menjadi kebun kelapa sawit. Pada saat yang sama, Indonesia membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tersebar di empat pulau dengan kapasitas total 10 ribu MW. Proyek ini adalah milik PLN dan akan dirampungkan 2009. Belum puas juga, PT ASEAN Aceh Fertilizer yang beberapa tahun belakangan tidak beroperasi, kembali akan digerakkan. Tapi tidak akan menggunakan bahan bakar gas seperti dulu, melainkan batubara.

Selamat berpidato, para petinggi.





Amerika negeri terkucil (2).

13 12 2007

084.pngTadinya Amerika punya dua sahabat kental, yaitu Australia dan Inggris. Bertiga mereka menginvasi Irak. Khusus dengan Australia, Amerika tidak mau menandatangani Protokol Kyoto, kesepakatan global yang ditandatangani 170 negara tentang upaya pencegahan perubahan iklim (climate change).

Kemudian Tony Blair berhenti jadi perdana menteri Inggris, digantikan oleh gordon Brown. Brown lalu menarik tentaranya dari Irak. Tingallah Amerika menjadi sahabat yang makin kental, sama-sama menyerang Irak dan anti Protokol Kyoto. Tapi sebulan lalu John Howard pun terjungkal dikalahkan oleh Kevin Rudd dalam pemilu Australia. Perdana menteri baru ini menandatangani Protokol Kyoto seminggu setelah dilantik dan menyatakan menarik pasukan dari Irak. Tinggallah Amerika sendiri di Irak dan sendiri menentang Protokol Kyoto. Negara besar itu telah terkucil.

0441.jpgPada konferensi global tentang climate change (UNFCCC) yang diselenggarakan PBB di Bali 4 – 14 Desember 2007, semua negara sepakat dengan Protokol Kyoto. Tapi Amerika bilang, “kami punya cara sendiri mengatasi climate change.”

Negara-negara dunia terus berunding. Salah satu kesepakatan di luar protokol Kyoto yang dihasilkan di Bali adalah REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation). Prinsip dasar REDD adalah; negara industri (negara maju) yang emisi gas rumah kacanya telah melampaui ambang batas yang ditetapkan, wajib membayar negara berkembang yang punya hutan, sebab hutan di negara berkembang itulah yang menyerap gas rumah kaca yang dihasilkan negara maju.

Semakin luas hutan sebuah negara, semakin banyak negara tersebut mendapat kompensasi uang dari negara-negara maju. Norwegia misalnya, bersetuju membayar $ 500 juta setahun atas “dosa”nya menghasilkan gas rumah kaca.

REDD dianggap sebagai salah satu cara mengatasi kerusakan hutan. Negara-negara berkembang akan termotivasi memelihara hutannya supaya mendapatkan dana kompensasi itu, bahkan mereka akan berusaha memperluas hutannya supaya mendapatkan dana lebih besar. Di pihak lain, negara maju akan berusaha mengurangi emisi gak rumah kaca, supaya mereka tidak perlu membayar banyak pada negara berkembang.

Dalam barisan negara maju yang setuju membayar atas “dosa emisi gas” ini terdapat Jerman, Norwegia, Inggris, Portugis, Jepang, Perancis, dan negara-negara Eropa lainnya. Hanya ada satu negara yang tidak mau membayar. Nama negara itu adalah Amerika.

Apakah Amerika menyumbang sedikit gas rumah kaca? Jelas tidak. Justru sebaliknya. Amerika adalah kontributor terbesar terhadap emisi gas rumah kaca dunia. Negeri ini menyumbang setidaknya 20% emisi gak rumah kaca (The US Department of Energy).





Indonesia Terancam Kehilangan 2.000 Pulau

12 12 2007

Tak tanggung-tanggung, Menteri PU Djoko Kirmanto melansir 2.000 pulau Indonesia terancam tenggelam akibat climate change. Pemerintah mulai melakukan langkah adaptasi.

“Sekitar 2.000 pulau mungkin tenggelam akibat pemanasan global. Oleh sebab itu, pemerintah telah melakukan tindakan-tindakan khusus terhadap pulau-pulau kecil,” ungkap Djoko dalam diskusi di Pavillion Indonesia, di arena UNCCC, Nusa Dua, Bali, Senin (10/12/2007).

079.jpg

Kota New York ditelan air laut, salah satu scene dalam film ‘The Day After Tomorrow’

(http://www.americanprogress.org/kf/dat.jpg)

Pemerintah sudah melakukan penelitian di pulau Nusa Penida, sehingga sudah diketahui dampak yang diakibatkan oleh kenaikan muka air laut. Selanjutnya, Departemen PU mulai menyusun indeks kerawanan kepulauan Indonesia khususnya untuk pulau-pulau kecil.

PU telah merumuskan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi untuk meredamnya. Mitigasi antara lain, pengaturan lahan hijau, konservasi tangkapan air dan konservasi rawa dan gambut.

Langkah adaptasi antara lain membuta disaster risk management dan manajemen keamanan air untuk suplai makanan. Selain itu, pemerintah juga melakukan program pengentasan kemiskinan di pulau-pulau kecil sehingga membuat mereka lebih menjaga natural buffer zone.

Sumber: Arfi Bambani Amri – detikcom 10/12/2007 13:12 WIB





Kalau Tak di Bumi, Tinggal di Planet Mana?

5 12 2007

0181.jpgAktivitas Amerika, baik industri maupun perorangannya selah menjadikan negeri itu sebagai negara penyembur karbon dioksida utama di dunia, demikian kata salah satu artikel di kompas hari ini (5/11/2007). Dengan alasan yang sama, China, India, dan Indonesia mengikut di belakang Amerika. Negara-negara berkembang lainnya pun sedang berlomba-lomba melakukan hal yang sama.

Upaya mengerem pemanasan global melalui pengurangan laju emisi karbon dioksida seperti berkejaran dengan waktu, sebab dari banyak laporan dan kesaksian, pemanasan global semakin nyata.

Hanya Bumi rumah kita!

Mari kita berandai-andai. Seandainya Bumi menjadi tidak layak huni lagi, mesti pindah ke mana manusia? Penjajakan astronomi sejauh052.jpg ini tidak memberikan harapan. Merkurius dan Venus terlalu panas dan diselimuti awan beracun. Jupiter dan planet luar lainnya terlalu dingin. Mars, tidak punya kondisi mendukung, yakni ketersediaan air dan udara. Bulan, dengan rekayasa keras, bisa diubah menjadi layak huni. Namun, ukurannya terlalu kecil.

Kehidupan telah terkunci di Bumi. Kalau bencana lingkungan membuat Bumi tak layak huni lagi, tamatlah riwayat manusia, tak ada tempat mengungsi.

Eksoplanet

053.jpgApakah ada harapan di planet-planet di luar tata surya, atau eksoplanet? Orang mengatakan, di antara 400 miliar bintang yang ada di Galaksi Bima Sakti, tentu ada banyak yang serupa Matahari dan memiliki tata surya yang juga serupa. Namun, untuk menghadirkan kehidupan, apalagi kehidupan cerdas, harus dipenuhi syarat rumit antara lain kondisi planetnya, jaraknya terhadap bintang induk, dan jenis bintang induk.

April silam, untuk pertama kalinya ditemukan planet serupa Bumi (Earth-like) yang bisa mendukung adanya air dan menopang kehidupan. Planet ini berada pada jarak Goldilocks; tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari bintang, sehingga air di permukaannya tidak membeku atau menguap. Nama mataharinya Gliese 581, sehingga planetnya disebut Gliese 581. Ukurannya sekitar 1,5 kali dibandingkan Bumi. Mataharinya memiliki massa sepertiga massa Matahari. Jarak bintang ini 20,5 tahun cahaya dari Bumi. Menurut perkiraan tim penemu, suhu rata-rata Bumi Super ini antara 0 dan 40 derajat Celsius sehingga air akan berwujud cairan (SPACE.com).

Hanya satu bumi

054.jpgMungkinkan manusia pindah ke Gliese 581? Cahaya, yang memiliki kecepatan 300.000 km per detik memerlukan waktu 20,5 tahun menempuh jarak dari Bumi ke planet ini. Bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan dengan pesawat yang katakan seperti Pioneer atau Voyager yang pernah melaju dengan kecepatan 28 km detik.

Juga, berapa biaya yang diperlukan mengangkut penduduk Bumi yang 6 milyar ini ke planet tersebut? Kini, untuk penerbangan ke stasiun luar angkasa ISS yang berjarak 340 km dari Bumi, NASA menetapkan biaya 190 Milyar055.jpg per orang.

Artinya, Bumi inilah satu-satunya rumah kita. Dengan menyadari keterkungkungan ini, umat manusia semestinya sadar dan berupaya mempertahankan kelayakhunian Bumi, termasuk AS yang sejauh ini masih menolak meratifikasi Protokol Kyoto.

Disarikan dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/05/utama/4047639.htm





Amerika negeri terkucil.

5 12 2007

048-greenpeace.jpgMeskipun di Amerika kini sedang musim dingin, Presiden Bush mungkin justru gerah. Pasalnya, sejak 24 Nov 2007 Australia dipastikan punya Perdana Menteri Baru. Kevin Rudd (partai Buruh) menang tipis (emphatic win) di hampir semua negara bagian, kecuali Western Australia, atas calon incumbent John Howard (koalisi partai Liberal dan beberapa partai lain). Walaupun belum dilantik oleh Gubernur Jenderal Inggris untuk Australia mewakili Ratu Elizabeth II, konstitusi Australia memberikan sebagian hak bagi perdana meteri terpilih untuk langsung mengambil alih kekuasaan setelah perdana menteri lama menyampaikan pidato kekalahannya (concedes defeat).

049.gifLalu mengapa Bush yang jadi gerah? Sejak 11 tahun belakangan, Australia (di bawah Howard) dan Inggris (di bawah Tony Blair) adalah sekutu-sekutu utama Bush. Ketiga negara ini kompak dalam invasi ke Irak. Sejak Tony Blair jatuh dan digantikan Gordon Brown, tinggal USA dan Australia yang ’sibuk’ di Irak. Hal lain yang makin mengakrabkan pemimpin kedua negara selain isu terorisme, adalah karena hanya mereka berdua di antara negara maju di kolong langit ini yang tidak mau menandatangani Protokol Kyoto, sebuah kesepakatan dunia yang telah diratifikasi oleh 170 negara (Indonesia negara ke 68), guna mengurangi emisi gas rumah kaca untuk mengurangi global warming.

Kini, Perdana Menteri Australia dijabat Rudd, yang sejak awal berkomitmen menarik pasukan dari Irak dan meratifikasi Protokol Kyoto. Walhasil, Amerika di bawah Bush menjadi negara terkucilkan dalam pergaulan bangsa-bangsa. Bagaimana Bush tidak gerah?

Sejak awal, pengamat mengatakan, jika Ruud jadi perdana menteri, maka Bush kehilangan kawan akrab sekaligus kehilangan alasan tetap membandel di Protokol Kyoto dan bertahan di Irak. Hanya satu alasan yang membuat Bush bertahan di kedua hal tersebut, yaitu arogansi.

Beberapa jam setelah dipastikan menang, Ruud dan SBY ngobrol via telepon. Ruud mengatakan akan datang ke Bali mengikuti konferensi dunia tentang climate change (UNFCCC), sekaligus membuktikan komitmennya mengatasi persoalan pemanasan global.

049.jpgSecara pribadi, dalam hal ini saya merasa kagum pada masyarakat Australia. Menurut ahli, salah satu kunci utama kemenangan Ruud atas Howard adalah komitmen Ruud terhadap kelestarian lingkungan hidup. Demikian pedulinya masyarakat Australia akan kesinambungan rumah kita yang bernama BUMI ini, sampai-sampai mempengaruhi pilihan mereka dalam Pemilu. Padahal, kerusakan lingkungan di Australia tergolong kecil, dibanding Indonesia, misalnya. Di Australia tidak ada deforestasi besar-besaran seperti di Indonesia, juga tidak ada banjir, kebakaran hutan jarang terjadi, pencemaran sungai hampir tidak ada, apalagi illegal logging, polusi kendaraan bermotor juga minim (karena kendaraan berasap dilarang jalan). Di masa depan, memang ada ancamana polusi udara akibat pembangkit listrik batubara, tapi tidak separah Indonesia yang kini sedang membangun 10.000 MW pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Resiko polusi udara Australia juga lebih kecil daripada Indonesia, selain karena penduduk (calon korban)nya sedikit (20 juta), luas negara benua ini berlipat-lipat melebihi Indonesia. Jadi, udara kotor tersebar di tempat yang lebih luas. Namun demikian, ancaman yang ‘kecil’ ini sudah cukup membuat masyarakat Australia merasa ‘resah,’ lalu memilih pimpinan yang punya program mengatasi masalah itu.

Hal lain yang mengagumkan saya adalah, betapa hampir semua warga Australia yang pernah saya jumpai (baik di kampus maupun tetangga yang sering ketemu di taman dekat rumah), tua maupun muda, berpendidikan tinggi atau tidak, memahami apa itu global warming dan climate change, tahu penyebabnya, dan mengerti solusinya. Sungguh berbeda ketika saya membicarakan topik ini beberapa bulan lalu dalam obrolan ringan selepas magrib di masjid dekat rumah saya di Simpang Tiga. Ketika itu saya menjadi seperti orang aneh yang sedang membicarakan sesuatu yang aneh dalam bahasa yang aneh. Alias, tak satupun yang paham, bahkan mereka mengaku baru kali itu mendengar tentang pemanasan bumi. Padahal masjid dekat rumah saya itu terkenal dengan jamaahnya yang berpendidikan baik (mayoritas pernah kuliah). Jika persoalannya tidak dipahami, lalu bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan?

049.jpg

Secara relatif, memang di Riau, dan Indonesia, persoalan lingkungan bukan topik menarik, apalagi bisa jadi komoditas politik, no way. Pembicaraan tentang lingkungan hidup tidak jarang dianggap sebagai topik ‘di luar kehidupan nyata.’ Bahwa secara kasat mata tidak ada apa-apa dengan lingkungan. Lingkungan hidup seolah dianggap ‘jurusan’ khusus yang tidak semua orang perlu memahaminya. Padahal lingkungan hidup mestinya menjadi ‘jurusan’ semua orang.

Sesungguhnya lingkungan kita sudah teramat parah. Ibarat rumah, atap bolongnya lebih luas daripada yang utuh, begitu juga dindingnya, lantainya berlumpur, tiangnya rapuh dimakan anai-anai, sementara asap dari tungku memasuki paru-paru penghuninya setiap bernafas. Sedih sekali jika dalam kondisi seperti masih ada penghuninya yang tidak peduli. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, tidak perlu menunggu generasi anak kita yang akan merasakan akibatnya, kita sendiri pun dapat merasakannya. Rasanya terlalu zalim jika anak-anak kita yang kita sayangi itu ditelantarkan hidup terancam di rumahnya sendiri yang bernama BUMI ini. Selaku penduduk bumi, rasanya berdosa jika kita lari dari tanggunjawab ini, dan rasanya zalim jika kita justru menambah rusaknya Bumi.

Kontribusi yang akan kita berikan demi keselamatan lingkungan hidup bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita dan anak-anak kita juga.

NB:
Selain issu yang sudah populer, isu lain akan diangkat ratusan kepala negara dalam konferensi UNFCCC di Bali awal bulan depan adalah:
- Bernafas dengan udara bersih adalah hak azazi manusia.
- Kembangkan pembangkit listrik tersebar, bukan terpusat seperti sekarang.





Ayo selamatkan Bumi!

5 12 2007

044.jpgMenjelangan konferensi UNFCCC di Bali awal Desember ini, eskalasi gerakan para aktivis lingkungan semakin meningkat. Greenpeace, seperti biasa melakukan aksi dengan tindakan nyata. Sejak dua bulan lalu para aktivis Grenpeace Asia telah menyebar ke berbagai perkebunan sawit di Riau. Mereka bukan hanya memssang spanduk, tapi juga ‘mengganggu’ aktifitas sebagian perusahaan sawit.

Tiga hari lalu, Greenpeace Australia mematikan pembangkit listrik bertenaga batubara terbesar di negara bagian New South Wales, kemudian naik ke cerobong asap pembangkit tersebut dan memasang spanduk bertulisan COAL KILLS. Mereka juga naik ke atap gedung pembangkit tersebut dan menuliskan kalimat yang sama menggunakan cat sehingga dapat dibaca dari pesawat udara.

045.jpgSementara di Riau, sejak jum’at lalu “Rainbow Warrior,” kapal milik Greenpeace International mendempet sebuah kapal tanker yang akan membawa minyak sawit untuk diekspor ke India, sehingga tidak bisa bergerak, juga menghambat kapal tanker lain yang akan merapat untuk memuat minyak sawit. Hingga kini pihak pelabuhan belum berhasil menghentikan aksi mereka dan tidak bisa melakukan tindakan tegas sebab mereka dilindungi hukum internasional.

046.jpgMemang ada juga sebagian pihak yang menyayangkan pemadaman pembangkit listrik dan pemblokiran kapal tanker, dan itu bisa dimaklumi. Tapi tidak perlu khawatir. Yang perlu dilihat adalah alasan dibalik gerakan ini.

Gerakan penyelamatan lingkungan sesungguhnya merupakan kewajiban semua penduduk bumi. Tapi sayang, sebagian besar penduduk bumi justru melakukan hal sebaliknya pada lingkungan. Ibarat sebuah rumah berdinding papan yang diuhuni sebuah keluarga besar, maka semua anggota keluarga telah mengotori rumah dengan lumpur dan kotoran, bahkan ada yang mencopoti paku-paku yang menahan tiang-tiang dan dinding papan, ada juga yang menyiramkan air keras sehingga rumah menjadi lapuk, ada juga yang mengambil dinding dan tiang untuk dijual, bahkan ada yang mulai menyalakan api di kayu-kayu keringnya.

Tapi ada satu (baca: sedikit) anggota keluarga yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah. Namun dia sudah sangat lelah, karena begitu di sini dibersihkan, pada saat yang sama di tempat lain dilumuri kotoran lagi. Begitu paku di sini dipasang lagi, di tempat lain puluhan paku dilepaskan lagi. Kekuatannya dalam menyelamatkan rumah tidak seimbang dengan gerakan yang merusak rumah. Akhirnya apa yang terjadi? Dinding rumah mulai rubuh, api yang disulut mulai membakar, rumah mulai miring. Rumah dalam bahaya besar.

Demikianlah gambaran bumi kita kini, tempat di mana kita hidup. Dulu penduduk dunia menganggap masalah kerusakan lingkungan ini kecil. Karena memang perubahan lingkungan terjadi secara pelan, tapi pasti. Bahkan IPCC, organiasi PBB yang membidangi perubahan iklim kecele, sebab ternyata kerusakan lebih parah dari yang mereka antisipasi, walaupun dulu perkiraan mereka itu dipatok tinggi.

Baru-baru ini (2006) sebuah riset di Canada melaporkan, daratan salju setebal 9 meter seluas ratusan meter persegi meleleh hanya dalam waktu 11 jam. Peristiwa itu telah terjadi sejak lama dan masih berlanjut hingga kini (sumber: Discovery Channel). Penelitian kedokteran terbaru mengungkapkan bahwa flu burung bisa meluas seperti sekarang ternyata dipicu oleh perubahan iklim global. Andai tidak ada global warming, maka flu burung hanya akan menjadi masalah lokal saja. Ingat, beberapa minggu lalu sudah ada korban flu burung meninggal di Riau, yang membuat tim WHO tergopoh-gopoh datang dari Amerika.

047-james-balog-nationalgeographic3.jpg

Foto: James Balog, National Geographic. Terlihat luasan es yang mencair setiap 11 jam. (http://www.nationalgeographic.com/adventure/environment/global-warming/james-balog-gallery-3.html)

Ah.. terlalu banyak data yang membuktikan bahwa bumi kita ini (dan kita yang ada di dalamnya) benar-benar dalam bahaya. Sayang, tidak semua penduduk dunia menyadarinya, atau peduli padanya. Jangan sampai kita baru tersadar ketika bencana itu sudah ada di depan mata kita, saat kita tidak bisa mengelak lagi.

Data International Energy Agency mengatakan penyebab terbesar perubahan iklim global adalah pembangkitan listrik, terutama yang menggunakan batubara (note: Indonesia kini sedang membangun PLTU berbahan bakar batubara 10.000 MW). Disusul transportasi, industri, dan rumah tangga. Semua itu adalah produsen karbon dan gas rumah kaca lainnya. Mestinya karbon itu bisa diserap oleh tumbuhan, karena tumbuhan bernafas dengan CO2 dan mengelurkan O2. Tapi hutan pun sudah lenyap di mana-mana. Akibatnya, karbon-karbon beracun itu justru digunakan manusia dan hewan untuk bernafas.

Indonesia menurut Eye on Forest adalah perusak terbesar hutan dunia, dan Riau adalah perusak terbesar di Indonesia. Bahkan menurut Greenpeace, Riau adalah perusak terbesar dunia. Untuk menampung emisi karbon dunia sekarang, kita perlu 6 buah bumi lagi. Lagi-lagi kita tersadar begitu terlambat.

Ngeri membayangkannya. Ramalan para ilmuwan mulai terbukti. Andai datangnya lebih cepat dari yang diperkirakan; udara tidak sehat lagi untuk bernafas, air laut meluap akibat es di kutub yang mencair cepat, tapi air minum hilang di mana-mana, daratan jadi kerontang, angina topan datang tanpa ampun, kemana kita akan lari? Bumi inilah satu-satunya rumah kita.

Jadi, persoalan ini bukanlah masalah aktivis lingkungan saja. Ini adalah masalah kita semua. Karena kita adalah penduduk bumi, timbullah kewajiban kita menyelamatkan bumi dan kehidupan di dalamnya…….

Perth, 18 Nov 2007 22.16 WST