Solar Sel Full Spektrum (Full-spectrum Solar Cells)

4 02 2011

Salah satu alasan utama mengapa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kesulitan mengimbangi pembangkit listrik konvensional adalah karena efisiensinya yang rendah. Sehingga untuk mendapatkan energi listrik yang besar diperlukan luasan modul surya yang besar pula, yang berarti biaya pun besar.

Mayoritas solar sel komersial saat ini memiliki efisiensi sekitar 15%. Sedangkan efisiensi sebesar 30% sudah berhasil diuji di laboratorium namun belum dapat diproduksi untuk keperluan komersial.

Mengapa solar sel belum bisa mengkonversi radiasi matahari dengan efisiensi tinggi? Alasannya adalah karena material solar sel hanya mampu mengkonversi sebagian dari spektrum cahaya matahari yang diterimanya. Menurut Tomas Marvart dalam bukunya berjudul Solar Electricity, hanya sekitar 2/3 dari spektrum cahaya matahari yang dapat dikonversi menjadi listrik oleh material solar sel yang ada sekarang.

Namun kini ada harapan baru untuk mengkonversi semua spektrum cahaya matahari menjadi listrik. Riset yang dilakukan oleh Wladek Walukiewicz di Lawrence Berkeley National Laboratory telah berhasil mengkonversi seluruh spektrum. Dan yang juga menarik adalah bahwa proses produksi solar sel baru ini dapat dilakukan menggunakan teknik produksi konvensional.

Prinsip yang digunakan oleh Wladek Walukiewicz dan kawan-kawan adalah bahwa: tidak ada material yang mampu merespon semua panjang gelombang radiasi matahari, masing-masing material bekerja pada panjang gelombang yang berbeda pula, maka untuk memungkinkan proses konversi seluruh spektrum dilakukan penggabungan beberapa bahan berbeda dengan sensitifitas spektrum berbeda pula.

Satu cara untuk menggabungkan berbagai bahan adalah dengan menumpuk lapisan-lapisan semikonduktor berbeda dan menggabungkannya secara seri menggunakan kawat. Teknik ini walaupun mampu menggabungkan lapisan-lapisan berbeda, namun strukturnya masih rumit sehingga menyulitkan dalam proses fabrikasi. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat satu lapisan namun mampu bekerja dengan spektrum berbeda.

Tim peneliti mengatakan bahwa teknik baru yang mereka perkenalkan akan menghasilkan solar sel efisiensi tinggi dengan harga yang labih murah. Namun sayang, mereka belum menyebutkan setinggi apa efisiensi yang dapat dihasilkan.

Sumber: http://newscenter.lbl.gov/feature-stories/2011/01/24/practical-full-spectrum/





Mendulang uang dari atap rumah (Making money from your house’s roofs)

5 02 2009

Energi terbarukan makin mendapat tempat dalam wadah kebijakan ekonomi dunia. Makin banyak negara – terutama negara-negara maju – membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Walhasil, sekitar 36% pertumbuhan energi angin diraih tahun 2007, terutama dari pasar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia (Sumber: Renewableenergyworld). Begitu juga dengan energi surya, justru mengalami pertumbuhan lebih tinggi, hampir 50% per tahun (Sumber: Worldofrenewables).

Salah satu kelemahan dari energi surya dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan kapasitas energi besar. Sebuah inovasi kebijakan yang digagas di Amerika sungguh menarik.

Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV systems). Instalasi solar energi rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasari atas filosofi pembangkit listrik tersebar (distributed power generation), bukan terpusat sebagaimana lazimnya. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema solar power purchase agreements (PPAs) dan penyewaan atap rumah (solar leasing).

2051Solar system di atap Perpustakaan Universitas Murdoch Australia, almamater saya. Merupakan sistem surya tersambung jaringan listrik (grid) terbesar di Western Australia. Kapsital 26 kW terdiri dari hampir 200 panel surya, menghasilkan sekitar 30kWh energi listrik sehari. (Sumber: Murdoch University)

Sebegaimana dirilis Worldofrenewables, pemerintah kota Santa Barbara di California baru-baru ini menyewakan atap bangunan pemerintah kota untuk sistem PV berkapasitas 330 kW untuk masa 20 tahun PPA. Proyek ini tidak hanya menguntungkan secara estetika, tapi juga memberi peluang bagi 1.040 rumah untuk mendapat suplai listrik dari sistem PV. Mengingat besarnya peluang dari inovasi ini, pemerintah kota dalam waktu dekat juga akan menyewakan lokasi parkir di Santa Barbara Airport.

2062Desain solar sistem pada lokasi parkir. Memiliki 3 keuntungan; menghasilkan listrik, tidak memerlukan lokasi khusus, dan melindungi kendaraan dari panas sinar matahari (Foto: PV-tech)

Penyewaan atap untuk solar sistem juga penting untuk pengembangan energi surya di perkotaan, seiring dengan biaya pengadaan dan instalasi solar sistem yang makin murah.

Bagaimana Indonesia. Tertarik?





Desa mandiri energi pertama dunia (world first self-sufficient energy village)

14 05 2008

Donggwang barangkali adalah desa paling ramah lingkungan se dunia. Desa yang terletak di pulau Jeju-do, pulau terbesar di kawasan selatan Korea Selatan, ini telah berhasil menjadi desa mandiri energi pertama di dunia.

Panel surya di salah satu rumah di desa mandiri Donggwang, pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: www.enn.com)

Di desa pulau beriklim semi-tropis ini benar-benar hanya menggantungkan kebutuhan energi listriknya dari energi matahari. Di setiap atap 40 rumah dan sekolah di Donggwang terdapat panel-panel surya berukuran besar. Dengan memanfaatkan teknologi ini seluruh penduduk dapat menikmati listrik gratis setiap hari. Setiap rumah memiliki kapasitas panel surya berbeda. Choo Chan Lee misalnya, memasang system dengan kapasitas 2100 Watt.

Donggwang, desa mandiri energy di pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: ecoworldly)

Program ini dibangun tahun 2004. Ketika itu pemerintah membantu biaya pemasangan sebesar 70%. Masyarakay Jeju sangat menikmati pulau mereka yang berudara bersih dan segar.





Seni Energi Surya (The Art of Solar Power)

14 05 2008

Di tangan para arsitek, panel-panel surya bisa dibikin artistic. Sebuah konsep dari ZM Architecture, perusahaan yang berbasis di Glasgow, baru-baru ini memenangkan kompetisi International Design Awards (IDA) Land and Sea Competition. Perusahaan ini mendisain panel-panel surya dengan mengambil bentuk bunga teratai, bunga mengambang yang banyak ditemukan di River Clyde, Glasgow.

Lembaran panel-panel surya berbentuk bunga teratai di permukaan sungai River Clyde, Glasgow (Foto: BBC London)

Bunga teratai mengambang di permukaan sungai (Foto: nathanfarb)

Di dalam proposal yang sudah disetujui pemerintah Glasgow tersebut dikatakan bahwa desain mereka dimaksudkan supaya panel-panel surya tersebut membaur dengan kondisi alami sungai Clyde.

Listrik yang dihasilkan oleh panel-panel surya yang tiangnya dipancangkan ke dasar sungai tersebut diekspor ke jaringan listrik nasional. Supaya “bunga-bunga teratai” dapat bergerak mengikuti arah matahari, akan dipasang motor-motor listrik.

Sebelum ini solar sel sudah digunakan untuk memperindah taman. Jika anda punya kolam kecil di taman rumah, anda bisa memasang air mancur mengunakan solar sel berbentuk bunga teratai. Energi listrik yang dihasilkan solar sel bunga teratai ini akan disimpan ke baterai yang menggerakkan pumpa air.

Air mancur mini menggunakan solar sel bunga teratai (Foto: earthwhile)

Solar set bunga teratai yang berukuran 9 inci x 3 inci ini dapat memancarkan air setinggi 18 inci. Jika pada kolam dipasang cukup banyak air mancur mini, maka kolam anda akan bertambah indah. Yang juga menarik, anda bisa punya air mancur sepanjang hari tanpa membebani rekening listrik anda.





Balon Surya (Solar Balloons)

7 04 2008

Seorang ilmuwan Israel melakukan pengembangan sumber energi terbarukan dengan cara baru. Dia menempelkan modul surya ke sebuah balon dan digantungkan di udara. Sistem ini memiliki keuntungan antara lain: dapat menangkap cahaya matahari secara langsung tanpa tertutup pohon, bagungan, dsb.

Silahkan klik pada foto di bawah untuk menonton video-nya.

Foto: Reuters

Untuk memberi komentar atas informasi ini, silahkan klik di samping Comments di bawah.





Mengatasi masalah energi surya dengan garam mendidih (Solving solar energy problem with molten salt)

15 01 2008

Energi surya adalah sumber energi terbarukan yang sedang dan (kemungkinan) akan berkembang paling cepat. Tapi, teknologi energi surya memiliki kelemahan laten, karena tidak bisa membangkitkan listrik di malam hari atau saat sinar matahari tertutup awan. Lalu bagaimana solusinya?

Sebuah konsorsium bernama SolarReserve menawarkan satu solusi menjanjikan, baik dari segi kehandalan sistem, ekonomi, maupun keamanan lingkungan. Jawabannya ada pada garam.

SolarReserve menggunakan teknologi yang dapat menyimpan energi panas cahaya matahari di dalam larutan garam mendidih. Proyek pertama SolarReserve akan menghasilkan listrik 500 MW (dapat menyediakan listrik sekitar 400 ribu rumah), setara dengan kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tapi tidak menghasilkan gas rumah kaca.

Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya lain, teknologi milik SolarReserve dapat menghasilkan listrik saat langit mendung, bahkan malam hari. Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, SolarReserve merencanakan membangun 10 pembangkit listrik jenis ini.

Pembangkit listrik yang menggabungkan energi surya dan larutan garam ini memiliki prinsip kerja hampir serupa dengan pembangkit listrik tenaga surya di Seville. Di Seville terdapat ratusan cermin yang memantulkan sinar matahari ke sebuah tower. Pada tower ini diletakkan tanki besar berisi air. Energi matahari akan memanaskan air di dalam tanki, lalu menghasilkan uap panas, yang kemudian disalurkan ke turbin-turbin untuk menghasilkan listrik.

114.jpg
Pembangkit listrik tenaga surya (thermal) 11 MW di Seville, Spanyol (Foto: www.ens-newswire.com)

Pada teknologi milik SolarReserve, mereka tidak menggunakan ‘air biasa’ di dalam tanki, tapi air garam. Ratusan cermin memantulkan cahaya matahari ke tanki, memanaskan air garam hingga 1,000 derajat Fahrenheit (538 derajat Celsius). Air garam mendidih (yang membawa uap panas) lalu dipompa ke generator untuk memutar turbin uap dan menghasilkan listrik.

115.jpg
Diagram pembangkit listrik tenaga surya-garam mendidih

Hingga di sini, prinsip kerja pembangkit milik SolarReserve masih sama dengan pembangkit di Seville. Lalu apa yang membedakan? Pembangkit di Seville tidak dapat beroperasi di malam hari atau saat cuaca mendung, sedangkan milik SolarReserve dapat bekerja 24 jam sehari. Inilah keunggulan utama teknologi baru ini.

Rahasianya adalah karena SolarReserve menggunakan garam, campuran sodium dan potassium nitrate. Larutan tersebut memiliki kemampuan menyimpan panas. Riset yang dilakukan The National Solar Thermal Test Facility menyimpulkan bahwa garam mendidih adalah larutan yang paling baik digunakan menyalurkan energi panas. Selanjutnya lembaga tersebut mengatakan bahwa panas yang tersimpang masih cukup untuk memutar turbin uap tekanan tinggi, walaupun saat tidak ada sinar matahari.

Keuntungan lain dari teknologi ini adalah karena tidak melibatkan bahan-bahan yang dapat terbakar, tidak beracun, dan yang paling penting tidak menghasilkan karbon dioksida.

Kisah ini bersumber dari theworldofrenewables

Untuk memberi komentar atas info ini, silahkan klik di samping Comment di bawah ini.





PLTS terbesar Amerika

23 12 2007

Siapakah pemilik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di Amerika? Jawabannya adalah Angkatan Udara (AU). Cukup mengherankan, karena institusi ini sebelumnya tidak dikenal sebagai penyokong pengembangan energi terbatukan (ET) yang aktif.

Angkatan Udara Amerika (the US Air Force) adalah lembaga milik pemerintah yang paling besar kebutuhan energinya. Baru-baru ini mereka membuka PLTS dengan kapasitas 14 MW, sekaligus menjadi system terbesar di Amerika. Sistem ini akan menyediakan seperempat suplai energi bagi fasilitas militer di markas AU Nellis di gurun Nevada. Markas tersebut memiliki populasi 12 ribu orang tentara dan keluarga.

103.jpg

PLTS Nellis milik Angkatan Udara Amerika di Nvada (Sumber: Departemen Energi Amerika)

Gurun Nevada mendapatkan cahaya matahari kontinyu sepanjang tahun. Keuntungan alamiah ini menjadi alasan pemilihan system energi surya untuk penyediaan energi di kawasan tersebut.

Sebelum ini, Amerika telah memiliki Sistem energi surya termal raksasa. Di Nevada terdapat system energi surya termal berkapasitas 64 MW dan 553 MW di gurun Mojave.

Tapi yang satu ini adalah system photovoltaic (PV) untuk pembangkitan listrik. Untuk mengerjakan proyek ini, AU Amerika mempercayakan kepada perusahaan SunPower. Salah satu kelebihan system ini adalah karena dilengkapi dengan SunPower T20 Solar Tracking System yang dapat mengikuti arah gerakan matahari sepanjang hari.

Sistem ini diperkirakan mengurangi emisi karbon hingga 24 ribu ton setiap tahun.

Kisah di atas bersumber dari worldofrenewables





Energi Surya di Jerman dan Renovasi Rumah Dinas DPR

23 12 2007

101.jpgTidak sedikit orang meragukan kemampuan energi terbarukan (ET) karena faktor teknologinya yang dituduh tidak mampu bersaing dengan fossil fuel, apalagi dengan nuklir. Tapi, menurut saya penghambat terbesar penetrasi ET ke struktur energi nasional (dan banyak negara lain di dunia) lebih ditentukan oleh faktor politis. Dari sisi teknologi, ET termasuk yang sudah mature. (Foto kiri: Posisi Jerman di Eropa. Sumber: Wikimedia)

Jerman adalah salah satu negara yang sudah berhasil melewati hambatan politis dan birokrasi, khususnya di bidang energi surya (solar energy). Negeri itu kini menjadi pasar photovoltaic (PV) terbesar dunia. Berita teranyar dari Jerman adalah pembangunan 1,15 GWp PV system. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 55% kapasitas PV seluruh dunia dipasang di Jerman. Luar biasa. Tahun lalu, penjualan industri PV Jerman mencapai 3,8 Milyar Euro.

Mengapa Jerman bisa mencapai prestasi seunggul itu? Jawabannya tidak hanya karena Jerman percaya bahwa PV bisa menjadi jawaban atas masalah energi dan lingkungan saat ini, tapi karena kepercayaan itu didorong oleh adanya political will.

102.gif

Trend pengembangan PV system di Jerman 1990-2002 (Sumber: International Energy Agency)

Karena sudah ada niat, lalu dibuatlah instrumen kebijakannya bernama Renewable Energies Act. Peraturan ini mewajibkan perusahaan listrik Jerman membeli listrik dari pemilik PV system selama 20 tahun. Harganye berkisar 37,96 hingga 54,21 Euro per kWh. Bahkan, di Jerman bagian Timur ada insentif hingga 50% dari initial cost bagi sesiapa yang memasang PV system. Mekanisme yang dikenal dengan istilah “feed in tariff” ini telah menyokong produksi PV system.

Sebagai hasilnya, investor PV pun berebut masuk Jerman. Yang terbaru adalah ARISE Technologies Corporation dari Canada. Sebelum itu, beberapa perusahaan besar seperti

Nanosolar, Signet Solar dan First Solar telah lebih dahulu menuai keuntungan di sana. Trend ini diyakini akan bertahan bahkan meningkat sejalan komitmen Jerman mengurangi konsumsi energi fosil.

Jika Indonesia juga punya niat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, maka yang diperlukan bukan lagi perdebatan mampu atau tidak teknologi PV menjawab tantangan ini, tapi apakah lembaga politik kita ‘mau?’

Sebenarnya Indonesia sudah punya instrumen kebijakan energi di bidang ini, namanya Kebijakan Enegi Hijau (KEH) yang punya target ET 5% tahun 2020. Tapi sayang, KEH masih bersifat himbauan. Padahal, sebagaimana dilakukan Jerman dan beberapa negara maju lain, yang diperlukan adalah kebijakan yang mengikat. Juga, saya berpendapat bahwa 5% adalah target yang terlalu kecil untuk 2020, dibandingkan dengan besarnya potensi ET yang dimiliki Indonesia.

1022.jpg
Kontribusi energi terbarukandalam struktur energi Indonesia. Batubara, minyak dan gas menyumbang sekitar 80% (Sumber: International Energy Agency)

Kini ada proyek renovasi rumah dinas anggota DPR dengan biaya 200 juta setiap rumah. Padahal kebanyakan rumah dinas itu tidak digunakan oleh para anggota DPR. Selama renovasi, setiap anggota DPR mendapat biaya sewa rumah 13 juta per bulan (Sumber: SCTV). Moga-moga lembaga politik kita tidak hanya mampu memikirkan hal semacam ini, tapi juga berpikir bagaimana menyelamatkan kebutuhan energi nasional yang makin meningkat, sekaligus menyelamatkan lingkungan yang makin parah kondisinya. Amin.

Note: kisah tentang Jerman di atas diambil dari Worldofrenewables





Kue ramah lingkungan.

21 12 2007

solar-cook01.jpgPernahkah anda mendengar kue ramah lingkungan? Saya rasa jarang. Sebab istilah itu hanya karangan saya. Jika sebelumnya sudah ada yang menggunakan itu, berarti kebetulan sama.

Saya beberapa kali merasakan nikmatnya kue ramah lingkungan (green cake). Ceritanya begini.

Semester lalu saya mengambil mata kuliah Renewable Energy and Sustainable Development. Bagi saya, kuliah ini agak membosankan. Bagaimana tidak? Di mata kuliah ini dipelajari pola konsumsi energi dunia, dengan penekanan pada negara-negara berkembang. Pada minggu-minggu awal, kami belajar tentang lampu teplok, lampu petromax, lampu badai, tungku masak, kompor minyak tanah, kompor sekam. Juga belajar animal power seperti kerbau pembajak sawah dan human power misalnya sepeda dayung, pompa air manual, dll.

Yang membuat saya bosan adalah karena bagi saya semua itu sudah sangat biasa. Saya melihat dan menggunakan semua itu setiap hari di kampung halaman saya. Saya berpikir bahwa semua itu adalah teknologi masa lalu yang mesti ditinggalkan, beralih ke teknologi modern.

Yang membuat saya agak terhibur adalah cara dosen membawakannya secara menarik. Kami juga mendekatinya dari sisi fisika, misalnya berapa energi yang dikeluarkan saat mendayung sepeda dan berapa serta jenis makanan yang perlu dimakan untuk menghasilkan energi tersebut. Atau berapa energi yang diperlukan kerbau untuk membajak sawah dan berapa jumlah rumput yang mesti dimakan kerbau untuk memenuhi energi itu, dsb. Pada bagian akhir, juga dipelajari metode yang mesti dilalui pelaksana proyek penerapan energi baru di negara berkembang. Dipelajari bagaimana penduduk bisa menerima perubahan itu, bagaimana proyek supaya sukses, dsb.

Namun tetap saja 60% membosankan.

Tapi saya sungguh tercengang. Setiap kuliah, kelas selalu heboh, karena mahasiswa/i bule ternyata sebaliknya. Mereka amat tertarik. Tercengang. Tidak percaya bahwa di dunia ini lebih 2 Miliar manusia menggunakan peralatan-peralatan ‘primitif’ itu. Jumlah ini sangat signifikan, sehingga masih relevan dipelajari. Mereka sangat antusias, mengajukan pertanyaan dan aktif dalam diskusi. Semua mereka tidak pernah melihat kompor minyak tanah. Juga tidak satu pun pernah melihat orang memasak menggunakan kayu api. Di negeri mereka, semua serba listrik, serba gas.

Baru kemudian saya sadari bahwa bukan mata kuliahnya yang salah, tapi paradigma mahasiswa yang berbeda.

Wah ceritanya jadi kemana-mana. Kembali ke kue ramah lingkungan.

Pada mata kuliah ini kami melakukan tiga praktikum berkelompok, yaitu biogas (memasak menggunakan gas yang dihasilkan dari kotoran hewan), solar cooker, dan solar dryer (mengeringkan buah-buahan menggunakan tenaga matahari).

Yang akan saya ceritakan di sini adalah solar cooker, karena dua praktikum lain lebih scientific, rada garing.

solar-cook09.jpgKelompok saya memilih memasak kue bolu. Untuk keperlua itu kami menggunakan dua jenis kompor matahari (solar cooker), yaitu Sun Co (buatan Portugal) dan Sun Oven (buatan Australia). Eksperimen dibagi menjadi dua bagian, yaitu memasak air dan memasak kue. Pada percobaan memasak air, kami membandingkan kompor mana yang lebih cepat membuat air mendidih dengan volume air dan intensitas cahaya matahari sama. Melalui berbagai pengukuran, di bagian akhir kami bisa menentukan jenis kompor matahari yang lebih efisien dan parameter-parameter yang mempengaruhi.

solar-cook11.jpgPada percobaan memasak kue, kami menggunakan prinsip yang sama. Tapi kali ini yang dimasak adalah kue. Adonan kue dimasukkan ke dalam sebuah mangkok berwarna hitam. Alasannya karena warna hitam paling bagus menyerap panas. Lalu mangkok dimasukkan ke dalam kompor matahari, dan ditutup rapat supaya panas tidak keluar. Kompor ini bagian dalamnya juga berwarna hitam, dengan alasan yang sama. Terdapat beberapa cermin pada kompor matahari. Sun Co memiliki 8 cermin (4 di luar dan 4 di dalam), dan Sun Oven memiliki 5 cermin (1 di luar dan 4 di dalam). Semua cermin ini memantulkan cahaya matahari ke dalam ruangan kompor di mana kue dimasak. Sebagai hasilnya, pada ruangan tersebut, terjadi peningkatan energi panas berlipat-lipat.

Kemudian kami hadapkan kedua kompor ke sinar matahari. Setiap lima menit kami mengukur suhu di dalam kompor dan membandingkannya dengan suhu luar. Terlihat bahwa semakin lama suhu di dalam kompor semakin panas. Dalam waktu hanya belasan menit, suhunya mencapai 90 derajat. Saat itu kami mulai mencium aroma kue menyeruak keluar, singgah di hidung kami, memancing rasa lapar. Warna kue pun perlahan-lahan menjadi semakin gelap. Kami juga mengukur kelembaban, kecepatan angin, dll.

solar-cook17.jpgAhkirnya kue kami matang sempurna. Hal pertama yang kami lakukan adalah bersama-sama mencium baunya yang sedap. hmmmmmm. Ketika sang dosen datang. Kami bersama-sama menikmati kue buatan kami. Mereka mengatakan bahwa rasanya lebih sedap dibandingkan dimasak dengan api atau oven. Tapi saya tidak bisa membedakannya, karena lidah saya tidak sensitif terhadap makanan. Yang saya tahu, kue itu enak sekali. Apalagi karena itu adalah kue bolu rasa pisang kesukaan saya. Teman saya mengatakan, “This is a honeymoon in the Pacific.”

Terlepas dari rasa kue yang enak sehingga ludes dalam sekejab, yang membuat saya takjub adalah proses memasaknya. Kompor kami tidak menggunakan minyak. Juga tidak menggunakan gas. Tidak ada kabel yang terhubung ke colokan listrik. Tidak ada api. Bahan bakarnya hanya cahaya matahari. Tidak ada batubara dan minyak yang dibakar saat itu. Tidak ada karbon yang dilepaskan ke udara. Kue yang bersih. Inilah kue ramah lingkungan pertama saya. Terasa makin nikmat bukan karena rasanya, tapi karena ‘rasa puas’ mengkonsumsi sesuatu tanpa merusak lingkungan.

Setelah semester berakhir, kami beramai-ramai meminjam kompor matahari lagi ke laboratorium, kembali menikmai bulan madu di Pasifik.

Saat mebuat laporan, saya menemukan bahwa cahaya matahari sesungguhnya membawa energi yang amat besar. Kita tidak merasakannya sebab ia tersebar. Tapi saat disatukan dengan beberapa cermin, energinya berlipat ganda, menghasilkan panas sampai melebihi 100 derajat, dalam waktu hanya sekitar setengah jam. “Energi cahaya matahari yang mencapai bumi dalam satu jam, lebih besar daripada seluruh energi fosil yang digunakan seluruh dunia selama setahun” (California Institute of Technology).

Bagaimana kalau saat itu cahaya matahari tidak cukup karena hujan dan mendung? Jawabannya, ya tidak bisa memasak. Dan memang teknologi energi terbarukan kini bukan berambisi menggantikan energi fosil secara total. Hingga kini, energi terbarukan ditujukan struktur energy mix, yaitu mencampurkan penggunakan energi terbarukan dengan energi lain, seperti fosil. Logikanya, jika selama ini kita menggunakan energi fosil 100% dan menghaburkan karbon ke udara, dengan adanya energi terbarukan, kita menurunkannya menjadi 50% misalnya, yang berarti mengurangi emisi karbon menjadi separuhnya.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.