Atasi Biaya Listrik Industri dengan Program Energi Managemen (Energy Management Program, a Solution for Industry’s Electricity Costs)

10 08 2008

Di industri, biaya energi tidak jarang menjadi komponen biaya terbesar yang mesti dibayar tiap bulan. Biaya energi bisa dalam bentuk tagihan listrik dan bahan bakar (minyak, gas, dll). Karena merupakan komponen biaya besar, ketika pemerintah menaikkan harga minyak dan listrik, industri yang tadinya sudah mengeluh, bisa menjerit. Bahkan tidak jarang ada industri yang mesti ‘balik kanan.’

Lalu para penipu pun gentayangan. Bagi mereka, kesulitan kalangan industri bisa jadi ladang mata pencarian yang menggiurkan. Para penipu menawarkan berbagai alat yang katanya bisa menghemat konsumsi listrik (dan menghemat biaya listrik). Sebagian pengusaha yang kurang paham tertipu. Alat yang dibeli dengan harga mahal ternyata cuma barang rongsokan. Sebagian tidak bisa bekerja sama sekali. Ada yang bisa bekerja, tapi membuat kerja industri terganggu, karena misalnya tidak bisa menjalankan motor-motor listrik seperti biasa. Ada yang bekerja bagus, tapi dua minggu kemudian terbakar. Memang ada yang bagus, tapi harganya tidak tanggung-tanggung. Padahal para pengusaha mestinya tidak perlu terjebak seperti itu.

Ada satu solusi yang sudah diakui secara internasional dan telah diterapkan secara luas di negara-negara maju, yaitu Program Energi Managemen (PEM). Terdapat dua target umum dari PEM. Pertama, mengehemat penggunaan segala jenis energi dengan cara mengurangi/mengilangkan energi terbuang (wasted energy) dan menggunakan energi secara efisien. Kedua, di beberapa industri, mungkin perlu mengganti bahan-bakar yang biasa digunakan untuk pabrik mereka dengan yang lebih murah, misalnya mengganti BBM (yang mahal) dengan gas (yang murah).

Lalu apa keuntungan dari PEM. Banyak! Antara lain: (1) Memangkas biaya energi, (2) Meningkatkan keuntungan perusahaan, (3) Mengurangi resiko kekurangan suplai energi, (4) Keuntungan lingkungan, yaitu mengurangi emisi gas karbon, (5) Meningkatkan kemampuan perusahaan dalam berkompetisi, karena dengan penghematan biaya yang dicapai perusahaan dapat meningkatkan kualitas produk dan service, (6) dan lain-lain.

Apa yang perlu dilakukan industri untuk menerapkan PEM? Terdapat beberapa panduan untuk menjawab pertanyaan ini, saya lebih suka dengan metode Department of Primary Industries and Energy (DPIE) Australia, yaitu:

Pertama, perusahaan menunjuk konsultan PEM.

Kedua, konsultan melakukan investigasi awal untuk melihat pola penggunaan energi di perusahaan.

Ketiga, jika proyek terlihat feasible, perusahaan menunjuk seorang Manager Energi yang akan mendampingi konsultan dan nantinya akan mengkoordinasi penerapan PEM.

Keempat, melakukan audit energi secara detail. Audit energi akan memperlihatkan bagian-bagian di mana pemborosan energi terjadi dan bagian-bagian yang memungkinkan dilakukan penghematan energi.

Seorang konsultan melakukan Audit Energi (Foto: ase)

Kelima, merumuskan strategi PEM. Pada tahap ini konsultan akan mengeluarkan rekomendasi untuk dilakukan oleh perusahaan.Beberapa contoh rekomendasi, (1) Menggunakan lebih banyak listrik saat biaya murah, dan menggunakan sedikit listrik saat biaya tinggi, (2) Menyesuaikan disain bangunan (meningkatkan penggunaan energi alam seperti cahaya matahari untuk penerangan, sehingga penggunaan lampu bisa dikurangi), (3) Menambahkan instalasi penyimpanan es (ice storage) untuk mengurangi penggunaan AC, (4) Menggati lampu dan motor-motor listrik dengan jenis yang lebih efisien, (5) Mengurangi kebocoran pada sistem compressor dan boiler, (6) Memanfaatkan panas yang terbuang (dari oven/furnace) untuk keperluan lain, (7) Memasang sistem kontrol energi, (8 ) Mengganti bahan bakar dengan yang lebih murah, (9) Memasang sistem energi terbarukan (surya, angin, dll) untuk mengurangi ketergantungan pada listrik PLN, (10) dan lain-lain.

Turbin Angin di Atap gedung sebuah Industri di Jerman (Foto: csa)

Kedalaman rekomendasi biasanya tergantung keinginan perusahaan. Maksudnya begini, jika perusahaan hanya punya target menghemat energi 10%, tentu rekomendasi tidak terlalu banyak. Tapi jika pengusaha ingin menghemat 40%, rekomendasi lebih banyak. Konsultan biasanya menawarkan garansi beberapa tahun bahwa rekomendasi mereka BISA mencapai penghematan yang dipesan perusahaan.

Keenam, PEM diterpkan dibawah koordinasi Manager Energi.

Ketujuh, monitoring dan evaluasi program.

Catatan: ketujuh langkah-langkah tersebut melibatkan banyak detail yang rumit, prosedur, standar, dll.

Lalu berapa biaya PEM? Biaya yang mesti dikeluarkan perusahaan berbeda menurut ukuran industri dan persentase penghematan yang dipesan perusahaan. Pada dasarnya ada dua komponen biaya, yaitu biaya konsultan dan biaya penerapan PEM. Biaya konsultan sudah jelas. Biaya pelaksanaan adalah biaya untuk melaksanakan rekomendasi konsultan misalnya, biaya mengganti semua lampu pijar dengan lampu fluorescent (jika ini direkomendasikan konsultan).

PEM perlu Energi Manager dan tim yang kuat (Foto: 1wp)

Apakah PEM ekonomis? Yang bisa menjawab adalah perusahaan sendiri (dituntut komitmen Manager Energi). Penghematan yang ditargetkan bisa dicapai jika rekomendasi konsultan dilaksanakan secara konsisten. Tapi jangan khawatir, sudah banyak contoh sukses dari PEM. Anda bisa browsing di internet untuk menemukan contoh-contoh sukses tersebut. Memang perusahaan perlu mengeluarkan biaya awal yang cukup besar, tapi penghematan masa depan juga besar. Kebanyakan pengalaman membuktikan modal kembali (payback) antara 3 bulan hingga 3 tahun. Setelah itu, perusahaan tinggal menuai untung tiap bulan. Mari kita buat hitungan sederhana. Jika anda punya target penghematan 30%, anda akan menghemat 5 juta sebulan jika selama ini anda membayar energi 15 juta sebulan. Dengan modal awal 150 juta, anda akan payback dalam 2,5 tahun. Setelah itu, tiap bulan anda hemat 5 juta.

Anda juga bisa mengupayakan keuntungan lebih besar. Karena pengelolaan energi di perusahaan anda telah ‘dirapikan’ melalui PEM, anda nanti bisa memodifikasi keuntungan anda sendiri. Misalnya menaikkan target penghematan dari 30% menjadi 40%. Beberapa industri bahkan mempu melakukan hingga 60%.

Sebagai penutup, kalau ada sales produk tertentu yang datang ke pabrik anda menawarkan produk yang katanya bisa memangkas konsumsi listrik di pabrik anda tanpa mengganggu operasi pabrik anda, sebaiknya dipikir-pikir lagi. Minta saran ahli jika anda kurang yakin. Tapi kalau dia menawarkan Program Energi Managemen, ini perlu pertimbangkan.





LED untuk penerangan (LEDs for lighting)

9 08 2008

Jika anda punya jam digital dinding atau melihat tulisan berjalan pada papan-papan pengumuman, kemungkinan besar lampu yang dipakai adalah LED (Light Emitting Diode). LED adalah lampu berukuran kecil yang memiliki beberapa keunggulan antara lain konsumsi listrik rendah, tersedia dalam berbagai warna, murah dan umur panjang. Keunggulannya ini membuat LED digunakan secara luas sebagai lampu indikator pada peralatan elektronik. Namun LED punya kelemahan, yaitu intensitas cahaya (Lumen) yang dihasilkannya termasuk kecil. Kelemahan ini membatasi LED untuk digunakan sebagai lampu penerangan.

Beberapa jenis LED (Foto: wikimedia)

Namun beberapa tahun belakangan LED mulai dilirik untuk keperluan penerangan, terutama untuk rumah-rumah di kawasan terpencil yang menggunakan listrik dari energi terbarukan (surya, angin, hidropower, dll). Alasannya sederhana, konsumsi listrik LED yang kecil sesuai dengan kemampuan sistem pembangkit energi terbarukan yang juga kecil.

Penggunaan LED untuk pencahayaan (Foto: ledlighting)

Riset-riset mutakhir menunjukkan hasil menggembirakan. Kini LED mampu menghasilkan cahaya besar dengan konsumsi energi listrik (tetap) kecil. Berita terakhir adalah ditemukannya OLED (Organic LED) oleh para ilmuwan di University of Michigan dan Princeton University. Temuan ini sukses menghasilkan cahaya dengan intensitas 70 Lumen setiap 1 watt listrik yang digunakan. Sebagai perbandingan, lampu pijar memancarkan 15 lumen per watt, dan lampu fluoroscent (misalnya lampu jantung) memancarkan 90 lumen per watt. Keunggulan LED dibanding lampu fluoroscent adalah ramah lingkungan, cahaya tajam, umur panjang, dan murah.

Sebelum OLED ditemukan, persolan yang dihadapi para ahli LED adalah rendahnya efisiensi LED. Bukan karena cahaya yang dihasilkan sedikit, tapi karena sekitar 80% cahaya terperangkan di dalam LED. Sebagai solusi, disain OLED menggunakan kombinasi kisi dan cermin berukuran mikro, bekerja bersama-sama memandu cahaya yang terperangkap di dalam LED keluar.

Prinsip kerja OLED (Foto: howstuffworks)

Stephen Forrest, profesor teknik elektro dan fisika di University of Michigan, penemu OLED mengatakan bahwa kini kita bisa bersiap untuk mengganti pencahayaan di dalam bangunan dan rumah yang saat ini menggunakan lampu pijar ataupun fluoroscent dengan OLED. Semoga..





Cogeneration, Pembangkit Listrik Paling Efisien (Cogeneration, The Most Efficient Power Plants)

12 07 2008

Pada pembangkit standard berbahan bakar fosil, pemborosan terjadi ketika batubara atau gas mulai dibakar. Pada sebagian pembangkit, hanya sejumlah 30% energy yang mengalir ke jaringan distribusi.

Sisanya dalam bentuk panas, dibuang melalui cerobong asap. Andai orang bisa membuat pembangkit yang dapat mengubah 80% bahan bakar menjadi energi terpakai (useful energy), betapa menguntungkan.

Ya, pembangkit idaman tersebut kini sudah hadir. Tapi calon pelanggan kelihatan belum tertarik. Mengapa? Penguasa listrik dan pembuat kebijakan sepertinya takut akan kehadiran pembangkit jenis baru ini.

Skema Combined Cycle Cogeneration (Photo: epcorpowerlp)

Efisiensi sebesar 80% dapat dicapai pada system yang menggabungkan panas dan pembangkit listrik, dikenal dengan pembangkit cogeneration (cogeneration plants). Pembangkit jenis ini ideal bagi institusi besar seperti universitas, rumah sakit, dan bandar udara, yang membutuhkan energi listrik dan panas dalam jumlah besar. Pada pembangkit cogeneration, energi panas tidak dibuang, tapi digunakan untuk menyediakan energi bagi system pemanas/pendingan, bahkan bisa juga digunakan kembali untuk membangkitkan listrik.

Tapi teknologi yang disukai kalangan akademisi ini, oleh perusahaan listrik justru dianggap sebagai ancaman. Mengapa? Jika institusi-instritusi besar yang kini menjadi pelanggan perusahaan listrik beralih ke pembangkit cogeneration, jelas mengancam penjualan perusahaan listrik.

“Teknologi ini tidak biasa di kalangan perusahaan listrik,” kata Rob Thornton, Presiden International District Energy Association.

Ambil kasus Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang melakukan riset bertahun-tahun di bidang ini dan mengembangkan pembangkit cogeneration berkapasitas 22 MW untuk kampus MIT. Pembangkit selesai dibangun 1995. Tapi CELCo, perusahaan listrik setempat tidak menyembut baik, bahkan menjatuhkan denda $6 juta pada universitas.

Menurut CELCo, mereka telah mengeluarkan dana besar guna membangun infrastukur listrik di MIT, dan denda tersebut dikenakan untuk mengganti kerugian mereka. Lobi-lobi kemudian berhasil menurunkan denda menjadi $4.5 juta.

Bukan hanya di MIT, sebuah rumah sakit di Massachusetts yang bermaksud membangun pembangkit cogeneration ditekan bertahun-tahun oleh perusahaan listrik setempat.

“Potensi penghematan yang bisa dicapai dengan pembangkit cogeneration sungguh besar,” kata Neal Elliott, pakar sistem cogeneration. “Berlipat-lipat kali penghematan dapat dicapai dengan menerapkan teknologi ini secara luas secara nasional,” kata Elliott.

Salah satu cara membujuk perusahaan listrik adalah dengan membangun system cogeneration yang bisa disambungkan dengan jaringan milik perusahaan listrik. Tapi usul ini pun masih dipersulit perusahaan listrik dengan menunda-nunda izin. Elliott menceritakan proses penundaan yang diamatinya. “Diperlukan 60 hari untuk melakukan studi penyambungan system baru dengan jaringan listrik milik perusahaan listrik, lalu 60 hari untuk mempresentasikan hasil studi ke perusahaan listrik, dan 90 hari untuk dibutuhkan perusahaan listrik untuk menilai hasil studi, jika mereka punya pertanyaan, dibutuhkan 30 hari. Jika dijumlahkan, bisa memakan waktu satu, dua atau tiga tahun. Penantian penuh stress ini membunuh sebagian besar proyek cogeneration. Waktu adalah uang”

Memang tidak semua perusahaan listrik melakukan hal yang sama. Tapi perlakukan terbaik oleh perusahaan listrik terhadap proyek cogeneration adalah mewajibkan mereka menjadi pelanggan perusahaan listrik, kata Ed Legge, juru bicara Edison Electric Institute.

Diterjemahkan dari tulisan Sam Purl di Worldofrenewables





Irlandia haramkan lampu pijar.

9 12 2007

064.jpgPemerintah Irlandia, hari ini (6 Desember 2007) mengumumkan pelarangan penggunaan lampu pijar. Larangan serupa adalah yang pertama dilakukan di Eropa terhadap lampu boros energi. Langkah sederhana, tapi bersejarah ini merupakan reaksi langsung pemerintah Irlandia menyikapi koferensi UNFCCC tentang perubahan iklim di Bali 4 – 14 Desember 2007.

Setahun belakangan, sejumlah negara Eropa telah membicarakan larangan serupa, tapi Irlandia yang pertama bertindak.Para pedagang dan produsen lampu pijar diberikan kesempatan untuk menyesuaikan dengan peraturan baru ini hingga 2011.

Bulan065.jpg lalu, Presiden Perancis, Sarkozy, mengatakan dukungannya mengeluarkan larangan serupa tahun 2010. Menteri Lingkungan Belanda, Cramer yang juga mantan karyawan Philips, awalnya mengumumkan dukungannya untuk pelarangan lampu pijar di Belanda tahun 2011. Namun kemudian Cramer berubah pikiran dan mengatakan larangan itu baru diberlakukan di Belanda 2019.

Disarikan dari Greenpeace.

Catatan:

- Indonesia hingga kini belum pernah sekalipun menyentil ide pelarangan lampu pijar. Padahal Indonesia adalah penyumbang emisi gas rumah kaca nomor 3 dunia.

- Bagaimana dengan anda? Masih tetap menggunakan lampu pijar di rumah? Jangan sampai deh. Ayo selamatkan Bumi dengan langkah kecil, tapi nyata!








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.