Happy Birthday, the Greatest Human Ever

10 03 2009

Kemarin adalah hari lahir manusia paling utama, Rasulullah Muhammad SAW. Tidak banyak yang saya lakukan untuk merayakan hari lahir Beliau karena urusan dunia yang tak kunjung usai. Saya perlu menyesali diri untuk itu.

214

Hanya bisa berucap:

Allahuma Sali Ala Muhammad, wa Ala Ali Muhammad





Sepotong Doa Buat Palestina (A Wish for Palestine)

6 01 2009

Ya Rab..

Hanya Engkau yang mampu mengubah Qun menjadi Fayaqun..

Mengizinkan mukjizat..

Membari hadiah..

Menjatuhkan murka..

Semua derita telah tumpah di Palestina

Bercampur asap, debu, puing, darah

Tangis, jerit, lengking,

dan Doa.

Di sana, hidung manusia mencium tanah, menyembahmu

Berharap sang musuh henti berlaku angkara

Berharap sesama Muslim bersatu melawan durjana

Berharap hidup tanpa batu, apalagi peluru

Cuma Engkau yang punya kuasa

Berikan damai

Di Palestina

Hentikan segala murka

1761

Foto: Forsomeonechild





Saat Bulan Terbelah (When the Moon Split)

23 11 2008

Judul posting ini – Ketika Bulan Terbelah (When the Moon Split) – diambil dari judul sebuah buku karangan Safiur-Rahman Mubarakpuri, sarjana Islam kelahiran India yang menjadi dosen di Universitas Madinah al Munawarrah. Di dalam buku yang berisi biografi Rasulullah Muhammad SAW ini, Syaikh Mubakpuri (alm.) menuliskan kisah-kisah menarik sepanjang hidup Rasulullah.

166Sampul buku When the Moon Split

Salah satu kisah yang dimuat di halaman 112-113 diberi heading “The moon splits in half.” Diceritakan menjelang Hijrah, Rasulullah ditantang kalangan kafir Quraisy untuk menunjukkan bukti kenabiannya. Mereka mengatakan bahwa selema ini Muhammad tidak mampu menunjukkan bukti kenabiannya, walaupun cuma bukti kecil. Bukti yang diminta kaum kafir Quraisy tidak tanggung-tanggung, yaitu meminta Rasulullah membelah bulan. Rasulullah hanya bisa berdoa menjawab permintaan tersebut. Dan Allah mengabulkan doa kekasihnya itu. Sebagai mana diminta kau kafir Quraisy, bulan pun terbelah menjadi dua, cukup jauh sehingga puncak bukit Hira berada diantara kedua bagian bulan yang terbelah tersebut. Rasulullah berkata, “Kamu semua telah menjadi saksi.”

Bukti nyata tersebut, walaupun membuat mereka tercengang, namun tidak membuat para penantang Rasulullah mengakui bukti kenabian Rasulullah. Mereka malah menuduh bahwa Rasulullah telah menggunakan sihir terhadap mereka.Namun, sebagian di antara mereka berjalan menuju pintu masuk kota Makkah. Saat menemui kafilah yang memasuki kota, mereka bertanya, “apakah kalian menyaksikan sesuatu yang aneh?” Para kafilah menjawab, “Ya kami menyaksikan bulan yang terbelah dua.”

Peristiwa bulan terbelah juga terdapat di dalam Al Qur’an. “Sungguh telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah.” (Q.S. Al-Qamar: 1. Baru-baru ini NASA mempublikasi foto-foto sebagaimana dilihat di bawah ini.

167

Foto: NASA

168Foto: NASA

Sebagian kalangan menghubungkan foto ini dengan kisah dan ayat Al Qur’an di atas sebagai bukti bahwa bulan memang pernah terbalah.

Namun Thomas Djamaluddin dari Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN). menyanggah dengan mengatakan bahwa garis yang terdapat pada foto-foto tersebut adalah kanal-kanal di bulan. Dia juga mengatakan bahwa di bulan terdapat banyak kanal-kanal seperti itu, ada yang lurus, dan ada yang berbelok, dengan panjang ratusan meter, lebar beberapa kilometer dan kedalaman beberapa ratus meter.

Djamaluddin menegaskan bahwa mu’jizat tidak memerlukan pembuktian, karena peristiwa mu’jizat tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan.





Foto Ramadhan dari Reuters (Reuters’ pictures of Ramadhan)

13 09 2008

Seorang bocah laki-laki melaksanakan shalat malam sebelum Ramadhan di Masjid Emas Manila September 1, 2008 (Foto: Reuters)

Murid-murid sekolah Islam membaca Al Qur’an di siang Ramadahan di Islamabad September 2, 2008 (Foto: Reuters)

Seorang Muslim Kashmir berdoa di ruang Sheikh Abdul Qadir Jeelani, di hari Ramadhan di Srinagar, September 4, 2008 (Foto: Reuters)





Ramadhan di Perth (Ramadhan in Perth)

4 09 2008

Ini adalah Ramadhan kedua saya di Australia. Berbeda dengan Ramadhan tahun lalu yang terasa lebih ringan, Ramadhan tahun ini terasa lebih berat. Tapi ada satu nikmat yang tak ternilai harganya di Ramahadan tahun ini, yaitu menjalani bulan suci bersama keluarga.

Foto: bp3.blogger.com

Tahun lalu segalanya masih seperti bulan madu. Saya begitu excited karena itulah Ramadhan pertama saya di Australia. Apa-apa jadi terasa biasa. Ada rindu pada keluarga, tapi diimbangi oleh rasa senang menikmati pengalaman pertama.

Tahun ini, saya dan istri merasa rindu sekali dengan kampung halaman. Banyak kenangan indah yang ingin sekali rasanya diulang kembali. Suasana Ramadahan di kampung terasa begitu kental, hidmad, sehingga bulan itu memang terasa ‘beda’ dengan bulan lain. Menjelang subuh, semua penduduk sibuk makan sahur. Setelah itu orang berbondong-bondong shalat Subuh di Masjid. Siang pun terasa khas, haus, agak lemas, tapi asik. Sore orang-orang keluar rumah, bercengkrama, menunggu waktu berbuka tiba. Saat berbuka, setiap muka layu kembali segar ibarat pohon meranggas disiram air. Kemudian orang kembali ke Masjid untuk tarawih dan tadarus. Malam terasa pendek.

Di sini, tidak ada yang berubah. Aktifitas berjalan seperti biasa. Cafe-cafe masih buka. Mahasiswa hilir mudik di kampus sambil minum kopi atau makan sosis berbungkus roti. Sebagian orang merokok di pojok-pojok. Bahkan, karena musim dingin belum juga berakhir, gairah Ramadhan sekan ikut membeku. Tarawih hanya dilakukan berdua di kamar di rumah. Tidak ada kentongan orang membangunkan sahur, apalagi anak-anak berbaris ke surau membawa obor. Ahhh, betapa rindunya pada surau dan bedug di kampung.

Namun, ini adalah bulan suci. Di mana semua do’a dikabulkan. Di mana tersedia wadah pencucian semua dosa. Di mana setiap ibadah dilipatgandakan pahalanya. Di mana malam lailatul qadr akan hadir.

Bulan ini mesti tetap dinikmati, sejadi-jadinya.

Mohon maaf lahir dan bathin.





Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia (The influence of radicalims in the Middle East on Indonesia)

30 07 2008

Berikut ini resensi buku berjudul “Joining the Caravan? The Middle East, Islamism and Indonesia” yang ditulis oleh M. Endy Fadlullah. Buku yang ditulis Anthony Bubalo and Greg Fealy, dua akademisi di Australia, ini telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Akh. Muzakki, dan diterbitkan oleh Mizan, Bandung. Jika anda lebih suka versi bahasa Inggris, silahkan download dari http://www.lowyinstitute.org/Publication.asp?pid=229

——————————————-

Jejak Kafilah: Pengaruh Radikalisme Timur Tengah di Indonesia

Oleh: M. Endy Fadlullah, Pengajar STAI Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi.

Radikalisme belakangan ini menjadi gejala umum di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Gejala radikalisme di dunia Islam bukan fenomena yang datang tiba-tiba. Ia lahir dalam situasi politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang oleh pendukung gerakan Islam radikal dianggap sangat memojokkan umat Islam.

Secara politik mereka merasa bukan saja tidak diuntungkan oleh sistem, tapi juga merasa diperlakukan tidak adil. Secara ekonomi pun mereka merasa tidak lebih baik. Kelompok Islam radikal menganggap kepentingan ekonomi umat Islam tidak dilindungi, bahkan diabaikan dan dipinggirkan. Sementara itu, dalam konteks sosial budaya, umat Islam semakin kehilangan orientasi dengan makin kuatnya serbuan budaya Barat. Ikatan-ikatan sosial yang sebelumnya cukup kuat menyatukan kelompok-kelompok Muslim kemudian tercerai-berai akibat jebolnya pertahanan budaya yang dimiliki umat Islam.

Dalam suasana seperti itulah Islam radikal mencoba melakukan perlawanan. Perlawanan itu muncul dalam bentuk melawan kembali kelompok yang mengancam keberadaan mereka atau identitas yang menjadi taruhan hidup. Mereka berjuang untuk menegakkan cita-cita yang mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga atau institusi sosial lain. Mereka berjuang dengan kerangka nilai atau identitas tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. Untuk itu mereka juga berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial-keagamaan yang dipandang menyimpang. Terakhir mereka juga mendaku bahwa perjuangan mereka atas nama Tuhan atau ide-ide lain.

Dalam kasus Indonesia, sebagaimana dijelaskan dalam buku berjudul asli Joining the Caravan?: The Middle East, Islamism and Indonesia, hasil penelitian dua akademisi Australia ini, Greg Fealy dan Anthony Bubalo, pengaruh keagamaan dan politik dari Timur Tengah ke Indonesia bukan hal baru dalam sejarah. Menurut mereka, semenjak Islam masuk ke Nusantara, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah sangat
kental. Transmisi ini dimungkinkan karena posisi Timur Tengah sebagai sentrum yang selalu menjadi rujukan umat Islam. Negara-negara yang memiliki kota-kota suci dan pusat ilmu pengetahuan selalu dikunjungi orang Indonesia, baik untuk berhaji, ziarah, maupun belajar. Dari aktivitas ini kemudian muncul berbagai bentuk jaringan, baik jaringan keulamaan, jaringan gerakan dakwah, maupun jaringan gerakan politik.

Di samping itu, konteks politik di Indonesia juga menjadi alasan lain kemunculan Islam radikal. Ada kesamaan antara gerakan Islam radikal di Indonesia dan Timur Tengah. Sebagaimana ditunjukkan buku ini,
gerakan Islam radikal di Timur Tengah bisa diklasifikasi dalam tiga kategori. Pertama, gerakan itu terjadi di negara-negara yang pemerintahannya otoriter seperti di Irak dan Suriyah. Al-Mujahidin di Irak menentang kediktatoran Saddam Hussein, demikian halnya al-Ikhwan di Suriyah yang menentang rezim Hafidh al-Asad.

Kedua, hal yang sama terjadi di wilayah yang dijajah dan diduduki kekuatan asing, seperti di Palestina. Fundamentalisme di Palestina yang bahkan termanifestasi dalam bentuk ekstrem melalui jalan kekerasan merupakan reaksi terhadap kekerasan politik yang dilakukan Israel.

Ketiga, gerakan radikal lahir di negara yang kebijakan pemerintahannya dipandang terlampau memihak ke Barat seperti Mesir dan Iran prarevolusi. Munculnya Ikhwanul Muslimin di Mesir tak lepas dari sentimen massa menentang kebijakan pemerintah yang dinilai pro-Barat dan cenderung memarjinalkan peran kaum agamawan.

Dari tiga kategori di atas, faktor pertama dan ketiga terjadi di Indonesia, baik sebelum maupun setelah Orde Baru. Sejak awal kelahirannya, sikap Orde Baru terhadap umat Islam mengikuti pola kebijakan yang diterapkan Belanda: bersikap toleran dan bersahabat terhadap Islam sebagai kelompok sosial dan keagamaan. Tapi, sikap ini segera berubah menjadi keras dan tegas ketika Islam mulai memperlihatkan tanda-tanda sebagai kekuatan politik yang menentang kehendak penguasa.

Meski kemunculan gerakan radikal Islam terfragmentasi dalam beragam organisasi, ada sejumlah benang merah yang bisa ditarik dari berbagai kelompok tersebut sekaligus menjadi faktor pembeda dari Muslim
mainstream di Indonesia. Beberapa benang merah itu antara lain adalah pemahaman yang sangat literal terhadap ajaran Islam, keyakinan yang sangat kuat bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk
menyelesaikan berbagai krisis di negeri ini, perjuangan yang tak kenal lelah menegakkan syariat Islam, resistensi terhadap kelompok yang berbeda pemahaman dan keyakinan, serta penolakan dan kebencian
yang nyaris tanpa cadangan terhadap segala sesuatu yang berbau Barat.

Kemudian orang pun bertanya-tanya: mengapa di tengah arus utama Islam yang moderat di Indonesia (utamanya NU dan Muhammadiyah), muncul sekelompok Muslim sebagai teroris? Menurut buku ini, penjelasannya tentu melibatkan berbagai faktor dengan banyak dimensi yang kompleks. Perubahan besar dalam dunia Islam yang sering tidak disadari oleh masyarakat internasional adalah, sebagian besar masyarakat Muslim dunia saat ini tidak lagi terkonsentrasi di Timur Tengah (hlm. 84).

Buku ini dimaksudkan sebagai kontribusi intelektual untuk memperkaya perdebatan lebih luas tentang peran yang dimainkan kelompok Islamis di kancah politik internasional kontemporer. Fokus kajiannya dibingkai dengan beberapa persepsi dan mispersepsi, terutama menyangkut kecenderungan yang melihat Islamisme saat ini sebagai gerakan ideologi monolitik yang menyebar dari Timur Tengah sebagai pusat ke negara-negara Muslim di seluruh dunia.

Analisis buku ini tertuju pada sejumlah perubahan besar yang terjadi, baik di dunia Islam maupun persepsi Barat atas dunia Islam. Perubahan nyata telah menjelma sebagai dampak serangan teroris 11 September 2001, di mana Al-Qaeda semakin dipandang sebagai sebuah ideologi ketimbang organisasi. Telaah atas sejauh mana ideologi atau pandangan dunia itu telah menyebar, serta menjelaskan bagaimana kecenderungan dari ancaman teroris di masa depan.

Buku ini berujung pada kesimpulan bahwa dari semua bentuk Islamisme kontemporer, pengaruh Ikhwanul Muslimin di Indonesia memiliki sejarah terpanjang. Menurut penulis, meski berhasil mengungkap pengaruh atau dampak gagasan-gagasan Islamis dan neofundamentalis dari Timur Tengah di Indonesia, hampir semuanya mengalami proses mediasi atau modifikasi. Gagasan gradualis Hasan Al-Banna, misalnya, lebih banyak digunakan dibandingkan gagasan revolusioner Sayyid Quthb dan para penerus radikalnya (hlm. 109).

Tak ketinggalan, terkait dengan pengaruh tersebut, buku setebal 202 halaman ini juga mengupas fenomena keberhasilan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di pentas politik Indonesia dan Jamaah Islamiyah yang sering dikaitkan dengan serangkaian aksi teror.

Akhirnya, di tengah arus besar kecenderungan untuk melukiskan Islamisme sebagai wajah tunggal berdimensi transnasional, buku ini merobohkan pencitraan na�f seperti itu dengan menunjukkan keragaman dan dimensi lokal dari peresentasi Islamisme dalam ruang sejarah. (*)





Peluasan Masjid Haram dan Madinah (Haram and Madinah Mosques Expansion Plans)

26 07 2008

Putera Mahkuta Saudi Arabia Pangeran Abdullah Ibn Abdul-Aziz, Wakil Perdana Menteri, dan Panglima Angkatan Bersenjata telah maluncurkan enam proyek pengembangan masjid-masjid besar di Makkah dan Madinah.Proyek-proyek ini akan menelan biaya amat besar. Pengembangan Masjid Al Haram Mekkah misalnya, diperkirakan menelan biaya SR35 Miliar.

Rancangan Masjid Al Haram (Foto Dar Ul Ishaat)

Perombakan Masjid Al Haram dilakukan di bagian utara masjid sekarang meliputi pembangunan tower-tower penginapan, Rumah Sakit Umum Ajyad dan sistem trasportasi yang lebih baik. Jabal Omar towers misalnya, dibangun seluas 230 ribu meter persegi sebagai penginapan sekelas hotel bintang lima mengelilingi Masjid Al Haram.

Secara total, pengembangan Masjid Al Haram akan memakan tempat seluas lebih 1,2 juta meter persegi. Proyek ini tidka hanya akan meningkatkan fasilitas penginapan dan ibadah bagi jutaan jemaah haji dan umrah dari seluruh dunia, tapi menurut Abdul Rahman Faqeeh, Pimpinan Perusahaan Makkah Construction, juga akan membuka lebih dari 25 ribu lapangan kerja.

Rancangan Masjid Madinah (Foto Dar Ul Ishaat)

Selain Masjid Al Haram, Masjid Madinah juga akan mengalami pengembangan besar-besaran.

Source: Dar Ul Ishaat





Nenek penjual bunga cempaka

12 07 2008

Kisah ini dituturkan KH Jalaludin Rakhmat dari KH Zawawi Imron, diambil dari posting ustad Abdul Jalil Ahmad di milis Perhimpunan Pengajian Islam Perth.

“Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan ia pergi ke mesjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar mesjid dan membungkuk-bungkuk di halaman mesjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman mesjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman mesjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Masjid Nabawi (Foto: BP3). Note: Foto Masjid ini hanya untuk ilustrasi, bukan menunjukkan kejadian pada kisah ini.

Banyak pengunjung mesjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk mesjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke mesjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.”

Singkatnya cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

(Sumber: “Sate Rohani dari Madura”, D. Zawawi Imron, Rosda, 2001)





Al-Qur’an di Halaman Web

9 05 2008

Di halaman web di bawah ini, semua ayat Al-qur’an dapat dibaca. Ditulis dalam bahasa Arab dan terjemahan bahasa Inggris. Ayat atau terjemahan bisa di-play, didengarkan dan diresapi maknanya.

Thx to those who provide the site.

http://www.quranexp lorer.com/





Download MP3 Al-Qur’an

9 05 2008

lhamdulillah dengan kemajuan teknologi Al-Qur’an pun tampil dalam berbagai bentuk, mulai dari bentuk klasik (buku) hingga MP3.

Anda yang tertarik download MP3 Al Qur’an silahkan buka http://quranicaudio.com/. Di halaman web ini terdapat link ke berbagai Qori.

Selamat beribadah.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.