Pengambilan data untuk penelitian

22 01 2009

Penelitian saya bertujuan mencari teknologi yang tepat untuk memberikan listrik bagi desa-desa terpencil di Riau. Desa-desa yang dipilih khusus yang berada di pinggir sungai-sungai besar di Riau, dan teknologi yang ditawarkan berasal dari sumber energi terbarukan, khususnya energi surya, mikrohidro dan biomassa. Kajian tidak hanya pada aspek teknologi, tapi juga sosial, ekonomi, lingkungan, dan kebijakan.

Foto-foto berikut diambil saat pengambilan data-data di beberapa sungai di Riau yang dikerjakan oleh tim riset saya di Riau. Terima kasih diucapkan pada Epis (koordinator lapangan), Iyon (tim lapangan), kakanda Edison Asmisor (yang membantu komunikasi saya via email dengan tim lapangan, Kepala Desa Saik, Pulau Panjang Hulu dan Pulau Panjang Hilir, Bandi dan kawan-kawan yang membantu mendapatkan data beban, serta masyarakat ketiga desa yang ikut membantu. Jasa mereka semua sungguh berharga.

Foto-foto berikut hanya memperlihatkan salah satu diantara ratusan desa yang belum dialiri listrik di Riau. They do need help!





Program Studi Energi Terbarukan (Renewable Energy Education)

17 01 2009

Pertumbuhan lapangan kerja di bidang energi hijau (green energy) dalam satu dekade balakangan sungguh pesat. Diperkirakan pertumbuhan akan makin tinggi di masa depan. Hingga 2030, diperkirakan sekitar 20 juta lapangan kerja baru di bidang energi terbarukan akan tersedia (UNEP, 2008). Silahkan baca tulisan yang lebih detail tentang topik ini di sini.

Peningkatan lapangan kerja seperti dipredisksi di atas disambut antusias oleh berbagai perguruan tinggi papan atas dunia. Kini, jumlah perguruan tinggi yang membuka program-program studi di bidang renewable energy bertambah. Antusias ini dipicu oleh trend dunia yang sedang transisi menuju green economy.

Berikut adalah beberapa universitas yang saya ketahui memiliki program studi dan riset di bidang renewable energy. Terdapat juga link ke website program studi jika anda berminat menelusuri lebih jauh.

Murdoch University, Western Australia

—- Energy Studies Program
—- Research Institute of Sustainable Energy

Solar Energy Reserach Institute, Universitas Kebangsaan Malayisa

Florida Solar Energy Centre, University of Central Florida

Energy Technology, School of Engineering Science, University of Southampton, UK.

Strategic Energy Institute, Georgia Institute of Technology, USA.

McMaster Institute for Energy Studies, McMaster University, Canada.

Institute of Energy Technology, Aalborg University, Denmark

Institut fur Solare Energieversorgungstechnik, Kassel University, Jerman.

National Library for Sustainable Energy, Technical University of Denmark

Centre of Renewable Energy System Technology, Loughborough University, UK.

Clean Energy Technology, The University of Texas-Austin, USA.

Renewable and Sustainable Energy Initiative, University of Colorado-Boulder, USA

Solar Energy, Australian National University

School of Photovoltaic and Renewable Energy, University of New South Wales, Australia

Renewable and Appropiate Energy Laboratory, University of California-Berkeley, USA.

The Centre for Energy Efficiency and Renewable Energy, University of Massachusetts, USA.

Centre for Energy, University of Newcastle, Australia

Power Engineering Research Laboratory, Mc Gill University, Canada

Solar Energy Laboratory, University of Wisconsin-Madison, USA

Institute for Energy System, Edinburgh University

Ada yang mau menambahkan daftar ini? Silahkan isi di from komentar di bawah.

Di bawah ini beberapa foto kagiatan perkuliahan dan fasilitas sistem energi terbarukan di universitas tempat saya belajar energi terbarukan, Murdoch University Western Australia.

196

Salah satu fasilitas riset off-grid power system di RISE – Murdoch Unversity (Foto: Anonymous)

1971

Fasilitas riset snergi surya, energi angin, dan beberapa aplikasi seperti solar pump di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198Solar Taxi berkunjung ke Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Fasilitas praktikum pemanas air surya (solar water heater) di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198

Fasilitas riset Hydrogen Fuel-Cell di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Bus berbahan bakar Hydrogen Fuel-Cell. Salah satu hasil riset Murdoch University (Foto: Anonymous)

200

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

201

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

solar-cook05

Saya bersama teman-teman melakukan praktikum solar cooking (memasak dengan energi matahari) (Foto: kunaifi)

202

Di fasilitas RISE – Murdoch University ini mahasiswa mengamati karakteristik berbagai jenis solar cell. Di dalam bangunan berbentuk kotak di belakang PV array mahasiswa dapat membuat tiruan intensitas cahaya matahari yang mencapai Bumi (Foto: Anoymous)

191

Dengan fasilitas ini, RISE – Murdoch University melakukan pengujian peralatan energi terbarukan (misalnya inverter) sesuai standar internasional (Foto: RISE)

187

PV Array simulator di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

188

Panel-panel sistem energi terarukan di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

189

Battery storage array di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

190

Sebagian instrumen pengukur cuaca (intensitasradiasi matahari, kecepatan angin, arah angin, kelembaban, tekanan udara, dll) di RISE-Murdoch University (Foto: RISE)

194

Salah satu PV system di RISE-Murdoch University yang tersambung dengan jaringan listrik lokal (Foto: RISE)

203

Untuk mendukung riset energi terbarukan, Murdoch University memiliki stasiun meteorogi sendiri yang dapat diakses secara online di wwwmet.murdoch.edu.au





Jurnal Gratis (Open Access Journals)

2 09 2008

Akses ke artikel-artikel di jurnal-jurnal ilmiah adalah kebutuhan bagi banyak orang terutama yang bekerja sebagai peneliti atau pengajar. Namun disadari bahwa di Indonesia belum banyak universitas dan lembaga penelitian yang memiliki akses ke jurnal-jurnal ilmiah internasional. Berbagai alasannya, antara lain harga jurnal yang mahal dan rendahnya kualitas internet di dalam negeri. Untuk yang terakhir, yaitu akses internet, tidak bisa ditawar, sebab inilah pintu untuk masuk ke jurnal-jurnal internasional.

Walaupun kondisi ini jelas menghambat para peneliti dan pengajar dalam menghasilkan karya-karya ilmiah, namun tidak perlu terlalu bersedih, sebab kini cukup banyak jurnal-jurnal ilmiah internasional yang dapat diakses secara gratis.

Di sini akan diberikan beberapa link yang akan membawa anda ke daftar jurnal-jurnal gratis tersebut. Anda tidak perlu ragu akan kualitas jurnal-jurnal gratis ini. Sebab sesungguhnya jurnal-jurnal tersebut bukan terbit tanpa biaya, tapi ada lembaga yang sudah membayarkan untuk anda. Jadi, anda tidak perlu merasa malu memasang link ke jurnal-jurnal gratis ini di website perpustakaan anda.

- Perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia: Daftar jurnal gratis

- Wikipedia: Informasi tentang open source journals dan daftar jurnal gratis

- Perpustakaan Australian National University:Tabel e-resource dan database, di kolom kanan tertulis “Free e-resource” menandakan jurnal tersebut gratis.

- Directory of Open Access Journals: Daftar jurnal gratis (yang saya temukan) paling lengkap.

- Perpustakaan Curtin University of Technology: Daftar jurnal gratis dan katalog beberapa perpustakaan.

-e-book gratis dari University of Virginia

Selamat membaca.





Jangan ada diskriminasi dalam pendidikan (No discrimination for education)

20 07 2008

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta hampir membuat malu bangsa Indonesia. Pasalnya adalah penolakan UIN terhadap calon mahasiswa tunanetra untuk belajar di universitas milik Departemen Agama tersebut. Padahal Wijaya, sang calon mahasiswa telah lulus Ujian Masuk Bersama (UMB) tahun akademik 2008. Sebagai alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan, Wijaya juga sudah membuktikan bahwa kekurangan yang dimilikinya bukan hambatan dalam menjalankan pendidikan.

Menurut Detik.com, Wijaya ditolak pihak UIN ketika hendak mendaftar ulang, dengan alas an tunanatra. Uang pendaftaran pun dikembalikan pihak UIN. Betapa pedihnya perasaan anak muda ini. Cacat yang dideritanya ternyata bukan mendatangkan empati, justru membuat dia makin diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Alasan pihak UIN tidak jelas. Padahal sejak tahun 1980-an, universitas ini telah menerima beberapa mahasiswa tunanetra. Bahkan salah satu di antaranya lulus dengan predikat terbaik dari Fakultas Dakwah.

Diskriminasi terhadap penyandang cacat hendaknya tidak terulang di tanah air. Atas alasan apa pun, kebijakan ini tidak dapat dibenarkan. Dalam UUD 45 jelas disebutkan bahwa setiap warga Negara memiliki hak yang sama dalam pendidikan.

Di negara-negara maju, para penyandang cacat justru mendapat perlakukan khusus dalam mendapatkan tempat di lembaga pendidikan dan pekerjaan. Di Australia misalnya, hak penyandang cacat dalam mendapat pendidikan diatur dengan peraturan bernama Disability Discrimination Act. Peraturan ini supaya para penyandang cacat tidak mendapat diskriminasi negative dalam mendapatkan kursi di lembaga pendidikan. Peraturan ini mendorong pengelola lembaga pendidikan untuk memberikan diskriminasi positif dalam bentuk menyediakan fasilitas bagi mahasiswa penyandang cacat.

Foto: massresources.org

Memang tidak dipungkiri bahwa ada program studi-program studi tertentu yang tidak dapat diikuti oleh penyandang cacat. Bukan karena tidak boleh, tapi karena tidak mungkin. Namun demikian dalam membuat keputusan apakah seorang penyandang cacat diterima tau tidak sebagai mahasiswa, peraturan ini mewajibkan universitas untuk tidak membuat keputusan sepihak. Komunikasi dengan calon mahasiswa mesti dilakukan untuk menguji apakah penilaian universitas rasional dan dapat diterima oleh calon mahasiswa. Begitu pula dengan kurikulum, materi pelajaran, dan ujian, mesti sesuai dan dapat diakses oleh mahasiswa penyandang cacat.

Untung universitas Islam ini kemudian insyaf. Setelah berita ini merebak di berbagai media nasional, Wijaya dipersilahkan mendaftar ulang kembali. Alasan miskomunikasi pun dikedepankan.





Beasiswa Masters dan PhD Australia 2009 (2009 Australian Masters & PhD Scholarships)

1 02 2008

122.gif

Australian Leadership Awards Scholarships

Applications for the 2008 ALA intake have now closed. The 2009 intake will open in April 2008.

The Australian Leadership Awards (ALA) Scholarships are a component of the Australian Leadership Awards, a regional program under the Australian Scholarships initiative. Australian Leadership Awards aim to develop leadership, build partnerships and linkages within the Asia-Pacific.

They are intended for those who are already leaders or have the potential to assume leadership roles that can influence social and economic policy reform and development outcomes, both in their own countries and in the Asia-Pacific region. The ALA program comprises of Scholarships and Fellowships.

ALA Scholarships are academically elite awards offered to high achievers from the Asia-Pacific region each year to undertake postgraduate study (Masters or Doctorate) and a Leadership Development Program in Australia.

Selection for ALA Scholarships is highly competitive, based on leadership qualities and on academic excellence.

ALA Scholarships are an investment in the future of the Asia-Pacific region. In this regard, ALA scholars are required to return to their home country or the region for two years after they have completed their studies.

In future years, ALA scholars will belong to a unique group – the Australian Scholarships Alumni Network (ASAN) – that will maintain strong and enduring links to Australia. Managed by AusAID as part of Australia’s overseas aid program, ALA Scholarships are open only to citizens of countries in the Asia-Pacific region with which Australia has a significant aid program.

Objectives of ALA Scholarships

ALA Scholarships aim to:

· develop a cadre of leaders advancing regional reform, development and governance

· increase exchange of knowledge and information within the region

· build common purpose and understanding between Australia and the region

· build capacity to address priority regional issues

· build effective networks between Australia and the region

· demonstrate the benefits of Australian education through the provision of high quality education.

Fields of study

Awards are open to all fields of study, however, study programs that relate to the priority themes of international trade, pandemics, security and climate change (including clean energy) are encouraged. Scholarships are not available for military training, or training in areas related to nuclear technology and flying aircraft.

Levels of study

An ALA Scholarship enables candidates to undertake studies leading to a Masters or Doctorate degree in Australia. It does not include Graduate Diplomas, with the exception of those Masters courses that require the completion of a Graduate Diploma as part of the Masters degree.

Who should apply

Outstanding applicants with:

· a very high level of academic achievement at undergraduate and/or postgraduate level

· a high level of English language proficiency

· demonstrated leadership potential and good prospects to influence social and economic policy reform and development outcomes in their home country and in the Asia-Pacific region

· a commitment to participate ASAN on their return home.

Links to specific eligibility requirements are found below.

Applicants seeking to migrate to Australia should NOT apply.

Scholarship benefits

An ALA Scholarship has a total value of up to A$110,000 for Masters degrees and A$220,000 for Doctoral programs, not including provisions for the leadership development program.. Benefits include:

· return air travel

· visa support

· establishment allowance

· full tuition fees

· contribution to living expenses

· Introductory Academic program (IAP)

· Overseas Student Health Cover (OSHC) for the duration of the award (for award holder only).

Participating Higher Education Institutions

ALA Scholarships students commencing in 2008 may attend any of the participating Australian higher education institutions.

Application information

Read the following information before you apply:

· Frequently asked questions

· Timeline for applicants

· Eligibility

· Selection criteria

· Terms and conditions of the scholarship

· How to apply

Further information

If the material found on this website does not provide the necessary help, please direct enquiries by email to: ala@ausaid.gov.au

See also ALA Scholarships fact sheet [PDF 97KB]

Sumber: dicopy bulat-bulat dari http://www.ausaid.gov.au/scholar/ala.cfm

Catatan: ALA adalah beasiswa Australia yang sangat bergengsi.

Note:

Please note that I have forwarded this information for anyone who migh be interested in this program. I am not a staff member of this program. So, there is no point if you ask me further information about it.

Untuk memberi komentar atas tulisan ini, silahkan klik di samping Comment di bawah ini.





2.500 beasiswa S2 dan S3 untuk Dosen (2,500 Masters and PhD scholarships for lecturers)

27 01 2008

121.gif

Direktorat Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), menawarkan beasiswa bagi 2.500 dosen perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia.

Program beasiswa itu disosialisasikan Dirjen Dikti Depdiknas, Fasli Jalal, melalui teleconference “Coffee Morning with DGHE Perdana 2008.

Acara yang dihadiri para pimpinan perguruan tinggi, dekan, dan dosen yang berminat itu, merupakan kali ketiga yang dilakukan Dirjen Dikti Depdiknas dengan PTN/PTS se-Indonesia, setelah sebelumnya “teleconference” peluncuran Program BERMUTU untuk peningkatan kualitas guru.

Dalam kesempatan kali ini, Dirjen Dikti Depdiknas menawarkan kesempatan belajar ke luar negeri bagi dosen untuk menempuh pendidikan jenjang S2 dan S3, dengan target awal 2.500 beasiswa yang dibagi menjadi dua gelombang.

Untuk gelombang pertama berjumlah 1.500 beasiswa yang diserahkan pada tahun 2008 dan sisanya 1.000 beasiswa akan diberikan pada tahun 2009. Dari 1.500 beasiswa tahun 2008 baru 597 yang terisi, sehingga masih ada lebih dari 900 beasiswa yang belum terisi.

“Silahkan dosen-dosen dari berbagai program studi di perguruan tingggi mengajukan beasiswa ke perguruan tinggi yang dituju,” kata Fasli Jalal dalam “teleconference” itu.

Dia juga menambahkan, dosen pelamar beasiswa harus memperhatikan apakah perguruan tinggi luar negeri yang dituju itu telah terakreditasi atau belum, karena hal itu menjadi tujuan dari program beasiswa Dikti itu.

Dalam “teleconference” yang berlangsung selama dua jam tersebut, Rektor ITS, Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD juga menyampaikan beberapa pendapat dalam sesi diskusi.

Orang nomor satu di ITS itu mengatakan, Dikti hendaknya juga memberikan porsi untuk bidang ilmu “science”, karena ilmu itu sangat menunjang untuk bidang aplikatif lainnya.

“Kami juga sepakat bahwa pengiriman dosen untuk mengikuti beasiswa luar negeri, dikarenakan adanya kearifan lokal –kebutuhan daerah–,” katanya.

Untuk mengetahui persyaratan dan download formulir perndaftaran, silahkan klik di sini.

(Sumber berita: www.antara.co.id, sumber lambang diknas: http://users.cjb.net/retooling4ftugm/diknas1.gif)

Mohon jangan lewatkan kesempatan ini, please, please, please !!!

Untuk memberi komentar atas tulisan ini, silahkan klik di samping Comment di bawah ini.





Beasiswa Program Master eGovernment di Swedia

10 01 2008

Örebro University di Swedia membuka pendaftaran untuk program Master in Electronic Government tahun 2008.

Program yang berdurasi 2 tahun ini diperuntukkan bagi lulusan S1 bidang Informatics, Information Systems atau bidang lain berkaitan eGovernment. Lulusan Ilmu Politik atau Administrasi Publik juga dapat mendaftar ke program ini.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi http://electronicgo vernment. eu/

113.jpg
Kampus Örebro University, Swedia

Beasiswa tersedia untuk mahasiswa dari negara-negara berkembang. Persyaratan:

1. Surat rekomendasi dari universitas (S1).
2. Mendaftar sebelum 1 Februari 2008.

Silahkan menghubungi Anders Avdic <anders.avdic@esi.oru.se>, Program Manager untuk mengetahui persyaratan secara lengkap.

Untuk memberi komentar atas info ini, silahkan klik di samping Comment di bawah ini.





Hak Mahasiswa

1 01 2008

111.jpgSaya tertarik menulis tentang topik ini setelah membaca berita di Detik Com 31/12/2007 berjudul “Mahasiswa Hilang di Gunung Agung, Kampus Panggil Ortu.

Berita tersebut menceritakan tentang tiga mahasiswa sebuah universitas swasta di Bandung yang hilang ketiga mendaki Gunung Agung, Bali. Orang tua ketiga mahasiswa diundang pihak universitas ke Bandung. (Foto kiri: www.viewimages.com)

Menurut Humas univeritas, tujuan pemanggilan orang tua korban adalah untuk menentukan langkah selanjutnya. Para orang tua yang diundang belum memberi jawaban, karena mereka tinggal jauh dari bandung: di Banten, Jakarta, dan Bukit Tinggi.

Sementara itu, teman-teman korban sesama pengurus Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) universitas tersebut sudah bertolak ke lokasi hilangnya anggota mereka di Gunung Agung, Bali via jalur darat dan udara.

Setelah membaca berita ini, saya teringat sebuah anekdot lama. Diceritakan dalam sebuah penerbangan terdapat tiga orang sahabat, masing-masing berasal dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Pesawat tiba-tiba mengalami kerusakan. Pilot mengumumkan kondisi tersebut dan mengaku tidak punya solusi. Pilot meminta semua penumpang menyalamatkan diri masing-masing menggunakan parasut yang tersedia, karena pesawat segera meledak.

Si Amerika langsung memasang parasut dan melompat keluar sambil meneriakkan “God Bless America.” Tidak mau terlambat, si Jepang menyusul sambil meneriakkan “Banzaaaiii.’

Saat hendak bersiap-siap melompat, pilot melihat sekelompok orang belum memasang parasut. Mereka berbicara satu sama lain, sambil minum dan makan snack. Pilot menanyakan, “apa yang kalian lakukan, ayo cepat, pesawat segera meledak.” Orang-orang tersebut, yang ternyata adalah orang-orang Indonesia menjawab, “sabar pak, kami musyawarah dan mufakat dulu.”

Berita dan anekdot di atas dapat dihubungkan secara pas. Ketika mahasiswanya hilang, pihak universitas di Bandung tersebut malah memanggil orang tua untuk bermusyawarah. Padahal, yang perlu dilakukan universitas dalam kondisi kritis seperti itu adalah mengambil tindakan langsung. Mereka mesti memastikan bawa tim penyelamat telah melakukan pencarian. Mereka juga perlu membiayai tim penyelamat professional untuk membantu. Terhadap orang tua, universitas sebaiknya menelepon mereka, atau mengunjungi mereka dan mengatakan, “pihak keluarga tenang saja, kami sedang melakukan pencarian, bantu dengan do’a.” Tapi sayang, univeritas tersebut malah mengundang untuk bermusyawarah. Bagaimana bisa bermusyawarah dengan orang tua yang panik? Lalu apa yang akan dimusyawarahkan? Musyawarah bisa menghabiskan waktu 2 hari mengingat tempat tinggal para orang tua yang terpisah. Dalam dua hari, para korban bisa kehabisan bahan makanan di gunung.

Dalam hal ini, univeritas kalah sigap dengan pengurus Mapala yang segera meluncur ke lokasi.

Kasus ini memunculkan pertanyaan, “sebenarnya apa hak mahasiswa di sebuah perguruan tinggi?”

Menurut sistem pendidikan Indonesia, ada tiga alasan berdirinya sebuah perguruan tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, yang dikenal dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan adalah proses belajar-mengajar di mana mahasiswa adalah pihak yang belajar. Penelitian dan pengabdian masyarakat dilakukan oleh dosen dan atau mahasiswa.

112.jpgJelas bahwa mahasiswa memainkan sepertiga peran terpenting di perguruan tinggi. Apakah mahasiswa telah mendapat sesuatu yang sepadan dengan posisi mereka dari pengelola perguruan tinggi? (Sumber foto kiri: www.intisar.edu.my).

Sebagian perguruan tinggi masih memperlakukan mahasiswa sebagai objek, tidak berdaya, mesti mengikuti semua keinginan dosen dan pengelola perguruan tinggi. Bahkan yang lebih parah, mahasiswa seolah-olah tidak diberi ruang untuk memperjuangkan kepentingannya. Akhirnya mahasiswa menciptakan ruang sendiri. Demonstrasi.

Jika mahasiswa terlambat masuk kelas, bisa diusir ke luar oleh dosen. Sebaliknya jika dosen terlambat, selalu ada alasan yang mesti dibenarkan mahasiswa. Jika jumlah kehadiran mahasiswa tidak cukup, yang bersangkutan tidak boleh ikut ujian. Sebaliknya, jika jumlah kehadiaran mengajar dosen kurang, selalu ada alasan membenarkan.

Jika mahasiswa tidak bisa menjawab pertanyaan, dosen kadang-kadang memberi hukuman, nilai jelek misalnya. Tapi saat dosen tidak bisa menjawab pertanyaan mahasiswa, dosen berdalih ‘tidak ada manusia yang tahu segala sesuatu.’

Ketika mahasiswa terlambat membayar SPP, selalu ada hukuman atau denda. Tapi jika saat mahasiswa ingin bayar SPP loket pembayaran tutup, dengan ringannya petugas berkata ‘tadi saya sarapan dulu.’ Jika mahasiswa berkata ‘peralatan praktikum kami tidak ada,’ pengelola perguruan tinggi kadang berkilah ‘tidak ada dana,’ tapi mobil baru untuk para pejabat hilir mudik di kampus. Saat mahasiswa menuntut, ‘berikan kami internet gratis,’ pimpinan menjawab ‘permintaan anda tidak masuk akal,’ padahal selalu ada dana untuk membeli seragam dosen/pegawai.

Terlalu banyak contoh yang bisa diungkapkan tentang ketidakseimbangan peran antara mahasiswa, dosen, pegawai dan pengelola perguruan tinggi ini. Singkat kata, mahasiswa sering menjadi pihak yang tidak berdaya. Sesekali mahasiswa agak kuat ketika demonstrasi beramai-ramai. Tapi secara individu, saat sendiri-sendiri, mereka sering dalam kondisi tertekan. Padahal, semestinya mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi adalahpusat segala perhatian. Pimpinan pergurua tinggi dipilih dan pegawai-pegawai direkrut untuk melayani mereka dalam menuntut ilmu dan melakukan penelitian.

Kalau kita bandingkan dengan mahasiswa di perguruan tinggi negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dll., kondisi malah sebaliknya. Mahasiswa dan dosen di sini adalah ‘pusat segala perhatian” terpenting pimpinan dan pegawai perguruan tinggi.

Pengalaman pribadi saya selaku mahasiswa di salah satu negeri ini membuktikan. Sebagai contoh, jika saya perlu surat, saya cukup menulis email, lalu mereka akan bekerja untuk saya hingga surat tersebut selesai. Ketika saya sakit, mereka punya dokter untuk mengobati saya secara gratis. Saat saya kesulitan mengerjakan tugas, mereka menyiapkan tenaga ahli untuk membantu saya. Ketika saya ingin mencari kerja part-time, mereka mencarikan pekerjaan untuk saya. Saat saya ingin pindah rumah, mereka mencarikan rumah untuk saya. Jika saya mengalami kejenuhan belajar, mereka memberi saya seorang psikolog untuk memotivasi saya. Ketika saya merasa nilai saya mestinya lebih baik daripada yang diberikan dosen, mereka membantu saya mengurusnya. Jika saya perlu software tertentu, mereka carikan untuk saya. Saat saya takut pulang malam dari kampus, atau ingin ke kampus saat sudah malam, mereka punya mobil dan petugas untuk mengantar dan menjemput saya (kisah ini sudah saya bahas di blog ini pada bagian BELAJAR MENULIS, masuk ke SURAT DARI TENGGARA, lalu cari artikel berjudul KEAMANAN KAMPUS).

Yang mengagumkan, semua permintaan saya itu mereka lakukan dengan penuh tanggungjawab dan gembira. Tidak ada kata-kata ketus, helaan nafas, pandangan tajam, muka masam, melambat-lambatkan pekerjaan atau penolakan.

Jika mereka bisa, perguruan tinggi kita mestinya juga bisa. Memang perlu perjuangan berat karena perubahan ini memerlukan revolusi mental para penyelenggara dan pegawai perguruan tinggi yang sudah terbentuk puluhan tahun. Tapi yang jelas, sudah saatnya kita kembalikan mahasiswa ke posisi aslinya, yaitu “satu dari tiga alasan berdirinya perguruan tinggi.” Mereka mestinya menjadi pihak yang dilayani, bukan diabaikan, dikecewakan, apalagi disakiti.

Selaku pemilik masa depan, mahasiswa perlu ketenangan dalam belajar.





Hadiah Tahun Baru, Pendidikan Indonesia Turun, Malaysia Naik

1 01 2008

Artikel Kompas 31 Desember 2007.

Pembangunan Pendidikan
Indeks Pendidikan Indonesia Menurun

109.jpgNama negara seperti Malta, Armenia, Santa Lucia, atau Mauritius tidak terlalu akrab dengan telinga kita. Kalaupun ada yang pernah mendengar, boleh jadi tidak mengetahui di belahan bumi manakah negara-negara “kecil” tersebut berada. Bagaimana bentuk pemerintahannya pun, mungkin kita menerka-nerka.

Akan tetapi, jangan terlalu menganggap remeh. Sebab, negara-negara “kecil” itu ternyata memiliki kualitas pendidikan lebih baik daripada negara yang jumlah penduduknya besar seperti Indonesia.

Kenyataan ini tergambar dalam Indeks Pembangunan Pendidikan atau EDI (Education Development Index) yang terdapat pada laporan EFA (Education For All) yang dipublikasikan dalam Global Monitoring Report 2008. Laporan GMR dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) setiap tahun yang berisi hasil pemonitoran reguler pendidikan dunia.

Indeks pendidikan ini dibuat dengan mengacu pada enam tujuan pendidikan EFA yang disusun dalam pertemuan pendidikan global di Dakar, Senegal, tahun 2000.

Dalam laporan terakhir yang dipublikasikan pada November 2007, EDI mengompilasi data pendidikan dari 129 negara di seluruh dunia. Indeks ini dibuat dengan membagi tiga kategori penilaian, yaitu nilai EDI tinggi, sedang, dan rendah.

Pada GMR kali ini, Indonesia tetap berada pada EDI kategori sedang bersama 53 negara lainnya. Total nilai EDI diperoleh dari rangkuman perolehan empat kategori penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas 5 sekolah dasar (SD).

Posisi Indonesia

Mengetahui posisi Indonesia di dunia mungkin tidak harus membandingkannya dengan negara-negara yang secara geografis letaknya jauh seperti di atas. Cukup dengan melihat posisinya di antara sesama negara Asia Tenggara.

110.jpgHasil indeks pembangunan pendidikan terakhir ternyata menunjukkan adanya pergeseran posisi Indonesia dan Malaysia. Jika pada tahun- tahun sebelumnya peringkat Indonesia selalu berada di atas Malaysia, kali ini terjadi perbedaan hasil.

Dalam laporan yang dipublikasikan November lalu itu, posisi Malaysia melonjak enam tingkat dari peringkat 62 menjadi 56. Sebaliknya, peringkat Indonesia turun dari posisi 58 menjadi 62. Nilai total EDI yang diperoleh Indonesia juga turun 0,003 poin, dari 0,938 menjadi 0,935. Sementara itu, Malaysia berhasil meraih total nilai 0,945, atau naik 0,011 poin dari tahun sebelumnya.

Dalam penghitungan kali ini, Malaysia berhasil menaikkan poin pada tiga komponen penilaian, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, dan angka partisipasi menurut kesetaraan jender. Adapun kategori angka bertahan kelas 5 SD memperoleh nilai sama dengan tahun sebelumnya.

Indonesia hanya berhasil menaikkan poin pada angka bertahan kelas 5 SD sebesar 0,004 poin. Adapun pada kategori lain, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar dan angka partisipasi menurut kesetaraan jender, poinnya justru turun sebesar 0,007 poin. Sedangkan angka melek huruf berhasil mempertahankan skor yang sama dengan tahun sebelumnya.

Sistem penilaian EDI juga membagi tiga kategori skor, yaitu kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi (0,950 ke atas), sedang (0,800 sampai di bawah 0,950), dan rendah (di bawah 0,800).

Pada pembagian ini tercatat enam negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja, berada di kelompok negara dengan kategori EDI sedang. Sementara Brunei Darussalam yang baru tahun ini masuk dalam penilaian berada di kelompok negara dengan indeks pembangunan pendidikan tinggi.

Negara Asia Tenggara lain, yaitu Laos, hingga saat ini masih termasuk dalam kelompok negara dengan indeks pembangunan pendidikan rendah. Khusus untuk Singapura dan Thailand tidak tercatat dalam penilaian sehingga tidak dapat dibandingkan.

Satu hal yang patut dicatat, tahun ini Malaysia berhasil meraih poin 0,945, atau hanya butuh 0,005 poin lagi untuk masuk ke kelompok negara dengan indeks pendidikan tinggi. Sedangkan Indonesia sedikitnya membutuhkan 0,015 poin lagi untuk masuk dalam kategori EDI tinggi. Itu pun jika tahun depan tidak lagi terjadi penurunan seperti tahun ini.

Jika mengamati perolehan total skor indeks pendidikan selama empat tahun, yaitu antara tahun 2001 dan 2005, terlihat hanya Myanmar dan Kamboja yang menunjukkan peningkatan setiap tahun. Bahkan, pada tahun 2005 terjadi lompatan posisi Kamboja dengan berhasil masuk ke kelompok EDI medium (sedang) dari tahun-tahun sebelumnya di kelompok negara ber-EDI rendah. Seperti juga Malaysia, pada tahun tersebut hampir semua nilai komponen dalam indeks pendidikan Kamboja meningkat. Hanya angka melek huruf yang stagnan, sama dengan tahun sebelumnya.

Kenaikan poin setiap tahun sebenarnya terjadi juga pada Malaysia, khususnya periode 2002-2005. Untuk tahun 2001, Malaysia belum tercatat dalam pengukuran indeks pembangunan pendidikan dunia.

Mengenai posisi Indonesia di EFA kali ini, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengatakan, penurunan peringkat pencapaian EFA di UNESCO itu tidak perlu dibesar-besarkan. Pasalnya, peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sudah mulai diakui negara lain.

“Media massa jangan mencari yang jelek-jelek saja dalam pencapaian reformasi pendidikan di Indonesia. Secara kualitas, pendidikan Indonesia sudah mengalami lompatan yang luar biasa. Meskipun masih masuk kategori yang perekonomiannya menengah, Indonesia memberanikan diri mengikuti program penilaian PISA atau Programme for International Assessement. Setidaknya Indonesia berani ikut penilaian dengan 30 negara industri maju,” kata Bambang.

Untuk menindaklanjuti hasil evaluasi UNESCO terhadap pencapaian EFA 2015, tanggal 11-13 Desember lalu diadakan pertemuan evaluasi pertengahan pencapaian EFA. Pertemuan dihadiri pemimpin negara, lembaga donor, dan lembaga internasional lainnya. Evaluasi ini menolong negara yang berkomitmen mewujudkan pencapaian EFA sehingga masing-masing negara menjadi tahu bagaimana posisinya dalam pencapaian pendidikan dasar, yang umumnya masih jauh dari target EFA 2015. Kelemahan pencapaian umumnya terlihat di pencapaian pendidikan dasar dan pendanaan.

Dalam peningkatan kualitas pendidikan, ada tiga kebijakan yang ditekankan. Pertama, negara-negara harus mengembangkan kebijakan untuk melatih dan merekrut sebanyak-banyaknya guru SD dengan memerhatikan perkembangan karier mereka.

Kedua, melakukan pendekatan komprehensif dengan berfokus pada kurikulum, pedagogi, persamaan jender, bahasa pengantar, buku teks, dan fasilitas yang layak.

Ketiga, adanya kebijakan untuk menyiapkan anak-anak siap belajar, caranya dengan meningkatkan partisipasi pendidikan anak usia dini serta akses kesehatan dan gizi di sekolah.

PALUPI PANCA ASTUTI & ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas





Profesor

26 12 2007

105.jpgDi summer break ini dosen-dosen saya pada berlibur keliling dunia, dan merayakan Natal di tempat mereka berlibur.

Tapi teman Indonesia saya, seorang peneliti LIPI yang balajar S2 di universitas yang sama, punya satu profesor yang tidak ke mana-mana liburan ini. Sebut saja namnya Prof KD. Jika anda membaca judul publikasi ilmiah Prof KD di jurnal internasional, anda akan kecapekan sendiri, sebab ada 204 jurnal yang mana dia menjadi penulis pertama. Dia tidak menuliskan di internet jurnal-jurnal di mana dia menjadi penulis ke dua dan seterusnya. Terlalu banyak, “menyakitkan mata.”

Teman saya diundang datang pada hari lebaran mereka ini. Saya diajak bergabung. Saya akan menceritakan bagaimana cara yang ditempuh Prof KD untuk melakukan pendekatan kepada mahasiswanya.

Sesuai adat orang barat, teman saya menghubungi Prof KD apakah boleh ngajak teman. Juga memberitahu bahwa kami berdua adalah muslim yang tidak makan ini-itu dan tidak minum ini-itu. Prof KD juga diberitahu bahwa kami tidak membawa pakaian renang seperti yang dimintanya, karena kami tidak punya. Prof KD mengatakan semua itu bisa diatur.

Sebagai pihak yang diundang, kami harus mengatakan hal-hal tersebut di awal, sebagaimana adat orang barat. Tentang makanan misalnya, jika tidak dikatakan sejak awal, bisa saja mereka memasak sesuatu yang tidak halal. Mereka akan tersinggung jika kita tidak mau makan. Mereka akan bertanya, “kok tidak bilang dari kemarin?”

Sehari sebelumnya kami sudah konfirmasi akan datang. Konfirmasi adalah bagian penting dalam menyambut undangan orang barat. Setelah konfirmasi, kehadiran kami menjadi tanggungjawab kedua belah pihak. Sebagai contoh, teman saya mengatakan akan mempelajari jalur bus ke rumah Prof KD, sebab rumahnya berada jauh di pantai, sedangkan kami belum pernah ke sana. Mengetahui calon tamunya agak kesulitan untuk datang, Prof KD mengatakan akan menjemput, karena kehadiran kami kini jadi tanggung jawab kedua pihak.

Tapi selaku orang Indonesia yang tidak bisa membuat orang susah (walaupun dalam budaya barat hal seperti itu tidak menyusahkan, lumrah), kami katakan bisa datang sendiri naik bus.

Beruntung e-government telah diterapkan dengan baik. Dengan mudah kami menemukan jalur bus ke daerah ‘antah-berantah’ itu lewat internet. Kami bahkan tahu jam berapa bus lewat di samping rumah saya, ke mana arahnya, nanti disambung dengan bus apa, di mana menunggu, dan jam berapa bus sampai di tujuan, dll. Semua itu sudah terjadwal, dan tidak pernah meleset. (Untuk melihat kisah-kisah saya tentang penerapan e-government di Australia, silahkan masuk ke “belajar menulis” lalu pilih “surat dari tenggara.”)

Namun Prof KD masih khawatir. Ketika kami menunggu bus kedua, teman saya ditelepon. Lagi-lagi dia menawarkan jemputan. Kami bilang bisa lakukan sendiri.

Benar saja, kami sampai di depan pintu rumahnya tepat pada jam yang diperkirakan saat membaca jadwal di internet.

1071.jpgRumah Prof KD sungguh mewah. Berlantai dua dan menghadap ke laut. Semakin menakjubkan karena posisi rumah agak tinggi sehingga bisa memandang lepas ke laut. Luar biasa. Pasti rumah itu sangat mahal. Tapi saya tidak heran, karena gaji professor di negeri ini sangat-sangat tinggi. Profesor yang baru diangkat digaji minimal $ 120 ribu dolar setahun, alias Rp. 80 juta sebulan. Saya tidak tahu berapa gajinya selaku profesor senior. Dengan gaya hidup mewah pun mereka sulit menghabiskan gajinya. Maka tidak terlalu sulit bagi mereka membeli rumah di kawasan mewah seperti ini, plus mobil-mobil mewah. Pikiran saya dengan centilnya membandingkan dengan gaji profesor di tanah air yang hanya 2,7 juta sebulan (sumber: Kompas). Kalau tidak main proyek, terpuruklah hidup profesor di tanah air. Belum lagi beban mental dan sosial selaku penyandang gelar guru besar.

Pintu dibuka seorang pria separuh baya. Dia hanya menggunakan handuk, sepertinya baru berenang. Saya kira dia adalah Prof KD. Rupanya tidak, dia adalah teman Prof KD; undangan yang datang lebih awal. Sebut saja namanya KS, seorang akuntan senior.

Kami masuk dan menemukan Prof KD sedang memasak sesuatu di dapur yang ditata seperti bar mini. Walaupun berdampingan dengan ruang tamu, keindahan dapur tidak merusak, bahkan membuat lebih artistik. Di sana sudah ada tamu lain, seorang pemuda dari China, sebut saja namanya J dan seorang laki-laki dari Italia bernama M.

Saya terkesan melihat Prof KD di dapur. Profesor dengan reputasi sehebat itu, dengan kekayaan sebesar itu, masih saja mau masak sendiri, tidak merasa perlu mencari pembantu.

Dia mengucapkan selamat datang dan menawari kami mau minum champagne atau jus buah. Tentu kami memilih jus buah, karena champagne mengandung alcohol.

Rupanya di rumah mewah itu Prof KD hidup sendiri. Walaupun saya diserang rasa ingin tahu, tapi menanyakan hal tersebut adalah tidak sopan. Saya menduga dia sudah berpisah dengan keluarganya, atau bahkan belum pernah berkeluarga sama sekali.

106.jpgKS yang tadi membukakan kami pintu berperan sebagai tuan rumah kedua. Dia beramah tamah dengan kami sambil minum. Lalu kami diajak naik ke lantai dua. Dari balkon kami memandang ke arah laut. Sungguh memesona. Pemandangan yang luar biasa indahnya. Posisi rumah sebagus itu pasti membuat harganya lebih mahal dibanding rumah sejenis di lokasi lain.

Ketika kembali turun, kami menemukan dan berkenalan dengan empat tamu lain. Prof KD kemudian mempersilahkan kami melihat-lihat. Kami masuk ke ruang baca, di sana terdapat berbagai macam majalah. Sepertinya ini ruang baca santai. Lalu ke ruang TV, di mana sebuah TV plasma yang ukurannya separuh dinding rumah saya terletak. Di samping TV ada banyak CD-CD film.

Di sebelahnya adalah ruangan kerja Prof KD. Banyak buku, kertas-kertas, laptop, dan perlatan kerja lainnya. Di ruang belakang kami menemukan sebuah piano tua. Ruangan piano tersambung ke lorong-lorong yang kami perkirakan kamar tidur. Kami tidak berani ke sana.

Keluar dari pintu belakang kami masuk ke taman terbuka, dikelilingi pagar tembok tinggi. Di tengah taman ada kolam renang ukuran sedang. Di samping kolam renang ada rumah-rumahan beratap tenda. Rumah kecil ini dilengkapi tempat membakar ayam, roti, dll. Sepertinya inilah tempat Prof KD bersantai bersama teman-temannya. Kolam renang dilengkapi pengatur suhu dikendalikan energi surya.

KS datang dan menawarkan kami mandi. Kami menolak halus dengan alasan tidak bawa pakaian renang. Dia pergi, dan datang lagi dengan pakaian renang dan handuk. Kami tak kuasa menolak. Saya pun mencebur ke kolam renang. Kolam itu sebenarnya diisi air segar, tapi rasanya asin. KS menjelaskan bahwa kolam sengaja diberi garam karena bagus untuk kulit. Kami pun kecipak-kecipuk di kolam rumah mewah itu.

Tengah asik berenang, KS datang memberitahu makan siang sudah siap. Dia berpesan supaya kami tidak perlu ganti pakain, repot. Tapi kami adalah orang Indonesia tulen, tidak sopan makan jika tidak berpakaian lengkap.

Di meja makan, kami hanya menemukan piring untuk 6 orang dan beberapa panci. Rupanya sebagian tamu yang tadi mampir adalah para tetangga. Mereka sudah pergi. Tinggal kami berenam. Dalam hati saya berpikir, makan ala orang barat pasti tidak kenyang, buktinya hanya ada sedikit makanan di meja makan. Padahal perut terasa lapar sehabis berenang.

Setelah semua orang duduk, Prof KD menuangkan bubur terbuat dari gandum dan dicampuri dengan bumbu-bumbu dari tumbuhan ala vegetarian. Kami lalu melahap makanan itu. Saya campur dengan roti supaya lebih kenyang. Saya minta cabe supaya lebih nikmat. Prof KD mengatakan cabe miliknya adalah jenis terpedas di dunia. Dia mengingatkan saya supaya mencoba sedikit dulu. Ternyata ukuran pedas menurut orang bule tidak sama dengan pedas menurut saya. Lidah Sumatera saya minta lebih, tiga kali lipat dari ukuran yang membuat mereka jingkrak-jingkrak karena kepedasan. Itu pun hanya memberi saya sedikit rasa pedas. Prof KD, KS, M, dan J tercengang. Mereka memberi saya gelar The Sumatra Tiger untuk prestasi itu. Setelah bubur habis, saya masih merasa lapar dan berencana makan lagi begitu pulang ke rumah.

Tapi saya salah sangka. Rupanya yang tadi adalah makanan pembuka. Prof KD dan KS kemudian memberesakan meja dan membawa banyak makanan lain. Kali ini sebuah tempayan besar berisi udang galah. Di tempayan besar lain ada ikan yang panjangnya setengah meter. Ada juga dua mangkok besar kentang panggang dicampur bermacam-macam yang entah apa namanya. Juga ada mangga dicampur sejenis kuah. Prof KD menjelaskan bahwa udang itu khusus didatangkan dari sebuah daerah berjarak 600 km dari tempat tersebut. Sedangkan ikan salmon besar itu didatangkan dari Selandia Baru. Dia juga menjelaskan semua makanan lain, campurannya dan cara memasaknya. Intinya, semuanya halal dan dipesan khusus untuk kami. Kami merasa sangat diistimewakan. Sebagai hasilnya, saya makan lahap sekali. Sungguh enak. Gurihnya udang, bercampur nikmatnya ikan salmon dipadu dengan kentang panggang plus mangga berkuah manis, ditambah sambel sungguh pas di lidah dan perut lapar saya. Inilah makanan terenak saya rasakan sejak berada di benua ini.

Begitu selesai dengan menu utama, tamu bertambah dua orang. Juga sepasang ilmuwan. Suaminya profesor Biologi, istrinya ilmu kelautan. Di meja makan kini ada tiga professor terkemuka. Berulan-ulang mereka mengangkat gelas champagne dan kami mengangkat gelas jus buah, toast.

Karena ada makanan pembuka dan utama, tentu ada makanan penutup. Begitu yang sering saya lihat di film-film. Benar saja. Di meja setelah itu ada kue panggang besar, sejenis kue bolu tapi besar. Di masak di dalam oven dengan suhu sedang selama 6 jam. Warnanya coklat. Prof KD menjelaskan campuran roti itu. Lalu dia menyiramkan susu kental di atasnya. Piring kami masing-maisng diisi satu potongan besar. Nyam-nyam, enak. Bagi yang mau nambah, di meja masih banyak. Tinggal ambil.

Setelah menghabiskan makanan penutup, saya masih mau. Tapi perut saya benar-benar sudah penuh. Saya putusakan berhenti. Jika tidak bisa timbul masalah.

Acara selanjutnya adalah berenang. Semua orang mesti berpartisipasi. Tapi J yang orang China tidak bersedia walaupun sudah dipaksa, alasannya dia punya masalah kulit.

1081.jpgBerenang kali kedua jauh lebih asik, karena ramai. Di kolam terdapat tiga orang professor, dua orang mahasiswa, satu orang pengusaha, dan satu orang akuntan. Saya senang. Berenang adalah hobi saya. Canda demi canda membuat dua jam di dalam kolam tidak terasa. Saat berenang, kami makan buah cheri yang diletakkan di piring-piring kecil di pinggir kolam. Sesuatu yang hanya pernah saya lihat di film-film. Saat itu saya menyadari betapa ramah dan baiknya mereka, padahal mereka tidak pernah mengaji….

Lalu tibalah waktunya bagi kami untuk pamit karena harus mengejar bus. Tuan rumah melarang. Kami diminta jangan memikirkan bus karena mereka akan mengantar kami pulang. Tapi kami menolak. Tidak enak membuat mereka berjalan sejauh itu. Dengan mobil pribadi paling tidak perlu waktu dua jam pulang-pergi. Karena kami terus menolak diantar, mereka memberi alternatif kami diantar J dengan mobilnya sampai ke terminal bus. Kami bersedia, lalu kembali menyebur ke kolam renang. Mereka senang dan meminta saya berenang dari satu ujung ke ujung lain. Kecil. Saya pun diberi tepukan.

Saat tiba waktunya kami harus pulang, tuan rumah tidak bisa melarang lagi, karena kali ini kami tidak bisa dibujuk. Mereka melepas kami dengan memperlihatkan muka enggan berpisah. Kami disuruh berjanji akan kembali dan memasak masakan Indonesia untuk mereka. Kami pulang setelah mendapat pelukan hangat ala lebaran mereka. Tapi karena kami muslim mereka tidak mengcapkan “merry Christmas,” tapi diganti dengan “happy holiday.”

************

Satu pelajaran berharga yang saya dapatkan hari itu adalah tentang menjadi tuan rumah yang baik. Prof KD memposisikan dirinya ibarat panitia sebuah acara, dan kami adalah para peserta agung acara itu. Sebagai panitia dia sudah punya susunan acara yang padat untuk para tamunya, sehingga kami sebagai tamu merasa lima jam di sana berlalu dengan cepat, tidak ada waktu kosong, tidak membosankan sedikitpun. Prof KD mempersiapkan sesuatu secara maksimal.

Mengundang mahasiswa seperti ini lumrah dilakukan dosen-dosen di negeri ini. Bahkan saya mendapat cerita bahwa universitas memberi mereka budget untuk melakukan itu. Gunanya adalah supaya dosen mendekatkan diri kepada mahasiswa, sehingga mahasiswa tidak merasa ada jarak dengan dosen. Jika hubungan dosen-mahasiswa sudah berubah menjadi pertemanan, maka mahasiswa tidak akan segan-segan konsultasi ke dosen jika mengalami masalah dalam studi. Memang mereka membuat studi Master dan PhD sangat berat. Sehingga untuk melewati itu diperlukan hubungan khusus antara mahasiswa dan dosen supaya keduanya bisa bekerja sama untuk kesuksesan mahasiswa dalam studi.

Kini, teman saya makin mantap memanggil Prof KD dengan nama depannya, bukan dengan sebutan professor atau nama belakang.