Amerika negeri terkucil.

5 12 2007

048-greenpeace.jpgMeskipun di Amerika kini sedang musim dingin, Presiden Bush mungkin justru gerah. Pasalnya, sejak 24 Nov 2007 Australia dipastikan punya Perdana Menteri Baru. Kevin Rudd (partai Buruh) menang tipis (emphatic win) di hampir semua negara bagian, kecuali Western Australia, atas calon incumbent John Howard (koalisi partai Liberal dan beberapa partai lain). Walaupun belum dilantik oleh Gubernur Jenderal Inggris untuk Australia mewakili Ratu Elizabeth II, konstitusi Australia memberikan sebagian hak bagi perdana meteri terpilih untuk langsung mengambil alih kekuasaan setelah perdana menteri lama menyampaikan pidato kekalahannya (concedes defeat).

049.gifLalu mengapa Bush yang jadi gerah? Sejak 11 tahun belakangan, Australia (di bawah Howard) dan Inggris (di bawah Tony Blair) adalah sekutu-sekutu utama Bush. Ketiga negara ini kompak dalam invasi ke Irak. Sejak Tony Blair jatuh dan digantikan Gordon Brown, tinggal USA dan Australia yang ‘sibuk’ di Irak. Hal lain yang makin mengakrabkan pemimpin kedua negara selain isu terorisme, adalah karena hanya mereka berdua di antara negara maju di kolong langit ini yang tidak mau menandatangani Protokol Kyoto, sebuah kesepakatan dunia yang telah diratifikasi oleh 170 negara (Indonesia negara ke 68), guna mengurangi emisi gas rumah kaca untuk mengurangi global warming.

Kini, Perdana Menteri Australia dijabat Rudd, yang sejak awal berkomitmen menarik pasukan dari Irak dan meratifikasi Protokol Kyoto. Walhasil, Amerika di bawah Bush menjadi negara terkucilkan dalam pergaulan bangsa-bangsa. Bagaimana Bush tidak gerah?

Sejak awal, pengamat mengatakan, jika Ruud jadi perdana menteri, maka Bush kehilangan kawan akrab sekaligus kehilangan alasan tetap membandel di Protokol Kyoto dan bertahan di Irak. Hanya satu alasan yang membuat Bush bertahan di kedua hal tersebut, yaitu arogansi.

Beberapa jam setelah dipastikan menang, Ruud dan SBY ngobrol via telepon. Ruud mengatakan akan datang ke Bali mengikuti konferensi dunia tentang climate change (UNFCCC), sekaligus membuktikan komitmennya mengatasi persoalan pemanasan global.

049.jpgSecara pribadi, dalam hal ini saya merasa kagum pada masyarakat Australia. Menurut ahli, salah satu kunci utama kemenangan Ruud atas Howard adalah komitmen Ruud terhadap kelestarian lingkungan hidup. Demikian pedulinya masyarakat Australia akan kesinambungan rumah kita yang bernama BUMI ini, sampai-sampai mempengaruhi pilihan mereka dalam Pemilu. Padahal, kerusakan lingkungan di Australia tergolong kecil, dibanding Indonesia, misalnya. Di Australia tidak ada deforestasi besar-besaran seperti di Indonesia, juga tidak ada banjir, kebakaran hutan jarang terjadi, pencemaran sungai hampir tidak ada, apalagi illegal logging, polusi kendaraan bermotor juga minim (karena kendaraan berasap dilarang jalan). Di masa depan, memang ada ancamana polusi udara akibat pembangkit listrik batubara, tapi tidak separah Indonesia yang kini sedang membangun 10.000 MW pembangkit listrik berbahan bakar batubara.

Resiko polusi udara Australia juga lebih kecil daripada Indonesia, selain karena penduduk (calon korban)nya sedikit (20 juta), luas negara benua ini berlipat-lipat melebihi Indonesia. Jadi, udara kotor tersebar di tempat yang lebih luas. Namun demikian, ancaman yang ‘kecil’ ini sudah cukup membuat masyarakat Australia merasa ‘resah,’ lalu memilih pimpinan yang punya program mengatasi masalah itu.

Hal lain yang mengagumkan saya adalah, betapa hampir semua warga Australia yang pernah saya jumpai (baik di kampus maupun tetangga yang sering ketemu di taman dekat rumah), tua maupun muda, berpendidikan tinggi atau tidak, memahami apa itu global warming dan climate change, tahu penyebabnya, dan mengerti solusinya. Sungguh berbeda ketika saya membicarakan topik ini beberapa bulan lalu dalam obrolan ringan selepas magrib di masjid dekat rumah saya di Simpang Tiga. Ketika itu saya menjadi seperti orang aneh yang sedang membicarakan sesuatu yang aneh dalam bahasa yang aneh. Alias, tak satupun yang paham, bahkan mereka mengaku baru kali itu mendengar tentang pemanasan bumi. Padahal masjid dekat rumah saya itu terkenal dengan jamaahnya yang berpendidikan baik (mayoritas pernah kuliah). Jika persoalannya tidak dipahami, lalu bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam penyelamatan lingkungan?

049.jpg

Secara relatif, memang di Riau, dan Indonesia, persoalan lingkungan bukan topik menarik, apalagi bisa jadi komoditas politik, no way. Pembicaraan tentang lingkungan hidup tidak jarang dianggap sebagai topik ‘di luar kehidupan nyata.’ Bahwa secara kasat mata tidak ada apa-apa dengan lingkungan. Lingkungan hidup seolah dianggap ‘jurusan’ khusus yang tidak semua orang perlu memahaminya. Padahal lingkungan hidup mestinya menjadi ‘jurusan’ semua orang.

Sesungguhnya lingkungan kita sudah teramat parah. Ibarat rumah, atap bolongnya lebih luas daripada yang utuh, begitu juga dindingnya, lantainya berlumpur, tiangnya rapuh dimakan anai-anai, sementara asap dari tungku memasuki paru-paru penghuninya setiap bernafas. Sedih sekali jika dalam kondisi seperti masih ada penghuninya yang tidak peduli. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, tidak perlu menunggu generasi anak kita yang akan merasakan akibatnya, kita sendiri pun dapat merasakannya. Rasanya terlalu zalim jika anak-anak kita yang kita sayangi itu ditelantarkan hidup terancam di rumahnya sendiri yang bernama BUMI ini. Selaku penduduk bumi, rasanya berdosa jika kita lari dari tanggunjawab ini, dan rasanya zalim jika kita justru menambah rusaknya Bumi.

Kontribusi yang akan kita berikan demi keselamatan lingkungan hidup bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita dan anak-anak kita juga.

NB:
Selain issu yang sudah populer, isu lain akan diangkat ratusan kepala negara dalam konferensi UNFCCC di Bali awal bulan depan adalah:
– Bernafas dengan udara bersih adalah hak azazi manusia.
– Kembangkan pembangkit listrik tersebar, bukan terpusat seperti sekarang.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: