Security di kampus.

12 12 2007

Di banyak tempat, security (satpam) identik dengan orang-orang bertampang (dibuat-buat) sangar, (dibuat-buat) kaku dan (dibuat-buat) berwibawa. Jika meminta izin sesuatu, jawaban yang kerap diberikan security adalah “tidak diizinkan,” atau diizinkan dengan berbagai syaratnya. Begitulah cara security menjaga keamanan.

Di kantor saya di Riau, securitynya lumayan bagus. Lumayan ramah, walaupun tetap terlihat sangar. Karena saya sering pulang selepas magrib, mereka suka “berkunjung.” Saya hafal apa yang akan mereka lakukan setelah itu, yaitu mengeluh gaji kecil, tanggungan keluarga besar, tapi ujung-ujungnya minta uang beli rokok. Kalau sedang good mood, mereka saya beri sekedarnya. Tapi, kalau lagi bad mood, saya bilang “maaf.”

Mereka ini cukup ditakuti, termasuk oleh aktivis mahasiswa yang berkantor dan menginap di kampus. Pada suatu hari, saya ketemu seorang mahasiswa pengurus salah satu organisasi mahasiswa. Dia bercerita bahwa sejak terpilihnya rektor baru, mereka sulit menginap di kantor mereka. Ada instruksi rektor bahwa kampus harus kosong setelah jam 10 malam. Pada jam itu security melakukan razia dan menyuruh mereka semua keluar.

Saya menanyakan strategi mengatasi persoalan itu. Dia menjawab, “Ada. Kami mesti menyediakan uang setiap malam untuk security supaya tidak digusur.” Wah wah wah.

077.jpgMungkin kisah kecil berikut bisa menjadi perbandingan bagaimana mestinya peran security di kampus. Kisah ini berdasarkan pengalaman saya selaku mahasiswa di negeri kangguru.

Sama dengan di tempat lain, di sini, keamanan kampus dikelola oleh perusahaan security yang dikontrak oleh universitas. Di kampus saya, tidak ada larangan menginap, asal menginap di tempat yang sesuai. Ada banyak “wilayah kekuasaan” mahasiswa yang dapat digunakan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Antara lain perpustakaan, laboratorium/ruangan-ruangan komputer, laboratorium riset, dll. Tempat-tempat ini selain bisa digunakan bekerja hingga subuh. Juga nyaman. Pada musim dingin dilengkapi pemanas, pada musim panas dilengkapi pendingin.

Lalu bagaimana kalau ada mahasiswa bandel atau orang lain masuk ke kampus dan mencuri? Inilah isu yang membuat kantor saya di Pekanbaru tidak dibuka 24 jam. Saya tidak tahu persis bagaimana security mengatasi masalah ini. Yang saya tahu, security selalu melakukan patoli menggunakan mobil. Hal lain yang mereka lakukan adalah memasang kunci digital di setiap pintu, sehingga hanya orang yang punya kartu mahasiswa/pegawai/dosen yang bisa masuk. Saya melihat security lebih sering patroli di ruangan-ruangan yang tidak dilengkapi kunci digital.

Bagaimana kalau ada orang yang bukan mahasiswa menggunakan fasilitas kampus? Boleh saja, karena ada beberapa fasilitas boleh digunakan umum sebagai salah satu bentuk pelayanan universitas pada masyarakat setempat. Mereka bisa menggunakan perpustakaan 24 jam sehari atau masuk ke ruangan-ruangan komputer dan menggunakan internet sepuasnya. Tentu mereka tidak bisa meminjam buku karena perlu kartu mahasiswa. Mereka juga tidak bisa masuk ke sistem komputer yang memerlukan password.

078.jpgDi kampus, terdapat puluhan Emergency Call Button yang tersebar. Jika anda di kampus sampai malam, lalu tidak berani pulang sendiri, misalnya, anda hanya perlu memencet tombol tersebut, lalu secara otomatis telepon akan tersambung ke kantor security. Katakan saja anda tidak berani pulang sendiri, atau sudah terlalu malam tidak ada bus. Beberapa menit kemudian mobil security akan menjemput dan mengantar anda pulang. Saya beberapa kali menggunakan fasilitas ini jika menemukan ruangan sholat terkunci.

Kalau anda tengah malam mesti ke kampus, anda tinggal angkat telepon dari rumah, sebutkan alamat, maka security akan datang ke rumah anda menjemput. Anda juga akan diantar pulang jika meminta.

079.gifOleh sebagian mahasiswa, pelayanan ini kadang-kadang disalahgunakan. Teman serumah saya beberapa kali ingin ke bar tengah malam, tapi tidak mau menggunakan mobilnya supaya hemat BBM. Dia menelepon security kampus, minta dijemput lalu diantar ke kempus. Dari kampus, dia menelepon security lagi, minta diantar ke seuatu tempat yang dekat dengan bar yang ditujunya. Biasanya security yang menjemputnya ke rumah dan yang mengantarnya ke bar tidak sama.

Di dalam negeri, bisnis security memang belum berkembang. Bisnis ini masih didominasi perusahaan-perusahaan security besar internasional, sehingga hanya perusahaan-perusahaan besar pula yang mampu membayar mereka. Namun demikian, dalam skala kecil, bisnis ini bisa menjadi pilihan yang cukup menjanjikan. Yang penting profesional dan security dibayar layak supaya tidak minta rokok kepada orang lain.

Advertisements

Actions

Information

2 responses

12 12 2007
Iswadi HR

Kapan yach kampus-kampus di Indonesia seperti di tempat bung fi…

Salam di Pekanbaru

1 07 2008
Rizal

Dengan alasan untuk menjaga keamanan kampus, maka membuat kebijakan untuk tidak boleh nginap di kampus, merupakan alasan yang dibuat untuk menutupi ketidak mampuan kampus dalam menjaga keamanan.
Pihak kampus harus lebih memperhatikan sisi positif ketimbang sisi negatif, karena rektor yang bijaksana bukanlah rektor yang selalu dapat mengantisipasi masalah melainkan dapat menyelesaikan masalah yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




%d bloggers like this: