e-government (1)

13 12 2007

085.jpgWarga negara maju sering mengeluh satu sama lain. Dalam mata kuliah Energy Policy saya sekelas dengan beberapa mahasiswa/i Eropa, Asia, Pasifik, Afrika dan tentu saja Australia. Jika waktu makan siang tiba, mahasiswa Australia biasanya pergi ke cafe kampus lalu makan roti plus sosis. Makanya saya makan siang lebih sering bersama teman-teman dari Eropa dan Afrika, karena mereka bisa dirayu untuk makan di Asian Food. selain itu, mereka senang makan di tengah lapangan sambil berjemur. Saya pun ikut-ikutan berjemur, seolah-olah di Pekanbaru kekurangan matahari hihihi.

Saat makan siang ini mereka selalu bergunjing. Macam-macam digunjingkan, mulai dari gadis-gadis Australia yang katanya tidak modis, air kran Australia yang berbau kaporit sehingga mereka tidak sanggup minum, rumah-rumah yang kurang pemanas saat musim dingin, sampai pada internet Australia yang ‘payah.’ Saya tentu protes. Sebab di Australia saya ‘bermandikan’ internet. Di kampus, saya punya ruangan dengan komputer tersambung internet. Di perpustakaan terdapat ratusan komputer yang semuanya tersambung internet. Di gedung-gedung lain juga terdapat belasan ruangan-ruangan komputer yang berisi puluhan komputer tersambung internet. Saat pulang ke rumah, di kamar pun ada internet. Jika jalan-jalan ke rumah teman, di sana juga ada internet. Saat nunggu bus di terminal, juga ada internet umum.

Kecepatan aksesnya pun mengagumkan. Tidak usah menyebutkan kecepatan internet di kampus yang luar biasa. Di kamar saya, untuk download file 5 Mb, saya hanya perlu waktu kurang dari setengah menit. Selama berbulan-bulan di sini, sambungan internet saya selalu oke, tak pernah putus. Biayanya pun murah, sebulah saya hanya membayar setara 6 kali makan di warung pinggir jalan, dapat unlimited access.

Tapi apa kata orang Eropa, “Australian internet is terrible.” Rupanya di Eropa mereka punya internet yang jauh lebih cepat dan jauh lebih murah. Jelas mereka ‘tersiksa’ dengan internet Australia.

Internet menjadi darah daging orang Australia. Hampir semua lembaga bisnis, kantor, rumah penduduk, dan organisasi punya website sendiri. Boleh dikatakan semua orang Australia punya alamat email dan mereka menggunakannya setiap hari. Kalau saya ingin tanya apakah udang yang baru dibeli di toko dekat rumah masih perlu dimasak atau langsung bisa dimakan, saya tinggal kirim email. Jawaban datang beberapa menit kemudian. Atau, ketika suatu hari jam 11 malam saya ingat bahwa flash disk (thumb drive) saya tertinggal di komputer pustaka di kampus, saya hanya perlu kirim email, mereka selamatkan, dan besok sudah bisa diambil. Atau, ketika saya perlu mencari rumah baru, saya hanya perlu buka internet, cari rumah yang kosong, kirim email ke pemilik/agennya, dibalas, bikin janji, ketemu, bayar, selesai. Dan banyak lagi contoh-contoh kecil bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam hidup orang Australia.

Suatu hari saya perlu mengirim sebuah form ke kantor AusAid Jakarta (AusAid adalah lembaga yang membiayai kuliah saya). Saya datang ke International Office kampus, home base semua mahasiswa asing. Saya ketemu pegawai khusus yang bertugas membantu mahasiswa AusAid. Saya diberikan form yang akan dikirim ke Jakarta, lalu saya isi. Di bagian bawah saya lihat bahwa sebelum dikirim ke Jakarta, surat itu mesti diteken oleh staff Ausaid di Canberra (Jarak Perth-Canberra melebihi jarak Aceh dengan Papua Nugini). Saya serahkan form itu ke pegawai yang membantu saya dan saya bersiap-siap pergi. Dalam pikiran saya, perjalanan surat dari Perth ke Canberra dan kembali ke Perth minimal memakan waktu 1 minggu. Itu pun sudah saya hitung cepat. Sebab jika menggunakan logika Indonesia, surat dari Aceh yang dikirim ke Papua untuk diteken seorang pejabat dan dikembalikan lagi ke Aceh minimal perlu waktu setengah bulan.

Sebelum pergi saya tanyakan, kapan bisa saya ambil suratnya? Pegawai itu kelihatan bingung atas pertanyaan saya. Dia balas bertanya, “Apakah anda ada agenda lain dan tidak bisa menunggu?” Sekarang giliran saya yang bingung. “Menunggu?” Lalu saya tanya, “menunggu berapa lama?” Sambil membawa surat saya ke bagian dalam kantor dia bilang, “a couple of minutes.” Saya pun duduk menunggu, sambil menikmati foto gadis Jepang yang cantik dengan latar gunung Fuji pemandangan indah.

Sekitar 10 menit kemudian, pegawai tadi keluar membawa surat dan menyerahkan kepada saya. Di sana sudah ada tandatangan dan stempel orang Canberra. Saya kebingungan dan pergi dengan segumpal pertanyaan dalam pikiran. Bagaimana bisa secepat itu? Apakah kantor di sini punya stempeldan tandatangan orang Canberra? Kayaknya tidak mungkin.

Pengalaman ini saya ceritakan pada seorang teman sesama dari Indonesia, sesama mahasiswa AusAid. Dia sudah mengurus surat itu enam bulan sebelumnya. Dia mengatakan juga merasakan keheranan yang sama saat mengurus suratnya. Bedanya dengan saya, dia tidak tahan untuk tidak bertanya. Jawaban yang dia dapat adalah: form yang sudah dia diisi discan oleh pegawai tersebut, lalu diubah ke pdf dan dikirim via email ke Canberra. Karena saat itu adalah jam kerja, pegawai di Canberra tentu ada di kantor (tidak di warung kopi). Pegawai Canberra menerima surat itu, diprint, lalu diserahkan ke pejabat berwenang, ditandatangani, distempel. Lalu discan kembali, diubah ke pdf, dikirim ke Perth via email. Diterima di Perth, diprint berwarna sehingga kelihatan stempel dan tandatangan berwarna. Selesai. Semua proses itu memakan waktu sekitar 10 menit, bukan setengah bulan.

Saya terbengong-bengong, sekaligus terkagum-kagum. Tapi saya ini memang bebal, dan mengulangi kesalahan yang sama sehari kemudian. Saya mengirim surat itu ke Jakarta dengan biaya $18 atau sekitar Rp. 144 ribu. Lumayan besar. Setelah dikirim via pos, saya kirim email ke kantor AusAid Jakarta mengatakan bahwa surat sudah saya poskan. Jawabannya, “mengapa tidak discan saja, lalu pdf nya kirim ke sini.” Saya terhempas, ternyata begitu sulitnya merubah pola pikir. Pengalaman pertama tidak membuat saya saya sadar bahawa administrasi manual tidak lagi digunakan di negeri ini dan di lembaga milik pemerintah Australia seperti AusAid.

086.jpgInilah yang dinamakan e-government. Pemerintah Australia mengeluarkan uang jutaan dolar (miliaran Rupiah) untuk teknologi perkantoran yang mengagumkan itu.

Tapi di kampung saya Riau, definisi e-government agak beda. Pemprov Riau mengklaim bahwa mereka sudah menerapkan e-government. Apa buktinya? Buktinya, Pemprov Riau sudah punya website, dan isi websitenya diupdate terus. Sudah, itu saja. Berapa biaya yang dihabiskan untuk itu? Sama, miliaran rupiah (kalau tidak salah 4 miliar rupiah, dalam dua tahun anggaran 2001/2002 dan 2003/2004).

Pengalaman itu menjadi renungan panjang saya dan berpunca pada sebuah pertanyaan, ‘apakah cara yang efektif, cepat, dan murah itu tidak bisa diterapkan di Indonesia?” Jawabannya adalah “tergantung.” Tergantung apa? Tergantung apakah mau merubah paradigma tentang definisi surat dan definisi surat asli.

Jika surat masih didefinisikan sebagai kertas, dan jika berpindahnya surat berarti berpindahnya kertas, tentu cara seperti itu tidak laku. Atau, jika surat dikatakan ‘asli” jika di kertasnya ada tandatangan ‘basah,’ tentu cara itu juga tidak berguna.

Bagaimanapun, teknologi sudah menawarkan solusi, tinggal kita mau merubah diri atau tidak.


Actions

Information

6 responses

24 07 2008
prayudi

pengalaman yg sangat berharga, mudah2an nanti bisa jd acuan disampaikan pd kawan2 yg bergerak di bidang egov di tanah air

25 07 2008
Kunaifi

Ya, kita sama-sama, Bung.

9 12 2008
iam

assalammualaikum. saya ilham dari medan. Bang tolong kasi tau dong cara daftar kuliah di australia? karna sy sekarang masih nunda kuliah saya.saya punya rencana insya allah pertengahan 2012? apakah persiapan seluruhnya harus setahun sebelumnya?

10 12 2008
Kunaifi

Silahkan kirim email ke saya (kunaifi@gmail.com). Kalau di sini, khawatir nanti bapak lupa membacanya.

13 12 2008
sofyan

assalaamu’alaikum, subhanallah telah ada petunjuk yang baik. mohon saran dan masukkan sehingga Panjenengan bisa menjadi berhasil seperti ini. wassalaamu’alaikum, salaam untuk segenap keluarga.
Sofyan, dan keluarga, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia

14 12 2008
iam

BANG DAH AWAK E-MAIL. BLS YA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: