Eye contact.

13 12 2007

083.jpgEye contact alias bertatapan mata adalah penting dalam pergaulan. Di barat, eye contact berkaitan erat dengan respect atau disrespect. Jika seseorang mengajak anda bicara, tapi anda tidak melihat matanya, lawan bicara bukan hanya merasa tidak dihargai, bahkan bisa melabrak anda.

Begitu juga saat bersalaman. Ketika masih aktif di beberapa LSM di Pekanbaru, saya dan teman-teman sering mengadakan acara yang menghadirkan pejabat atau mereka yang punya status sosial tinggi, minimal untuk ukuran Riau. Saya sering memilih menjadi penerima tamu karena suka jumpa orang-orang yang datang. Ketika tamu datang, penerima tamu akan menyalami dan mengucapkan selamat datang. Sebagian tamu tahu betul bahwa mereka orang penting. Tamu seperti ini kebanyakan tidak memandang, walaupun hanya sebelah mata, pada penerima tamu yang menyalaminya. Jika di sana ada juga orang yang dihormatinya, jangan harap dia akan memandang anda yang ‘cuma’ penerima tamu. Dia akan menyalami anda tapi memandang pada orang yang dihormatinya itu. Awalnya saya jengkel pada orang-orang seperti ini, apalagi sebagian besar yang berperilaku seperti ini adalah orang-orang tanggung. Artinya jabatan tidak rendah tidak juga tinggi, atau BJP (baru jadi pejabat), atau OKB (orang kaya baru). Tapi lama-kelamaan, karena tetap hobby jadi penerima tamu, hal seperti itu jadi hiburan bagi saya. Biasanya saya dan teman-teman sesama penerima tamu akan menghitung berapa orang tamu yang melakukan hal seperti itu.

082.jpgDi masyarakat barat, tidakan seperti itu tidak hanya dianggap tidak sopan, tapi kurang ajar. Di negeri ini, sekat-sekat sosial hampir tidak ada. Walaupun anda penunggu meja hidangan, anda mesti dihormati. Anda dihormati bukan karena jadi penunggu hidangan, tapi selaku individu yang pasti punya kehormatan. 

Urusan eye contact ini juga terjadi saat seorang anak dimarahi orang tuanya. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di Indonesia dan sebagian besar negara timur lainnya, jika seorang anak dimarahi orang tua, maka sang anak akan menundukkan kepala sebagai bukti bahwa dia menghormati orang yang memarahinya. Jangan sekali-kali menatap mata orang tua yang sedang marah sebab sang anak bisa-bisa dibentak, “kamu menantang saya?”

Sebaliknya, seorang anak di negara barat jika dimarahi justru akan menatap mata orang tuanya. Jika tidak, orang tuanya akan berkata, “tatap mata saya, kamu tidak mendengarkan saya ya?”

Eye contact justru bisa menjadi penentu kesuksesan anda jika melakukan presentasi. Seorang presenter yang sukses akan menatap mata para pendengarnya secara bergantian. Hal ini akan menimbulkan kesan pada pendengar bahwa pembicara memperhatikan dia, bahwa pembicara berbicara untuk dia. Dengan menatap mata pendengar, sang presenter juga menunjukkan bahwa dia punya kepercayaan diri tinggi. Bandingkan dengan presenter yang tidak berani menatap mata pendengarnya. Para pendengar akan menilai presenter tidak siap, tidak menguasai materi yang disampaikannya, sehingga presentasinya tidak menarik dan membosankan.

Lain lubuk lain ikannya.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




%d bloggers like this: