Akhirnya Amerika sepakat.

15 12 2007

Menurut jadwal, sidang UNFCCC PBB di Bali yang dimulai 4 Desember 2007 mestinya berakhir Jum’at 14 Desember pukul 12 siang. Tapi situasi di gedung sidang berbicara lain. Beberapa kali terjadi perdebatan yang berujung deadlock. Penyebab deadlock adalah karena Amerika keras kepala tidak menyepakati konsensus.

Sepenting itukah peran Amerika dan sekutunya sehingga bisa menggalkan kesepakatan 177 negara lain? Menurut Emil Salim, tanpa keikutsertaan ketiga negara itu, segala hasil konferensi-termasuk Protokol Kyoto tidak bias berjalan. Amerika adalah negara yang emisi gas rumah kacanya paling tinggi di dunia (36%), disusul Jepang 18% dan Kanada 8%. Jika mereka tidak ikut dalam gerbong pencegahan climate change, usaha negara-negara lain tidak akan membuahkan hasil berarti. Akhirnya negara-negara lain bisa patah semangat, lalu ikut-ikutan tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Bumi.

Awal deadlock disebabkan tarik-menarik antara Amerika dan Uni Eropa. Negara-negara Uni Eropa sudah menyatakan kesediaan mengurangi emisi gas rumah kaca 25-40 % di bawah tingkat emisi 1999 pada tahun 2020, sebagaimana akan dicantumkan pada preambule Bali Road Map. Tapi delegasi Amerika tidak bersedia pencantuman itu, karena akan mengikat mereka. Amerika membuat alasan bahwa target itu mestinya dibicarakan pada sidang di Denmark 2009, bukan sekarang. Sikap Amerika makin kokok karena didukung oleh Jepang dan Canada. Sidang yang mestinya diakhiri pukul 12.00 diundur menjadi pukul 15.00 Jum’at 14 Desember 2007.

094.jpg

Foto:http://unfccc.int/2860.php

Lobi-lobi tingkat tinggi telah diupayakan untuk melunakkan sikap Amerika, termasuk oleh Al Gore, mantan presiden Amerika dan pemenang hadiah Nobel Perdaiaman 2007. Al Gore menghimbau supaya Amerika tidak menghalangi keberhasilan UNFCCC yang diikuti oleh 190 negara itu. Karena khwatir UNFCCC yang berlangsung selama dua pecan itu tidak menghasilkan apa-apa, Al Gore bahkan sempat mengusulkan supaya isu yang berkaitan dengan Amerika dikesampingkan dulu untuk dibicarakan di Polandia pada 2008. Tapi Amerika dan dua seukutu barunya bergeming. Akibatnya, penundaan penutupan sidang kembali dilakukan menjadi pukul 18.00 WITA.

Pimpinan sidang berusaha sekuat tenaga supaya sidang membuahkan hasil, yaitu Bali Road Map. Salah satu strategi yang ditempuh Presiden COP-13 Rahmat Witular adalah memecah delegasi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 20 negara membahas soal mitigasi, adaptasi, teknologi dan pendanaan. Sedangkan kelompok kedua membahas pembukaan (preambule) Bali Road Map. Batas waktu pukul 18.00 telah lewat. Tapi hingga pukul 21.00 delegasi Amerika masih bergeming. Penutupan sidang diundur lagi menjadi pukul 23.00.

Para delegasi sudah sangat lelah, kata putus belum juga tercapai, Amerika masih bertahan dengan penolakannya. Pukul 23.00 panitia mengumumkan sidang akan ditutup pukul 8.00 Sabtu. Peserta diberi waktu hingga pukul 03.00 dinihari untuk mengambil keputusan. Tapi hingga pukul 03.00 dinihari, tetap tidak ada kesepakatan dihasilkan. Saat itu, Amerika dan sekutunya punya tuntutan baru, bahwa jangan hanya negara maju yang diberikan target 20-40%, tapi negara berkembang juga mesti diberi kewajiban yang sama. Negara-negara berkembang menolak usulan tersebut dengan alasan tidak masuk akal. Negara-negara berkembang bersedia memberikan kontribusi lebih, tapi tidak mau disamakan dengan Negara maju, karena emisi karbon mereka jauh di bawah Negara maju.

Sekjen PBB Ban Ki-Moon yang sedang berkunjung ke Timor Leste terpaksa memutuskan kembali ke Bali hari Sabtu pagi karena persidangan tak kunjung menampakkan titik terang. Sidang dibuka Sabtu pagi pukul 09.00 di mana para peserta menyampaikan pendapat akhir. Sebelum itu para delegasi sibuk melakukan lobi-lobi. Sidang tahap dua pagi Sabtu dimulai pukul 11.00 WITA. Tapi tidak lama, karena begitu dibuka, sidang kembali ditutup atas permintaan China, India dan Pakistan. Mereka menginginkan supaya ketua G-77, kelompok negara-negara berkembang hadir dalam persidangan.

Tidak lama kemudian SBY dan Ban Ki-Moon memasuki ruang sidang. Sebelumnya mereka melakukan pembicaraan tertutp. Kehadiran mereka adalah untuk memberikan pidato khusus guna mendesak supaya sidang dua pekan itu tidak berakhir sia-sia. Pidato SBY yang mewajibkan sidang UNFCCC menghasilkan Bali Road Map disambut meriah para delegasi. Setelah itu Ban Ki-Moon pun berpidato. “Saya kecewa karena sedikitnya perkembangan di sini. Ingat! Tugas anda semua belum selesai. Setiap orang mesti membuka diri untuk kompromi,” katanya.

Rupanya pidato SBY dan Ban Ki Moon tidak mempan memecahkan kebuntuan. Lalu terjadilah peristiwa mengharukan. Sekjen UNFCCC Yvo de Boer yang melanjutkan memimpin sidang, akhirnya tidak dapat menahan gumpalan perasaan di dadanya. Dia menangis, lalu walk out. “Saya kecewa dan dikhianati, karena ada deal-deal di luar sepengetahuan saya,” kata de Boer (Detik Com). Adanya deal-deal di luar konferensi dibenarkan delegasi Australia “Ternyata ada deal-deal tanpa sepengetahuan de Boer, yang menganggu proses utama konferensi ini,” katanya. Hingga pukul 14.00 WITA sidang masih berlangsung. Para delegasi belum makan siang.

Tidak lama kemudian terjadi sesuatu yang mengejutkan. Amerika berubah pikiran. Karena terus-menerus ditekan, delegasi senior AS Paula Dobriansky akhirnya menyatakan AS menerima konsensus yang dihasilkan dalam konferensi. “Kami akan terus bergerak maju dan bergabung dalam konsensus dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB ini, meski ini memiliki syarat-syarat komitmen dari negara-negara berkembang. Kami sudah datang jauh-jauh dan ingin meyakinkan semuanya bahwa kami ikut konsensus yang dihasilkan hari ini,” kata Dobriansky (Detik Com 15 Des 07).

Hassan Wirajuda menyatakan kegembiraannya atas perkembangan sangat penting itu. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya delegasi AS berada pada posisi dilematis. Di satu sisi mereka mendapat tekanan hebat dari negara peserta. Tapi di sisi lain mereka mendapat misi khusus dari pemerintahnya (Detik Com 15 Des 07).

Ketagangan sidang langsung mereka setelah Amerika menyatakan sepakat. Bali Road Map disepakati semua negara paserta UNFCCC. Masih ada satu hal penting yang mengganjal, bahwa Amerika tetap tidak menandatangani Protokol Kyoto. Sidang pleno ditutup pukul 16.10 WITA. Welcome the better future for Earth.


Actions

Information

One response

15 12 2007
Hendrawan

Amerika memang bandel….
salam kenal bang,,ternyata rajin ngikuti juga ya, sebagai orang asli Prov. Riau yang masih banyak hutannya saya sangat jengkel awalnya.. eh tahunya dah berubah keputusan mereka….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: