Meja Dapur

22 12 2007

097.jpgPertama tiba di negeri Kangguru, saya mendapat kamar di Student Village alias asrama mahasiswa milik universitas. Sebenarnya tinggal di Student Village asik sekali, sebab di sana terdapat mahasiswa dari lebih 130 negara berbeda. Percampuran budaya seperti ini tentu sangat menarik. (Foto kiri: Student Village)

Tapi tidak ada satupun senior dari Indonesia yang merekomendasikan tinggal di sana. Alasannya, yang tinggal di Student Village sebagian besar adalah mahasiswa undergraduate. Mereka masih suka pesta-pesta dan menghabiskan waktu untuk hura-hura. Sementara mahasiswa postgraduate seperti saya perlu waktu dan tempat belajar yang tenang. Para senior mengakatan, “begitu kamu membuka buku, pintu kamarmu akan diketok temanmu ngajak jalan-jalan.” Karena orang baru, saya percaya saja, lalu minta bantuan kampus mencarikan tempat tinggal di luar kampus.

Dapatlah saya sebuah rumah yang terdiri dari tiga kamar. Teman serumah saya adalah seorang mahasiswa dari Asia dan Afrika.

096.jpgTeman yang dari Afrika ini punya sifat ceroboh. Suatu hari dia memasak sesuatu menggunakan wajan. Setelah selesai memasak, wajan yang baru diangkat dari kompor diletakkannya di atas meja dapur, lalu ditinggal pergi. Karena masih panas, rupanya meja dapur yang dilapisi oleh bahan khusus hangus. Bagian yang terbakar itu tidak besar, seukuran bagian bawah gelas. Bagi saya, itu adalah kerusakan yang dapat dimaaafkan. Sengaja saya foto bagian meja yang rusak itu untuk memperlihatkannya kepada pembaca.

Tapi hal seperti itu ada hukumnya di negeri ini. Sesuai peraturan sewa-menyewa rumah, kesalahan seperti itu menjadi tanggungjawab anak kost. Dia harus memperbaikinya. Jika tidak, dia bisa berurusan dengan polisi. Minimal, dia akan di-black list oleh pemerintah kota. Apa akibatnya? Jika di-black list, dia tidak bisa menyewa rumah lain atau melanjutkan menyewa rumah sekarang sebelum melunasi hutangnya.

Berbeda dengan di kampung saya, di mana tukang meja dapat ditemukan di setiap sudut kota, di negeri ini sangat sulit menemukan table maker. Ibu kost memerlukan waktu dua bulan lebih mendapatkan orang untuk memperbaiki meja itu. Bahkan dia menelepon puluhan kali, kadang-kadang subuh, kadang-kadang larut malam, mencari table maker. Akhirnya table maker pun datang. Tugasnya adalah membuat perkiraan biaya perbaikan.

Kami terkejut mendengar biaya perbaikan yang disebutkan table maker. $ 1400 alias 11 juta rupiah lebih. Dengan uang sebesar itu bisa beli dua buah sedan bekas di sini.

Teman saya yang bertanggungjawab membayar perbaikan meja itu terlihat amat sedih. Sebab uang sebesar itu setara dengan gaji dia bekerja part-time satu bulan lebih. Tapi apa mau di kata. Ke mana lagi harus mencari table maker lain?

Penyewaan rumah di sini ada kontraknya. Kontrak ditandatangani tiga pihak, penyewa, pemilik rumah, dan perwakilan pemerintah kota. Tujuan kontrak adalah untuk menetapkan aturan dan melindungi kedua belah pihak. Misal, di dalam kontrak disebutkan, saat sewa berakhir, kondisi rumah harus sama dengan saat sewa dimulai. Jika ada perbedaan, mana ada nilai uangnya. Dengan ini, penyewa tidak bisa membuat perubahan dan kerusakan apapun tanpa izin di rumah tersebut. Contoh lain, pemilik rumah harus izin penyewa jika mau masuk rumah. Ini untuk melindungi provasi penyewa.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




%d bloggers like this: