Profesor

26 12 2007

105.jpgDi summer break ini, kebanyakan dosen saya berlibur ke luar negeri. Pembimbing teman Indonesia saya, baru akan berlibur minggu depan. Sebut saja namnya Prof KD. Membaca daftar publikasinnya di halaman webiste universitas, ada 204 artikel di mana dia penulis pertama. Artikel-artikel yang mana dia bukan penulis pertama, ada di daftar berbeda. Teman saya diundang ke rumah Prof KD. Saya diajak. Kisah ini menggambarkan cara dosen melakukan pendekatan kepada mahasiswa dan sekaligus menggambarkan sedikit kehidupan pribadi beliau.

Sesuai adat barat, sebelum hari H, kami mengabari sangan Prof bahwa kami punya pilihan makanan sekalu muslim. Mengabari di awal sangat penting. Jika tidak, mungkin beliau akan memasak sesuatu yang tidak halal sehingga kecewa atau tersinggung jika kami tidak memakannya. Mereka akan protes, “mengapa tidak bilang?” Kami juga ditawari penjemputan, tapi kami menolak secara halus dan memilih datang dengan bus.

Karena sistem transportasi sudak terkomputerisasi, dengan mudah kami menemukan jalur bus ke tempat ‘antah-berantah’ itu lewat internet. Bisa diketahui hingga menit berapa bus lewat di dekat rumah saya, jalur berapa, ke mana rutenya, dan detail tentang bus lanjutan, di mana menunggu, jam berapa sampai di tujuan, dll. (Untuk melihat kisah-kisah saya tentang penerapan e-government di Australia, silahkan masuk ke “belajar menulis” lalu pilih “surat dari tenggara.”)

Pada hari yang dijanjikan, Prof KD masih khawatir. Saat menunggu bus kedua, teman saya ditelepon. Dia menawarkan jemputan. Tapi kami bisa sendiri. Benar saja, kami tuun di halter terakhir tepat pada jam dan menit yang tertulis di internet beberapa hari lalu.

1071.jpgRumah Prof KD berada di kawasan elit. Posisinya di kaki bukit yang menghadap langsung ke laut. Karena posisinya tinggi dan berlantai dua, dari rumah itu pandangan lepas ke laut. Pasti mahal. Gaji professor di negeri ini memang tinggi. Profesor yang baru diangkat, digaji minimal $ 120 ribu dolar setahun, atau sekitar Rp. 80 juta sebulan. Dengan gaya hidup cukup mewah, gaji baru terpakai sekitar 1/3. Sebagai Profesor senior, gaji beliau tentu lebih besar lagi. Beliau juga memimping berbagai proyek riset dan kolaborasi industri. Maka tidak terlalu sulit bagi beliau membeli rumah mahal. Saya teringat gaji profesor di tanah air yang hanya 2,7 juta sebulan (sumber: Kompas). Sedikit, lebih rendah dibanding biaya hidup bulanan.

Begitu tiba, kami menemukan Prof KD sedang memasak sesuatu di dapur yang ditata seperti bar mini. Walaupun berdampingan dengan ruang tamu, hadirnya dapur di sana ditata apik sehingga membuat lebih artistik. Di sini, walaupun anda profesor berpenghasilan besar dan berstatus bujangan, anda harus masak sendiri.

Kami disambut dengan ucapan selamat datang, jabatan tangan erat, obrolan selamat datang yang hangat. Kami ditawari champagne atau jus buah. Tentu kami memilih yang terakhir. Walaupun lagi kere, yang penting Islam, hehe.

106.jpgDi sini, tuan rumah terbiasa memperlihatkan ruangan-ruangan rumah kepada tamu. Sambil membawa gelas minuman, kami dibawa ke lantai dua. Dari balkon, laut terhampar luas. Terangnya suasana musim panas dan angin laut yang sejuk, sungguh memikat. Peberapa pohon palm dan hutan kecil di sekitar rumah, menambah kecantikan sekitar. Kemudian kami masuk ke ruang baca. Berbagai koran dan majalah terhampar di atas meja. Di sisi-sisi dinding, terdapat rak kayu besar yang penuh dengan buku. Di sampingnya ada ruangan santai, di mana sebuah TV plasma yang ukurannya separuh dinding rumah saya berdiri di sisi dinding. Sepertinya ruangan ini juga merupakan ruangan rapat dan presentasi kecil. Di sebelah ruangan tersebut, adalah kamar kerja Prof KD. Banyak buku, kertas-kertas, laptop, dan peralatan kerja di sana.

Di ruang belakang, sebuah piano kayu tua menarik perhatian. Piano berwarna cokelat tersebut terlihat baru dimainkan, karena penutupnya masih terbuka dan partitur pun seperti baru dibaca. Di dinding ruang piano terdapat rak buku tentang musik dan topik-topik non teknik. Ruangan piano tersambung ke beberapa lorong yang mungkin menuju kamar tidur. Kami tidak ke sana. 

Keluar dari pintu belakang, kami menuju ke taman belakang. Taman ini dikelilingi pagar tembok tinggi. Di tengah taman, ada kolam renang ukuran sedang. Di samping kolam renang ada rumah-rumahan beratap tenda. Cukup luas menampung 4 orang untuk tidur siang. Di sampingnya, ada tunggu tanah liat permanen. Ukurannya cukup besar. Di ruangan bakarnya, bisa masuk lebih 5 ekor ayam utuh sekaligus. Oven tradisional ini juga bisa dipakai memanggang ayam, roti, dll.

Prof KD datang dan menawarkan kami mandi. Kami menolak halus karena tidak bawa pakaian renang. Beliau masu ke rumah dan kembali lagi dengan pakaian renang dan handuk. Kali ini kami tak ada alasan menolak. Tak lama kemudian saya sudah berada di dalam kolam. Kolam itu bukan seperti kolam yang biasa dipakai atlit, tapi lebih terasa seperti danau kecil karena pinggirnya dibuat mirip dengan danau alami. Airnya cukup hangat karena memilih pengatur suhu bertenaga matahari. Kolam diisi air segar, tapi airnya berasa asin. Kata Prod KD, air garam bagus untuk kulit. Kami berdua pun kecipak-kecipuk di kolam rumah mewah itu.

Tengah asik berenang, beliau datang memberitahu makan siang sudah siap. Katanya, tidak perlu ganti pakaian. Tapi adat kampung tidak enak makan tak berbaju. Kami pun memakai kaos oblong, sedangkan tuan rumah cuma bercelana renang. 

Di meja makan, segala yang dibutuhkan sudah tersedia. Tapi hanya sedikit makanan. Dalam hati saya bertanya, “cukup nih?” Apalagi setelah berenang, saya lapar. Setelah semua orang duduk, Prof KD menuangkan bubur gandum dicampur bumbu-bumbu ala vegetarian. Sambil mengobrol, saya makan lahap. Sengaja saya campur roti supaya lebih kenyang. Supaya lebih nikmat, saya minta cabe. Prof KD mengatakan cabe miliknya adalah jenis terpedas di dunia. Beliau mengingatkan saya supaya mencoba sedikit dulu. Ternyata, ukuran pedas bule beda. Lidah Sumatera saya minta lebih, tiga kali lipat dari ukuran yang bisa membuat mereka melompat-lompat karena kepedasan. Dengan ukuran itu, saya pun baru merasa sedikit pedas. Itulah ukuran normal cabe saya di Pekanbaru. Prof KD, tercengang, dan beliau memberi saya gelar The Sumatra Tiger untuk prestasi itu.

Setelah bubur habis, saya masih lapar. Dalam hati saya berkata, “harus makan lagi sampai ke rumah.” Ternyata saya salah sangka. Rupanya yang tadi adalah makanan pembuka. Prof KD kemudian memberesakan meja dan datang lagi dengan banyak makanan lain. Kali ini sebuah tempayan besar berisi lobster. Ada tempayan lain yang panjangnya setengah meter. Di atasnya ikan sepanjang tempayan. Selain itu, ada dua mangkok besar kentang panggang dicampur bermacam-macam yang entah apa. Juga ada mangga dicampur sejenis kuah. Prof KD menjelaskan bahwa udang itu khusus dibeli dari sebuah tempat berjarak 600 km dari tempat tersebut. Sedangkan ikan itu adalah Salmon besar, dipesan dari Selandia Baru. Dia menjelaskan bagaimana cara memasak semua makanan itu dan apa kandungannya. Yang pasti, semua halal dan dimasak sendiri oleh beliau. Kami merasa sangat diistimewakan.

Walhasil, saya makan lahap sekali. Enak. Gurihnya udang dipadu nikmatnya daging salmon plus mangga berkuah manis-asam, ditambah sambal, sungguh pas di lidah dan perut lapar saya. Ditambah kentang yang dipanggang di pemanggang samping kolam dengan api kecil selaama 6 jam. Inilah makanan terenak saya rasakan sejak berada di benua ini. Saya menyesal, mengapa tadi makan roti. Ruang di perut saya terpakai percuma untuk roti itu. 

Hampir selesai dengan menu utama, datang dua tamu lain. Juga sepasang ilmuwan. Suaminya profesor Biologi, istrinya ilmu kelautan. Di meja makan, kini ada tiga professor terkemuka. Berulan-ulang mereka mengangkat gelas champagne dan kami mengangkat gelas jus buah, toast.

Makanan enak itu memamg membuat saya kalap. Kini saya malu membayangkan apa yang dipikir sang Prof tentang saya. Tapi teman saya juga kalap. Saya kekenyangan dan lupa bahwa baru dua ronde terlewati, yaitu makanan pembuka dan makanan utama. Masih satu ronse lagi, makanan penutup. Setelah meja dibersihkan dari semua makanan utama, selenjutnya meja penuh oleh kue panggang besar. Sejenis kue bolu, tapi besar. Warnanya coklat. Setelah menjelaskan campuran dan cara memasaknya, Prof KD menyiramkan yogurt di atasnya. Piring kami masing-maisng diisi satu potongan besar. Kali ini saya pucat, “di mana akan diletakka?” Ruangan perut saya sudah penuh. Serius. Tapi apa boleh buat. Kepanikan saya berujung nyam-nyam. Perut memang diciptakan fleksibel untuk kondisi seperti ini haha. Saya menyelesaikan satu potong kue saja, dengan susah payah.

Setelah mengistirahatkan perut sekitar 30 menit, acara selanjutnya adalah berenang lagi. 1081.jpgBerenang kali kedua awalnya cukup menyiksa karena perut sangat penuh. Tapi lama-lama seru, karena karena ramai. Di kolam terdapat tiga orang professor dan dua orang mahasiswa. Canda demi canda membuat dua jam di dalam kolam tidak terasa. Saat berenang, kami sesekali makan buah cheri yang sudah disipkan di beberapa piring kecil di pinggir kolam. Sesuatu yang hanya pernah saya lihat di film-film. Memang luar biasa para ateis ini. Sebagai orang beragama, kalian akan saya kalahkan.

Hampir seharian di rumah Prof KD, tibalah saatnya pamit karena mengejar bus terakhir. Tuan rumah melarang. Katanya jangan memikirkan bus karena mereka akan mengantar. Tapi kami menolak. Dengan mobil, paling tidak perlu dua jam pulang-pergi. Karena kami terus menolak diantar, kami ditawari alternatif, cuma diantar sampai ke terminal bus. Kami bersedia. 

Satu pelajaran berharga adalah tentang menjadi tuan rumah yang baik. Prof KD memposisikan dirinya ibarat panitia sebuah acara khusus, dan kami adalah para peserta agung acara itu. Sebagai panitia, dia sudah punya susunan acara yang padat untuk para tamunya. Karena adanya susunan acara, lima jam berlalu cepat. Tidak ada waktu kosong. Tidak membosankan. Prof KD mempersiapkan sesuatu secara maksimal.

Mengundang mahasiswa adalah lumrah dilakukan dosen-dosen di negeri ini. Bahkan saya mendapat info bahwa universitas memberi mereka budget untuk melakukan itu, tapi khusus mahasiswa S3 atau S2 riset seperti teman saya. Tujuannya, supaya terbina hubungan dekat antara dosen dan mahasiswa. Hubungan amat penting dalam kesuksesan kerja kedua belah pihak. Mereka membuat studi Master dan PhD berat. Untuk melewatinya, diperlukan hubungan khusus lebih dari sekedar pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Sejak hari itu, teman saya makin mantap memanggil Prof KD dengan nama depannya, tidak lagi dengan sebutan professor atau nama belakang.

Advertisements

Actions

Information

3 responses

27 12 2007
Iswadi HR

Suatu yang patut di tiru oleh prof di tanah air

29 12 2007
Ani

Met malam…maaf ninggalin pesannya di sini, saya nggal nemu buku tamu ataupun shout box di sini. Salam kenal ya ! Selamat tahun baru!

31 12 2007
Diana

Wow, Liburan yang sungguh sangat menarik. Apalagi saat berada di negeri orang. Btw, kapan pulangnya?? Semoga cepat kembali ya… Qta2 se tanah air begitu mengharapkan pengabdian nya untuk perubahan tanah air kita jadi lebih baik lagi…

Salam Kenal Kembali.. Selamat menyambut taon baru 2008.

Jangan lupa post pengalaman taon baruan nya ya.. C u..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




%d bloggers like this: