Ramadhan di Perth (Ramadhan in Perth)

4 09 2008

Ini adalah Ramadhan kedua saya di Australia. Berbeda dengan Ramadhan tahun lalu yang terasa lebih ringan, Ramadhan tahun ini terasa lebih berat. Tapi ada satu nikmat yang tak ternilai harganya di Ramahadan tahun ini, yaitu menjalani bulan suci bersama keluarga.

Foto: bp3.blogger.com

Tahun lalu segalanya masih seperti bulan madu. Saya begitu excited karena itulah Ramadhan pertama saya di Australia. Apa-apa jadi terasa biasa. Ada rindu pada keluarga, tapi diimbangi oleh rasa senang menikmati pengalaman pertama.

Tahun ini, saya dan istri merasa rindu sekali dengan kampung halaman. Banyak kenangan indah yang ingin sekali rasanya diulang kembali. Suasana Ramadahan di kampung terasa begitu kental, hidmad, sehingga bulan itu memang terasa ‘beda’ dengan bulan lain. Menjelang subuh, semua penduduk sibuk makan sahur. Setelah itu orang berbondong-bondong shalat Subuh di Masjid. Siang pun terasa khas, haus, agak lemas, tapi asik. Sore orang-orang keluar rumah, bercengkrama, menunggu waktu berbuka tiba. Saat berbuka, setiap muka layu kembali segar ibarat pohon meranggas disiram air. Kemudian orang kembali ke Masjid untuk tarawih dan tadarus. Malam terasa pendek.

Di sini, tidak ada yang berubah. Aktifitas berjalan seperti biasa. Cafe-cafe masih buka. Mahasiswa hilir mudik di kampus sambil minum kopi atau makan sosis berbungkus roti. Sebagian orang merokok di pojok-pojok. Bahkan, karena musim dingin belum juga berakhir, gairah Ramadhan sekan ikut membeku. Tarawih hanya dilakukan berdua di kamar di rumah. Tidak ada kentongan orang membangunkan sahur, apalagi anak-anak berbaris ke surau membawa obor. Ahhh, betapa rindunya pada surau dan bedug di kampung.

Namun, ini adalah bulan suci. Di mana semua do’a dikabulkan. Di mana tersedia wadah pencucian semua dosa. Di mana setiap ibadah dilipatgandakan pahalanya. Di mana malam lailatul qadr akan hadir.

Bulan ini mesti tetap dinikmati, sejadi-jadinya.

Mohon maaf lahir dan bathin.


Actions

Information

2 responses

12 09 2008
Abdillah

Rindu kampung itu biasa, apalagi nanti menjelang lebaran. Tapi yang harus disyukuri Ramadhan kali ini jatuh di musim dingin, dimana suasananya sejuk, siangnya pendek, malamnya panjang. Pak Kun lebih beruntung dari saya yang dapat Ramadhan di musim panas. Tapi walau demikian bagi saya tetap saja menjadi Ramadhan yang indah. Selamat berpuasa..

12 09 2008
faisol

terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Benarkah Kita Hamba Allah?”
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/09/benarkah-kita-hamba-allah-1-of-2.html
(link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link benarkah kita hamba Allah?)

Apakah Allah juga mengakui bahwa kita adalah hamba-Nya?

semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: