Indivualisme itu Buruk?

22 09 2008

Orang barat individualis. Apa artinya? Kata guru saya, “lu lu, gue-gue” alias lu jangan urus gue dan gua gak ngurus lu. Arti lain, gue bebas mau apa saja, lu diam di sana. Tapi penjelasan tentang individualisme itu tak benar, baik secara devinisi, apalagi dalam praktek. Tulisan ini mengisahkan salah satu praktek individualisme yang saya alami dalam pelayanan masyarakat oleh Pemerintah/Lembaga Publik.

Di Perth, transportasi publik dikelola oleh pemerintah di bawah perusahaan bernama TransPerth. TransPerth adalah perusahaan besar. Punya armada darat (bus kota dan kereta api) dan transportasi air (ferry). Mereka punya ratusan bus, ratusan kereta api modern, ratusan kapal, dan ratusan terminal besar dan kecil yang siap melayani anda bepergian kemanapun di sekitar Perth.

Bus TransPerth (Foto: Wikimedia)

Lebih setahun menggunakan TransPerth, saya belum menemukan masalah apapun. Semuanya serba terjadwal dengan baik. Pelayanan di kendaraan pun memuaskan. Sopir-sopir menyapa penumpang dengan senyum dan gembira. Armada bersih dan harum. Pembayaran secara elektronik menggunakan kartu khusus pun memudahkan bepergian.

Jika akan melakukan perjalanan ke tempat yang belum diketahui, saya biasa menggunakan website TransPerth di http://www.transperth.wa.gov.au. Di website ini terdapat aplikasi bernama Journey Planner. Anda tinggal memasukkan posisi anda sekarang dan tujuan anda. Maka Journey Planner akan mencarikan anda jalur terdekat, bus apa yang harus ditumpangi, lengkap dengan waktu keberangkatan dan waktu tiba, dan informasi lain.

Ketera Api TransPerth (Foto: BusAustralia)

Untuk memudahkan mengenali lokasi tujuan, saya biasanya melihat peta rute TransPerth. Pada peta rute, saya bisa melihat jalan-jalan dan fasilitas-fasilitan umum yang akan saya lewati, sehingga saya tahu saya masuh jauh atau sudah dekat. Nah, tulisan ini adalah tentang peta itu.

Suatu hari, saya membuka website TransPerth dengan maksud mendownload peta tersebut. Tapi, saya tidak menemukan halaman website yang saya cari. Biasanya ada. Lalu saya mengirim email ke TransPerth. Pada email tersebut saya sebutkan bahwa saya menginginkan halaman tersebut dipasang kembali di website TransPerth.

Ferry TransPerth (Foto: Lookatwa)

Saat mengirim email, saya tidak terlalu berharap akan mendapat jawaban. Saya bukan siapa-siapa di sini. Saya pendatang. Orang asing. Berkulit coklat. Cuma mahasiswa S2. Lagipula, halaman yang saya minta itu bukan halaman yang teramat penting. Kebanyakan orang sudah cukup puas dengan Journey Planner. Juga, TransPerth adalah perusahaan besar. Mana mungkin mereka mendengarkan hal remeh-temeh seperti yang saya minta. Pegawai TransPerth banyak kerja. Mereka perusahaan besar. Saya pun tak dikenal.

Tapi respon yang saya dapatkan sungguh mengesankan. Sehari setelah mengirim email, saya mendapat balasan bahwa email saya telah diforward ke webmaster TransPerth. Webmaster adalah orang yang mengelola sebuah website. Ketika itu, saya masih berpikir bahwa webmaster tidak akan melakukan apa-apa untuk saya. Tapi dua hari kemudian, ketika saya sudah lupa akan permintaan saya, sebuah email datang dari TransPerth. Pengirimnya pun tidak tanggung-tanggung, bukan webmaster, tapi Manager Marketing TransPerth. Isinya adalah pemberitahuan bahwa permintaan saya telah dipenuhi.

Saya terdiam. Perusahaan besar itu, telah bekerja khusus untuk memasang halaman tersebut di website TransPerth. Padahal, halaman tersebut mereka hapus pasti karena ada pertimbangan. Dalam hati saya berkata, “maaf telah merepotkan.”

Stasiun Kereta Api TransPerth (Foto: Picasaweb)

Inilah bunyi surat sang Manager kepada saya:

Dear Kunaifi. I am writing in response to your comment regarding the network maps available from the Transperth website. These maps are now available from the website http://www.transperth.wa.gov.au/TimetablesMaps/Busnetworkmaps/tabid/355/Default.aspx) and Transperth would like to apologies for their removal. Kind regards, ######, Marketing Manager Transperth.”

Ketahuilah pembaca, halaman tersebut tadinya sudah mereka hapus karena mereka sudah punya pengganti yang lebih baik. Tapi kemudian diaktfikan lagi hanya karena permintaan saya . Selain itu, sudahlah dibikin repot, minta maaf pula. Indahnya jika pelayanan publik seperti ini menjadi kebiasaan kita di Indonesia.

Mengapa itu bisa terjadi? Dalam prinsip individualisme, negara memandang warga negara sebagai individu, dan itu sudah cukup. Artinya, jika anda adalah mahasiswa yang mengirim proposal minta dana kegiatan ke pimpinan universitas, cukup anda tandatangan sendiri suratnya. Tidak perlu ada barisan tandatangan dari ketua HMJ, BEM Fakultas, BEM Universitas, WD-III, WR-III, dosen PA, dan orang tua. Setelah itu, surat anda tidak pernah dijawab. Atau, untuk memprotes sebuah perusahaan BUMN besar, anda cukup kirim email secara pribadi. Tak perlu mengumpulkan massa, tokoh masyarakat, alim ulama. Anda adalah individu, dan negara sudah cukup dengan anda sebagai individu. Jika memenuhi syarat, permintaan anda akan dipenuhi tanpa dukungan orang lain.

Konsekuensinya, dalam sistem individualisme, jika anda berbuat kesalahan yang memalukan, jangan harap orang akan bertanya anda anak siapa? Siapa guru SD anda? Di mana anda kuliah? Kepada siapa anda dulu mengaji? Hanya anda sendiri yang akan menanggung beban kesalahan anda.

Dalam sistem individualis, setiap orang ‘terpaksa’ berusaha menjadi sebaik-baiknya individu. Jika ada orang jatuh di dekat anda, tapi anda tidak membantu, mungkin anda akan diteriaki, “individu macam apa kau? Jadi tak nyambung dengan konsep “lu lu, gue-gue.”

Advertisements

Actions

Information

2 responses

25 10 2008
hendri

Kapan ya kita di Indonesia punya pelayanan seperti ini…. Mudah-mudahan semua warga kita Indonesia bisa sadar dan belajar dari pengalaman orang-orang seperti bang kunaifi……

14 11 2016
Dieng

semoga indonesia bisa cepat mempunyai transportasi yang lebih bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s




%d bloggers like this: