Riau Climate Change Center

8 01 2010

Diterbitkan di Riau Pos, 6 Januari 2010.

Di antara rombongan presiden SBY di conference of the parties (COP) perubahan iklim (climate change) ke-15 di Copenhagen Desember 2009 lalu, Gubernur Riau Rusli Zainal menjadi salah satu bintang paling bersinar. Ada dua penyebab. Pertama, inisiatif Gubri  menetapkan Giam Siak Kecil – Bukit Batu sebagai cagar biosfer dan pusat riset gambut baru-baru ini, diapresiasi UNESCO dalam bentuk anugerah Man of Biosfer 2009 untuk Gubri. Sebuah penghargaan internasional bidang lingkungan hidup yang amat bergengsi. Kedua, di Copenhagen Gubri menggagas pembentukan Riau Climate Change Center (RCCC), sebuah inisiatif yang tentu saja mendapat dukungan banyak pihak, di dalam dan di luar negeri. Artikel ini mendiskusikan secara singkat seputar gagasan pembentukan RCCC. Beberapa saran akan diusulkan.

Gubri mengatakan, azam membentuk RCCC bermula dari kesadaran bahwa Riau ikut terlibat atas perubahan iklim global. Oleh sebab itu Riau harus bertanggung jawab. Keterlibatan Riau terdiri dari daftar panjang, yang paling mutakhir adalah ‘dosa’ meng-konversi lahan gambut menjadi perkebunan. Walhasil, Riau mendapat sorotan tajam mata dunia. Beberapa langkah strategis dimulai untuk merespon protes berbagai pihak, antara lain menyusun Masterplan Pengelolaan Kawasan Gambut Berkelanjutan Provinsi Riau 2009 menyusul MoU antara Gubri dengan enam kabupaten/kota di Riau dan Kementerian Lingkungan Hidup, pada 2008. Selain itu, telah pula dibuat kesepakatan bersama sepuluh gubernur se-Sumatera pada 2009 untuk menyelamatkan Pulau Sumatera melalui tata ruang berbasis ekosistem, restorasi kawasan kritis, dan perlindungan kawasan konservasi. Namun semua ini dirasa belum cukup, maka RCCC digagas sebagai ‘jurus pamungkas.’

Menurut Gubri, RCCC akan menjawab semua persoalan perubahan iklim di Riau. Institusi ini akan mewadahi semua stakeholder termasuk dunia bisnis. Melalui RCCC, pemerintah berusaha mencapai target mengurangi emisi karbon dioksida hingga 26 persen pada 2020. Gagasan Gubri membentuk RCCC adalah terobosan cerdas dan perlu didukung.

Namu demikian, beberapa hal perlu dipertimbangkan terkait pembentukan dan operasional RCCC kelak. Pertama, perubahan iklim adalah buah dari proses multifaktor, maka proses mitigasi dan adaptasi yang akan dilakukan mesti lintas sektoral. Gubri menyarankan semua stakeholder terlibat, meliputi pemerintah, bisnis, LSM, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Namun itu belum cukup. Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun perlu dilibatkan. Sebagai pembanding, Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat baru-baru ini membuka divisi baru bernama The Center on Climate Change and National Security. CIA beralasan bahwa climate change tidak hanya membahayakan ekologi, tapi dapat juga menimbulkan ekses politik, ekonomi, dan stabilitas sosial di masa depan, terutama karena climate change dapat memicu kompetisi dalam memperebutkan sumberdaya alam. Stakeholder lain yang mesti terlibat adalah perwakilan propinsi-propinsi se-Sumatera. Adalah fakta bahwa masalah climate change tidak bisa dilokalisir; Riau dan tetangganya saling berbagi dalam ‘menanam’ climate change dan ‘menuai’ akibatnya.

Kedua, RCCC seharusnya menjadi institusi utama dari mana konsep-konsep pembangunan berkelanjutan Riau bersumber, bukan sekedar Pusat Kajian Perubahan Iklim. Maka supaya efektif, RCCC harus memiliki kekuatan politis. Atas dasar ini, kurang tepat jika RCCC diletakkan di bawah Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Riau, sebagaimana diungkapkan Gubri (Tribun Pekanbaru, 18/12/2009). Posisi di bawah BLH akan menjadi hambatan politis saat rekomendasi RCCC akan dijadikan kebijakan yang mengikat semua institusi Pemprov hingga Pemkab/Pemko. Konsekuensinya, BLH akan menjadi bulan-bulanan masyarakat jika masalah climate change di Riau tidak teratasi. Situasi akan lebih baik jika RCCC langsung dipimpin Gubernur sedangkan BLH dijadikan leading sector.

Ketiga, demi efektifitas dan kejelasan arah pembangunan Riau, sebaiknya produk pertama RCCC berbentuk konsep Riau Green atau apalah namanya, suatu instrumen kebijakan pembangunan Riau berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan goal ke-7 Millenium Development Goals (MDGs), yang telah disepakati sebagai tanggungjawab bangsa-bangsa dunia. Supaya efektif, Riau Green perlu ditetapkan melalui Perda.

Keempat, betul bahwa kini Riau disorot karena persoalan deforestasi, kebakaran hutan, dan alih guna lahan gambut. Namun dalam jangka panjang, terdapat sektor-sektor lain yang terlibat pada climate change. Di antara yang dominan adalah sektor transportasi dan energi (khususnya listrik). Jumlah kendaraan bermotor yang tak terkendali akan memperburuk climate change. Maka sudah saatnya dirancang sistem transportasi massal guna menekan penggunaan kendaraan pribadi. Di sektor kelistrikan terlihat bahwa dominasi batu bara dan gas alam (keduanya adalah penyebab utama climate change) akan berlanjut. Karena memiliki efek sama buruk dengan transportasi, sektor kelistrikan perlu dikembangkan melalui kebijkan energy-mix dengan cara ekspansi energi terbarukan, khususnya untuk ‘melistriki’ 60% penduduk Riau yang masih gelap gulita.

Kelima, pada tahap awal, keterlibatan para ahli dari luar Riau di dalam RCCC diperlukan dalam rangka local capacity building. Namun SDM daerah mesti diberi ruang yang lebar. Karena ‘peperangan’ melawan climate change ini tak akan pernah usai, demi efisiensi dan kesinambungan perjuangan, untuk tahap selanjutnya ketergantungan pada ahli dari luar propinsi mesti dilepaskan, karena yang akan selalu berada di garda terdepan adalah masyarakat Riau sendiri.

Sebagai penutup, mari kita bertanya: apakah masalah selesai setelah RCCC dibentuk? Belum tentu! Gagasan cerdas Gubri ini hanya sebuah awal. Betapapun bagusnya kerja dan rekomendasi RCCC nanti, tidak akan membawa perubahan apapun jika tidak dilaksanakan semua stakeholder secara konsisten. Pengalaman membuktikan bahwa tak kurang kebijakan lingkungan hidup yang sudah kita punya, tapi tidak banyak berfungsi. Yang pasti, penghargaan Man of Biosfer 2009 merupakan beban moral bagi kita, bahwa kini tidak ada pilihan, kecuali melekatkan aspek ekologis pada setiap program pembangunan ekonomi dan sosiopolitik di bumi Riau.

Kunaifi, ST., PgDipEnSt., M.Sc.

Pengamat Energi dan Lingkungan Hidup

Dosen Fak. Sains dan Teknologi UIN Suska Riau

kunaifi@hotmail.com


Actions

Information

6 responses

23 01 2010
Harris M Simanjuntak

Ide pembentukan RCCC harus segera diwujudkan, karena masalah yang dihadapi oleh perubahan iklim sangat besar. untuk itu diperlukan sumberdaya yang dapat mengintegrasikan RCCC pada segi politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Trimakasi.

25 01 2010
Kunaifi

Sepakat Pak Harris. Mantap

10 03 2010
triarman

Soal KONSEP..Bangsa kita TERDEPAN, alias paling jago se-Dunia.
Tapi PELAKSANAAN..PAYAH33x banget..jangan di tanya.So, gimana ya MENGATASI YANG SATU ini ???

21 03 2010
Kunaifi

Menurut saya caranya adalah menggunakan konsep 3M dari AA Gym; Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, dan Mulai dari sekarang.

Kun

5 05 2010
Forestation UGM

Saya sangat setuju dengan isi postingan tersebut, semoga bumi akan lebih baik di kemudian hari🙂
“Salam Bumi Pasti Lestari”
dari kami mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta

7 08 2012
enny

saya sangat setuju dengan semua yang berbau energi terbarukan,dan yang di bicarakan bukan hanya energi alternatif.Ini kebutuhan yang sangat mendesak,mengingat simpanan energi fosil kita sudah sangatlah menipis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: