[ASAP, SUMUR KERING, LISTRIK PADAM] dan [SAWIT] dan [RIAU]

31 03 2016

Tahun ini mungkin puncak derita rakyat Riau (mungkin juga Kalimantan, Jambi dan Sumsel). Sejak 18 tahun terakhir asap dari pembakaran hutan dan lahan menjadi langganan tetap, setiaaa sekali… menggantikan udara Riau yang bersih dengan abu (particulate matters). Sedangkan manusia yang tinggal Riau masih menggunakan paru-paru yang sama, tidak berubah menjadi berbahan otot besi dan urat kawat.

Tahun-tahun lalu, kerinduan luar biasa pada udara bersih biasanya digantikan senyuman riang gembira rakyat Riau saat hujan datang memadamkan api, lalu rakyat Riau yang pemaaf melupakan derita hingga tahun depan menjelang, dengan kisah yang sama. Kalaupun ada yang konsisten tetap berjuang untuk perbaikan permanen, suara mereka tenggelam dalam hembusan isu yang datang dari segala penjuru bahwa pelaku pembakaran bukanlah perusahaan, tetapi warga biasa; “ayah, anak, ponakan, paman, atau adik kalian juga, katanya.”

Tahun ini nampaknya rakyat Riau memilih untuk sesekali muak daripada terus-menerus memberi maaf. Sungguh, tak ingin terjadi lagi di tahun-tahun menjelang. Tahun ini mulai terbongkar sebagian fakta; ternyata jutaan orang dikorbankan, disalai, untuk satu tujuan, yaitu memudahkan mereka yang sudah kaya raya untuk menjadi semakin kaya raya. Inikah ciri ekonomi kapitalis itu?

Saat tulisan ini dibuat, kondisi udara di Pekanbaru berstatus BERBAHAYA.

Mengapa ‘puncak derita’? Karena tahun ini asap tidak hadir sendiri ke Riau. Dia mungkin melihat Riau adalah kawasan yang lucu dan menggemaskan saat menderita dan megap-megap bernafas asap, sehingga asik juga dijadikan hiburan. Tahun ini asap datang bersama dua koleganya, yaitu sumur kering dan pemadaman listrik bergilir.

Tulisan ini mencoba menghubungkan asap, kekeringan air dan pemadaman listrik bergilir dengan satu sektor, yaitu perkebunan kelapa sawit. Jujur, ulasan dibuat bermodalkan ilmu yang sedikit, jadi anda bebas menambahkan dan meluruskan, sebab nuansa emosinya lumayan kental.

SAWIT

Kelapa sawit telah menjadi primadona kedua di Riau setelah minyak bumi. Karena hasil kelapa sawit langsung dinikmati rakyat, maka kelapa sawit telah menjadi anugerah ekonomi luar biasa bagi rakyat ke level yang paling bawah. Ini berbeda dengan minyak bumi yang dinikmati oleh elit (terutama Jakarta-nya NKRI) dan hanya sedikit menetes kepada rakyat dalam bentuk CSR. Terima kasih kelapa sawit.

Bagi pemerintah kelapa sawit juga menjadi sektor yang dibanggakan, disebut-sebut di mana-mana dengan suka cita. Sampai akhirnya dimunculkan istilah populer “Riau adalah: minyak di bawah minyak di atas.” Hebat.

Tapi sebenarnya kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup sudah lama mengingatkan tentang ‘bom waktu’ yang telah dipicu oleh sawit. Kini bom waktu itu sudah meledak sebagian. Di antaranya: sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Bayangkan padang pasir di Arab pindah ke Riau, demikian ilustrasi bebasnya.

Selain itu, sawit adalah tanaman yang rakus air sehingga ratusan hektar dengan deretan pohon sawit dewasa bisa mengeringkan sungai di dekatnya.

Masih bisa kita tambah daftarnya, misalnya kerugian karena mengubah hutan alam menjadi kebun sawit, konflik (vertikal, horizontal) dll.

Intinya: kebanggan Riau ini bukanlah tanpa cacat.

ASAP

Nah, asap durjana ini menurut berita banyak terkait dengan pembersihan lahan untuk diubah menjadi kebun sawit. Hari ini di Riau status Berbahaya. Di Kalimantan kabarnya 6 kali lipat di atas Bahaya. Derita asap ini mungkin ada peran dari sektor sawit.

KEKERINGAN

Berjalanlah anda sekarang ke penjuru Riau. Kalau tidak sempat teleponlah kenalan anda di sana. Amati atau tanyakan bagaimana kondisi sumur mereka sekarang? Maka anda akan mengetahui saat ini kekeringan terjadi di mana-mana. Sumur-sumur tidak berair. Orang mengemis air kepada tanah.

Mengapa kini sumur-sumur lebih gampang kering? Mungkin sawit juga berperan. Kawasan penyimpan air kini semakin sempit. Dulu sebelum era sawit, saat hujan turun, sebagian air hujan akan disimpan di dalam tanah untuk dijadikan cadangan suplai air pada musim kemarau. Pohon punya kemampuan menyimpan air. Begitulah desain Tuhan untuk kebaikan manusia. Namun sejak era sawit, saat hujan datang air tidak lagi masuk ke dalam tanah sehingga lebih sering terjadi banjir atau genangan air. Sawit tidak punya kemampuan menyimpan air sebaik pohon lain. Saat kemarau datang, sumur-sumut kering karena tidak ada cadangan air di tanah. Begitulah campur tangan manusia atas desain Tuhan membawa derita.

Derita kekeringan mungkin ada juga peran sektor sawit.

PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR

Saat ini sering muncul status teman di FB seperti, “habis sudah kita karena asap, lalu terbitlah pemadaman listrik bergilir.”

Salah satu sumber listrik utama di Pekanbaru adalah PLTA Koto Panjang. PLTA sangat mengandalkan air yang cukup di bendungan untuk menjaga stabilitas produksi listrik. Tidak ada masalah saat musim hujan. Namun kita telah menjadi saksi setiap musim kemarau datang, pemadalam listrik bergilir pun menjelang.

Mengapa terjadi? Karena level air di bendungan PLTA turun, sehingga produksi listrik tidak bisa optimal. Sebagian kawasan harus dipadamkan listriknya. Penurunan level air di bendungan PLTA mestinya tidak terlalu signifikan jika kawasan penyimpan air masih cukup. Namun kawasan hutan yang mestinya menyimpan air untuk PLTA di musim kemarau kini telah berubah menjadi kebun sawit yang tidak punya kemampuan menyimpan air.

Pemadaman listrik bergilir pun mungkin ada peran sektor sawit.

LALU BAGAIMANA?

(1) Stop izin untuk penambahan lahan sawit, walaupun hanya 1m2.
(2) Tinjau ulang izin replanting untuk menghindari penggurunan.
(3) Pemerintah mesti lebih cerdas menciptakan lapangan ekonomi lain untuk rakyat, jika tidak ada ide sebaiknya tarik lagi formulir pendaftran menjadi anggota Dewan, Bupati, Walikota, Gubernur; tandanya anda tidak berbakat membawa rakyat Riau menjadi lebih baik.
(4) lanjutkan gerakan menanam 1 juta pohon peninggalan SBY, dan prioritaskan ke kawasan pencadangan air.
(5) lanjutkan tindakan hukum bagi para pembakar hutla, tangkap pembakarnya, otaknya, bekingnya, dan orang yang menerim setorannya (jika ada).
(6) Pemerintah pusat harus memberi kompensasi pada Riau atas eksploitasi SDA puluhan tahun yang keuntungannya jauh lebih banyak dibawa ke Jakarta. Salah satu contohnha, jadikan pendidikan Dasar, Mengengah, dan Tinggi di Riau menjadi yang terbaik di Indonesia. Karena kami percaya pendidikan yang baik akan menyelamatkan masa depan kami. Pendidikan yang baik akan menghindarkan kami dari perilaku tidak adil dan perilaku mengekspoitasi orang seperti yang kami alami sejak bergabung manjadi bagian dari Indonesia ini.

Itulah derita Riau yang bertubi-tubi, dengan intensitas yang setiap tahun semakin tinggi.

Negeri yang menyumbang bahasa pada negara ini. Negeri yang membuat Indonesia mendapat posisi penting di kalangan OPEC (negara pengekspor minyak). Negeri yang pernah dibujuk rayu dengan diberi julukan negeri petrodolar padahal faktanya petro-nya ada di Riau, dolarnya pergi ke Jakarta. Negeri yang menghasilkan jutaan dolar untuk negara dari sawit. Negeri yang paling banyak menyuplai kebutuhan kelapa negara ini. Tapi inilah negeri yang dibiarkan itu.

Akhirnya apa yang tersisa di Riau? Hanya bahasa. Hanya bahasa. Maka kami akan terus bicara.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: