MEMANJAKAN DIRI DENGAN MUSIK

12 06 2016

Ibarat sebuah drama yang hadir silih berganti dalam fragmen-fragmen yang membawa kesan masing-masing, begitu pula parade musik klasik yang disuguhkan oleh para musisi dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) malam ini di Gedung Pertunjukan Idrus Tintin, Pekanbaru.

Satu per satu lagu klasik dibawakan dengan apik, ada yang populer dan ada pula yang berat.

Four Seasons-Summer yang ditulis oleh Antonio Vivaldi dibawakan dengan baik sekali, membawa kesan suasana musim panas di Eropah yang kering dan kuning, sehingga terasa menghisap tenaga pendengarnya, membuat badan lemas. Daun-daun kering ‘nampak’ lepas dari dahan lalu melayang perlahan jatuh ke tanah, menyentuh bumi dengan pelan, namun tajam. Vivaldi menulis empat seri karyanya yang paling terkenal itu tahun 1700-an dan dipublikasikan pertama kali di Amsterdam. Mirip dengan karya Vivaldi lain, serial ini juga mengandung nuansa puitis dalam bunyi yang digubahnya.

Piano solo yang dibawakan salah satu pemusik setelah itu, adalah termasuk penampilan yang berat. Polonaise Opus 53 yang juga dikenal dengan Polonaise héroïque dalam bahasa Perancis, menggambarkan kuda-kuda perang yang penuh semangat. Berlari dan melompat, melewati barisan tentara musuh. Gagah. Lagu ciptaan Frédéric Chopin ini ditulis pada zaman klasik, tidak hanya mendemonstrasikan bunyi yang enerjik, kejutan-kejutan, tetapi juga gerakan jari pemain di atas tuts harus lincah, cepat dan keras. Lagu ini bisa membuat cedera jari pemainnya, dan malam ini telah dimainkan dengan apik.

Itulah dua lagu yang bagi saya paling berkesan malam ini. Lagu lain juga tidak kalah indahnya. Ada juga salawat badar dalam kemasan orkestra, penanda konser yang diadakan dua malam sebelum Ramadhan itu.

Telinga, rasa, dah raga terasa dimanjakan.

AKMR1

Awalnya enggan untuk hadir karena badan tidak fit. Tetapi rugi untuk dilewatkan. Bukan saja karena pernah menjadi dosen di AKMR, tetapi juga karena konser musik klasik tidak sering di Pekanbaru. Saya tidak memainkan satu pun alat musik. Namun saat di Jogja dulu bergaul dengan musisi. Beberapa kali menginisiasi dan mengadakan konser sejenis, memfasilitasi para pianis kota Pelajar dan sesama penikmat musik klasik, juga sekaligus sebagai cara asik menonton gratis hehe. Saat bermukim di Australia juga sering menyambung waktu kuliah, pindah ke ruang sebelah di kampus, di mana secara berkala diadakan konser musik klasik.

Kedua putra saya menikmati pertunjukan malam ini dengan hikmad. Sama hikmadnya ketika menyetor hafalan Al Quran kepada mamanyaMurparsaulian Murparsaulian, yang seniman betulan. Si bungsi Abhiv menyerah lalu tertidur mendekati penghujung pertunjukan. Sedangkan abangnya Zia, yang sudah belajar piano klasik 4 tahun belakangan, tak hendak mengedipkan mata. Dia larut dalam nikmatnya bunyi dalam harmoni.

AKMR2

Bravo AKMR. Very good performance.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: