Wierden: (1/3) Pasar Maluku

23 07 2017

Kemarin Sabtu, 22 Juli 2017, untuk kesekian kali (lima atau enam), kami sekeluarga diboyong oleh sebuah keluarga Belanda ke rumahnya di Enter. Seperti biasa, perjalanan selalu menarik. Sebelum ke Enter, kami singgah di sebuah pasar unik. Juga mampir ke beberapa rumah orang Belanda tanpa rencana. Kisah tiga seri kali ini adalah tentang perjalanan tersebut, pasar, dan orang-orang yang ditemui.

Tidak lama setelah waktu sholat zuhur masuk di Enschede, Ibu Jo*****e tiba dengan mobilnya. [Nama beliau tidak ditulis lengkap karena belum minta izin. Selanjutnya akan saya sebut Jo saja]. Jo memang belum mengizinkan kami ke rumahnya naik bus atau kereta api. Katanya, “terlalu lama di jalan.” Jo tidak salah. Mengingat jarak yang hanya 25 km, mestinya bisa dijangkau dalam 30 menit dari rumah kami. Tapi karena Enter adalah sebuah desa, dengan kendaraan umum butuh waktu sekitar 1,5 jam. Memang lebih lama tapi sebenarnya kami tidak keberatan.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada dalam perjalanan. Suasana dalam perjalanan 20 menit tersebut, ketika beralih dari satu kota ke kota lain, satu desa ke desa lain, satu kompleks pemukiman dengan pemukiman lain, memanjakan mata. Kombinasi perumahan, pohon, lapangan, danau, kanal, atau sungai silih berganti, menyuguhkan dominasi hijau yang lembut di mata. Bagi orang dewasa, suasana alami dan kreasi manusia tersebut membuat perjalanan tidak membosankan. Sedangkan bagi anak-anak, suasana yang damai, ditambah hembusan lembut angin musim panas masuk lewat jendela yang sedikit dibuka, adalah syarat sempurna untuk memejamkan mata.

Untitled-3
Suasana perjalanan menuju Wierden (foto: Google Map)

Pasar Maluku

Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di Wierden, sebuah ‘Kabupaten’ di kawasan Timur Belanda. Wierden masih satu Provinsi dengan Enschede, tempat kami tinggal. Nama provinsinya Overijssel. Dalam bahasa Belanda, kabupaten dinamakan Gemeente. Saya sebenarnya ragu apakah gemeente ini sekelas Kabupaten atau Kecamatan di Indonesia? Jika ditinjau dari hirarkinya, posisi Gemeente di bawah Provinsi, sehingga cocok disebut Kabupaten. Namun, dari segi luasnya, hanya seluas Kecamatan di Indonesia pada umumnya.

Keperluan kami singgah di Wierden adalah mengunjungi sebuah pasar yang unik. Pasar Maluku namanya. Diadakan sekali setahun setiap pertengahan musim panas oleh organisasi warga keturunan Maluku yang tergabung di Gereja Injil Maluku/GIM (Molukse Evangelische Kerk) di Wierden. GIM adalah organisasi jaringan gereja yang cukup besar dengan 65 gereja yang tersebar di setiap penjuru Belanda (sumber: http://www.geredjaindjilimaluku.nl/).

Pasar Maluku telah berlangsung lima kali di Wierden sebagai bagian dari Festival Musim Panas di Wierden yang dinamakan Wierdense Zomerfeesten (WIEZO). Kata Jo, di Pasar Maluku akan banyak bertemu orang keturunan dari Maluku Selatan, Indonesia. Sekitar 70 dekade lalu belasan ribu orang dari Maluku Selatan hijrah ke Belanda. Mereka yang saat itu berusia di bawah 15 tahun, kini sudah berusia tua. Konon di antara mereka, generasi pertama yang lahir di Maluku, banyak yang memorinya masih terikat kuat dengan Maluku. Ibarat hidup di dua dunia berbeda, ada yang berharap suatu saat kembali ke Maluku. Bahkan ada yang masih menyimpan kopor dalam keadaan siap diangkat kapan saja kembali ke Maluku.

Generasi kedua, lahir di Belanda. Kebanyakan mereka bicara bahasa Indonesia di rumah. Mereka menyebutnya bahasa Melayu. Generasi kedua telah menjadi orang Belanda sejak lahir, namun tetap tidak terlepas dari pengaruh orang tuanya yang kebanyakan memperkenalkan Maluku dengan baik kepada mereka.

Pertama kali diadakan lima tahun lalu, hanya ada enam stand yang berpartisipasi dalam Pasar Maluku, namun tahun ini jumlahnya lebih 40 stand. Pada 2016, hampir semua aspek dari budaya Maluku ditampilkan, misalnya Sapa Lawan, penampilan penyair Maluku Djodjie Rinsampessy, musik harmoni tampilan lagu Adik-Kaka Patawala, dan sebagainya. Pasar Maluku memang ajang menampilkan budaya Maluku, pulau-pulau yang ada di sana, musik, makanan, dan sebagainya.

photo_2017-07-23_23-38-24Saat tiba di Jalan Appelhofdwarsstraat, Wierden, kami langsung menemukan banyak stand berjejer rapi di pinggir jalan. Orang-orang yang duduk menunggu stand-stand tersebut memang kebanyakan seperti saya, berkulit agak gelap. Mereka memang berbahasa Melayu. Bertemu mereka seperti bertemu orang Maluku di Indonesia saja. Bedanya, mereka juga berbahasa Belanda, saat melayani pengunjung orang Belanda. Gerak-gerik mereka juga seperti orang Belanda tempatan.

Spanduk Pasar Maluku, 2017

Di Pasar Maluku, ada orang menjual alat musik band yang unik, terutama drum-nya. Drum band yang saya ketahui selama ini terbuat dari bahan kulit hewan. Namun yang dijual di Pasar Maluku berbentuk kotak dan semuanya dari bahan kayu (plywood) khusus. Kayunya terbuat dari bahan yang lembut, tapi tidak rusak saat dimainkan. Namanya adalah Cajon, sebuah alat musik perkusi asal Peru yang sering dimainkan mengiringi lagu Jazz. Pemain duduk di atas kotak sambil memukul permukaan depan yang tipis dengan telapak tangan, jari, atau stik. Seperti bermain gendang. Karena tidak akan membeli, maka anak, istri, dan saya mencoba memainkannya di tempat. Hasilnya tidak mengecewakan dan mengundang cukup banyak penonton.

photo_2017-07-23_23-39-02Pada stand-stand lain, banyak dijual pernak-pernik dari Maluku. Ada juga yang menjual kaos dengan tulisan dan gambar dari Maluku, selendang, lukisan dan foto-foto. Seorang perempuan muda menyediakan jasa pijit khas dari Maluku. Ada juga yang menjual buku-buku. Sebagian besar berbahasa Belanda, tapi ada juga yang berbahasa Indonesia.

Mencoba alat musik Cajon
photo_2017-07-23_23-38-57  photo_2017-07-23_23-38-53

photo_2017-07-23_23-38-59 photo_2017-07-23_23-38-29

Lama-lama, hari yang cerah dan banyaknya stand yang ingin dilihat membuat tenggorokan kering dan perut berbunyi. Perburuan makanan dimulai. Cukup banyak makanan khas Maluku dijual di sana. Tentu jangan berharap di sana ada Papeda, ikan kuah pala, nasi lapola, kohu-kohu atau sagu woku komu-komu. Juga tidak akan ada sambal colo-colo atau talam sagu bakar. Semua itu terlalu spesifik untuk komunitas yang sudah puluhan tahun jauh dari tanah kelahiran dan terlalu rumit untuk dimakan di tempat. Tahun depan mungkin ada, siapa tahu? Pilihan saya jatuh ke goreng pisang. Memang bukan khas Maluku, tapi bagi saya yang sudah setahun lebih tidak makan goreng pisang, rugi besar jika dilewatkan. Antri selama setengah jam cukup terbayar melihat pisang-pisang imut masuk minyak panas dan menghasilkan bau yang semerbak.

Karena goreng pisang masih panas keluar dari kuali, tidak bisa langsung dimakan di tempat. Sebelum menutup kunjungan ke Pasar Maluku, kami menyaksikan penampilan lagu-lagu Maluku. Melihat jumlah penonton yang ramai dan menyaksikan interaksi yang mulus antara sesama pengunjung yang berbeda warna kulit, saya berasumsi bahwa Pasar Maluku bukan lagi hal yang asing bagi penduduk Wierden.

Untuk siapa pun yang punya memori tentang Maluku, Pasar Maluku adalah even yang cukup bagus untuk mengenang atau melepas rindu ke tanah Maluku Selatan. Lagu ‘Parcuma,’ yang mendayu-dayu mungkin saja membuka lebar kenangan sebagian generasi pertama Maluku yang hadir di sana. Nada lagu itu sesekali turun, rendah sekali, membawa emosi pelantun dan pendengar masuk jauh ke relung hati yang paling dalam. Lagu yang mengisahkan sepasang kekasih yang terpisah jauh, itu cukup powerful untuk membangkitkan emosi siapapun yang punya seseorang istimewa tinggal di Maluku sana. Saat tiba-tiba nadanya naik melengking, seolah sebuah gunung api besar, yang menyimpan gelombang lava yang selama ini tersumbat di dalamnya, tiba-tiba menyembur ke atas seketika, menumpahkan segala isinya ke luar, bersamaan. Memang sangat emosional.

Kami mengakhiri kegiata di Wierden dengan makan es krim. Anak-anak riang gembira. Untuk yang tertarik dengan budaya Maluku, inilah pasar yang perlu dikunjungi. Tahniah untuk penyelenggara. Tahun depan, saya ingin datang lagi.

 

Advertisements

Actions

Information

2 responses

24 07 2017
Wierden: (2/3) Pohon Pisang dan Masih Sesat |

[…] saat berkunjung ke Pasar Maluku, saya memesan pisang goreng, bahkan rela antri setengah jam untuk mendapatkannya. Agenda kami […]

24 07 2017
Wierden: (3/3) Desa Enter |

[…] diceritakan, setelah pulang dari Pasar Maluku, kemudian tanpa rencana kami berkunjung ke ‘rumah pisang,’ kami masih tersesat. Tapi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: