Wierden: (2/3) Pohon Pisang dan Sesat Lagi

24 07 2017

Sebelumnya, saat berkunjung ke Pasar Maluku, saya memesan pisang goreng, bahkan rela antri setengah jam untuk mendapatkannya. Agenda kami selanjutnya adalah berangkat ke Enter.

Karena terlihat bergairah sekali dengan pisang, dalam perjalanan menuju Enter, Jo ingin menunjukkan kepada kami sebuah rumah di dekat Enter, yang ada pohon pisang di depannya. Dengan antusias, dia bercerita tentang rumah tersebut. Saya dan istri tentu saja merasa lumayan geli di dalam hati. Apalagi saat Jo menyadari bahwa dia lupa alamat rumah yang dimaksud. Berulang-ulang kami berputar-putar di tempat yang sama dan salah jalan. Kami tidak keberatan sama sekali jika rumah tersebut tidak ditemukan. Tapi Jo bersikeras. Dia ingin menunjukkan kepada kami seperti apa bantuknya pohon pisang.

Saat Jo berjuang ‘menggali’ lokasi rumah tersebut dalam ingatannya, memori saya terbang ke masa kecil di kampung. Saat usia SD sampai SMP, salah satu tugas saya dari Ibu adalah mengambil kelapa dan pisang. Langsung dari pohonnya. Jika turun perintah mengambil kelapa, artinya tidak lama kemudian saya sudah berada di puncak pohon kelapa. Biasanya upahnya adalah, saya jatuhkan satu atau dua butir kelapa muda untuk saya minum. Jika disuruh mengambil pisang, artinya saya segera menjadi ksatria Samurai, terutama ketika menebaskan parang ke tubuh pohon pisang, sampai tumbang. Pohon pisang sebnarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.

Khayalan saya terputus ketika Jo dengan riang memberi tahu bahwa dia telah menemukan rumah yang di depannya ada pohon pisang. Karena dia merasa sudah biasa melihat pohon pisang, kami berempat dipersilahkan turun, mendekat ke ‘rumah pisang,’ sedangkan Jo memilih tetap di mobil. Kami pun tak kuasa mengecewakannya. Sambil bertatapan mata lucu, saya dan istri mengajak anak-anak turun. Ibarat empat sekawan yang lama tinggal di kota metropolitan masa depan, kami melangkah pasti menuju rumah dengan pohon pisang. Padahal, kami semua hanyalah orang kampung. Tulen.

Sampai di sana, kami menemukan serumpun kecil pohon pisang. Yang paling besar seukuran betis orang dewasa. Dengan maksud bercanda kami mengeluarkan komentar-komentar takjub melihat pohon pisang. Saya berkata, “coba lihat, ada garis-garis di daunnya.” Istri saya tertawa dan menimpali “pohonnya lunak ya.” Anak saya yang besar, Zia, menegur kami “lebay kali lah orang ni,” katanya.

Suara berisik kami rupanya terdengar oleh pemilik rumah. Pemilik pohon pisang. Sepasang suami-istri seusia sekitar 55-60 tahun keluar dari rumah. Saya mulai khawatir akan ditegur atau ditanya macam-macam. Bagaimanapun kami telah berhenti di depan properti orang dan menunjuk-nunjuk tanamanannya. Dari perawakan kami juga langsung terlihat bahwa kami bukan orang Eropa. Istri saya berkerudung pula.

Suaminya mengatakan sesuatu yang tidak saya pahami dalam bahasa Belanda. Saya minta Zia terjemahkan. Ternyata mereka berkata, “ayo sini, masuk, di belakang masih ada pohon pisang yang lain.” Kami ragu-ragu, tapi Jo yang juga mulai tertarik, datang dan mengajak kami masuk.

Di belakang rumah tersebut ada sebuah taman kecil, seluas sekitar 5 m x 5 m. Taman itu terawat baik oleh pasangan senior tersebut. Ada tumbuhan yang berasal dari negara tropis, bunga-bunga banyak warna, berbagai jenis rumput, jahe, dan…. tentu saja, …. pohon pisang. Pohon pisang menjadi mahluk yang menjadi pusat perhatian saat itu karena kami datang ke sana karena pohon istimewa itu. Kedua mereka dengan antusias menjelaskan tentang pohon pisang dan tumbuhan lain. Mereka ingin meyakinkan kami paham tentang tanaman itu, sama pahamnya dengan mereka. Untung istrinya bisa sedikit berbahasa Inggris, sehingga langsung ‘direbut’ oleh istri saya. Tinggallah saya dengan suaminya yang hanya bisa bahasa Belanda. Untung ada Zia yang berperan sebagai penerjemah.

photo_2017-07-23_23-38-41Penjelasan-demi-penjelasan yang rinci mengalir deras. Sebuah album foto yang memperlihatkan koleksi tanamaan di sana, termasuk pisang, pun diambil dari dalam rumah. Diceritakan bahwa setiap tanaman punya sejarah. Tibalah di bagian puncaknya, saat sang bapak berkata, “ketahuilah bahwa sebelum ini, di sini ada pohon pisang yang lebih besar,” katanya sambil menunjuk ke pangkal pohon pisang. “Kami sudah panen buahnya dan kami tebang pohonnya,” katanya melanjutkan. Sebagai buktinya beliau memperlihatkan sebuah bekas lobang kecil menandakan sebelumnya di sana ada sebuah pohon lain. Yakinlah kami bahwa itulah bekas pohon pisang.

Karena penjelasan yang super lengkap, tentu cukup memakan waktu. Anak saya yang kecil, Abhiv, mulai terlihat bosan. Dia tidak paham bahasa Inggris dan belum belajar bahasa Belanda. Dia mulai duduk di lantai dan bertanya, “kok lama kali ni?” Sang ibu pemilik rumah tidak kehabisan akal untuk mengendalikan suasana. Dua buah es krim di ambil dari dalam rumah. Anak-anak gembira, dan kami bertahan di sana setengah jam lagi.

photo_2017-07-23_23-38-39Akhirnya kami harus meninggalkan rumah pasangan yang ramah itu. Sebelum pergi, ibu sang pemilik rumah, memberi namanya kepada Jo, mencatat alamat dan meninggalkan nomor telepon. Pesannya, “musim gugur nanti akan muncul beberapa anak pohon pisang yang baru, para sahabat ini datanglah lagi nanti, akan kami siapkan bibit pisang di dalam pot kecil, untuk kalian bawa pulang.”

Bagi saya keramahan seperti itu tidak terlalu asing. Kami pernah tinggal dua tahun di Australia dan bertemu keramahan yang sama dari penduduk asli. Tapi saya tidak berhenti kagum dengan masyarakat-masyarakat maju itu. Mereka hidup tanpa rasa curiga dan ketulusannya yang tinggi. Di Pekanbaru, saya mungkin belum akan sanggup mengundang orang asing, berbeda ras, yang berkumpul di depan rumah saya, menunjuk-nunjuk, untuk masuk dan melihat bagian dalam rumah dan kemudian melibatkan diri dalam percakapan yang menstimulasi kunjungan kedua.

Oleh pasangan pemilik ‘rumah pisang,’ kami dilepas masuk ke dalam mobil dengan senyuman lebar dan lambaian tangan. “Sampai jumpa di musim gugur, katanya.”

Masih Sesat

Edisi tersesat belum berakhir. Tadi Jo sulit menemukan ‘rumah pisang.’ Kali ini dia kesulitan menemukan jalan ke rumahnya. Setelah beberapa kali berbutar-putar, Jo mengenali rumah salah satu kenalannya. Di depan rumah ada dua anak lelaki yang tidak berbaju sedang main semprot-semprotan air. Saat musim panas di Eropa, memang main semprotan air adalah kebiasaan. Di rumah saya, saat hari cerah, saya adalah sasaran tembak anak-anak dengan pistol-pistol air.

Kepada kedua anak lelaki tersebut, Jo menanyakan arah jalan ke rumahnya. Mendengar ada suara-suara di depan, ayah sang anak keluar rumah. Melihat kami orang-orang asing, terjadilah pembicaraan seru. Dengan penuh semangat, ayahnya bercerita bahwa dia pernah ke Danau Toba. Kedua anak-nya juga berusaha mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang mereka tahu. Ada perasaan yang kuat bahwa saya dan keluarga diterima dengan tulus dalam lingkungan seperti itu.

Setelah menunjukkan jalan ‘pulang,’ kami dilepas oleh ayah dan kedua anaknya dengan salaman erat, hangat dan senyuman lebar.

Advertisements

Actions

Information

One response

24 07 2017
Wierden: (3/3) Desa Enter |

[…] diceritakan, setelah pulang dari Pasar Maluku, kemudian tanpa rencana kami berkunjung ke ‘rumah pisang,’ kami masih tersesat. Tapi syukurlah, Jo menemukan rumah kenalannya. Berkat penjelasan dari […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: