Wierden: (3/3) Desa Enter

24 07 2017

Sebelumnya diceritakan, setelah pulang dari Pasar Maluku, kemudian tanpa rencana kami berkunjung ke ‘rumah pisang,’ kami masih tersesat. Tapi syukurlah, Jo menemukan rumah kenalannya. Berkat penjelasan dari kenalannya, akhirnya kami sampai juga ke rumah Jo di Enter sekitar jam 5 sore.

Salah satu tujuan kami ke sana adalah mengunjungi D**e, suami Jo yang sedang sakit. [Karena belum izin, saya tidak menuliskan namanya lengkap. Selanjutnya saya panggil Da saja. Kami menemukan pak Da sedang membaca novel di taman belakang. Da suami Jo, adalah orang Inggris yang sudah 30 tahun tinggal di Belanda.

Sambil bercakap-cakap dengan Da tentang topik-topik ringan, pisang goreng dari Pasar Maluku dimakan. Saya membeli tiga bungkus. Satu bungkus sudah saya habiskan dengan sempurna. Maklum, sudah setahun tidak makan pisang goreng. Da ditawari tidak mau. Jo juga tidak mau. Mereka memang tidak suka makanan berminyak. Zia, Abihv dan mamanya saya tawari, berharap juga tidak mau. Ternyata mereka mengangguk tegas. Mau. Saya simpulkan dengan ikhlas, jatah saya memang hanya satu bungkus.

photo_2017-07-23_23-38-47

Jo dan istri saya kemudian sibuk memasak di dapur. Da dan saya ngobrol di taman belakang. Zia dan Abhiv di depan telah tenggelam dalam permainan pingpong mini yang telah disiapkan Jo dan Da sebelum kami datang. Tidak lama kemudian mereka pun mulai melukis. Peran seiap orang telah dipersiapkan secara matang.

Jika mereka mengundang orang, selalu lengkap dengan susunan acaranya, walaupun tidak selalu ditulis. Inilah yang juga ingin saya pelajari dari budaya Barat. Beberapa tahun lalu, saat diundang barbeque ke rumah seorang kolega di Jerman, susunan acaranya bahkan sudah diemailkan sebelum saya tiba.

Melukis

Persis seperti kepanitiaan sebuah acara resmi. Persiapan susunan acara juga bertujuan supaya waktu setiap orang terisi penuh, sehingga tidak ada yang merasa bosan. Juga untuk meyakinkan bahwa peralatan dan kebutuhan untuk setiap orang dan peran, telah disiapkan dengan baik sebelum tamu datang. beda dengan saya kalau menerima tamu, modalnya hanya mulut (untuk ngobrol dan makan) dan remote TV jika kehabisan bahan untuk dibincangkan.

Enter adalah sebuah desa tua. Usianya lebih 1.200 tahun. Zaman dulu, pekerjaan utama penduduk Enter adalah kerja kayu, termasuk membuat sepatu kayu. Maka tidak heran jika saat ini di Enter masih terdapat pabrik sepatu kayu. Bahkan, sepatu kayu paling besar di dunia ada di Enter dan masuk ke dalam Guinness Book of Records.

Pada abad ke 18 dan 19, Enter juga merupakan tempat membuat sejenis kapal kecil, yang mereka beri nama Zomp. Oleh karena itu, hingga kini, di Enter ada semacam perayaan di mana penduduk pergi naik kapal lalu berlayar ke kota-kota yang jauh dari Enter. Hal tersebut mungkin, karena di Belanda terdapat ribuan kanal-kanal buatan yang tersambung satu dengan lain.

photo_2017-07-24_01-15-56   photo_2017-07-24_01-15-54
Sepatu kayu terbesar di dunia dibuat dari satu batang kayu, panjang 403 cm, lebar 171 cm, tinggi 169 cm di Enter
photo_2017-07-24_01-15-35

Sebagian besar penduduk Enter beragama Katolik Roma atau ateis. Untuk yang terakhir, memang tidak asing di Belanda. Lebih separoh orang Belanda tidak beragama. Kebanyakan mereka mengadopsi nilai-nilai kebaikan dari agama dan kepercayaan apa saja.

Suasana di Desa Enter
photo_2017-07-24_01-15-16   photo_2017-07-24_01-15-50
Suasana desa Enter                                            
Salah satu pabrik sepatu kayu di Enter yang masih berproduksi  (kiri)
photo_2017-07-24_01-15-36  Abhiv dan traktorphoto_2017-07-24_01-15-58 Penduduk desa Enter dan kuda poni

Penduduk Enter juga ramah-ramah. Dalam kunjungan ke sana sebelumnya, kami diajak Jo berkeliling desa jalan kaki. Saling sapa saat berpapasan di jalan adalah hal lumrah di sana. Beberapa orang penduduk berjalan-jalan di desa dengan hewan peliharaannya. Kebanyakan penduduk desa memelihara anjing atau kuda. Mereka tidak segan-segan menyapa orang asing dan memperkenalkan hewan peliharaannya jika melihat kita tertarik.

Jika tidak punya kenalan di Enter, memang cukup bingung juga apa yang akan dilakukan di sana? Namun sebenarnya di Enter ada dua agenda tahunan, yaitu karnaval dan pasar kuda. Pada kunjungan berikutnya ke Enter, saya dan keluarga insha Allah akan mengunjungi pasar kuda tradisional. Dari setiap kunjungan selalu ada hal baru.

— selesai —

Untitled-2

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: