Ikut pelatihan tapi nunggak

31 03 2009

Research Institute for Sustainable Energy (RISE) akan mengadakan pelatihan berjudul “Designing & Installing PV System (grid-connected)” alias “Perancangan dan Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersambung jaringan distribusi.” RISE adalah lembaga riset energi terbarukan milik Universitas Murdoch, Australia. RISE juga satu-satunya laboratorium di Australia Barat yang memiliki kualifikasi dan hak mengeluarkan sertifikat bagi peralatan sistem pembangkit energi terbarukan. Di Australia, semua perlatan energi terbarukan boleh dipasang setelah mengantongi sertifikat. RISE berhak mengeluarkan sertifikat tersebut karena memiliki laboratorium uji yang lengkap dan para ahli yang cukup. Selain itu, RISE juga terlibat dalam penyusunan setiap Standar Nasional Australia untuk sistem energi terbarukan.

Agak terlambat saya lihat berita tentang pelatihan. Cuma ada waktu persiapan empat hari. Mengapa perlu persiapan? Karena biayanya cukup mahal, yaitu $660, setara 5 juta rupiah. Saya timbang-timbang apakah saya butuh pelatihan ini atau tidak, karena saya kuliah juga di bidang ini. Untuk mendapatkan jawaban saya hubungi salah satu dosen di jurusan saya. Beliau menjawab bahwa materi pelatihan sama dengan yang diajarkan di kuliah , tapi ada sedikit penekanan pada metode instalasi PLTS. Beliau juga menyarankan minta diskon karena saya mahasiswa di Universitas yang sama.

Saya kirim email ke panitia minta diskon. Hasilnya, saya diberi diskon 50%. Saya cukup terkesan karena panitia langsung saja memberi diskon. Tidak minta bukti apapun, misalnya kartu mahasiswa, surat keterangan aktif kuliah, bukti pembayaran SPP terakhir, rekomendasi pembimbing akademik, dsb. Tentu mereka tidak perlu semua itu, karena semua data mahasiswa tertata rapi sehingga bisa diakses ke Student Central.

Pelatihan dua saya ikuti walaupun belum bayar. Panitia tidak melarang, bahkan tidak menanyakan tentang pembayaran. Hingga pelatihan usai dan menerima sertifikat, panitia belum bertanya juga. Akhirnya saya tidak enak sendiri, lalu mengirim email bahwa biaya pelatihan akan saya bayar besok hehehe.

Pelatihan berlangsung dua hari full time. Materi utamanya: (1) perancangan PLTS tersambung jaringan, (2) instalasi PLTS tersambung jaringan. Kedua topik tersebut mengikuti Standar Nasional Australia AS4777, AS5033 dan AS3000. Sebagian besar isi ketiga standar tersebut mengacu pada standar-standar IEC (International Electrotechnical Commission).

Hubungan universitas dan industri terjalin baik di Australia. Universitas adalah tempat industri mempelajari hal-hal baru atau tempat bertanya. Sebaliknya, dosen-dosen universitas menjadi semakin pakar karena selalu berahadapan dengan kasus-kasus baru. Di kampung saya agak beda. Orang industri sering bilang “orang kampus hanya tau teori.” Sebaliknya, orang kampus sering merasa tertinggal dibanding perkembangan industri. Hubungan yang saling mengisi antara keduanya perlu dibina lagi.

Berikut adalah beberapa foto saat pelatihan memperlihatkan beberapa fasilitas di RISE.

p1040200

Sistem PLTS di atap gedung ini menyediakan sebagian besar kebutuhan listrik gedung di bawahnya.

p1040201

Semua kebutuhan listrik gedung ini dihasilkan PLTS di atas atapnya

p1040202

Peserta pelatihan adalah para insinyur senior di berbagai perusahaan di Australia.

p1040204

Multicystalline PV array dan turbin angin 30 kW di belakang

p1040209

Saya di depan salah satu PV array

p1040211

Sistem ini dilengkapi solar tracker

p1040212

Fasilitas riset pemanas air tenaga surya

p1040215

Fasilitas riset baru ‘solar colector’ dalam persiapan instalasi. Dengan fasilitas ini sinar matahari dipantulkan ke tabung-tabung yang di dalamnya terdapat air. Air di tabung menjadi panas lalu dikumpulkan pada tangki. Uap air panas ini digunakan untuk memutar turbin untuk menghasilkan listrik.

p1040218

Modul-modul surya in dipasang di sini oleh sebuah industri solar panel di Jepang untuk diuji.

p1040220

Me again…. sorry!!

p1040221

Dua buah Pyranometer (alau ukur energi sinar matahari) dan Anemometer (alar ukur kecepatan angin)

p1040224

Modul surya dan kincir angin berbaris rapi

p1040226

Anemometer dan sensor arah angin

p1040227

Salah satu sudut fasilitas outdoor di RISE.

p1040230

Penampakan lain fasilitas riset di RISE

p1040232

Fasilitas penyulingan air menggunakan tenaga surya

p1040238

Ini adalah kantor RISE, kebutuhan listriknya didapat dari PLTS dia tas atap gedung dan kincir angin.

Jika anda ingin melihat fasilitas lain di RISE (misalnya fasilitas indoor), silahkan lihat pada tulisan saya yang lain di  SINI. Namun masih cukup banyak fasilitas yang luput saya foto, antara lain fasilitas riset fuel cell di RISE. Informasi lebih lengkap ada di SINI.

Advertisements




Saatnya Kerjasama-Super Library

5 03 2009

Dalam buku revolusioner berjudul “The Seven Habits of Highly Effective People” edisi bahasa Indonesia, Stephen R. Covey menulis “interdependence is greater than independence.” Jika ditafsirkan secara bebas kira-kira bermakna: orang-orang/lembaga independen jika bekerja bersama-sama dalam hubungan saling bergantung, menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dibandingkan sekedar independen saja.

Sebuah pengalaman baru membuat saya termenung dan sadar akan pentingnya kerjasama. Kerjasama, jika dilakukan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Begini ceritanya. Untuk keperluan tugas kuliah, saya memerlukan sebuah buku. Setelah saya search di website perpustakaan universitas tempat saya belajar, ternyata buku tersebut tidak ada. Selain bukunya memang tidak terkait dengan bidang kajian di kampus saya, buku tersebut juga masih baru, terbitan 2008.

Untung perpustakaan universitas saya punya kerjasama dengan enam perpustakaan universitas lain di Australia. Salah satu kesepakatan dari kerjasama yang mereka namakan BONUS+ tersebut adalah: setiap mahasiswa/dosen universitas anggota dapat meminjam buku dari universitas lain yang juga anggota. Menyadari adanya kerjasama ini, saya lalu menggunakan halaman pencarian khusus yang menggabungkan ketujuh perpustakaan tersebut. Hasilnya, ternyata ada satu universitas yang memiliki buku tersebut.

208

209

210

211

212

213

Perpustakaan universitas tempat saya belajar

Tapi lokasi universitas tersebut jauh sekali. Saya berada di Perth, bagian paling barat Australia, sedangkan universitas tersebut berada di Sydney, bagian timur Australia. Kedua kota ini terpisah oleh jarak sekitar 4 ribu kilometer, hampir sama dengan jarak Medan ke Jayapura.

Namun jarak tidak masalah, yang saya lakukan cuma melakukan pemesananan online, mengisi username dan password, lalu menentukan lokasi buku tersebut ingin saya ambil, selesai. Tidak ada formulir apapun yang saya isi. Tidak ada pernyataan akan mengganti buku tersebut jika hilang, dsb.

Saya juga tidak perlu datang setiap hari ke perpustakaan menanyakan, “apakah buku pesanan saya sudah datang?” Sehingga saya pun tidak perlu mendapat jawaban, “belum ada, Dik, coba datang besok lagi ya…!” Saat buku datang tiga hari kemudian, saya mendapat email yang berbunyi:

Dear Kunaifi

Your Bonus request has arrived in the Library. Please collect within 5 DAYS of the date on this message.

Cooper, William W. (William Wager), Challenges of the muslim world : pr
CALL NO: 330.91767 COOP
BARCODE: 320070049133539utsy
BELONGS TO: UTS
PICKUP AT: Murdoch Main Library

Begitu luar biasanya sebuah kerjasama.

Lalu apa untungnya? Dengan adanya kerjasama seperti ini, perpustakaan anggota tidak dianggap lagi sebagai perpustakaan terpisah, melainkan bergabung dengan perpustakaan lain. Jika setiap universitas anggota memiliki 1 juta koleksi, setelah digabungkan menjadi 7 kali lipat. Dengan kata lain, dengan kerjasama ini perpustakaan sebuah universitas tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk melengkapkan koleksinya menjadi 7 juta dan membeli buku yang sama dengan yang sudah ada di perpustakaan lain, misalnya.

Biaya yang timbul dari kerjasama tersebut tidak terlalu besar dibandingkan investasi tanpa kerjasama. Biaya hanya untuk mengirim buku ke universitas lain, jika ada yang memesan. Atau jika diperlukan, mungkin biaya untuk merekrut satu pegawai baru yang khusus menangani layanan khusus tersebut.

Saya membayangkan suatu hari nanti, dengan meng-klik pada mouse beberapa kali, dari kantor saya di Pekanbaru, saya bisa pesan buku dari perpustakaan universitas-universitas di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Betapa luar biasanya jika puluhan perpustakaan di universitas-universitas dalam negeri digabung menjadi sebuah Super Library maya. Menurut saya besar sendiri tidak lebih utama jika ada peluang menjadi raksasa bersama-sama?

Ada yang minat mem-follow up??

NB. Jika anda tertarik memperlajari lebih jauh tentang BONUS +, silahkan klik si sini. Anda juga bisa menghubungi salah satu perpustakaan yang tergabung dalam BONUS+ untuk menggali informasi lebih dalam.





Libatkan masyarakat…..

25 02 2009

Seekor burung kuntul berdiri di punggung seekor kerbau sambil memakan kutu di balik bulu-bulu sang kerbau. Mereka terlibat dialog kelas tinggi sebagai berikut:

Kuntul: Sebenarnya pembangunan untuk siapa?
Kerbau: Jelas untuk masyarakat.
Kuntul: Mengapa masyarakat tidak dilibatkan dalam pembangunan?
Kerbau: Contohnya?
Kuntul: Merka akan bikin pelabuhan di pinggir sawah, padahal di sana banyak nelayan menggangtungkan hidupnya dari mencari ikan. Jika nanti di sana banyak aktivitas, ikan pergai jauh mencari tempat lain.
Kerbau: Orang-orang di atas itu pintar-pintar dan bijak-bijak, kita terima saja.
Kuntul: Dasar kerbau… kuharamkan kutumu sejak kini.

Di bawah ini adalah foto dari sebuah koran lokal di Australia. Perhatian saya tertuju pada sebuah iklan yang menarik, bukan karena dekorasinya, tapi karena isinya.

207

Isi iklan tersebut antara lain:
– Pemberitahuan ‘Bappeda’ Western Australia bahwa pemerintah berencana mengubah tata guna lahan di beberapa kawasan.
– Pemerintah mengundang masyarakat untuk menyampaikan komentar atas rencana tersebut baik dukungan, keberatan atau usulan-usulan.

Iklan tersebut menarik masyarakat adalah pihak yang akan dikenai dampak (baik/buruk) dari rencana tersebut, maka mereka wajib didengarkan suaranya.

Bagaimana kisah Bappeda di kampung anda? Apakah mereka sudah menjadikan anda stakeholder atau warga VIP saja yang dianggap stakeholder?

Kisah di atas bukan pengalaman pertama saya menyaksikan bagaimana sebuah kebijakan diambil seteleh proses konsultasi dengan semua level stakeholder terlebih dahulu. Ada satu lagi pengalaman mirip, di bawah ini.

Anak saya sekolah di play group (child care centre) universitas Murdoch, Australia Barat. Child Care adalah bagian dari Universitas. Universitas merencanakan pembangunan sebuah gedung baru di samping gedung play group. Sekitar 6 bulan sebelum proyek dimulai, pihak universitas melakukan rapat-rapat intensif untuk mendengarkan suara dari pihak play group.

Dalam logika kampung saya, universitas sebenarnya tidak wajib melakukan konsultasi dengan pihak play group. Pertama, gedung yang akan dibangun tidak mengambil lahan play group. Kedua, tanah tempat gedung baru akan dibangun adalah milik universitas, jadi universitas berwewenang penuh berbuat apa saja di atas tanah mereka. Ketiga, play group hanyalah bagian kecil di universitas yang besar itu, jadi tidak terlalu penting untuk didengar. Tapi itu logika kampung saya.

Nyatanya, pembangunan gedung tersebut bahkan hampir ditunda karena adanya beberap keberatan pihak play group yang sulit dijawab pihak universitas. Saya ikut salah satu rapat san mencatat beberapa keberatan, yang dalam logika kampung saya, tidak penting dan mengada-ada. Pertama, jika gedung baru sudah berdiri, anak-anak di play group tidak bisa memandang ke jarak yang jauh seperti saat ini, karena akan tehalang oleh gedung baru. Kedua, debu saat pengerjaan proyek bisa dihirup oleh anak-anak di play group. Ketiga, suara bising saat proyek dapat mengganggu anak- anak yang tidur siang. Keempat, karena gedung baru direncanakan berlantai dua, dikhawatirkan orang bisa mengamati anak-anak dari lantai dua gedung tersebut. Kelima, dengan adanya proyek, ada jalan ke play group yang akan ditutup sehingga akan menyulitkan orang tua anak-anak mencari tempat parkir kendaraan. Dan banyak lagi keberatan tidak penting (dalam logika kampung saya ) lainnya.

Tapi, keberatan-keberatan itu hampir membuat pelaksanaan proyek diundur oleh universitas.

Inilah beberapa solusi dari universitas saya ingat dan disepakati bersama.
1. Posisi gedung baru akan  digeser beberapa belas meter, sehingga jika anak-anak memandang dari playgroup, ada celah antara gedung baru dan gedung lain yang sudah ada di sana. Di celah tersebut anak-anak masih bisa memandang jauh;
2. Di sekeliling lokasi proyek akan dipasang pagar tinggi yang dipasang jaring, untuk menghindari serpihan-serpihan mencapai lokasi playgroup. Dari atas jaring akan disemprotkan air sehingga debu yang naik sebagian dipaksa jatuh lagi di lokasi proyek tanpa mencapai play group;
3. Jendela di dekat tangga naik di dalam gedung adalah untuk memberi cahaya. Posisi jendela akan dinaikkan meter sehingga orang yang melalui tangga tidak bisa memandang ke luar lewat jendela.

Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Di kampung saya, jika ada proyek di kompleks sebuah kantor, misalnya, maka hampir dipastikan jalan akan becek saat hujan, jalan akan rusak karena kendaraan proyek, bising, debu, kendaraan proyek lalu lalang tanpa aturan, kabel listrik putus, dan lain-lain-lain-lain. Di kampung saya, jika ada pememotong rumput bekerja saat anak-anak sedang ujian, maka jangan harap anak-anak yang butuh ketenangan itu bisa menyampaikan keberatan tanpa dipandang dengan sinis atau dinilai tidak sopan dan toleran. Di kampung saya, ada banyak orang yang dianggap tak ada.

Jika anda punya pengalaman sama dengan saya, maka saya punya teman baru sesama objek pembangunan.





Tertangkap

22 01 2009

Yang tertangkap bukan saya, melainkan sebuah paket untuk saya. Kiriman tersebut berisi data-data thesis saya. Sebelum dikirim dari kampung oleh sepupu, saya pesan, “tolong masukkan lima bungkus rokok Class Mild.” Sepupu saya ini orangnya baik, dia tidak mengirimkan 5 bungkus, tapi satu slope berisi 10 bungkus.

Setelah menunggu 7 hari, kiriman belum datang. Padahal dengan Kiriman Tercatat mestinya 4 hari sudah tiba. Saya berkunjung ke website Pos Indonesia dan melakukan Track and Trace kiriman. Saya kagum dengan website Pos Indonesia yang menampilkan hasil pencarian kurang dari 1 menit. Hasilnya adalah seperti gambar di bawah.

186

Foto: Pos Indonesia

Saya terkejut melihat status terakhir kiriman saya berbunyi “ditahan bea cukai.” Yang saya bayangkan seketika adalah, denda yang besar atau orang interogasi orang imigrasi. Saya pandatang di negeri ini. Apa penyebab kiriman saya ditahan? Jumlah rokok di dalam paket tidak melebihi jumlah maksimal yang diizinkan (270 batang). Di sana memang ada CD, tapi isinya cuma data-data. Lalu apa?

Pada hari ke-8, saya mendapat surat dari Australia Post. Isinya memberitahukan bahwa kiriman saya ditahan Bea Cukai Perth. Ada lampiran surat dari Bea Cukai berisi tagihan. Jumlahnya lumayan, AU$ 60 (sekitar Rp 420 ribu dengan Kurs AU$ 1 = Rp. 7.000). Alasan penahanan kiriman saya adalah karena ada rokok. Terdapat lampiran peraturan Bea Cukai.

Rupanya peraturan memasukkan rokok ke Aussie berbeda antara dibawa sendiri dan dikirim via pos. Jika dibawa sendiri, tidak ada masalah jika jumlahnya kurang dari 270 batang. Jika dikirim vis pos, berapapun jumlahnya, dianggap sebagai barang impor, sehingga dikenai biaya import dan pajak. Itulah yang mesti saya bayar. Jadi rokok saya kini berharga 6 dolar sebungkus. Lumayan, lebih murah dari harga rokok Aussie.

Dulu, kasus seperti ini bisa diurus supaya tidak jadi membayar. Ada peraturan yang namanya Gift Concession. Logikanya begini. Penerima mungkin mendapat kiriman yang tidak dimintanya. Lagipula, sepanjang untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual lagi, mengapa mesti bayar? Gift Concession bisa menggratiskan cukai kiriman seharga maksimal AU$ 1000. Tapi, sejak 1 Oktober 2008, Gift Concession dihapuskan karena tidak sesuai dengan peraturan yang lebih tinggi.

Untuk mengeluarkan kiriman saya dari ‘tahanan,’ saya cuma perlu membayar tagihan, lalu paket akan dikirim ke rumah. Ada tiga cara: (1) via website Bea Cukai menggunakan kartu kredit, (2) via internet banking, (3) dan datang langsung ke kantor Bea Cukai di bandara. Saya akan memilih cara kedua.

Tapi sebelum membayar, saya mau coba sesuatu dulu. Saya kirim email ke Bea Cukai. Isinya adalah protes (pura-pura) atas tagihan yang saya terima. Saya katakan, saya tidak minta dikirimi rokok (sebanyak itu), dan hanya akan digunakan sendiri. Saya sebut juga status saya sebagai mahasiswa, uang $ 60 bagi saya besar.

Sehari setelah email dikirim, saya mendapat jawaban. Salut juga atas respon mereka yang cepat. Padahal mungkin tidak saya sendiri yang bertanya ke mereka di seluruh Aussie. Lagipula pertanyaan saya sudah ada jawabanny di website mereka. Jawaban mereka adalah: “Hi Kunaifi, thank you for your enquiry. The gift concession on postal items was revoked on the 1st of October 2008. The only way to receive your parcel will be to pay the amount on the Customs Invoice. Hope this helps. Sincerely. (nama) Senior Information Officer, Customs Information and Support Centre, Australian Customs Service.

Saya terpaksa buka internet banking dan mengirim $60 ke Bea Cukai hari Jumat dengan harapan hari Senin kiriman sudah tiba. Hari Rabu saya sudah merasakan nikmatnya Class Mild, sebelum berhenti memutuskan berhenti merokok.





BEM (Guild of Students)

2 12 2008

Di universitas Australia, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) diberi nama Student Guild (SG). Sebagaimana BEM di Indonesia, SG juga dipimpin seorang Presiden yang dipilih secara demokratis oleh mahasiswa. Presiden lalu memilih kabinetnya. Susunan kabinet ini biasanya sudah diumumkan calon presiden saat kampanye. Sehingga mahasiswa tidak “memilih kucing dalam karung.”

SG ini memiliki kewenangan yang luas. Mereka melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri. Berbeda dengan BEM di tempat saya kuliah di Jogja dulu. Di Jogja, kami tidak bebas mengelola uang. Kami baru bisa ambil uang jika ada proposal kegiatan. Proposal baru disetujui jika ada dalam anggaran. SG tidak begitu, setiap awal tahun semua uang diserahkan ke mereka. Lalu mereka mengelola sendiri sampai uang tahun depan cair kembali. Untuk keperluan itu, SG mempunayi rekening bank sendiri.

SG juga punya pengaruh kuat dalam menentukan kebijakan universitas, karena mereka punya dua orang wakil di Senat Universitas. Mereka juga punya wakil di lembaga-lambaga bisnis yang didirikan universitas. Sebagai hasilnya, kebanyakan SG punya dana besar. Dengan dana besar, SG bisa berbuat banyak. Di tempat saya, beberapa kegiatan SG misalnya: memberikan beasiswa studi untuk mahasiswa kurang mampu, bantuan buku, menerbitkan majalah yang dicetak di kertas berwarna (pasti mahal), dan mereka punya kantor yang luas sehingga setip pengurus memiliki ruangan sendiri lengkap dengan telepon, internet, komputer. Bahkan mereka punya pegawai administrasi yang mereka gaji dan perlengkapan kantor seperti layaknya pegawai negara. Mereka juga bisa mengadakan acara di neraga-negara lain, punya kolam renang, gym dan fasilitas olahraga buat disewakan, punya beberapa cafe dan restoran, dll.

Lalu berapa uang yang mereka kelola? Tergantung dari jumlah mahasiswa. Pemerintah Australia menetapkan $250 per mahasiswa per tahun (sekitar 2.5 % dari SPP mahasiswa). Di universitas saya ada 16 ribu mahasiswa, jadi Guild mendapat dana $4 juta pertahun (sekitar Rp. 30 Milyar per tahun dengan kurs AU$ 1 = Rp. 7500). Sebuah angka yang amat besar jika dibandingkan dengan dana BEM di universitas Indonesia. Jumlah itu pun masih mungkin bertambah dari keuntungan bisnis-bisnis yang dikelola SG.

Mengapa bisa sebesar itu? Alasannya sederhana. Di Australia, universitas adalah salah satu jenis industri, dan mahasiswa adalah customer yang harus dibuat puas dan dilayani oleh setiap sumberdaya yang ada di universitas. Untuk itu, mahasiswa membayar SPP dalam jumlah yang tidak sedikit.

Mari berandai-andai. Jika universitas di Indonesia menggunakan pola sepereti di Australia, maka BEM akan punya uang besar. Jika 2.5% dari SPP mahasiswa dikembalikan ke BEM, maka universitas sekelas UIN Suska Riau dengan sekitar 10 ribu mahasiswa membayar SPP sekitar Rp. 1.2 juta setahun, maka BEM mengelola uang sebesar Rp. 300 juta setahun. Jumlah yang cukup untuk berbuat banyak.

Yang unik, walaupun SG punya uang besar, tapi proses pemilihan Presiden dan pengurus SG tidak sepelik dan sepanas pemilihan BEM. Dalam kampanye, mereka cuma menggelar spanduk dan brosur-brosur berisi program kerja mereka. Pemilihan juga dilakukan secara online. Sementara di Indonesia proses pemilihan BEM tidak jarang diwarnai aksi lempar kursi, kampanye hitam, tawuran, dsb, walaupun tentu banyak juga yang berjalan mulus.

Namun demikian, bukan berarti memberi uang yang terlalu besar pada BEM selalu berdampak positif. Hal-hal negatif antara lain: mengurangi kesempatan BEM untuk belajar survive di tengah segala keterbatasan, membuka peluang korupsi di kalangan mahasiswa yang tidak bertanggungjawab, dll. Khusus UIN Suska yang masih mengap-mengap keuangannya, BEM di sana sepertinya mesti bersabar jika dana mereka selalu minus.





Orang Asing Dapat Uang di Australia (Australian Gov’t Gives Money to Stangers)

27 10 2008

Kisah ini menambah daftar program pro-rakyat yang dilakukan pemerintah Australia. Yang dimaksud dengan ‘rakyat’ di sini bukan hanya warga negara Australia, tapi juga warga negara asing di Australia. Begini ceritanya.

Anak saya yang berumur 3.5 tahun sekolah di Child Care Centre (semacam play group) di universitas tempat saya sekolah. Biayanya mahal. Saya harus membayar $25 per hari. Dengan kurs $1=Rp.7000, saya mestinya membayar sekitar Rp.175.000 sehari, alias Rp. 3.500.000 sebulan. Jumlah uang yang besar sekali.

Tapi pemerintah Australia memberi subsidi. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Lewat lembaga pemerintah bernama Centrelink, saya mendapat subsidi sekitar 85%. Walhasil, saya hanya membayar sekitar Rp.525.000 sebulan.

Tidak cukup sampai di situ, beberapa hari lalu saya mendapat surat dari Centrelink, mengatakan bahwa sebagian uang yang sudah saya bayarkan akan dikembalikan kepada saya. Begitu lihat saldo di bank, ternyata di rekening saya ada transfer dari Centrelink sebesar $50. Tiga hari kemudian, saya mendapat surat lagi. Isinya pemberitahuan bahwa semestinya saya mendapat pengembalian biaya sekolah 50%. Begitu cek saldo, mereka sudah mengirim $225 ke rekening saya.

Padahal, saya tidak pernah mendaftar, apalagi menyertakan izin RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, dll.

Padahal, anak saya cuma sekolah playgroup, bukan sekolah wajib.

Padahal, saya ini cuma pendatang di Australia, bukan permanen resident apalagi warga negara.

Ada politikus yang mau mencoba program ini di Indonesia untuk warga negara Indonesia?





Jalan-jalan ke Gurun (A journey to a dessert)

7 10 2008

Perth dan Fremantle adalah kota-kota utama di State of Western Australia (WA). Perth adalah ibukota negara bagian (state). Kota ini bersih, indah dan aman, dengan bangunan-bangunan yang memadukan artitektur kuno dan modern. Sedangkan Fremantle adalah kota pelabuhan yang tidak bisa dipisahkan dari Perth. Fremantle juga dipenuhi bangunan-bangunan tua khas negara barat. Di kota kecil ini anda dapat menemukan banyak tempat bersantai sambil minum kopi di trotoar atau meresapi lezatnya fish ‘n chips (ikan dan kentang goreng) atau makanan sea food di pinggir laut.

Kedua kota tersebut memiliki reputasi gemilang sebagai tujuan wisata dan tempat hidup – antara lain karena keindahan, keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keramahan penduduknya. Perth misalnya, menempati ranking 21 kota terbaik untuk hidup di dunia (menurut Mercer Consulting). Namun demikian, reputasi kedua kota tersebut belum mampu membuat mereka sebagai tujuan wisata utama di WA.

WA adalah State paling luas di dunia (total 2,6 juta km persegi). Saking luasnya, salah satu Shire (setingkat Kabupaten) di WA, yaitu Shire of East Pilbara juga merupakan Shire terluas di dunia (80% luas Sumatera dan hampir 3 kali lipat luas Pulau Jawa). Luas daratan yang masif ini membuat kepadatan penduduk kurang dari satu orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Pulau Jawa yang luasnya seperduapuluh WA dan kepadatan penduduk 980 orang per per kilometer persegi. State ini dianugerahi banyak lokasi tujuan wisata. Selain wisata kota, sungai dan pantai di Perth dan Fremantle, tujuan wisata utama kebanyakan berada jauh dari kota-kota besar. Mereka menawarkan eksotisme pemandangan pegunungan, pantai, dan kawasan pedalaman untuk anda. Di WA, kawasan pedalaman disebut Outback. Outback inilah sesungguhnya tujuan wisata utama di WA.

Satu diantara wisata outback utama yang dapat anda kunjungi di WA adalah the Pinnacles Dessert. Pinnacles adalah gurun yang dipenuhi ribuan pilar-pilar batu kapur alami, menyembul dari gurun pasir. Ukuran batu-batu tersebut bervariasi, dari seukuran tikus hingga yang yang lebih tinggi dari atap rumah anda. Sebagian ‘bersisik’ tajam seperti gergaji, sebagian berujung runcing, sebagian tumpul. Pertama tiba di sini, boleh jadi anda akan diliputi perasaan aneh yang membuat berdiri bulu roma. Pasalnya, batu-batu itu sepintas mirip kuburan massal dengan ribuan nisan terpancang kokoh. Tapi kemudian perasaan anda segera berubah. Dominasi kuning terang pada batu dan pasir memberi kesan seolah anda berada di planet asing tanpa penghuni, seperti dalam film-film fiksi ilmiah.

Pinnacle Dessert adalah bagian dari Nambung National Park. Menurut Department of Environment and Conservation WA (DECWA), taman nasional seluas lebih 17 ribu hektar ini juga meliputi pantai, dan hutan pohon Tuart yang rindang. Pada bulan Agustus hingga Oktober (musim semi), di hutan Tuart bunga-bunga mekar. Kombinasi kuning, merah dan hijau menyuguhkan pemandangan yang tak mudah anda lupakan. Jika beruntung, anda akan bertemu dengan kawanan emu dan kangguru liar di sini dan ‘bercengkrama’ dengan mereka.

Nama Nambung diberikan oleh penduduk asli setempat (masyarakat Aborigin). Awalnya mereka memberi nama Nambung pada sebuah sungai di kawasan tersebut. Oleh pemerintah, nama sungai ini kemudian dipakai menjadi nama taman nasional tersebut. Dalam bahasa Aborigin, Nambung berarti “dibengkokkan” atau “dipelintir.”

Menurut DECWA, orang Eropa telah memasukkan Pinnacles Dessert ke dalam peta sekitar tahun 1658. Namun hingga akhir 1960-an, Pinnacle Dessert relatif tidak dikenal, sampai saat the Department of Lands and Surveys negara bagian WA menjadikan kawasan ini sebagai taman nasional. Kini, sekitar 150 ribu pengunjung mendatangi Pinnacles Dessert setiap tahun.

Masih menurut DECWA, batu-batu kapur Pinnacles terbentuk secara alamiah. Asal mulanya adalah dari kerang laut pada masa ketika bumi masih sangat kaya dengan kehidupan laut. Melalui proses ribuan tahun, kerang laut pecah menjadi pasir yang kaya kandungan kapur. Pasir kapur ini lalu hanyut bersama ombak ke daratan, ditiup angin dan membentuk bukit pasir yang tinggi dan berpindah-pindah. Jika musim dingin (winter) tiba dan frekuensi hujan tinggi, unsur asam pada hujan melarutkan Kalsium Karbonat yang kemudian meresap ke dalam pasir. Saat bukit pasir mengalami kekeringan di musim panas (summer), komposisi tersebut mengendap membentuk sejenis semen, bercampur dengan pasir, dan secara perlahan membentuk batuan kapur. Gurun pasir lama-kelamaan menjadi tipis akibat dikikis air dan angin. Bagian-bagian yang lebih keras bertahan, meninggalkan Pinnacles alias pilar-pilar batu. Pembentukan Pinnacles adalah proses ribuan tahun. Sekitar enam ribu tahun lalu, temuan arkeologi membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pemukiman suku Aborigin.

Pemerintah WA mengelola Pinnacle Dessert dengan baik. Berbagai fasilitas umum dibangun seperti toko souvenir, toilet, tempat parkir dan sebagainya. Sentuhan modern pada fasilitas umum dengan konsep sustainable alias ramah lingkungan pun diberikan. Bangunan-bangunan dirancang dengan konsep “passive solar design” (menggunakan sinar matahari untuk menghangatkan/mendinginkan ruangan). Energi surya juga dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Bahkan, teknologi pengelolaan dan daur ulang air pun dibangun di sini.

Perjalanan ke Pinnacle tidak kalah seru. Dengan jarak sekitar 250 km dari Perth, perjalanan anda akan  memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi jangan khawatir menjadi bosan, sebab anda akan mulai merasa berwisata saat perjalanan dimulai. Jalan-jalan mulus membuat anda nyaman duduk di dalam kendaraan. Saat meninggalkan Perth, anda merasakan kota semakin sepi. Namun bentuk rumah-rumah penduduk tidak berubah; khas Australia, beratap dan berpagar agak rendah dengan garasi ukuran besar.

Semakin jauh meninggalkan kota anda makin dalam memasuki outback. Dari dalam kendaraan anda akan menyaksikan hamparan lanskap khas Australia, terdiri dari semak-semak (bush), padang-padang rumput, lembah-lembah, bukit-bukit kecil, juga danau-danau indah. Di beberapa tempat terdapat perkebunan Lavender. Bunga yang sering dijadikan bahan-baku produk kecantikan tersebut memiliki warna putih bercampur ungu, kontras dengan hijaunya padang rumput di sekelilingnya. Paduan warni ini memberi anda kesan damai, juga romantis.

Kebun Lavender di WA

Anda juga akan menemukan puluhan peternakan sapi, domba, dan kuda sepanjang jalan. Gampang mengetahui lokasi peternakan. Biasanya ditandai dengan padang rumput luas, tapi bersih. Di tengahnya terdapat rumah pemilik peternakan (farmer), lengkap dengan gudang peralatan. Peternak domba biasanya memiliki beberapa kuda dan anjing. Bersama kuda Australia yang terkenal kuat dan besar dan dibantu anjing-anjing terlatih, farmer dengan mudah menggiring ratusan domba menuju kandangnya. Secara berkala, bulu-bulu domba dicukur, lalu dijual. Oleh pabrik, bulu domba dijadikan pakaian berkualitas tinggi. Dengan cara demikian, farmer dapat hidup makmur.

Sebuah peternakan domba di Western Australia (Foto: fmft)

Satu lagi pemandangan menarik dalam perjalanan menuju Pinnacle, yaitu Emu Downs Wind Farm (EDWF). EDWF adalah pembangkit listrik tenaga angin skala besar yang mulai beroperasi 2006. Menurut Griffin Energy, pemilik wind farm, Emu Downs adalah nomor dua terbesar di Western Australia setelah Albany Wind Farm, dan nomor empat di Australia. Bersama Stanwell Corp. wind farm ini dibangun dengan dana A$180 juta (sekitar 1,3 Triliun Rupiah). Dengan kapasitas 80 MW, EDWF mampu menghasilkan listrik untuk sekitar 62.000 rumah. Bandingkan dengan PLTA Koto Panjang yang memiliki kapasitas 114 MW, dan biaya sekitar 2,8 Triliun (Sumber: diolah dari iselantang). Listrik yang dihasilkan EDWF dibeli Synergy, perusahan retail listrik milik pemerintah WA. Sebagian besar digunakan mengoperasikan instalasi penyulingan air laut terbesar di WA.

Emu Downs Wind Farm, Western Australia (Foto: puregreen)

Setelah cukup lelah menempuh perjalanan yang dilanjutkan mengarungi gurun Pinnacles, anda dapat rehat di Jurien Bay, sebuah pantai koral yang terletak tidak jauh dari sana. Jika suka berenang dan memancing, anda bisa lakukan di Jurien Bay. Siapa tahu anda pulang membawa Rock Lobster raksasa khas Jurien Bay.

Jalan-jalan ke Pinnacle Dessert bukan hanya menyaksikan keajaiban geologi, tapi juga membawa anda ke masa lalu sekaligus ke tempat yang “asing.” Satu tips yang tidak boleh anda lupakan saat merencanakan kunjungan ke Pinnacle Dessert, jangan datang di musim panas dan dingin. Jika lupa, anda akan terpanggang matahari atau beku di luar sana. Outback bukan tempat yang ramah jika anda datang di musim yang salah.

Untuk melihat lebih banyak foto-foto di Pinnacle Dessert, silahkan klik di sini dan sini.