Ikut pelatihan tapi nunggak

31 03 2009

Minggu lalu saya baca di internet bahwa Research Institute for Sustainable Energy (RISE) akan mengadakan pelatihan menarik berjudul “Designing & Installing PV System (grid-connected)” alias “Perancangan dan Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersambung jaringan distribusi.” RISE adalah lembaga riset energi terbarukan milik Universitas Murdoch, Australia. RISE juga satu-satunya laboratorium di Australia Barat yang memiliki kualifikasi dan hak mengeluarkan sertifikat bagi peralatan sistem pembangkit energi terbarukan. Sekedar info, di Australia semua perlatan energi terbarukan baru boleh dipasang setelah mengantongi sertifikat. RISE berhak mengeluarkan sertifikat tersebut karena memiliki laboratorium uji yang lengkap dan para ahli yang cukup. Selain itu, RISE juga terlibat dalam penyusunan setiap Standar Nasional Australia untuk sistem energi terbarukan.

Agak terlambat saya lihat berita tentang pelatihan. Cuma ada waktu persiapan empat hari. Mengapa perlu persiapan? Karena biayanya cukup mahal, yaitu $660, setara dengan sekitar 5 juta rupiah. Saya sempat berpikir apakah saya butuh pelatihan ini atau tidak, karena kuliah saya juga di bidang ini. Jangan-jangan nanti cuma pengulangan saja. Untuk mendapatkan jawaban saya hubungi salah satu dosen di jurusan saya. Beliau menjawab bahwa materi pelatihan tersebut sama dengan yang diajarkan di kuliah lain, tapi ada sedikit penekanan pada metode instalasi PLTS. Beliau juga menyarankan saya minta diskon karena saya mahasiswa di Universitas yang sama.

Saya kirim email ke panitia pelatihan mengatakan saya adalah mahasiswa di universitas tersebut dan minta diskon. Hasilnya, saya diberi diskon 50%. Saya cukup terkesan juga karena panitia pelatihan langsung saja memberi diskon tidak minta bukti apapun, misalnya kartu mahasiswa, surat keterangan kuliah di universitas tersebut, bukti pembayaran SPP terakhir, rekomendasi pembimbing akademik, dsb. Tentu mereka tidak perlu semua itu, karena semua data mahasiswa sudah tertata rapi sehingga bisa diakses ke Student Central.

Pelatihan dua dua hari tersebut saya ikuti dengan senang. Walaupun belum bayar, panitia tidak melarang saya ikut, bahkan tidak pernah menanyakan tentang pembayaran saya. Hingga pelatihan usai dan saya menerima sertifikat panitia belum bertanya juga. Akhirnya saya tidak enak sendiri, lalu mengirim email bahwa biaya pelatihan akan saya bayar besok hehehe.

Banyak manfaat yang saya dapatkan dari pelatihan ini. Walaupun terbukti bahwa materi pelatihan sudah saya dapatkan dalam kuliah, tapi saya senang mendapat teman-teman baru. Dari sekitar 25 orang peserta, cuma ada 4 orang mahasiswa, sisanya adalah orang-orang industri. Beberapa adalah insinyur di perusahaan multinasional.

Pelatihan berlangsung dua hari full time, dari jam 9 pagi hingga 4.30 sore. Materi utamanya: (1) perancangan PLTS tersambung jaringan, (2) instalasi PLTS tersambung jaringan. Kedua topik tersebut mengikuti Standar Nasional Australia AS4777, AS5033 dan AS3000. Sebagian besar isi ketiga standar tersebut mengacu pada standar-standar IEC (International Electrotechnical Commission).

Sepanjang yang saya amati, hubungan universitas dan industri terjalin baik di Australia. Jika pihak industri ingin mempelajari hal-hal baru atau mengalami masalah, mereka akan datang ke universitas mencari jawaban. Sebaliknya, pihak universitas menjadi makin pakar karena selalu berahadapan dengan kasus-kasus baru. Di kampung saya agak beda. Di kampung saya supremasi ilmu sering dipegang orang industri. Orang industri sering bilang “orang kampus hanya tau teori, sedangkan orang industri tahu teori dan praktek.” Sebaliknya, orang kampus pun begitu, mengakui bahwa ilmu yang dimilikinya selalu tertinggal dibanding perkembangan di industri. Saya tidak bermaksud mengkapling-kapling kepemilikan ilmu, hanya ingin mengatakan bahwa orang industri sudah tampil oke, tapi orang universitas mesti lebih maju lagi. Juga tidak bermaksud mengatakan bahwa tidak ada orang universitas yang punya kualifikasi tinggi. Ada, banyak malah. Tapi sebagian besar memang perlu mengembangkan diri, terutama saya sendiri.

Jadi hubungan universitas dan industri perlu dirubah. Bagaimana caranya: (1) Pihak universitas mesti mampu mengejar gap antara teori di kelas dengan praktek di lapangan, sehingga yang diajarkan dan dikerjakan  di universitas adalah pengetahuan terkini yang dipakai di lapangan, (2) Pihak industri perlu mulai mempercayakan masalah-masalahnya pada universitas. Daripada membuat laboratorium sendiri, dari pada pusing memikirkan masalah-masalah operasional atau pengembangan, sebaiknya industri menyerahkan urusan tersebut pada universitas. Hal ini akan membangun hubungan saling membutuhkan dan menguntungkan di antara kedua belah pihak.

Berikut adalah beberapa foto yang sempat saya ambil saat pelatihan. Walaupun sudah sering melakukan praktikum di laboratorium ini, baru kali ini saya punya kesempatan foto-foto. Jika anda berminat melanjutkan studi S3 di bidang energi terbarukan, mungkin foto-foto berikut bisa memberi anda sedikit gambaran apakah RISE akan menjadi kantor anda selama 4 tahun ke depan?

p1040200

Sistem PLTS di atap gedung ini menyediakan sebagian besar kebutuhan listrik gedung di bawahnya.

p1040201

Semua kebutuhan listrik gedung ini dihasilkan PLTS di atas atapnya

p1040202

Teman kursus saya adalah para insinyur senior di berbagai perusahaan di Australia, sebagian sudah tua.

p1040204

Multicystalline PV array dan turbin angin 30 kW di belakang

p1040209

Saya di depan salah satu PV array

p1040211

Sistem ini dilengkapi solar tracker

p1040212

Fasilitas riset pemanas air tenaga surya

p1040215

Fasilitas riset baru ‘solar colector’ dalam persiapan instalasi. Dengan fasilitas ini sinar matahari dipantulkan ke tabung-tabung yang di dalamnya terdapat air. Air di tabung menjadi panas lalu dikumpulkan pada tangki. Uap air panas ini digunakan untuk memutar turbin untuk menghasilkan listrik.

p1040218

Modul-modul surya in dipasang di sini oleh sebuah industri solar panel di Jepang untuk diuji.

p1040220

Me again…. sorry!!

p1040221

Dua buah Pyranometer (alau ukur energi sinar matahari) dan Anemometer (alar ukur kecepatan angin)

p1040224

Modul surya dan kincir angin berbaris rapi

p1040226

Anemometer dan sensor arah angin

p1040227

Salah satu sudut fasilitas outdoor di RISE.

p1040230

Penampakan lain fasilitas riset di RISE

p1040232

Fasilitas penyulingan air menggunakan tenaga surya

p1040238

Ini adalah kantor RISE, kebutuhan listriknya didapat dari PLTS dia tas atap gedung dan kincir angin.

Jika anda ingin melihat fasilitas lain di RISE (misalnya fasilitas indoor), silahkan lihat pada tulisan saya yang lain di  SINI. Namun masih cukup banyak fasilitas yang luput saya foto, antara lain fasilitas riset fuel cell di RISE. Informasi lebih lengkap ada di SINI.

Advertisements




Saatnya Kerjasama-Super Library

5 03 2009

Dalam buku revolusioner berjudul “The Seven Habits of Highly Effective People” edisi bahasa Indonesia, Stephen R. Covey menulis “interdependence is greater than independence.” Jika ditafsirkan secara bebas kira-kira bermakna: orang-orang/lembaga independen jika bekerja bersama-sama dalam hubungan saling bergantung, menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dibandingkan sekedar independen saja.

Sebuah pengalaman baru membuat saya termenung dan sadar akan pentingnya kerjasama. Kerjasama, jika dilakukan dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Begini ceritanya. Untuk keperluan tugas kuliah, saya memerlukan sebuah buku. Setelah saya search di website perpustakaan universitas tempat saya belajar, ternyata buku tersebut tidak ada. Selain bukunya memang tidak terkait dengan bidang kajian di kampus saya, buku tersebut juga masih baru, terbitan 2008.

Untung perpustakaan universitas saya punya kerjasama dengan enam perpustakaan universitas lain di Australia. Salah satu kesepakatan dari kerjasama yang mereka namakan BONUS+ tersebut adalah: setiap mahasiswa/dosen universitas anggota dapat meminjam buku dari universitas lain yang juga anggota. Menyadari adanya kerjasama ini, saya lalu menggunakan halaman pencarian khusus yang menggabungkan ketujuh perpustakaan tersebut. Hasilnya, ternyata ada satu universitas yang memiliki buku tersebut.

208

209

210

211

212

213

Perpustakaan universitas tempat saya belajar

Tapi lokasi universitas tersebut jauh sekali. Saya berada di Perth, bagian paling barat Australia, sedangkan universitas tersebut berada di Sydney, bagian timur Australia. Kedua kota ini terpisah oleh jarak sekitar 4 ribu kilometer, hampir sama dengan jarak Medan ke Jayapura.

Namun jarak tidak masalah, yang saya lakukan cuma melakukan pemesananan online, mengisi username dan password, lalu menentukan lokasi buku tersebut ingin saya ambil, selesai. Tidak ada formulir apapun yang saya isi. Tidak ada pernyataan akan mengganti buku tersebut jika hilang, dsb.

Saya juga tidak perlu datang setiap hari ke perpustakaan menanyakan, “apakah buku pesanan saya sudah datang?” Sehingga saya pun tidak perlu mendapat jawaban, “belum ada, Dik, coba datang besok lagi ya…!” Itu tidak perlu, karena saat buku datang tiga hari kemudian, saya mendapat email yang berbunyi:

Dear Kunaifi Kunaifi

Your Bonus request has arrived in the Library. Please collect within 5 DAYS of the date on this message.

Cooper, William W. (William Wager), Challenges of the muslim world : pr
CALL NO: 330.91767 COOP
BARCODE: 320070049133539utsy
BELONGS TO: UTS
PICKUP AT: Murdoch Main Library

Begitu luar biasanya sebuah kerjasama.

Lalu apa untungnya. Jelas untungnya besar. Dengan adanya kerjasama seperti ini, perpustakaan anggota tidak dianggap lagi sebagai perpustakaan terpisah, melainkan bergabung dengan perpustakaan lain. Jika setiap universitas anggota memiliki 1 juta koleksi, setelah digabungkan menjadi 7 kali lipat. Dengan kata lain, dengan kerjasama ini perpustakaan sebuah universitas tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk melengkapkan koleksinya menjadi 7 juta, misalnya.

Biaya yang timbul dari kerjasama tersebut tidak terlalu besar dibandingkan investasi tanpa kerjasama. Biaya yang diperlukan hanya untuk mengirim buku ke universitas lain jika ada yang memesan. Atau jika diperlukan, mungkin perlu biaya untuk merekrut satu pegawai baru yang khusus menangani layanan khusus tersebut.

Saya membayangkan suatu hari nanti, dengan meng-klik pada mouse beberapa kali, dari kantor saya di Pekanbaru, saya bisa pesan buku dari perpustakaan universitas-universitas di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Betapa luar biasanya jika puluhan perpustakaan di universitas-universitas dalam negeri digabung menjadi sebuah Super Library maya. Menurut saya besar sendiri tidak lebih utama jika ada peluang menjadi raksasa bersama-sama?

Ada yang minat mem-follow up??

NB. Jika anda tertarik memperlajari lebih jauh tentang BONUS +, silahkan klik si sini. Anda juga bisa menghubungi salah satu perpustakaan yang tergabung dalam BONUS+ untuk menggali informasi lebih dalam.





Libatkan masyarakat…..

25 02 2009

Seekor burung bangau/kuntul sedang berdiri di punggung seekor kerbau sambil memakan kutu di balik bulu-bulu sang kerbau. Mereka terlibat dialog kelas tinggi sebagai berikut:

Kuntul: Sebenarnya pembangunan untuk siapa?
Kerbau: Jelas untuk masyarakat.
Kuntul: Mengapa masyarakat sering tidak dilibatkan dalam pembangunan?
Kerbau: Contohnya?
Kuntul: Sekarang akan dibangun pelabuhan di pinggir sawah, padahal di sana kan banyak nelayan menggangtungkan hidupnya dari mencari ikan. Jika nanti di sana banyak aktivitas, ikan pergai jauh mencari tempat lain.
Kerbau: Orang di atas itu pintar-pintar dan bijak-bijak, kita patuh dan taat saja lah.
Kuntul: Dasar kerbau… kuharamkan kutumu sejak kini.

Baru-baru ini saya membaca sebuah koran lokal di Australia. Perhatian saya tertuju pada sebuah iklan yang menarik (lihat gambar). Menarik bukan karena dekorasinya, tapi karena isinya.

207

Isi iklan tersebut antara lain:
– Pemberitahuan ‘Bappeda’ Western Australia kepada masyarakat bahwa pemerintah berencana mengubah tata guna lahan di beberapa kawasan.
– Pemerintah mengundang masyarakat untuk menyampaikan komentar atas rencana tersebut baik dukungan, keberatan atau usulan-usulan.

Iklan tersebut menarik karena menunjukkan perlakuan penuh hormat dan bertanggungjawab dari pemerintah (yang menjalankan amanah) kepada masyarakat. Pemerintah tidak memandang masyarakat sebagai objek yang harus selalu menurut rencana-rencana hebat pemerintah. Lebih dari itu, karena masyarakat adalah pihak yang akan dikenai dampak (baik/buruk) dari rencana tersebut, maka mereka wajib didengarkan suaranya.

Bagaimana kisah Bappeda di kampung anda???

Kisah di atas bukan pengalaman pertama bagaimana sebuah kebijakan diambil seteleh melalui proses konsultasi dengan semua level stakeholder terlebih dahulu. Ada satu lagi pengalaman mirip.

Anak saya sekolah di play group (child care centre) universitas Murdoch, Australia Barat. Universitas di mana play grup itu berada, merencanakan pembangunan sebuah gedung baru di samping gedung play group. Sekitar 6 bulan sebelum proyek dimulai, pihak universitas sudah melakukan rapat-rapat intensif dengan pihak play group. Tujuannya adalah untuk mendengarkan suara dari pihak play group.

Dalam logika kampung saya, pihak universitas tidak wajib melakukan konsultasi dengan pihak play group. Ada beberapa alasan. Pertama, gedung yang akan dibangun tidak mengambil lahan play group. Kedua, tanah tempat gedung baru akan dibangun adalah milik universitas, jadi universitas punya wewenang penuh berbuat apa saja di atas tanah mereka. Ketiga, play group hanyalah bagian kecil di universitas yang besar itu, jadi tidak terlalu penting untuk didengar. Lagi pula, banyak hal-hal besar lain yang lebih penting dipikirkan oleh universitas. Tapi itu logika kampung saya.

Nyatanya, pembangunan gedung baru sempat hampir ditunda karena adanya beberap keberatan pihak play group yang hampir tidak bisa dijawab pihak universitas. Beberapa keberatan itu, dalam logika kampung saya, sepertinya tidak penting dan seakan mengada-ada. Antara lain: Pertama, jika gedung baru tersebut sudah berdiri, anak-anak di play group tidak bisa memandang ke jarak yang jauh seperti saat ini, karena akan tehalang oleh gedung baru. Kedua, debu saat pengerjaan proyek bisa dihirup oleh anak-anak di play group. Ketiga, suara bising saat proyek dikerjakan dapat mengganggu anak- anak yang tidur siang. Keempat, karena gedung baru direncanakan berlantai dua, dikhawatirkan nanti ada orang yang mengamati kegiatan anak-anak dari lantai dua gedung tersebut. Kelima, dengan adanya proyek, ada jalan ke play group yang akan ditutup sehingga akan menyulitkan orang tua anak-anak mencari tempat parkir kendaraan. Dan banyak lagi keberatan tidak penting (dalam logika kampung saya ) lainnya.

Tapi, keberatan-keberatan itu hampir membuat pelaksanaan proyek diundur oleh universitas.

Dalam salah satu rapat yang melibatkan orang tua, saya ikut, karena penasaran. Inilah solusi dari universitas yang kemudian disepakati bersama. Yang masih saya ingat:
1. Posisi gedung baru akan  digeser beberapa belas meter, sehingga jika anak-anak memandang dari playgroup, ada celah antara gedung baru dan gedung lain yang sudah ada di sana. Di celah tersebut anak-anak masih bisa memandang jauh;
2. Di sekeliling lokasi proyek akan dipasang pagar tinggi yang dipasang jaring. Hal itu untuk menghindari serpihan-serpihan mencapai lokasi playgroup. Dari arah atas akan disemprotkan air sehingga debu yang naik sebagian dapat dipaksa jatuh lagi di lokasi proyek tanpa mencapai play group;
3. Jendela yang awalnya dipasang di dekat tangga naik di gedung baru untuk memberi cahaya, dinaikkan posisinya beberapa meter sehingga tidak bisa diakses oleh orang-orang yang menggunakan tangga untuk memandang ke luar.

Saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Karena di kampung saya, jika ada proyek di kompleks kantor, misalnya, maka semua orang yang berkantor di sana harus rela menempuh jalan becek saat hujan, jalan akan rusak dan berlobang, bising, debu, berpapasan dengan kendaraan proyek yang tidak pandang bulu, kabel listrik putus, dan lain-lain-lain-lain. Di kampung saya, jika ada orang memotong rumput saat anak-anak sekolah sedang ujian, maka jangan harap anak-anak yang butuh ketenangan itu bisa menyampaikan keberatan tanpa dipandang dengan agak sinis atau dinilai tidak toleran.

Jika anda punya pengalaman sama dengan saya, maka saya punya teman baru sesama objek pembangunan. Anda diam saja, karena protes hanya akan menunjukkan seakan-akan anda tidak toleran dan tidak menghargai keputusan mereka yang lebih penting dari anda.





Tertangkap

22 01 2009

Yang tertangkap bukan saya, melainkan sebuah paket yang dikirim untuk saya. Kisah ini bercerita tentang pengalaman saya menerima kiriman dari sepupu saya Indonesia, supaya hal ini tidak terjadi pada anda. Kiriman tersebut berisi data-data thesis saya. Sebelum dikirim saya tidak lupa pesan, “tolong masukkan lima bungkus Class Mild.” Class Mild adalah rokok kesukaan yang sudah lama sekali tidak saya nikmati. Sepupu saya ini orangnya baik, dia tidak mengirimkan saya 5 bungkus Class Mild, tapi satu slope berisi 10 bungkus.

Namun, setelah menunggu 7 hari kiriman belum datang juga. Padahal dengan Kiriman Tercatat mestinya 4 hari sudah tiba. Saya lalu berkunjung ke website Pos Indonesia dan melakukan Track and Trace kiriman. Saya kagum dengan website Pos Indonesia yang mampu menampilkan hasil pencarian saya kurang dari 1 menit. Hasilnya adalah seperti gambar di bawah.

186

Foto: Pos Indonesia

Saya terkejut melihat status terakhir kiriman saya berbunyi “ditahan bea cukai.” Yang saya bayangkan seketika adalah denda yang besar atau orang imigrasi datang ke rumah melakukan interogasi. Apa gerangan penyebab kiriman saya ditahan? Jumlah rokok yang ada di sana kurang tidak melebihi jumlah maksimal yang diizinkan (270 batang). Di sana memang ada CD, tapi isinya cuma data-data. Lalu apa?

Pada hari ke-8, saya mendapat surat dari Australia Post. Isinya memberitahukan bahwa kiriman saya ditahan Bea Cukai Perth. Ada lampiran surat dari Bea Cukai berisi tagihan. Jumlahnya lumayan, AU$ 60 (sekitar Rp 420 ribu dengan Kurs AU$ 1 = Rp. 7.000). Alasan penahanan kiriman saya adalah karena ada rokok. Terdapat lampiran peraturan Bea Cukai.

Rupanya peraturan memasukkan rokok ke Aussie berbeda antara dibawa sendiri dan dikirim via pos. Jika dibawa sendiri, tidak ada masalah jika jumlahnya kurang dari 270 batang. Jika dikirim vis pos, berapapun jumlahnya, dianggap sebagai barang impor, sehingga dikenai biaya import dan pajak. Itulah yang mesti saya bayar. Jadi rokok saya kini berharga 6 dolar sebungkus. Lumayan, lebih murah dari harga rokok Aussie. Dan masih untung sebab rokok Aussie rasanya payah. Tentu rugi dari segi kesehatan heheheh.

Dulu, kasus seperti ini bisa diurus supaya tidak jadi membayar. Ada peraturan yang namanya Gift Concession. Logikanya begini. Penerima kan mungkin saja mendapat kiriman yang tidak dimintanya. Lagipula, sepanjang untuk konsumsi sendiri bukan untuk dijual lagi, mengapa mesti bayar? Gift Concession bisa menggratiskan untuk kiriman seharga maksimal AU$ 1000. Tapi, sejak 1 Oktober 2008, Gift Concession dihapuskan. Alasannya, peraturan tersebut tidak sesuai dengan peraturan Bea Cukai yang lebih tinggi.

Saya pun membaca informasi cara mengeluarkan kiriman saya dari ‘tahanan.’ Sederhana. Cuma perlu membayar tagihan, lalu paket akan dikirim ke rumah. Ada tiga cara: (1) via website Bea Cukai menggunakan kartu kredit, (2) via internet banking, (3) dan datang langsung ke kantor Bea Cukai di bandara. Saya akan memilih cara kedua.

Tapi sebelum membayar, saya mau coba sesuatu dulu. Saya kirim email ke Bea Cukai. Isinya adalah protes (pura-pura) atas tagihan yang saya terima. Saya katakan, saya tidak minta dikirimi rokok (sebanyak itu), dan hanya akan digunakan sendiri. Saya sebut juga status saya sebagai mahasiswa, uang $ 60 bagi saya besar.

Sehari setelah email dikirim, saya mendapat jawaban. Salut juga atas respon mereka yang cepat. Padahal mungkin tidak saya sendiri yang bertanya ke mereka di seluruh Aussie. Lagipula pertanyaan saya sudah ada jawabanny di website mereka. Jawaban mereka adalah: “Hi Kunaifi, thank you for your enquiry. The gift concession on postal items was revoked on the 1st of October 2008. The only way to receive your parcel will be to pay the amount on the Customs Invoice. Hope this helps. Sincerely. (nama) Senior Information Officer, Customs Information and Support Centre, Australian Customs Service.

Saya terpaksa buka internet banking dan mengirim $60 ke Bea Cukai hari Jumat dengan harapan hari Senin kiriman sudah tiba.Tapi setelah ditunggu Selasa belum tiba juga. Saya kirim email lagi. Hari Rabu saya sudah merasakan nikmatnya Class Mild.





BEM (Guild of Students)

2 12 2008

Di universitas Australia, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) diberi nama Student Guild (SG). Sebagaimana BEM di Indonesia, SG juga dipimpin seorang Presiden yang dipilih secara demokratis oleh mahasiswa. Presiden lalu memilih kabinetnya. Susunan kabinet ini biasanya sudah diumumkan calon presiden saat kampanye. Sehingga mahasiswa tidak “memilih kucing dalam karung.”

SG ini memiliki kewenangan yang luas. Mereka melakukan pengelolaan keuangan secara mandiri. Berbeda dengan BEM di tempat saya kuliah di Jogja dulu. Di Jogja, kami tidak bebas mengelola uang. Kami baru bisa ambil uang jika ada proposal kegiatan. SG tidak begitu, setiap awal tahun semua uang mereka diserahkan ke mereka. Lalu mereka mengelola sendiri hingga uang tahun depan cair kembali. Untuk keperluan itu, SG mempunayi rekening bank sendiri.

SG juga punya kewenangan kuat dalam menentukan kebijakan universitas, karena mereka punya dua orang wakil di Senat Universitas. Mereka juga punya wakil di lambaga-lambaga bisnis yang didirikan universitas. Sebagai hasilnya, kebanyakan SG punya dana besar. Dengan dana besar SG bisa berbuat banyak. Di tempat saya, beberapa kegiatan SG misalnya: memberikan beasiswa studi untuk mahasiswa kurang mampu, bantuan buku, menerbitkan majalah yang dicetak di kertas berwarna (pasti mahal), para pengurusnya digaji, dan mereka punya kantor yang luas sekali sehingga semua pengurus memiliki ruangan sendiri lengkap dengan telepon, internet, komputer, pegawai administrasi dan perlengkapan kantor seperti layaknya pegawai negara, mereka bisa mengadakan acara di neraga-negara lain, juga bisa memberi bantuan komputer ke negara-negara berkembang, mereka punya kolam renang, gym dan fasilitas olahraga buat disewakan, punya beberafa cafe dan restoran, dll.

Lalu berapa uang yang mereka kelola? Tergantung dari jumlah mahasiswa. Pemerintah Australia menetapkan $250 per mahasiswa per tahun (sekitar 2.5 % dari SPP mahasiswa). Di universitas saya ada 16 ribu mahasiswa, jadi Guild mendapat dana $4 juta pertahun (sekitar Rp. 30 Milyar per tahun dengan kurs AU$ 1 = Rp. 7500). Sebuah angka yang amat besar jika dibandingkan dengan dana BEM di universitas Indonesia. Jumlah itu pun masih mungkin bertambah dari keuntungan bisnis-bisnis yang dikelola SG.

Mengapa bisa sebeser itu? Alasannya sederhana. Di Australia, universitas adalah salah satu jenis industri, dan mahasiswa adalah customer yang harus dibuat puas dan dilayani oleh setiap sumberdaya yang ada di universitas. Untuk itu, mahasiswa membayar SPP dalam jumlah yang tidak sedikit.

Mari berandai-andai. Jika universitas di Indonesia menggunakan pola sepeeti di Australia, maka BEM akan punya uang besar. Jika 2.5% dari SPP mahasiswa dikembalikan ke BEM, maka universitas sekelas UIN Suska Riau dengan sekitar 10 ribu mahasiswa membayar SPP sekitar Rp. 1.2 juta setahun, maka BEM mengelola uang sebesar Rp. 300 juta setahun. Jumlah yang cukup untuk berbuat banyak.

Yang uniknya, walaupun SG punya uang besar, tapi proses pemilihan Presiden dan pengurus SG tidak sepelik dan sepanas pemilihan BEM. Dalam kampanye mereka cuma menggelar spanduk dan brosur-brosur berisi program kerja mereka. Pemilihan juga dilakukan secara online via internet. Sementara di Indonesia proses pemilihan BEM biasanya diwarnai aksi lempar kursi, tawuran, dsb, walaupun banyak juga yang berjalan mulus.

Namun demikian, bukan berarti memberi uang yang terlalu besar pada BEM selalu berdampak positif. Hal-hal negatif antara lain: mengurangi kesempatan BEM untuk belajar survive di tengah segala keterbatasan, membuka peluang korupsi di kalangan mahasiswa yang tidak bertanggungjawab, tidak mengajarkan hidup sederhana selaku mahasiswa, dll. Khusus UIN Suska yang masih mengap-mengap keuangannya, BEM di sana sepertinya mesti bersabar jika dana mereka selalu minus.





Orang Asing Dapat Uang di Australia (Australian Gov’t Gives Money to Stangers)

27 10 2008

Kisah ini menambah daftar program pro-rakyat yang dilakukan pemerintah Australia. Yang dimaksud dengan ‘rakyat’ di sini bukan hanya warga negara Australia, tapi juga warga negara asing di Australia. Begini ceritanya.

Anak saya yang berumur 3.5 tahun saya masukkan ke Child Care Centre (semacam play group). Biayanya mahal sekali. Saya harus membayar $25 per hari. Dengan kurs $1=Rp.7000, saya mestinya membayar sekitar Rp.175.000 sehari, alias Rp. 3.500.000 sebulan. Jumlah uang yang besar sekali.

Tapi pemerintah Australia memberikan subsidi. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Lewat lembaga pemerintah bernama Centrelink, saya mendapat subsidi sekitar 85%. Walhasil, saya hanya membayar sekitar Rp.525.000 sebulan.

Tidak cukup sampai di situ, beberapa hari lalu saya mendapat surat dari Centrelink, mengatakan bahwa sebagian uang yang sudah saya bayarkan akan dikembalikan kepada saya. Begitu lihat saldo di bank, ternyata di rekening saya ada transfer dari Centrelink sebesar $50. Tiga hari kemudian, saya mendapat surat lagi. Isinya pemberitahuan bahwa semestinya saya mendapat pengembalian biaya sekolah 50%. Begitu cek saldo, mereka sudah mengirim $225 ke rekening saya.

Padahal, saya tidak pernah mendaftar, apalagi menyertakan izin RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, dll.

Padahal, anak saya cuma sekolah playgroup, bukan sekolah wajib.

Padahal, saya ini cuma pendatang di Australia, bukan permanen resident apalagi warga negara.

Ada politikus yang mau mencoba program ini di Indonesia untuk warga negara Indonesia?





Jalan-jalan ke Gurun (A journey to a dessert)

7 10 2008

Perth dan Fremantle adalah kota-kota utama di State of Western Australia (WA). Perth adalah ibukota negara bagian (state). Kota ini bersih, indah dan aman, dengan bangunan-bangunan yang memadukan artitektur kuno dan modern. Sedangkan Fremantle adalah kota pelabuhan yang tidak bisa dipisahkan dari Perth. Fremantle juga dipenuhi bangunan-bangunan tua khas negara barat. Di kota kecil ini anda dapat menemukan banyak tempat bersantai sambil minum kopi di trotoar atau meresapi lezatnya fish ‘n chips (ikan dan kentang goreng) atau makanan sea food di pinggir laut.

Kedua kota tersebut memiliki reputasi gemilang sebagai tujuan wisata dan tempat hidup – antara lain karena keindahan, keamanan, ketertiban, kebersihan, dan keramahan penduduknya. Perth misalnya, menempati ranking 21 kota terbaik untuk hidup di dunia (menurut Mercer Consulting). Namun demikian, reputasi kedua kota tersebut belum mampu membuat mereka sebagai tujuan wisata utama di WA.

WA adalah State paling luas di dunia (total 2,6 juta km persegi). Saking luasnya, salah satu Shire (setingkat Kabupaten) di WA, yaitu Shire of East Pilbara juga merupakan Shire terluas di dunia (80% luas Sumatera dan hampir 3 kali lipat luas Pulau Jawa). Luas daratan yang masif ini membuat kepadatan penduduk kurang dari satu orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Pulau Jawa yang luasnya seperduapuluh WA dan kepadatan penduduk 980 orang per per kilometer persegi. State ini dianugerahi banyak lokasi tujuan wisata. Selain wisata kota, sungai dan pantai di Perth dan Fremantle, tujuan wisata utama kebanyakan berada jauh dari kota-kota besar. Mereka menawarkan eksotisme pemandangan pegunungan, pantai, dan kawasan pedalaman untuk anda. Di WA, kawasan pedalaman disebut Outback. Outback inilah sesungguhnya tujuan wisata utama di WA.

Satu diantara wisata outback utama yang dapat anda kunjungi di WA adalah the Pinnacles Dessert. Pinnacles adalah gurun yang dipenuhi ribuan pilar-pilar batu kapur alami, menyembul dari gurun pasir. Ukuran batu-batu tersebut bervariasi, dari seukuran tikus hingga yang yang lebih tinggi dari atap rumah anda. Sebagian ‘bersisik’ tajam seperti gergaji, sebagian berujung runcing, sebagian tumpul. Pertama tiba di sini, boleh jadi anda akan diliputi perasaan aneh yang membuat berdiri bulu roma. Pasalnya, batu-batu itu sepintas mirip kuburan massal dengan ribuan nisan terpancang kokoh. Tapi kemudian perasaan anda segera berubah. Dominasi kuning terang pada batu dan pasir memberi kesan seolah anda berada di planet asing tanpa penghuni, seperti dalam film-film fiksi ilmiah.

Pinnacle Dessert adalah bagian dari Nambung National Park. Menurut Department of Environment and Conservation WA (DECWA), taman nasional seluas lebih 17 ribu hektar ini juga meliputi pantai, dan hutan pohon Tuart yang rindang. Pada bulan Agustus hingga Oktober (musim semi), di hutan Tuart bunga-bunga mekar. Kombinasi kuning, merah dan hijau menyuguhkan pemandangan yang tak mudah anda lupakan. Jika beruntung, anda akan bertemu dengan kawanan emu dan kangguru liar di sini dan ‘bercengkrama’ dengan mereka.

Nama Nambung diberikan oleh penduduk asli setempat (masyarakat Aborigin). Awalnya mereka memberi nama Nambung pada sebuah sungai di kawasan tersebut. Oleh pemerintah, nama sungai ini kemudian dipakai menjadi nama taman nasional tersebut. Dalam bahasa Aborigin, Nambung berarti “dibengkokkan” atau “dipelintir.”

Menurut DECWA, orang Eropa telah memasukkan Pinnacles Dessert ke dalam peta sekitar tahun 1658. Namun hingga akhir 1960-an, Pinnacle Dessert relatif tidak dikenal, sampai saat the Department of Lands and Surveys negara bagian WA menjadikan kawasan ini sebagai taman nasional. Kini, sekitar 150 ribu pengunjung mendatangi Pinnacles Dessert setiap tahun.

Masih menurut DECWA, batu-batu kapur Pinnacles terbentuk secara alamiah. Asal mulanya adalah dari kerang laut pada masa ketika bumi masih sangat kaya dengan kehidupan laut. Melalui proses ribuan tahun, kerang laut pecah menjadi pasir yang kaya kandungan kapur. Pasir kapur ini lalu hanyut bersama ombak ke daratan, ditiup angin dan membentuk bukit pasir yang tinggi dan berpindah-pindah. Jika musim dingin (winter) tiba dan frekuensi hujan tinggi, unsur asam pada hujan melarutkan Kalsium Karbonat yang kemudian meresap ke dalam pasir. Saat bukit pasir mengalami kekeringan di musim panas (summer), komposisi tersebut mengendap membentuk sejenis semen, bercampur dengan pasir, dan secara perlahan membentuk batuan kapur. Gurun pasir lama-kelamaan menjadi tipis akibat dikikis air dan angin. Bagian-bagian yang lebih keras bertahan, meninggalkan Pinnacles alias pilar-pilar batu. Pembentukan Pinnacles adalah proses ribuan tahun. Sekitar enam ribu tahun lalu, temuan arkeologi membuktikan bahwa kawasan ini pernah menjadi pemukiman suku Aborigin.

Pemerintah WA mengelola Pinnacle Dessert dengan baik. Berbagai fasilitas umum dibangun seperti toko souvenir, toilet, tempat parkir dan sebagainya. Sentuhan modern pada fasilitas umum dengan konsep sustainable alias ramah lingkungan pun diberikan. Bangunan-bangunan dirancang dengan konsep “passive solar design” (menggunakan sinar matahari untuk menghangatkan/mendinginkan ruangan). Energi surya juga dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Bahkan, teknologi pengelolaan dan daur ulang air pun dibangun di sini.

Perjalanan ke Pinnacle tidak kalah seru. Dengan jarak sekitar 250 km dari Perth, perjalanan anda akan  memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi jangan khawatir menjadi bosan, sebab anda akan mulai merasa berwisata saat perjalanan dimulai. Jalan-jalan mulus membuat anda nyaman duduk di dalam kendaraan. Saat meninggalkan Perth, anda merasakan kota semakin sepi. Namun bentuk rumah-rumah penduduk tidak berubah; khas Australia, beratap dan berpagar agak rendah dengan garasi ukuran besar.

Semakin jauh meninggalkan kota anda makin dalam memasuki outback. Dari dalam kendaraan anda akan menyaksikan hamparan lanskap khas Australia, terdiri dari semak-semak (bush), padang-padang rumput, lembah-lembah, bukit-bukit kecil, juga danau-danau indah. Di beberapa tempat terdapat perkebunan Lavender. Bunga yang sering dijadikan bahan-baku produk kecantikan tersebut memiliki warna putih bercampur ungu, kontras dengan hijaunya padang rumput di sekelilingnya. Paduan warni ini memberi anda kesan damai, juga romantis.

Kebun Lavender di WA

Anda juga akan menemukan puluhan peternakan sapi, domba, dan kuda sepanjang jalan. Gampang mengetahui lokasi peternakan. Biasanya ditandai dengan padang rumput luas, tapi bersih. Di tengahnya terdapat rumah pemilik peternakan (farmer), lengkap dengan gudang peralatan. Peternak domba biasanya memiliki beberapa kuda dan anjing. Bersama kuda Australia yang terkenal kuat dan besar dan dibantu anjing-anjing terlatih, farmer dengan mudah menggiring ratusan domba menuju kandangnya. Secara berkala, bulu-bulu domba dicukur, lalu dijual. Oleh pabrik, bulu domba dijadikan pakaian berkualitas tinggi. Dengan cara demikian, farmer dapat hidup makmur.

Sebuah peternakan domba di Western Australia (Foto: fmft)

Satu lagi pemandangan menarik dalam perjalanan menuju Pinnacle, yaitu Emu Downs Wind Farm (EDWF). EDWF adalah pembangkit listrik tenaga angin skala besar yang mulai beroperasi 2006. Menurut Griffin Energy, pemilik wind farm, Emu Downs adalah nomor dua terbesar di Western Australia setelah Albany Wind Farm, dan nomor empat di Australia. Bersama Stanwell Corp. wind farm ini dibangun dengan dana A$180 juta (sekitar 1,3 Triliun Rupiah). Dengan kapasitas 80 MW, EDWF mampu menghasilkan listrik untuk sekitar 62.000 rumah. Bandingkan dengan PLTA Koto Panjang yang memiliki kapasitas 114 MW, dan biaya sekitar 2,8 Triliun (Sumber: diolah dari iselantang). Listrik yang dihasilkan EDWF dibeli Synergy, perusahan retail listrik milik pemerintah WA. Sebagian besar digunakan mengoperasikan instalasi penyulingan air laut terbesar di WA.

Emu Downs Wind Farm, Western Australia (Foto: puregreen)

Setelah cukup lelah menempuh perjalanan yang dilanjutkan mengarungi gurun Pinnacles, anda dapat rehat di Jurien Bay, sebuah pantai koral yang terletak tidak jauh dari sana. Jika suka berenang dan memancing, anda bisa lakukan di Jurien Bay. Siapa tahu anda pulang membawa Rock Lobster raksasa khas Jurien Bay.

Jalan-jalan ke Pinnacle Dessert bukan hanya menyaksikan keajaiban geologi, tapi juga membawa anda ke masa lalu sekaligus ke tempat yang “asing.” Satu tips yang tidak boleh anda lupakan saat merencanakan kunjungan ke Pinnacle Dessert, jangan datang di musim panas dan dingin. Jika lupa, anda akan terpanggang matahari atau beku di luar sana. Outback bukan tempat yang ramah jika anda datang di musim yang salah.

Untuk melihat lebih banyak foto-foto di Pinnacle Dessert, silahkan klik di sini dan sini.