Wierden: (3/3) Desa Enter

24 07 2017

Sebelumnya diceritakan, setelah pulang dari Pasar Maluku, kemudian tanpa rencana kami berkunjung ke ‘rumah pisang,’ kami masih tersesat. Tapi syukurlah, Jo menemukan rumah kenalannya. Berkat penjelasan dari kenalannya, akhirnya kami sampai juga ke rumah Jo di Enter sekitar jam 5 sore.

Salah satu tujuan kami ke sana adalah mengunjungi D**e, suami Jo yang sedang sakit. [Karena belum izin, saya tidak menuliskan namanya lengkap. Selanjutnya saya panggil Da saja. Kami menemukan pak Da sedang membaca novel di taman belakang. Da suami Jo, adalah orang Inggris yang sudah 30 tahun tinggal di Belanda.

Sambil bercakap-cakap dengan Da tentang topik-topik ringan, pisang goreng dari Pasar Maluku dimakan. Saya membeli tiga bungkus. Satu bungkus sudah saya habiskan dengan sempurna. Maklum, sudah setahun tidak makan pisang goreng. Da ditawari tidak mau. Jo juga tidak mau. Mereka memang tidak suka makanan berminyak. Zia, Abihv dan mamanya saya tawari, berharap juga tidak mau. Ternyata mereka mengangguk tegas. Mau. Saya simpulkan dengan ikhlas, jatah saya memang hanya satu bungkus.

photo_2017-07-23_23-38-47

Jo dan istri saya kemudian sibuk memasak di dapur. Da dan saya ngobrol di taman belakang. Zia dan Abhiv di depan telah tenggelam dalam permainan pingpong mini yang telah disiapkan Jo dan Da sebelum kami datang. Tidak lama kemudian mereka pun mulai melukis. Peran seiap orang telah dipersiapkan secara matang.

Jika mereka mengundang orang, selalu lengkap dengan susunan acaranya, walaupun tidak selalu ditulis. Inilah yang juga ingin saya pelajari dari budaya Barat. Beberapa tahun lalu, saat diundang barbeque ke rumah seorang kolega di Jerman, susunan acaranya bahkan sudah diemailkan sebelum saya tiba.

Melukis

Persis seperti kepanitiaan sebuah acara resmi. Persiapan susunan acara juga bertujuan supaya waktu setiap orang terisi penuh, sehingga tidak ada yang merasa bosan. Juga untuk meyakinkan bahwa peralatan dan kebutuhan untuk setiap orang dan peran, telah disiapkan dengan baik sebelum tamu datang. beda dengan saya kalau menerima tamu, modalnya hanya mulut (untuk ngobrol dan makan) dan remote TV jika kehabisan bahan untuk dibincangkan.

Enter adalah sebuah desa tua. Usianya lebih 1.200 tahun. Zaman dulu, pekerjaan utama penduduk Enter adalah kerja kayu, termasuk membuat sepatu kayu. Maka tidak heran jika saat ini di Enter masih terdapat pabrik sepatu kayu. Bahkan, sepatu kayu paling besar di dunia ada di Enter dan masuk ke dalam Guinness Book of Records.

Pada abad ke 18 dan 19, Enter juga merupakan tempat membuat sejenis kapal kecil, yang mereka beri nama Zomp. Oleh karena itu, hingga kini, di Enter ada semacam perayaan di mana penduduk pergi naik kapal lalu berlayar ke kota-kota yang jauh dari Enter. Hal tersebut mungkin, karena di Belanda terdapat ribuan kanal-kanal buatan yang tersambung satu dengan lain.

photo_2017-07-24_01-15-56   photo_2017-07-24_01-15-54
Sepatu kayu terbesar di dunia dibuat dari satu batang kayu, panjang 403 cm, lebar 171 cm, tinggi 169 cm di Enter
photo_2017-07-24_01-15-35

Sebagian besar penduduk Enter beragama Katolik Roma atau ateis. Untuk yang terakhir, memang tidak asing di Belanda. Lebih separoh orang Belanda tidak beragama. Kebanyakan mereka mengadopsi nilai-nilai kebaikan dari agama dan kepercayaan apa saja.

Suasana di Desa Enter
photo_2017-07-24_01-15-16   photo_2017-07-24_01-15-50
Suasana desa Enter                                            
Salah satu pabrik sepatu kayu di Enter yang masih berproduksi  (kiri)
photo_2017-07-24_01-15-36  Abhiv dan traktorphoto_2017-07-24_01-15-58 Penduduk desa Enter dan kuda poni

Penduduk Enter juga ramah-ramah. Dalam kunjungan ke sana sebelumnya, kami diajak Jo berkeliling desa jalan kaki. Saling sapa saat berpapasan di jalan adalah hal lumrah di sana. Beberapa orang penduduk berjalan-jalan di desa dengan hewan peliharaannya. Kebanyakan penduduk desa memelihara anjing atau kuda. Mereka tidak segan-segan menyapa orang asing dan memperkenalkan hewan peliharaannya jika melihat kita tertarik.

Jika tidak punya kenalan di Enter, memang cukup bingung juga apa yang akan dilakukan di sana? Namun sebenarnya di Enter ada dua agenda tahunan, yaitu karnaval dan pasar kuda. Pada kunjungan berikutnya ke Enter, saya dan keluarga insha Allah akan mengunjungi pasar kuda tradisional. Dari setiap kunjungan selalu ada hal baru.

— selesai —

Untitled-2

Advertisements




Wierden: (2/3) Pohon Pisang dan Sesat Lagi

24 07 2017

Sebelumnya, saat berkunjung ke Pasar Maluku, saya memesan pisang goreng, bahkan rela antri setengah jam untuk mendapatkannya. Agenda kami selanjutnya adalah berangkat ke Enter.

Karena terlihat bergairah sekali dengan pisang, dalam perjalanan menuju Enter, Jo ingin menunjukkan kepada kami sebuah rumah di dekat Enter, yang ada pohon pisang di depannya. Dengan antusias, dia bercerita tentang rumah tersebut. Saya dan istri tentu saja merasa lumayan geli di dalam hati. Apalagi saat Jo menyadari bahwa dia lupa alamat rumah yang dimaksud. Berulang-ulang kami berputar-putar di tempat yang sama dan salah jalan. Kami tidak keberatan sama sekali jika rumah tersebut tidak ditemukan. Tapi Jo bersikeras. Dia ingin menunjukkan kepada kami seperti apa bantuknya pohon pisang.

Saat Jo berjuang ‘menggali’ lokasi rumah tersebut dalam ingatannya, memori saya terbang ke masa kecil di kampung. Saat usia SD sampai SMP, salah satu tugas saya dari Ibu adalah mengambil kelapa dan pisang. Langsung dari pohonnya. Jika turun perintah mengambil kelapa, artinya tidak lama kemudian saya sudah berada di puncak pohon kelapa. Biasanya upahnya adalah, saya jatuhkan satu atau dua butir kelapa muda untuk saya minum. Jika disuruh mengambil pisang, artinya saya segera menjadi ksatria Samurai, terutama ketika menebaskan parang ke tubuh pohon pisang, sampai tumbang. Pohon pisang sebnarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.

Khayalan saya terputus ketika Jo dengan riang memberi tahu bahwa dia telah menemukan rumah yang di depannya ada pohon pisang. Karena dia merasa sudah biasa melihat pohon pisang, kami berempat dipersilahkan turun, mendekat ke ‘rumah pisang,’ sedangkan Jo memilih tetap di mobil. Kami pun tak kuasa mengecewakannya. Sambil bertatapan mata lucu, saya dan istri mengajak anak-anak turun. Ibarat empat sekawan yang lama tinggal di kota metropolitan masa depan, kami melangkah pasti menuju rumah dengan pohon pisang. Padahal, kami semua hanyalah orang kampung. Tulen.

Sampai di sana, kami menemukan serumpun kecil pohon pisang. Yang paling besar seukuran betis orang dewasa. Dengan maksud bercanda kami mengeluarkan komentar-komentar takjub melihat pohon pisang. Saya berkata, “coba lihat, ada garis-garis di daunnya.” Istri saya tertawa dan menimpali “pohonnya lunak ya.” Anak saya yang besar, Zia, menegur kami “lebay kali lah orang ni,” katanya.

Suara berisik kami rupanya terdengar oleh pemilik rumah. Pemilik pohon pisang. Sepasang suami-istri seusia sekitar 55-60 tahun keluar dari rumah. Saya mulai khawatir akan ditegur atau ditanya macam-macam. Bagaimanapun kami telah berhenti di depan properti orang dan menunjuk-nunjuk tanamanannya. Dari perawakan kami juga langsung terlihat bahwa kami bukan orang Eropa. Istri saya berkerudung pula.

Suaminya mengatakan sesuatu yang tidak saya pahami dalam bahasa Belanda. Saya minta Zia terjemahkan. Ternyata mereka berkata, “ayo sini, masuk, di belakang masih ada pohon pisang yang lain.” Kami ragu-ragu, tapi Jo yang juga mulai tertarik, datang dan mengajak kami masuk.

Di belakang rumah tersebut ada sebuah taman kecil, seluas sekitar 5 m x 5 m. Taman itu terawat baik oleh pasangan senior tersebut. Ada tumbuhan yang berasal dari negara tropis, bunga-bunga banyak warna, berbagai jenis rumput, jahe, dan…. tentu saja, …. pohon pisang. Pohon pisang menjadi mahluk yang menjadi pusat perhatian saat itu karena kami datang ke sana karena pohon istimewa itu. Kedua mereka dengan antusias menjelaskan tentang pohon pisang dan tumbuhan lain. Mereka ingin meyakinkan kami paham tentang tanaman itu, sama pahamnya dengan mereka. Untung istrinya bisa sedikit berbahasa Inggris, sehingga langsung ‘direbut’ oleh istri saya. Tinggallah saya dengan suaminya yang hanya bisa bahasa Belanda. Untung ada Zia yang berperan sebagai penerjemah.

photo_2017-07-23_23-38-41Penjelasan-demi-penjelasan yang rinci mengalir deras. Sebuah album foto yang memperlihatkan koleksi tanamaan di sana, termasuk pisang, pun diambil dari dalam rumah. Diceritakan bahwa setiap tanaman punya sejarah. Tibalah di bagian puncaknya, saat sang bapak berkata, “ketahuilah bahwa sebelum ini, di sini ada pohon pisang yang lebih besar,” katanya sambil menunjuk ke pangkal pohon pisang. “Kami sudah panen buahnya dan kami tebang pohonnya,” katanya melanjutkan. Sebagai buktinya beliau memperlihatkan sebuah bekas lobang kecil menandakan sebelumnya di sana ada sebuah pohon lain. Yakinlah kami bahwa itulah bekas pohon pisang.

Karena penjelasan yang super lengkap, tentu cukup memakan waktu. Anak saya yang kecil, Abhiv, mulai terlihat bosan. Dia tidak paham bahasa Inggris dan belum belajar bahasa Belanda. Dia mulai duduk di lantai dan bertanya, “kok lama kali ni?” Sang ibu pemilik rumah tidak kehabisan akal untuk mengendalikan suasana. Dua buah es krim di ambil dari dalam rumah. Anak-anak gembira, dan kami bertahan di sana setengah jam lagi.

photo_2017-07-23_23-38-39Akhirnya kami harus meninggalkan rumah pasangan yang ramah itu. Sebelum pergi, ibu sang pemilik rumah, memberi namanya kepada Jo, mencatat alamat dan meninggalkan nomor telepon. Pesannya, “musim gugur nanti akan muncul beberapa anak pohon pisang yang baru, para sahabat ini datanglah lagi nanti, akan kami siapkan bibit pisang di dalam pot kecil, untuk kalian bawa pulang.”

Bagi saya keramahan seperti itu tidak terlalu asing. Kami pernah tinggal dua tahun di Australia dan bertemu keramahan yang sama dari penduduk asli. Tapi saya tidak berhenti kagum dengan masyarakat-masyarakat maju itu. Mereka hidup tanpa rasa curiga dan ketulusannya yang tinggi. Di Pekanbaru, saya mungkin belum akan sanggup mengundang orang asing, berbeda ras, yang berkumpul di depan rumah saya, menunjuk-nunjuk, untuk masuk dan melihat bagian dalam rumah dan kemudian melibatkan diri dalam percakapan yang menstimulasi kunjungan kedua.

Oleh pasangan pemilik ‘rumah pisang,’ kami dilepas masuk ke dalam mobil dengan senyuman lebar dan lambaian tangan. “Sampai jumpa di musim gugur, katanya.”

Masih Sesat

Edisi tersesat belum berakhir. Tadi Jo sulit menemukan ‘rumah pisang.’ Kali ini dia kesulitan menemukan jalan ke rumahnya. Setelah beberapa kali berbutar-putar, Jo mengenali rumah salah satu kenalannya. Di depan rumah ada dua anak lelaki yang tidak berbaju sedang main semprot-semprotan air. Saat musim panas di Eropa, memang main semprotan air adalah kebiasaan. Di rumah saya, saat hari cerah, saya adalah sasaran tembak anak-anak dengan pistol-pistol air.

Kepada kedua anak lelaki tersebut, Jo menanyakan arah jalan ke rumahnya. Mendengar ada suara-suara di depan, ayah sang anak keluar rumah. Melihat kami orang-orang asing, terjadilah pembicaraan seru. Dengan penuh semangat, ayahnya bercerita bahwa dia pernah ke Danau Toba. Kedua anak-nya juga berusaha mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang mereka tahu. Ada perasaan yang kuat bahwa saya dan keluarga diterima dengan tulus dalam lingkungan seperti itu.

Setelah menunjukkan jalan ‘pulang,’ kami dilepas oleh ayah dan kedua anaknya dengan salaman erat, hangat dan senyuman lebar.





Wierden: (1/3) Pasar Maluku

23 07 2017

Kemarin Sabtu, 22 Juli 2017, untuk kesekian kali (lima atau enam), kami sekeluarga diboyong oleh sebuah keluarga Belanda ke rumahnya di Enter. Seperti biasa, perjalanan selalu menarik. Sebelum ke Enter, kami singgah di sebuah pasar unik. Juga mampir ke beberapa rumah orang Belanda tanpa rencana. Kisah tiga seri kali ini adalah tentang perjalanan tersebut, pasar, dan orang-orang yang ditemui.

Tidak lama setelah waktu sholat zuhur masuk di Enschede, Ibu Jo*****e tiba dengan mobilnya. [Nama beliau tidak ditulis lengkap karena belum minta izin. Selanjutnya akan saya sebut Jo saja]. Jo memang belum mengizinkan kami ke rumahnya naik bus atau kereta api. Katanya, “terlalu lama di jalan.” Jo tidak salah. Mengingat jarak yang hanya 25 km, mestinya bisa dijangkau dalam 30 menit dari rumah kami. Tapi karena Enter adalah sebuah desa, dengan kendaraan umum butuh waktu sekitar 1,5 jam. Memang lebih lama tapi sebenarnya kami tidak keberatan.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada dalam perjalanan. Suasana dalam perjalanan 20 menit tersebut, ketika beralih dari satu kota ke kota lain, satu desa ke desa lain, satu kompleks pemukiman dengan pemukiman lain, memanjakan mata. Kombinasi perumahan, pohon, lapangan, danau, kanal, atau sungai silih berganti, menyuguhkan dominasi hijau yang lembut di mata. Bagi orang dewasa, suasana alami dan kreasi manusia tersebut membuat perjalanan tidak membosankan. Sedangkan bagi anak-anak, suasana yang damai, ditambah hembusan lembut angin musim panas masuk lewat jendela yang sedikit dibuka, adalah syarat sempurna untuk memejamkan mata.

Untitled-3
Suasana perjalanan menuju Wierden (foto: Google Map)

Pasar Maluku

Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di Wierden, sebuah ‘Kabupaten’ di kawasan Timur Belanda. Wierden masih satu Provinsi dengan Enschede, tempat kami tinggal. Nama provinsinya Overijssel. Dalam bahasa Belanda, kabupaten dinamakan Gemeente. Saya sebenarnya ragu apakah gemeente ini sekelas Kabupaten atau Kecamatan di Indonesia? Jika ditinjau dari hirarkinya, posisi Gemeente di bawah Provinsi, sehingga cocok disebut Kabupaten. Namun, dari segi luasnya, hanya seluas Kecamatan di Indonesia pada umumnya.

Keperluan kami singgah di Wierden adalah mengunjungi sebuah pasar yang unik. Pasar Maluku namanya. Diadakan sekali setahun setiap pertengahan musim panas oleh organisasi warga keturunan Maluku yang tergabung di Gereja Injil Maluku/GIM (Molukse Evangelische Kerk) di Wierden. GIM adalah organisasi jaringan gereja yang cukup besar dengan 65 gereja yang tersebar di setiap penjuru Belanda (sumber: http://www.geredjaindjilimaluku.nl/).

Pasar Maluku telah berlangsung lima kali di Wierden sebagai bagian dari Festival Musim Panas di Wierden yang dinamakan Wierdense Zomerfeesten (WIEZO). Kata Jo, di Pasar Maluku akan banyak bertemu orang keturunan dari Maluku Selatan, Indonesia. Sekitar 70 dekade lalu belasan ribu orang dari Maluku Selatan hijrah ke Belanda. Mereka yang saat itu berusia di bawah 15 tahun, kini sudah berusia tua. Konon di antara mereka, generasi pertama yang lahir di Maluku, banyak yang memorinya masih terikat kuat dengan Maluku. Ibarat hidup di dua dunia berbeda, ada yang berharap suatu saat kembali ke Maluku. Bahkan ada yang masih menyimpan kopor dalam keadaan siap diangkat kapan saja kembali ke Maluku.

Generasi kedua, lahir di Belanda. Kebanyakan mereka bicara bahasa Indonesia di rumah. Mereka menyebutnya bahasa Melayu. Generasi kedua telah menjadi orang Belanda sejak lahir, namun tetap tidak terlepas dari pengaruh orang tuanya yang kebanyakan memperkenalkan Maluku dengan baik kepada mereka.

Pertama kali diadakan lima tahun lalu, hanya ada enam stand yang berpartisipasi dalam Pasar Maluku, namun tahun ini jumlahnya lebih 40 stand. Pada 2016, hampir semua aspek dari budaya Maluku ditampilkan, misalnya Sapa Lawan, penampilan penyair Maluku Djodjie Rinsampessy, musik harmoni tampilan lagu Adik-Kaka Patawala, dan sebagainya. Pasar Maluku memang ajang menampilkan budaya Maluku, pulau-pulau yang ada di sana, musik, makanan, dan sebagainya.

photo_2017-07-23_23-38-24Saat tiba di Jalan Appelhofdwarsstraat, Wierden, kami langsung menemukan banyak stand berjejer rapi di pinggir jalan. Orang-orang yang duduk menunggu stand-stand tersebut memang kebanyakan seperti saya, berkulit agak gelap. Mereka memang berbahasa Melayu. Bertemu mereka seperti bertemu orang Maluku di Indonesia saja. Bedanya, mereka juga berbahasa Belanda, saat melayani pengunjung orang Belanda. Gerak-gerik mereka juga seperti orang Belanda tempatan.

Spanduk Pasar Maluku, 2017

Di Pasar Maluku, ada orang menjual alat musik band yang unik, terutama drum-nya. Drum band yang saya ketahui selama ini terbuat dari bahan kulit hewan. Namun yang dijual di Pasar Maluku berbentuk kotak dan semuanya dari bahan kayu (plywood) khusus. Kayunya terbuat dari bahan yang lembut, tapi tidak rusak saat dimainkan. Namanya adalah Cajon, sebuah alat musik perkusi asal Peru yang sering dimainkan mengiringi lagu Jazz. Pemain duduk di atas kotak sambil memukul permukaan depan yang tipis dengan telapak tangan, jari, atau stik. Seperti bermain gendang. Karena tidak akan membeli, maka anak, istri, dan saya mencoba memainkannya di tempat. Hasilnya tidak mengecewakan dan mengundang cukup banyak penonton.

photo_2017-07-23_23-39-02Pada stand-stand lain, banyak dijual pernak-pernik dari Maluku. Ada juga yang menjual kaos dengan tulisan dan gambar dari Maluku, selendang, lukisan dan foto-foto. Seorang perempuan muda menyediakan jasa pijit khas dari Maluku. Ada juga yang menjual buku-buku. Sebagian besar berbahasa Belanda, tapi ada juga yang berbahasa Indonesia.

Mencoba alat musik Cajon
photo_2017-07-23_23-38-57  photo_2017-07-23_23-38-53

photo_2017-07-23_23-38-59 photo_2017-07-23_23-38-29

Lama-lama, hari yang cerah dan banyaknya stand yang ingin dilihat membuat tenggorokan kering dan perut berbunyi. Perburuan makanan dimulai. Cukup banyak makanan khas Maluku dijual di sana. Tentu jangan berharap di sana ada Papeda, ikan kuah pala, nasi lapola, kohu-kohu atau sagu woku komu-komu. Juga tidak akan ada sambal colo-colo atau talam sagu bakar. Semua itu terlalu spesifik untuk komunitas yang sudah puluhan tahun jauh dari tanah kelahiran dan terlalu rumit untuk dimakan di tempat. Tahun depan mungkin ada, siapa tahu? Pilihan saya jatuh ke goreng pisang. Memang bukan khas Maluku, tapi bagi saya yang sudah setahun lebih tidak makan goreng pisang, rugi besar jika dilewatkan. Antri selama setengah jam cukup terbayar melihat pisang-pisang imut masuk minyak panas dan menghasilkan bau yang semerbak.

Karena goreng pisang masih panas keluar dari kuali, tidak bisa langsung dimakan di tempat. Sebelum menutup kunjungan ke Pasar Maluku, kami menyaksikan penampilan lagu-lagu Maluku. Melihat jumlah penonton yang ramai dan menyaksikan interaksi yang mulus antara sesama pengunjung yang berbeda warna kulit, saya berasumsi bahwa Pasar Maluku bukan lagi hal yang asing bagi penduduk Wierden.

Untuk siapa pun yang punya memori tentang Maluku, Pasar Maluku adalah even yang cukup bagus untuk mengenang atau melepas rindu ke tanah Maluku Selatan. Lagu ‘Parcuma,’ yang mendayu-dayu mungkin saja membuka lebar kenangan sebagian generasi pertama Maluku yang hadir di sana. Nada lagu itu sesekali turun, rendah sekali, membawa emosi pelantun dan pendengar masuk jauh ke relung hati yang paling dalam. Lagu yang mengisahkan sepasang kekasih yang terpisah jauh, itu cukup powerful untuk membangkitkan emosi siapapun yang punya seseorang istimewa tinggal di Maluku sana. Saat tiba-tiba nadanya naik melengking, seolah sebuah gunung api besar, yang menyimpan gelombang lava yang selama ini tersumbat di dalamnya, tiba-tiba menyembur ke atas seketika, menumpahkan segala isinya ke luar, bersamaan. Memang sangat emosional.

Kami mengakhiri kegiata di Wierden dengan makan es krim. Anak-anak riang gembira. Untuk yang tertarik dengan budaya Maluku, inilah pasar yang perlu dikunjungi. Tahniah untuk penyelenggara. Tahun depan, saya ingin datang lagi.

 





Tak perlu antri untuk mendengar “bapak tidak di tempat”

3 03 2017

Salah satu syarat untuk menyewa rumah di Belanda adalah menyerahkan income statement alias surat pernyataan penghasilan. Dalam bahasa belanda dinamakan inkomensverklaring. Income statement ini dikeluarkan oleh Kantor Pajak (belastingdienst).

Membayangkan berurusan dengan kantor pajak mungkin yang terlintas pertama adalah antrian yang panjang, pejabat (Bapak) tidak di tempat dan isi formulir berlembar-lembar. Yang selalu ada biasanya mempersiapkan foto copy NPWP, foto copy KTP, dan sebagainya.

Bayangan seperti itu juga yang memenuhi pikiran saya sehingga hampir sebulan menunda pengurusan. Tapi akhirnya harus dilakukan juga. Karena belum tahu prosedurnya, saya mencari nomor telepon kantor pajak dari internet. Saya telepon mereka dan menyampaikan maksud meminta income statement untuk saya dan istri. Petugas di seberang telepon menanyakan social security number atau burgerservicenummer (BSN) dalam dalam bahasa Belanda. BSN ini mirip dengan nomor KTP di Indonesia.

Setelah memberikan BSN saya dan istri, petugas di telepon mengatakan surat yang saya minta akan tiba di rumah dalam lima hari. Lalu dia mengucapkan salam, mengucapkan terimakasih dan menutup telepon.

Saya termenung. Mengapa segampang itu? Mana antrian panjangnya? Bukankah bapak sibuk dan mungkin tidak di tempat? Saya paham dan tidak keberatan kok. Mengapa tidak ada formulir yang harus diisi dan tandatangani? Mengapa saya tidak diminta datang ke kantor pajak? Mengapa tidak ada dokumen yang harus saya serahkan?

Mengapa? Karena mereka mau menerapkan administrasi sederhana, online dan terintegrasi.





Kompor Rusak Langsung Diganti

7 11 2016

Saat masih di tempat kerja, saya mendapat pesan whatsapp dari istri di rumah. Katanya, sebuah tombol kecil di kompor listrik di rumah tiba-tiba lepas dari tempatnya dan terpental ke atas. Tidak tahu apakah kompornya rusak atau tidak. Tapi istri saya jadi ragu untuk menyalakan kompor lagi.

Segera saya telepon kantor pengelola perumahan karyawan universitas menyampaikan hal tersebut. Sebelum menelepon saya sudah membayangkan berbagai kesulitan gegara tidak bisa memasak. Juga membayangkan uang yang mungkin harus dikeluarkan karena kejadian itu. Tapi tanpa disangka saya ditawarkan kompor baru, sebagai cadangan sebelum besok kompor saya diperbaiki atau diganti baru.

Kurang 20 menit kemudian, kompor sudah sampai di rumah. Saat serah terima tidak ada pertanyaan menyelidik seperti: mengapa kompornya rusak? Siapa yang merusakkan? Bagaimana kronologi kejadiannya?

 
Saat serah terima kompor juga tidak ada diminta menunjukkan apalagi foto copy tanda pengenal saya. Juga tidak diminta menandatangani tanda terima barang. Juga tidak diminta menandatangani surat pernyataan di atas materai bahwa saya bersedia mengembalikan lagi kompor sementara ini setelah kompor lama diganti/diperbaiki, atau pernyataan bahwa saya bersedia mengganti kerugian jika pengaduan saya tidak benar adanya.

Serah terima barang berlangsung tanpa pertanyaan, tanpa pernyataan, tanpa biaya.

Karena hari sudah malam, maka perbaikan/penghantian kompor lama akan dilakukan besok. Tapi untuk malam ini kami masih bisa makan. Kompor lama berdampingan dengan kompor baru.


Sebuah pelayanan yang mengagumkan.

untitled-2

 





Ketinggalan Barang Berharga di Dalam Bus

15 10 2016

Pernahkah anda naik bus kota lalu barang bawaan anda tertinggal di dalam bus? Apakah barang milik anda kembali dalam keadaan utuh?

Pertanyaan di atas tentu jawabannya bervariasi. Cukup besar kemungkinan barang anda kembali utuh, karena di luar sana banyak orang-orang jujur dan baik. Namun mungkin juga ada kemungkinan lain, tergantung nilai barang yang tertinggal dan dibawa oleh bus kota. Jika yang tertinggal adalah sebuah tas tua berisi buku, mungkin tinggi harapan anda bahwa tas dan isinya tidak akan kemana-mana saat anda mencegat bus itu lagi. Namun jika yang tertinggal adalah sebuah tas yang cukup bagus dan di dalamnya ada barang elektronik yang cukup bagus, mungkin peluangnya lebih kecil.

Jumat, 15 Oktober 2016 sore, anak saya pulang sekolah menggunakan bus kota. Saat turun di halte bus dekat rumah dan bus yang ditumpanginya telah berlalu, dia baru sadar bahwa tas-nya tertinggal di dalam bus. Tentu saja timbul kepanikan karena di dalam tas itu terdapat buku-buku dan peralatan sekolah yang tidak ternilai harganya. Ada juga sebuah handphone dari merk bagus yang harga second hand nya jutaan rupiah.

05Bus kota di Enschede. Foto: https://c2.staticflickr.com/6/5487/11195085845_51d0a8a646_b.jpg

Salah satu pilihan tindakan adalah menunggu bus yang sama kembali lewat di tempat yang sama, mencegatnya dan mencari tas di dalam bus. Tapi di Belanda tentu tidak mudah melakukan itu. Pertama, mencegat bus yang lewat, lalu mencari sesuatu di dalamnya di depan banyak penumpang lain, membuat mereka menunggu dan bertanya-tanya, tentu bukan hal yang menyenangkan. Kedua, tidak ada jaminan bus yang sama akan kembali lewat di tempat yang sama karena pertukaran trayek sopir dan bus sering dilakukan.

Saya tidak terlalu khawatir saat ditelepon anak saya memberitahu kejadian tersebut. Saya percaya di negara ini amat kecil kemungkinan orang tertarik pada barang milik orang lain, apalagi di tempat umum seperti itu. Sopir bus apalagi, dia terikat dengan aturan integritas dan nilai moral individu sehingga kecil kemungkinan menggelapkan barang di dalam bus yang dikendarainya. Saya menceritakan ulang cerita anak saya di telepon kepada teman sekantor, dan dia berkata, “Tas dan isinya akan kembali dalam keadaan utuh. Ini Eropa, kawan.”

Lalu saya mengirim email ke Syntus, perusahaan bus tersebut. Sekitar 30 menit kemudian email saya dibalas dan saya diminta membuka bagian “Lost and Found” pada websitnya. Disebutkan di dalam emailnya bahwa daftar barang-barang yang tertinggal di dalam armada Syntus (bus dan kereta api) dapat dilihat di website mereka, lengkap dengan fotonya. Saya buka halaman tersebut. Benar. Foto tas anak saya sudah muncul di sana. Artinya tidak lebih 30 menit setelah kejadian, perusahaan bus sudah mencari pemilik tas yang ketinggalan tersebut.

03Email balasan dari perusahaan bus Syntus.

02Tampilan barang-barang tertinggal di bus/kereta api Syntus.

Foto barang yang hilang tidak ditampilkan lengkap. Untuk bisa mengambil barang tersebut, saya harus membuktikan bahwa itu milik anak saya. Saya harus bisa menyebutkan ciri-ciri atau isi tas yang tidak dimunculkan di foto. Lalu saya diminta meninggalkan alamat email.

Tidak lama kemudian, saya mendapat pesan di bawah ini, yang artinya, “Kami sangat senang barang milik anda telah ditemukan. Silahkan datang ke alamat ini untuk mengambilnya.”

04Konfirmasi bahwa barang yang hilang sudah bisa diambil.

Selanjutnya, kita tinggal memilih apakah akan mengambil barang ke alamat yang ditentukan atau minta barangnya diantar ke alamat kita. Untuk jasa antar alamat, pemilik barang dikenai biaya pengantaran yang cukup murah. Atas nama penghematan, saya memilih datang sendiri mengambil karena jaraknya dekat.

Teman-teman. Jika anda mengalami hal yang sama, apakah anda punya harapan besar barang anda akan didapatkan kembali? Apakah anda bisa berharap bantuan dari perusahaan bus di kota anda untuk mendapatkan bawaan anda kembali, misalnya dengan mengirim email kepada mereka? Saya percaya bahwa anda bisa berharap pada perusahaan bus di kota anda dan barang milik anda kembali dalam keadaan utuh.

untitled-2





Kamar Mandi dan Toilet Pun Dibersihkan Kampus

18 08 2016

Hari ini saya mendapat email menarik dari pengelola akomodasi mahasiswa di Universitas Twente. Email ini menginspirasi saya untuk menulis tentang pentingnya memasukkan indikator kepuasan mahasiswa ke dalam metode penentuan ranking perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Begini emailnya:

On Wednesday August 24th of August, 2016 the company ‘namaperusahaan’ will perform the cleaning of the showers and toilets. Given the importance of the monthly cleaning, we will provide access with a spare key to the company ‘namaperusahaan’ in your absence. Please make sure the toilet and shower are as empty as possible. If you do not agree, I urge you to send me an email. Thanks in advance for your cooperation.”

Poin penting di dalam email tersebut adalah: pihak pengelola perumahan mahasiswa menyampaikan bahwa utusan mereka datang ke rumah mahasiswa untuk membersihkan kamar mandi dan toilet.

Bulan Agustus 2016, Kemenritek Dikti kembali mengeluarkan ranking universitas terbaik di Indonesia. Sebanyak 12 perguruan tinggi, 10 di Pulau Jawa dan 2 di luar Pulau Jawa, mendapat posisi paling atas. Selamat atas capaian ke-12 perguruan tinggi, tentu tidak terlepas dari kerja keras yang telah dicurahkan selama ini.

Menurut Menristekdikti, M. Nasir, lima indikator digunakan untuk menentukan peringkat perguruan tinggi terbaik, yaitu: kualitas dosen (12 persen), kecukupan dosen (18 persen), kualitas manajemen (30 persen), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10 persen), dan kualitas kegiatan penelitian (30 persen).

Indikator kualitas dosen misalnya mencakup jumlah dosen berpendidikan S3, jumlah dosen dalam jabatan rektor kepala dan guru besar serta jumlah total dosen. Kualitas manajemen diukur dengan akreditasi institusi, jumlah program studi terakreditasi A dan B serta jumlah Program Studi. Kualitas kegiatan kemahasiswaan mencakup jumlah capaian emas, perak, dan perunggu pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan lomba internasional. Sedangkan kualitas kegiatan penelitian melingkupi capaian kinerja penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) serta jumlah dokumen terindeks scopus dan dosen tetap.

Dua belas perguruan tinggi terbaik di Indonesia tahun 2016 adalah: ITB, UGM, UI, IPB, Universitas Brawijaya, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Andalas, dan Universitas Sebelas Maret.

Salah satu faktor penting dalam kesuksesan pendidikan yang belum terlihat dalam kriteria-kriteria di atas adalah kualitas pelayanan, baik kepada mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat. Tingkat kepuasan pada pelayanan, telah dimasukkan menjadi slaah satu indikator penting dalam rangking QS Stars. http://www.iu.qs.com/services/qs-stars/qs-stars-methodology/.

Sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan tinggi kita menerapkan pelayanan terbaik kepada semua warga kampus. Kita tidak jarang mendengar bagaimana mahasiswa sangat kecewa dengan cara dosen mengajar dan membimbing; tugas yang tidak dikoreksi oleh dosen; pelayanan administrasi yang menguras tenaga, waktu dan emosi; masalah yang lebih sering tidak ada solusi; staff kesulitan mengurus pangkat, dan sebagainya. Sementara di tempat lain universitas bahkan sudah berpikir bahwa membersihkan kamar mandi dan toilet di akomodasi mahasiswa mereka adalah salah satu tugas mereka.

untitled-2