Obama vs Yang Lain, tentang green economy

12 06 2016

Ini kata Barrack Obama:

“The shift to a cleaner-energy economy won’t happen overnight, and it will require tough choices along the way. But a low-carbon, clean-energy economy can be an engine of growth for decades to come. America will build that engine. America will build the future, a future that’s cleaner, more prosperous and full of good jobs.”

obama green eco
Foto: The White House

Calon pemimpin kita bilang apa?





Setelah Jerman, Portugal Buktikan 100% Energi Terbarukan Bisa

12 06 2016

SELAMA EMPAT HARI, SELURUH KEBUTUHAN LISTRIK DI PORTUGAL DISUPLAI OLEH ENERGI TERBARUKAN

Setelah beberapa minggu lalu Jerman mencatat rekord 100% kebutuhan listriknya disuplai oleh energi terbarukan, kali ini Portugal juga berhasil. Selama empat hari, pembangkit energi terbarukan di Portugal menghasilkan listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di seluruh Portugal.

portugalRE
Foto: theguardian.com

Semakin banyak bukti bahwa energi terbarukan bukanlah mimpi aneh dari orang aneh di siang bolong, sebagaimana yang sering dicerminkan pembuat kebijakan di sebuah negeri lain. Ini adalah realita, ladang bisnis yang nyata, dan capaian telnologi dari negara kuat dan punya visi yang didukukung dengan kebijakan yang masuk akal.





JERMAN BUKTIKAN 100% ENERGI TERBARUKAN BISA

12 06 2016

Senin, 16 Mei 2016 pembangkit listrik barubara besar ditutup di Jerman untuk sementara. Maka Jerman mencatat hari itu bersejarah karena 100% kebutuhan listriknya dihasilkan dari energi terbarukan.

GET100-1
Gambar: Twitter UN Climate Action

Di saat yang sama, di sebuah negara yang energi mataharinya lebih bagus dibanding Jerman, orang sedang risau karena proyek-proyek pembangkit listrik batubaranya tertunda. Di negara itu orang masih sibuk mencari fakta bahwa energi matahari itu mahal dan hanya dibangun jika terpaksa.

GET100-2
Gambar: Twitter UN Climate Action

Jika fakta yang dibuktikan Jerman tidak juga membuat negara itu sadar, maka sekali negara itu membuktikan dirinya sebagai negara yang suka terlambat membuat keputusan baik. Suatu hari nanti menjadi penonton yang dikelilingi banyak pemain sudah cukup bagus bagi negara itu.





[ASAP, SUMUR KERING, LISTRIK PADAM] dan [SAWIT] dan [RIAU]

31 03 2016

Tahun ini mungkin puncak derita rakyat Riau (mungkin juga Kalimantan, Jambi dan Sumsel). Sejak 18 tahun terakhir asap dari pembakaran hutan dan lahan menjadi langganan tetap, setiaaa sekali… menggantikan udara Riau yang bersih dengan abu (particulate matters). Sedangkan manusia yang tinggal Riau masih menggunakan paru-paru yang sama, tidak berubah menjadi berbahan otot besi dan urat kawat.

Tahun-tahun lalu, kerinduan luar biasa pada udara bersih biasanya digantikan senyuman riang gembira rakyat Riau saat hujan datang memadamkan api, lalu rakyat Riau yang pemaaf melupakan derita hingga tahun depan menjelang, dengan kisah yang sama. Kalaupun ada yang konsisten tetap berjuang untuk perbaikan permanen, suara mereka tenggelam dalam hembusan isu yang datang dari segala penjuru bahwa pelaku pembakaran bukanlah perusahaan, tetapi warga biasa; “ayah, anak, ponakan, paman, atau adik kalian juga, katanya.”

Tahun ini nampaknya rakyat Riau memilih untuk sesekali muak daripada terus-menerus memberi maaf. Sungguh, tak ingin terjadi lagi di tahun-tahun menjelang. Tahun ini mulai terbongkar sebagian fakta; ternyata jutaan orang dikorbankan, disalai, untuk satu tujuan, yaitu memudahkan mereka yang sudah kaya raya untuk menjadi semakin kaya raya. Inikah ciri ekonomi kapitalis itu?

Saat tulisan ini dibuat, kondisi udara di Pekanbaru berstatus BERBAHAYA.

Mengapa ‘puncak derita’? Karena tahun ini asap tidak hadir sendiri ke Riau. Dia mungkin melihat Riau adalah kawasan yang lucu dan menggemaskan saat menderita dan megap-megap bernafas asap, sehingga asik juga dijadikan hiburan. Tahun ini asap datang bersama dua koleganya, yaitu sumur kering dan pemadaman listrik bergilir.

Tulisan ini mencoba menghubungkan asap, kekeringan air dan pemadaman listrik bergilir dengan satu sektor, yaitu perkebunan kelapa sawit. Jujur, ulasan dibuat bermodalkan ilmu yang sedikit, jadi anda bebas menambahkan dan meluruskan, sebab nuansa emosinya lumayan kental.

SAWIT

Kelapa sawit telah menjadi primadona kedua di Riau setelah minyak bumi. Karena hasil kelapa sawit langsung dinikmati rakyat, maka kelapa sawit telah menjadi anugerah ekonomi luar biasa bagi rakyat ke level yang paling bawah. Ini berbeda dengan minyak bumi yang dinikmati oleh elit (terutama Jakarta-nya NKRI) dan hanya sedikit menetes kepada rakyat dalam bentuk CSR. Terima kasih kelapa sawit.

Bagi pemerintah kelapa sawit juga menjadi sektor yang dibanggakan, disebut-sebut di mana-mana dengan suka cita. Sampai akhirnya dimunculkan istilah populer “Riau adalah: minyak di bawah minyak di atas.” Hebat.

Tapi sebenarnya kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup sudah lama mengingatkan tentang ‘bom waktu’ yang telah dipicu oleh sawit. Kini bom waktu itu sudah meledak sebagian. Di antaranya: sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Bayangkan padang pasir di Arab pindah ke Riau, demikian ilustrasi bebasnya.

Selain itu, sawit adalah tanaman yang rakus air sehingga ratusan hektar dengan deretan pohon sawit dewasa bisa mengeringkan sungai di dekatnya.

Masih bisa kita tambah daftarnya, misalnya kerugian karena mengubah hutan alam menjadi kebun sawit, konflik (vertikal, horizontal) dll.

Intinya: kebanggan Riau ini bukanlah tanpa cacat.

ASAP

Nah, asap durjana ini menurut berita banyak terkait dengan pembersihan lahan untuk diubah menjadi kebun sawit. Hari ini di Riau status Berbahaya. Di Kalimantan kabarnya 6 kali lipat di atas Bahaya. Derita asap ini mungkin ada peran dari sektor sawit.

KEKERINGAN

Berjalanlah anda sekarang ke penjuru Riau. Kalau tidak sempat teleponlah kenalan anda di sana. Amati atau tanyakan bagaimana kondisi sumur mereka sekarang? Maka anda akan mengetahui saat ini kekeringan terjadi di mana-mana. Sumur-sumur tidak berair. Orang mengemis air kepada tanah.

Mengapa kini sumur-sumur lebih gampang kering? Mungkin sawit juga berperan. Kawasan penyimpan air kini semakin sempit. Dulu sebelum era sawit, saat hujan turun, sebagian air hujan akan disimpan di dalam tanah untuk dijadikan cadangan suplai air pada musim kemarau. Pohon punya kemampuan menyimpan air. Begitulah desain Tuhan untuk kebaikan manusia. Namun sejak era sawit, saat hujan datang air tidak lagi masuk ke dalam tanah sehingga lebih sering terjadi banjir atau genangan air. Sawit tidak punya kemampuan menyimpan air sebaik pohon lain. Saat kemarau datang, sumur-sumut kering karena tidak ada cadangan air di tanah. Begitulah campur tangan manusia atas desain Tuhan membawa derita.

Derita kekeringan mungkin ada juga peran sektor sawit.

PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR

Saat ini sering muncul status teman di FB seperti, “habis sudah kita karena asap, lalu terbitlah pemadaman listrik bergilir.”

Salah satu sumber listrik utama di Pekanbaru adalah PLTA Koto Panjang. PLTA sangat mengandalkan air yang cukup di bendungan untuk menjaga stabilitas produksi listrik. Tidak ada masalah saat musim hujan. Namun kita telah menjadi saksi setiap musim kemarau datang, pemadalam listrik bergilir pun menjelang.

Mengapa terjadi? Karena level air di bendungan PLTA turun, sehingga produksi listrik tidak bisa optimal. Sebagian kawasan harus dipadamkan listriknya. Penurunan level air di bendungan PLTA mestinya tidak terlalu signifikan jika kawasan penyimpan air masih cukup. Namun kawasan hutan yang mestinya menyimpan air untuk PLTA di musim kemarau kini telah berubah menjadi kebun sawit yang tidak punya kemampuan menyimpan air.

Pemadaman listrik bergilir pun mungkin ada peran sektor sawit.

LALU BAGAIMANA?

(1) Stop izin untuk penambahan lahan sawit, walaupun hanya 1m2.
(2) Tinjau ulang izin replanting untuk menghindari penggurunan.
(3) Pemerintah mesti lebih cerdas menciptakan lapangan ekonomi lain untuk rakyat, jika tidak ada ide sebaiknya tarik lagi formulir pendaftran menjadi anggota Dewan, Bupati, Walikota, Gubernur; tandanya anda tidak berbakat membawa rakyat Riau menjadi lebih baik.
(4) lanjutkan gerakan menanam 1 juta pohon peninggalan SBY, dan prioritaskan ke kawasan pencadangan air.
(5) lanjutkan tindakan hukum bagi para pembakar hutla, tangkap pembakarnya, otaknya, bekingnya, dan orang yang menerim setorannya (jika ada).
(6) Pemerintah pusat harus memberi kompensasi pada Riau atas eksploitasi SDA puluhan tahun yang keuntungannya jauh lebih banyak dibawa ke Jakarta. Salah satu contohnha, jadikan pendidikan Dasar, Mengengah, dan Tinggi di Riau menjadi yang terbaik di Indonesia. Karena kami percaya pendidikan yang baik akan menyelamatkan masa depan kami. Pendidikan yang baik akan menghindarkan kami dari perilaku tidak adil dan perilaku mengekspoitasi orang seperti yang kami alami sejak bergabung manjadi bagian dari Indonesia ini.

Itulah derita Riau yang bertubi-tubi, dengan intensitas yang setiap tahun semakin tinggi.

Negeri yang menyumbang bahasa pada negara ini. Negeri yang membuat Indonesia mendapat posisi penting di kalangan OPEC (negara pengekspor minyak). Negeri yang pernah dibujuk rayu dengan diberi julukan negeri petrodolar padahal faktanya petro-nya ada di Riau, dolarnya pergi ke Jakarta. Negeri yang menghasilkan jutaan dolar untuk negara dari sawit. Negeri yang paling banyak menyuplai kebutuhan kelapa negara ini. Tapi inilah negeri yang dibiarkan itu.

Akhirnya apa yang tersisa di Riau? Hanya bahasa. Hanya bahasa. Maka kami akan terus bicara.





MUSIM PANAS, MUSIM DINGIN, DERITA YANG SAMA

31 03 2016

MUSIM PANAS:
Api di hutan dan lahan, asap menyelimuti negeri masuk ke paru-paru, tanah kerontang, air sumur kering, orang bingung hendak mandi-mencuci-minum, tumbuhan meranggas, sekolah tutup, debu tebal menutup atap dan jendela rumah, orang berteriak.

MUSIM HUJAN:
Banjir di mana-mana, tanaman mati saat siap dipanen, air masuk ke kamar tidur menyisakan lumpur hingga ke dapur, sekolah libur, jalan putus dan hancur, orang berteriak.

Indonesia, sebuah negeri yang konon tongkat kayu jadi tanaman, lautan air susu, adalah negeri dua musim; musim panas dan musin hujan. Tidak sedikit di antara kita yang berteriak, di kedua musim, karena hidup tak lepas dari bencana.

Pertanyaannya: apakah ini natural disaster (bencana alam) atau antropogenic disaster (bencana buatan kita, manusia, homo sapien, intelligent species)? Apakah kita sudah sampai di ujung asa dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa?





NAIKKAN HARGA KANTONG PLASTIK MENJADI RP. 5 RIBU

31 03 2016

Tetiba saya terbangun tengah malam, lebayy…Terusik karena begitu hebohnya penentangan pada tindakan ritel yang memungut Rp. 200 (termasuk pajak) untuk kantong plastik. Di beberapa kota, Pemko nya didesak oleh DPRD nya untuk memanggil ritel yang dianggap nakal ini dan diberi warning. Di negeri ini semut berpapasan pun bisa jadi jualan politik.

Mengapa ditentang? Bukankah kebijakan itu baik untuk mengurangi penggunaan kantong plastik? Buktinya kita merasa berat jika harus membayar kan? Bukankan sejak masih imut-imut di bangku SD kita sudah sepakat bahwa plastik tidak terurai oleh tanah sehingga sangat buruk dampaknya untuk lingkungan kita? Penentangan menurut saya adalah supaya kita tetap bisa menggunakan kantong plastik secara bebas dan gratis.

Saya kok sepakat dengan sebagian tindakan ritel itu. Saya percaya bahwa hal itu bukan hanya ‘modus’ untuk meningkatkan keuntungan. Jika itu motifnya, mereka tinggal sisipkan saja harga kantong plastik Rp. 200 ke harga salah satu barang yang kita beli. Misalnya harga sabun Rp. 2000, mereka tambah menadi Rp. 2200, tanpa kita sadari di dalamnya sudah masuk harga kantong plastik. Saya sepakat karena mereka sengaja menuliskan harga kantong plastik supaya kita tahu benda itu tak gratis lagi, supaya kita merasa berat membayarnya, supaya kita tidak minta kantong plastik lagi walaupun hanya membeli sebutir sabun mandi. Bagi saya, ritel, sengaja atau tidak, sedang melangkah maju untuk berkontribusi pada lingkungan hidup.

225
Sumber gambar: http://ceritaanda.viva.co.id/news/read/740019-seberapa-efektifkah-kebijakan-kantong-plastik-berbayar.

Jadi, daripada sibuk menentang penetapan harga kantong plastik, bagaimana jika kita bawa kantong sendiri saat belanja dan mulai mengurangi koleksi kantong plastik sampai berkotak-kotak di dapur. Saya sendiri tidak sudi membeli kantong plastik.

Lingkungan ini kita gunakan bersama maka setiap kita punya kewajiban untuk menjaganya. Banyak cara kita menyadari hal ini. Mungkin penetapan harga kantong plastik adalah salah satu caranya.

Tetapi saya tidak setuju jika harga kantong plastik Rp. 200. Saya setuju jika harganya dinaikkan menjadi Rp. 5.000. Supaya pembeli semakin protes dan kemudian semakin ogah membawa kantong plastik ke rumah.

Bye bye kantong plastik.





Program Studi Energi Terbarukan (Renewable Energy Education)

17 01 2009

Pertumbuhan lapangan kerja di bidang energi hijau (green energy) dalam satu dekade balakangan sungguh pesat dan diperkirakan makin makin tinggi di masa depan. Hingga 2030, diperkirakan sekitar 20 juta lapangan kerja baru di bidang energi terbarukan akan tersedia (UNEP, 2008). Silahkan baca tulisan yang lebih detail tentang topik ini di sini.

Pertumbuhan industri energi berkelanjutan (energi terbarukan dan efisiensi energi) disambut antusias oleh perguruan tinggi (PT) dunia. Kini, jumlah PT yang membuka program-program studi di bidang renewable energy bertambah.

Berikut adalah beberapa universitas yang saya ketahui memiliki program studi dan riset di bidang renewable energy. Terdapat juga link ke website program studi jika anda berminat menelusuri lebih jauh.

UIN Suska Riau
Studi energi di UIN Suska Riau berada pada Konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro. Konsentrasi Energi dibuka untuk melahirkan Sarjana Teknik (S1) yang mampu menganalisis dan merancang sistem energi baik konvensional, maupun energi terbarukan. Mahasiswa konsentrasi Energi dapat memilih salah satu atau mengkombinasikan empat peminatan, yaitu (1) sistem tenaga listrik; (2) energi terbarukan; (3) manajemen dan konservasi energi; dan (4) kebijakan energi.
Mahasiswa konsentrasi energi di UIN Suska Riau tidak semata-mata belajar aspek teknik dari energi, namun juga aspek sustainabilitas lain yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. Harapannya adalah, bahwa insinyur enrgi lulusan UIN Suska Riau tidak akan ‘menambah’ masalah melalui bidang energi, tetapi menjadi bagian dari solusi masalah energi yang ada. Para dosen, alumni dalam dan luar negeri, melakukan riset-riset seputar energi, terutama melalui Pusat Studi Energi (EnReach). Sepanjang pengetahuan kami, konsentrasi energi di UIN Suska Riau yang mulai menerima mahasiswa tahun 2010 adalah yang pertama di Indonesia untuk tingkat S1.
Silahkan lihat kurikulumnya di sini.

Murdoch University, Western Australia

—- Energy Studies Program
—- Research Institute of Sustainable Energy

Solar Energy Reserach Institute, Universitas Kebangsaan Malayisa

Florida Solar Energy Centre, University of Central Florida

Energy Technology, School of Engineering Science, University of Southampton, UK.

Strategic Energy Institute, Georgia Institute of Technology, USA.

McMaster Institute for Energy Studies, McMaster University, Canada.

Institute of Energy Technology, Aalborg University, Denmark

Institut fur Solare Energieversorgungstechnik, Kassel University, Jerman.

National Library for Sustainable Energy, Technical University of Denmark

Centre of Renewable Energy System Technology, Loughborough University, UK.

Clean Energy Technology, The University of Texas-Austin, USA.

Renewable and Sustainable Energy Initiative, University of Colorado-Boulder, USA

Solar Energy, Australian National University

School of Photovoltaic and Renewable Energy, University of New South Wales, Australia

Renewable and Appropiate Energy Laboratory, University of California-Berkeley, USA.

The Centre for Energy Efficiency and Renewable Energy, University of Massachusetts, USA.

Centre for Energy, University of Newcastle, Australia

Power Engineering Research Laboratory, Mc Gill University, Canada

Solar Energy Laboratory, University of Wisconsin-Madison, USA

Institute for Energy System, Edinburgh University

Ada yang mau menambahkan daftar ini? Silahkan isi di from komentar di bawah.

Di bawah ini beberapa foto kagiatan perkuliahan dan fasilitas sistem energi terbarukan di universitas tempat saya belajar energi terbarukan, Murdoch University Western Australia.

196

Salah satu fasilitas riset off-grid power system di RISE – Murdoch Unversity (Foto: Anonymous)

1971

Fasilitas riset snergi surya, energi angin, dan beberapa aplikasi seperti solar pump di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198Solar Taxi berkunjung ke Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Fasilitas praktikum pemanas air surya (solar water heater) di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

198

Fasilitas riset Hydrogen Fuel-Cell di RISE – Murdoch University (Foto: Anonymous)

199

Bus berbahan bakar Hydrogen Fuel-Cell. Salah satu hasil riset Murdoch University (Foto: Anonymous)

200

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

201

Mahasiswa Murdoch University di bawah bimbingan Dr. August Schlapfer memasak menggunakan kompor matahari (Foto: Anonymous)

solar-cook05

Saya bersama teman-teman melakukan praktikum solar cooking (memasak dengan energi matahari) (Foto: kunaifi)

202

Di fasilitas RISE – Murdoch University ini mahasiswa mengamati karakteristik berbagai jenis solar cell. Di dalam bangunan berbentuk kotak di belakang PV array mahasiswa dapat membuat tiruan intensitas cahaya matahari yang mencapai Bumi (Foto: Anoymous)

191

Dengan fasilitas ini, RISE – Murdoch University melakukan pengujian peralatan energi terbarukan (misalnya inverter) sesuai standar internasional (Foto: RISE)

187

PV Array simulator di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

188

Panel-panel sistem energi terarukan di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

189

Battery storage array di RISE – Murdoch University (Foto: RISE)

190

Sebagian instrumen pengukur cuaca (intensitasradiasi matahari, kecepatan angin, arah angin, kelembaban, tekanan udara, dll) di RISE-Murdoch University (Foto: RISE)

194

Salah satu PV system di RISE-Murdoch University yang tersambung dengan jaringan listrik lokal (Foto: RISE)

203

Untuk mendukung riset energi terbarukan, Murdoch University memiliki stasiun meteorogi sendiri yang dapat diakses secara online di wwwmet.murdoch.edu.au