Rekor Baru, Suhu Bumi Paling Panas April 2016

12 06 2016

“World temperatures are the highest they have ever been.

This April was the hottest on record globally. It’s the seventh record breaking month in a row, and that’s having a massive effect on ecosystems across the globe. When will world leaders tackle the Paris Climate Summit goal of restricting the rise in global temperatures to 1.5C?” (The Guardian, 17 Mei April 2016).
Simak videonya di bawah ini.
Advertisements




NASA: Suhu Harian di Indonesia 40 Derajat pada tahun 2100

23 06 2015

Sebagaimana dilaporkan oleh National Geographic Indonesia, sebuah studi yang dilakukan oleh NASA memperkirakan bahwa “suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 nanti bisa mencapai 40 derajat Celcius.”

Perkiraan tersebut disimpulkan dari analisis dataset Earth Exchange Global Daily Downscaled Projections (NEX-GDDP) oleh NASA. Data tersebut berisi informasi historis suhu sejak 1950 dilengkapi dengan skenario emisi CO2 selama beberapa puluh tahun ke depan.

Dua skenario dihasilkan dari studi tersebut, yaitu skenario emisi rendah dan skenario emisi tinggi. Skenario emisi rendah menghasilkan estimasi suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 berkisar 30 – 35 derajat Celsius. Sedangkan dengan skenario emisi tinggi antara 35 – 40 derajat Celsius.

Bulan-bulan paling panas akan terjadi dari Juli hingga Oktober di mana suhu bisa di atas 40 derajat Celsius.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, suhu harian rata-rata kawasan pantai di Indonesia adalah 28°C, pedalaman dan pegunungan rata-rata 26°C, dan gunung tinggi rata-rata 23°C (Sumber: Weather Online).

Estimasi tersebut tidak hanya akan menimpa Indonesia, tetapi juga beberapa negara lain seperti Afrika Utara, India, dan kawasan khatulistiwa di Amerika Selatan yang akan mengalami suhu harian di atas 45 derajat Celsius pada musim panas. Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, pada tahun 2015 ini gelombang suhu panas ekstrim telah menerjang India dan menelan korban lebih 2.000 orang meninggal duni akarena kepanasan (Sumber: CNN Indonesia). Saat artikel ini ditulis, kejadian serupa sedang berlangsung di Pakistan. Sebanyak 450 orang meninggal dunia karena suhu tinggi mencapai 45 derajat Celsius di Karachi (Sumber: Riau Pos).

Informasi selengkapnya tentang estimasi suhu global tersebut dapat dilihat pada http://climateinternational.org/#map.

NASA_warmingFoto: http://climateinternational.org/#map

Kawasan dengan suhu rata-rata di atas 40 °C berada di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Kuwait dan Ahwaz adalah dua kota di Teluk Persia yang memiliki bulan-bulan dengan suhu rata-rata harian di atas 46 °C. Selama periode 1970-2000 kota Ahwaz mengalami tiga kali suhu 52 °C – 54°C . Di Irak bagian Selatan, suhu mencapai 44,8 °C (Sumber: http://www.currentresults.com/Weather-Extremes/hottest-cities-in-the-world.php).

Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau juga mengalami peningkatan suhu. Sebagaimana diberitakan Riau Pos (23/06/2015), berdasarkan data BMKG, awal Ramadhan 2015 disongsong oleh suhu 31,5 sampai 34,5 derajat celcius di Pekanbaru. Dari BPS Riau, suhu rata-rata di Pekanbaru telah naik dari 34,6 °C pada tahun 2208 menjadi 35,1 °C pada tahun 2012.

Prediksi NASA untuk Indonesia di atas menambah literatur bahwa pemanasan global dan perubahan iklim sedang berlangsung. Kelestarian Bumi dan segala penghuninya berada di tengah resiko besar. Langkah-langkah nyata untuk mengurangi pemanasan global tidak bisa ditunda lagi. Caranya adalah dengan mengurangi pembakaran energi fosil yang menghasilkan banyak emisi CO2 dan memelihara hutan.

Bangsa Indonesia perlu beralih ke energi bersih. Alasan bahwa teknologi energi bersih masih mahal dapat dipahami, namun bukan berarti menghentikan langah-langkah untuk mengembangkannya. Banyak negara, terutama negara-negara maju telah berhasil mengembangkan energi terbarukan dan efisiensi energi. Peran utama dari pemerintah kita dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi bersih, membuat harganya lebih murah, dan bersinergi dengan swasta, akademik, dan LSM untuk bergerak bersama.

Beberapa upaya untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui peningkatan peran energi bersih telah dimulai di Riau. Sebuah organisasi di tingkat Provinsi Riau yang bernama Riau Renewable Energy Centre (www.rirec.org) telah dibentuk dan mulai bergerak untuk mendorong pengembangan energi bersih. Dalam wilayah praktis, beberapa pusat riset dan konsultansi terkait telah berdiri di Riau, salah satu di antaranya adalah Energy Research Centre (www.enreach.or.id) di UIN Suska Riau.

Nasib Bumi terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim, juga membutuhkan ‘tangan-tangan bersih’ dan terampil dari generasi yang lebih muda. Untuk meyakinkan generasi muda yang peduli energi bersih, di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau sejak tahun 2010 telah dibuka Konsentrasi Energi yang fokus pada pendidikan dan riset sistem tenaga listrik, energi terbarukan, efisiensi energi, dan kebijakan energi. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau mendorong suplai energi (listrik, gas, dan bahan bakar cair) yang ramah lingkungan. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau dapat dilihat di http://ee.uin-suska.ac.id/konsentrasi-energi/.





Ketika Perubahan Iklim Merenggut Kehidupan (When Climate Change Takes Your Life)

26 05 2015

“Lebih dari 500 orang meninggal karena serangan hawa panas di India dengan temperatur tertinggi mencapai 47,7′ Celcius di kota Allahabad, negara bagian Uttar Pradesh.”

Karena perubahan iklim, kejadian cuaca ekstrim semakin sering. Kini di Eropa banyak korban karena musim dingin terlalu dingin. Sedangkan di kawasan sub tropis seperti India, Bangladesh dan lain-lain banyak orang meninggal karena musim panas terlalu panas.

Energi terbarukan dan efisiensi energi adalah solusi yang ada saat ini untuk menurunkan emisi karbon diaoksida yang menjadi penyebab perubahan iklim. Energi berkelanjutan kini bukan sekedar bagaimana menyediakan energi bagi masyarakat. Energi berkelanjutan adalah tentang manusia dan kemanusiaan.

Info lebih lengkap tentang dampak cuaca ekstim dapat dilihat pada website IPCC, lembaga PBB yang mengurus perubahan iklim http://www.ipcc.ch/ipccreports/tar/wg2/index.php?idp=354

Gambar berikut memperlihatkan beberapa kejadian cuaca ekstrim di seluruh dunia. Lihat saja, dalam beberapa dekade belakangan kita memecahkan bangak rekor.

IMG_7324





Riau Climate Change Center

8 01 2010

Diterbitkan di Riau Pos, 6 Januari 2010.

Di antara rombongan presiden SBY di conference of the parties (COP) perubahan iklim (climate change) ke-15 di Copenhagen Desember 2009 lalu, Gubernur Riau Rusli Zainal menjadi salah satu bintang paling bersinar. Ada dua penyebab. Pertama, inisiatif Gubri  menetapkan Giam Siak Kecil – Bukit Batu sebagai cagar biosfer dan pusat riset gambut baru-baru ini, diapresiasi UNESCO dalam bentuk anugerah Man of Biosfer 2009 untuk Gubri. Sebuah penghargaan internasional bidang lingkungan hidup yang amat bergengsi. Kedua, di Copenhagen Gubri menggagas pembentukan Riau Climate Change Center (RCCC), sebuah inisiatif yang tentu saja mendapat dukungan banyak pihak, di dalam dan di luar negeri. Artikel ini mendiskusikan secara singkat seputar gagasan pembentukan RCCC. Beberapa saran akan diusulkan.

Gubri mengatakan, azam membentuk RCCC bermula dari kesadaran bahwa Riau ikut terlibat atas perubahan iklim global. Oleh sebab itu Riau harus bertanggung jawab. Keterlibatan Riau terdiri dari daftar panjang, yang paling mutakhir adalah ‘dosa’ meng-konversi lahan gambut menjadi perkebunan. Walhasil, Riau mendapat sorotan tajam mata dunia. Beberapa langkah strategis dimulai untuk merespon protes berbagai pihak, antara lain menyusun Masterplan Pengelolaan Kawasan Gambut Berkelanjutan Provinsi Riau 2009 menyusul MoU antara Gubri dengan enam kabupaten/kota di Riau dan Kementerian Lingkungan Hidup, pada 2008. Selain itu, telah pula dibuat kesepakatan bersama sepuluh gubernur se-Sumatera pada 2009 untuk menyelamatkan Pulau Sumatera melalui tata ruang berbasis ekosistem, restorasi kawasan kritis, dan perlindungan kawasan konservasi. Namun semua ini dirasa belum cukup, maka RCCC digagas sebagai ‘jurus pamungkas.’

Menurut Gubri, RCCC akan menjawab semua persoalan perubahan iklim di Riau. Institusi ini akan mewadahi semua stakeholder termasuk dunia bisnis. Melalui RCCC, pemerintah berusaha mencapai target mengurangi emisi karbon dioksida hingga 26 persen pada 2020. Gagasan Gubri membentuk RCCC adalah terobosan cerdas dan perlu didukung.

Namu demikian, beberapa hal perlu dipertimbangkan terkait pembentukan dan operasional RCCC kelak. Pertama, perubahan iklim adalah buah dari proses multifaktor, maka proses mitigasi dan adaptasi yang akan dilakukan mesti lintas sektoral. Gubri menyarankan semua stakeholder terlibat, meliputi pemerintah, bisnis, LSM, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat. Namun itu belum cukup. Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun perlu dilibatkan. Sebagai pembanding, Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat baru-baru ini membuka divisi baru bernama The Center on Climate Change and National Security. CIA beralasan bahwa climate change tidak hanya membahayakan ekologi, tapi dapat juga menimbulkan ekses politik, ekonomi, dan stabilitas sosial di masa depan, terutama karena climate change dapat memicu kompetisi dalam memperebutkan sumberdaya alam. Stakeholder lain yang mesti terlibat adalah perwakilan propinsi-propinsi se-Sumatera. Adalah fakta bahwa masalah climate change tidak bisa dilokalisir; Riau dan tetangganya saling berbagi dalam ‘menanam’ climate change dan ‘menuai’ akibatnya.

Kedua, RCCC seharusnya menjadi institusi utama dari mana konsep-konsep pembangunan berkelanjutan Riau bersumber, bukan sekedar Pusat Kajian Perubahan Iklim. Maka supaya efektif, RCCC harus memiliki kekuatan politis. Atas dasar ini, kurang tepat jika RCCC diletakkan di bawah Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Riau, sebagaimana diungkapkan Gubri (Tribun Pekanbaru, 18/12/2009). Posisi di bawah BLH akan menjadi hambatan politis saat rekomendasi RCCC akan dijadikan kebijakan yang mengikat semua institusi Pemprov hingga Pemkab/Pemko. Konsekuensinya, BLH akan menjadi bulan-bulanan masyarakat jika masalah climate change di Riau tidak teratasi. Situasi akan lebih baik jika RCCC langsung dipimpin Gubernur sedangkan BLH dijadikan leading sector.

Ketiga, demi efektifitas dan kejelasan arah pembangunan Riau, sebaiknya produk pertama RCCC berbentuk konsep Riau Green atau apalah namanya, suatu instrumen kebijakan pembangunan Riau berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan goal ke-7 Millenium Development Goals (MDGs), yang telah disepakati sebagai tanggungjawab bangsa-bangsa dunia. Supaya efektif, Riau Green perlu ditetapkan melalui Perda.

Keempat, betul bahwa kini Riau disorot karena persoalan deforestasi, kebakaran hutan, dan alih guna lahan gambut. Namun dalam jangka panjang, terdapat sektor-sektor lain yang terlibat pada climate change. Di antara yang dominan adalah sektor transportasi dan energi (khususnya listrik). Jumlah kendaraan bermotor yang tak terkendali akan memperburuk climate change. Maka sudah saatnya dirancang sistem transportasi massal guna menekan penggunaan kendaraan pribadi. Di sektor kelistrikan terlihat bahwa dominasi batu bara dan gas alam (keduanya adalah penyebab utama climate change) akan berlanjut. Karena memiliki efek sama buruk dengan transportasi, sektor kelistrikan perlu dikembangkan melalui kebijkan energy-mix dengan cara ekspansi energi terbarukan, khususnya untuk ‘melistriki’ 60% penduduk Riau yang masih gelap gulita.

Kelima, pada tahap awal, keterlibatan para ahli dari luar Riau di dalam RCCC diperlukan dalam rangka local capacity building. Namun SDM daerah mesti diberi ruang yang lebar. Karena ‘peperangan’ melawan climate change ini tak akan pernah usai, demi efisiensi dan kesinambungan perjuangan, untuk tahap selanjutnya ketergantungan pada ahli dari luar propinsi mesti dilepaskan, karena yang akan selalu berada di garda terdepan adalah masyarakat Riau sendiri.

Sebagai penutup, mari kita bertanya: apakah masalah selesai setelah RCCC dibentuk? Belum tentu! Gagasan cerdas Gubri ini hanya sebuah awal. Betapapun bagusnya kerja dan rekomendasi RCCC nanti, tidak akan membawa perubahan apapun jika tidak dilaksanakan semua stakeholder secara konsisten. Pengalaman membuktikan bahwa tak kurang kebijakan lingkungan hidup yang sudah kita punya, tapi tidak banyak berfungsi. Yang pasti, penghargaan Man of Biosfer 2009 merupakan beban moral bagi kita, bahwa kini tidak ada pilihan, kecuali melekatkan aspek ekologis pada setiap program pembangunan ekonomi dan sosiopolitik di bumi Riau.

Kunaifi, ST., PgDipEnSt., M.Sc.

Pengamat Energi dan Lingkungan Hidup

Dosen Fak. Sains dan Teknologi UIN Suska Riau

kunaifi@hotmail.com





Transportasi Masa Depan di Riau

20 12 2009

Artikel ini diterbitkan Riau Pos 2 November 2009

BUKTI-bukti pemanasan global makin banyak. Surat kabar menceritakan kisah pencairan es besar-besaran di kutub, spesies-spesies yang punah, cuaca makin panas dan tidak menentu dan berbagai bencana alam.

Setiap pribadi perlu menyumbang peran dalam membantu menyelamatkan dunia, termasuk dari jalan raya. Sektor transportasi menyumbang secara signifikan kepada perubahan iklim. Menurut Badan Perubahan Iklim Australia, dari setiap liter bensin dibakar kendaaan bermotor, sekitar 2,3 kilogram karbon dioksida (CO2) dilepaskan ke udara.

Secara global, seperlima emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab perubahan iklim, berasal dari sektor transportasi. Di negara-negara maju bahkan mencapai 30 persen. Di Indonesia, pada 2005, lebih 56 persen dari konsumsi BBM digunakan sektor transportasi (PEUI dan PLN, 2005).

Pada 2007 lalu diadakan pertemuan tingkat tinggi di California mengusung pertanyaan penting; apa yang harus dilakukan untuk mewujudkan transportasi berkelanjutan (sustainable transport)?

Konferensi yang dihadiri ratusan pemimpin dan pakar dari seluruh dunia, industri otomotif, industri energi dan LSM tersebut menyepakati tiga strategi mengurangi emisi GRK dari sektor transportasi; Pertama, tingkatkan efisiensi kendaraan bermotor. Kedua, kurangi muatan karbon (carbon content) bahan bakar kendaraan bermotor. Ketiga, kurangi perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Artikel ini membuka wacana awal tentang sustainable transport di Provinsi Riau merujuk tiga strategi global di atas. Peran pemerintah dan masyakarat untuk membantu bumi dari bencana pemanasan global akan diusulkan.

Kendaraan Efisiensi Tinggi
Untuk jarak sama, kendaraan efisien mengkonsumsi lebih sedikit BBM. Beberapa ciri kendaraan efisien adalah memiliki teknologi variable valve, injeksi bahan bakar langsung, sistem transmisi lebih efisien, desain aerodinamik, dan lain-lain.

Menurut Dan Sperling dan Nic Lutsey dari Universitas California dan James Cannon dari Majalah Energy Futures (2009) dalam artikel berjudul Climate Change and Transportation, minimal 30 persen emisi GRK dapat dikurangi dengan menggunakan kendaraan efisiensi tinggi.

Penurunan emisi GRK lebih besar (hingga 80 persen, bahkan lebih) dapat dicapai melalui teknologi kendaraan hibrid. Sesuai namanya, kendaraan hibrid bekerja dengan lebih satu jenis sumber energi. Gasoline-fueled hybrid electric vehicles bekerja dengan listrik dan bensin. Pada jenis ini, listrik disimpan di baterai yang dapat diisi ulang. Bensin digunakan saat listrik pada baterai telah kosong atau digunakan bersama-sama dengan baterai.

Pada tipe hydrogen-powered fuel cell vehicles, hydrogen dan oksigen diubah menjadi listrik dan panas untuk menggerakkan mesin kendaraan. Banyak produsen mobil kini mengembangkan mobil hibrid. Namun karena mahal, diperlukan waktu cukup lama untuk penggunaan secara massal.

Jika kendaraan efisiensi tinggi atau kendaraan hibrid bukan pilihan anda, masih ada yang dapat dilakukan untuk membantu menyelamatkan umi, yaitu dengan merawat kendaraan dan mengubah perilaku saat berkendaraan.

Dengan memperhatikan kondisi ban, oli, dan filter udara misalnya, kendaraan menjadi lebih irit BBM yang juga berarti irit biaya. Selain itu, dengan mengubah teknik mengemudi, anda dapat mengurangi konsumsi BBM.

Ada beberapa kebijakan yang bisa digagas pemerintah untuk mengurangi emisi karbon dari jalan raya. Pertama, menaikkan bea masuk kendaraan bermotor efisiensi rendah dan sebaliknya, menurunkan bea masuk kendaraan efisiensi tinggi. Kedua, mendidik pengemudi, misalnya dengan memasukkan materi mengemudi ramah lingkungan ke soal-soal test pembuatan SIM. Ketiga, mendorong riset kendaraan efisiensi tinggi.

Bahan Bakar Rendah Karbon
Biodiesel atau Bahan Bakar Nabati (BBN) yang diproduksi dari beberapa jenis tumbuh-tumbuhan memiliki kandungan karbon lebih rendah daripada bensin dan solar. Beberapa jenis mesin diesel dapat dioperasikan dengan bahan-bakar seratus persen biodiesel. Namun kebanyakan dicampur dengan solar (diesel) dengan perbandingan 80:20 untuk solar dan biodiesel. Menurut Dan Sperling dkk. (2009), sekitar 20 persen pengurangan emisi GRK bisa didapatkan, tanpa mempengaruhi performa dan umur mesin.

Sebagai salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia, Riau berpotensi menjadi pelopor penggunaan biodiesel rendah karbon. Beberapa kebijakan yang bisa ditempuh Pemerintah Riau antara lain; Pertama, memberikan subsidi dan insentif kepada biodiesel. Kedua, meningkatkan harga jual kelapa sawit untuk biodiesel minimal sama dengan harga untuk CPO. Ketiga, menerapkan sanksi bagi kendaraan yang melampaui batas emisi gas buang. Keempat, mewajibkan industri menggunakan BBN untuk kendaraan operasional.

Transportasi Massal
Transportasi massal adalah krusial dan perlu digarap pemerintah. Di banyak negara maju, bus kota dan trem populer sebagai sarana transportasi dalam kota. Sedangkan untuk perjalanan antar kota, kereta api listrik merupakan pilihan bagus.

Dioperasikannya Trans Metro oleh Pemko Pekanbaru adalah terobosan bagus dan akan makin baik jika bahan-bakar Trans Metro diganti dari BBM ke gas yang lebih ramah lingkungan. Di masa depan, perlu digagas jaringan kereta api listrik minimal menghubungkan ibukota kabupaten-kabupaten dengan Kota Pekanbaru.

Namun, ada syarat minimal yang wajib dipenuhi pengelola transportasi massal: Pertama, biaya yang dikeluarkan penumpang dengan transportasi massal harus lebih murah daripada biaya menggunakan kendaraan pribadi.

Kedua, aman. Ketiga, nyaman, misalnya sirkulasi udara baik, bebas pedagang dan pengamen dan sebagainya. Keempat, mudah digunakan. Kelima, tepat waktu. Keenam, mudah diakses.

Jika syarat-syarat tersebut dipenuhi, maka penggunaan kendaraan pribadi akan ber-kurang. Misalnya, untuk perjalanan rutin seperti ke kantor dan sekolah, masyarakat akan lebih suka menggunakan transportasi umum karena sama aman dan nyaman dengan berkendaraan pribadi, tepat waktu dan lebih murah.

Kesimpulan
Ketiga strategi yang ditawarkan Konferensi Dunia Sustainable Transport 2007 dapat membantu mengurangi konsumsi BBM di sektor transportasi dan pada akhirnya mengurangi emisi GRK serta menghemat rupiah. Riau berpotensi menjadi pioner mewujudkan sustainable transport, minimal karena kekuatan finansial yang dimilikinya. Namun sesungguhnya persoalan utama kita bukan pada uang atau soal-soal teknis, namun political will dan political action. Ditunggu gebrakan anggota DPRD Riau dan kabupaten/kota yang baru dilantik untuk menggagas sustainable transport di Riau.***





Bukti baru pemanasan global (New evidence of climate change)

7 04 2009

Jika anda ragu apakah climate change merupakan kenyataan atau tidak, mungkin hasil riset ratusan ilmuwan berbagai negara di dunia bisa membuat anda percaya bahwa perubahan iklim sudah terjadi. Jika anda masih belum percaya, mungkin laporan Steve Gorman (Reuters) berikut bisa membuat anda percaya.

Es di kutub selatan adalah komponen utama untuk menjaga suhu Bumi sejuk. Namun penipisan lapisan es kini terus berlangsung. Dari pengamatan satelit, luas kawasan es yang menipis kini mencapai 70% dari keseluruhan kutub selatan, meningkat tajam dari 40%-50% tahun 80 hingga 90an.

216

Es di kutub mencair (Foto: Dailymail)

Para ilmuwan telah bertahun-tahun berteriak tentang bahaya berkurangnya lapisan es di kutub yang berfungsi sebagai Air Conditioner (AC) raksasa bagi planet Bumi. Ketika es di kutub mencair, sinar matahari tidak lagi jatuh ke permukaan es yang terang yang bersifat memantulkan cahaya, melainkan jatuh ke air laut yang berwarna lebih gelap. Akibatnya, lebih banyak cahaya matahari di kutub diserap daripada dipantulkan, mengakibatkan panas Bumi meningkat. Hal ini terjadi akibat ulah manusia melepaskan gas rumah kaca ke udara, sehingga panas cahaya matahari terperangkap antara Bumi dan atmosfer dan mencairkan es di kutub.

Dari pengamatan satelit, luas maksimum es kutub selatan yang mencair sepanjang musim dingin 2008-09 adalah 15,2 juta kilometer persegi.

Silahkan simak berita langkapnya di SINI. Lihat juga video es mencair di kutub di SINI.

Bencana perubahan iklim memang tidak datang tiba-tiba seperti gempa bumi atau tsunami. Namun bahayanya tidak kurang mengerikan. Kita sering terlena karena perubahan sedikit demi sedikit ini tidak kita sadari.

Lakukan sesuatu, sekecil apapun, untuk Bumi dan mahluk hidup di dalamnya, termasuk manusia.





Siapa berkompromi?

20 12 2007

Oleh: Kunaifi

Riau Pos, 26 Desember 2007 (Redaksi Riau Pos mengganti judulnya menjadi “UNFCCC, Siapa yang Berkompromi?).

0442.jpg

Setelah tertunda sekitar 23 jam, konferensi United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) PBB di Bali akhirnya selesai Sabtu sore (15 Desember 2007). Sidang dua pekan itu mestinya selesai Jum’at pukul 12.00 siang. Namun kata sepakat tak kunjung dicapai di hari terakhir. Penutupan ditunda paling tidak empat kali. Deadlock dipicu perbedaan pendapat negara-negara berkembang (didukung Uni Eropa) dengan Amerika (didukung Jepang dan Canada). Penyebabnya adalah penolakan Amerika dan dua sekutunya terhadap draft Bali Roadmap. Ketiga negara tersebut tidak setuju jika pada dokumen hasil UNFCCC Bali dicantumkan target negara maju (Annex 1) menurunkan emisi karbon sebesar 25-40 persen di bawah level 1999 pada 2020.

Lobi-lobi tingkat tinggi diupayakan untuk melunakkan Amerika, termasuk oleh Al Gore, mantan presiden Amerika, pemenang hadiah Nobel Perdaiaman 2007. Dia menghimbau agar Amerika tidak menghalangi UNFCCC menuju kesepakatan. Dia bahkan sempat mengusulkan supaya isu berkaitan Amerika dikesampingkan dulu. Dibicarakan pada pertemuan lain. Namun himbauan Al Gore tidak membuahkan hasil. Lalu presiden COP-13 Rahmat Witoelar mambagi delegasi menjadi dua kelompok guna mengurangi debat berkepanjangan di sidang pleno. Usaha ini juga kandas. Akhirnya Presiden SBY dan Sekjen PBB Ban Ki-moon kembali ke ruang sidang Sabtu pagi. SBY memberi ‘tekanan’ supaya sidang segera mengambil keputusan, dan menghasilkan sesuatu. Sedangkan Ban menyampaikan kekecewaan atas situasi memanas. “Tugas anda semua belum selesai, setiap orang mesti membuka diri untuk kompromi,” kata Ban. Upaya ini juga tidak mempan melunakkan hati kedua pihak. Maka terjadilah peristiwa mengharukan. Sekjen UNFCCC Yvo de Boer yang melanjutkan memimpin sidang, seperti tidak sanggup menahan gumpalan perasaan di dada. Dia menangis. “Saya kecewa dan dikhianati. Ada deal-deal di luar sepengetahuan saya,” kata dia (Detikcom).

Sepenting apa peran Amerika dan dua sekutunya sehingga mampu berhadapan sama kuat dengan 177 negara peserta lain? Menurut ketua delegasi Indonesia Prof Emil Salim, ketiga negara tersebut menyumbang lebih separuh emisi gas rumah kaca dunia. Amerika menempati posisi teratas (36 persen), disusul Jepang (18 persen) dan Kanada (8 persen). Jika mereka tidak ikut dalam ‘gerbong’ pencegahan climate change, segala hasil konferensi, bahkan Protokol Kyoto sekalipun, tidak akan membuahkan hasil berarti. Negara-negara lain bisa kehilangan motivasi, lalu ikut-ikutan tidak melakukan apa-apa menyelamatkan Bumi.

Bali Roadmap adalah dokumen memuat arahan dan agenda sidang-sidang berikut. Sidang pertama dilakukan 2008 di Warsawa. Setahun kemudian, diadakan sidang final di Copenhagen. Target pembicaraan dua tahun tersebut adalah menyepakati pengganti Protokol Kyoto yang akan kadaluarsa 2012. Di Copenhagen juga akan ditetapkan persentase pengurangan emisi karbon masing-masing negara.

Hal positif dari Bali Roadmap adalah terdapat empat pilar sebagai tonggak awal upaya penyelamatan Bumi dari bencana global warming. Pilar pertama adalah mitigasi. Perundingan-perundingan terkait mitigasi adalah paling panas, membuat sidang deadlock berkali-kali. Awalnya, di sini terdapat kewajiban negara maju menurunkan emisi karbon. Inilah yang ditentang Amerika, Jepang dan Canada. Pada pilar ini juga dibahas skema Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD). REDD mengatur mekanisme perdagangan karbon antara negara maju dan negara berkembang. Banyak kalangan menilai REDD sebagai konsep adil karena menuntut komitmen kedua belah pihak; negara berkembang dituntut memelihara hutan untuk menyerap karbon, terutama yang dihasilkan negara-negara maju. Sebagai imbalan, negara maju akan membayar negara berkembang atas ‘jasa’ tersebut. Namun aktivis lingkungan, terutama Walhi justru melihat mekanisme tersebut sebagai tidak efektif. Walhi meyakini bahwa dagang karbon tidak membuat negara maju mengurangi emisi karbon, malah mendorong mereka semakin semena-mena melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer, karena mereka membayar.

Pilar lain dalam Bali Roadmap adalah adaptasi, teknologi, dan pendanaan. Mekanisme yang akan diwujudkan dalam bentuk transfer teknologi tersebut adalah salah satu capaian bagus dari UNFCCC Bali. Transfer teknologi penting bagi negara-negara berkembang, terutama Cina dan India yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi menakjubkan. Dengan mekanisme dan pendanaan transfer teknologi, negara berkembang tidak perlu mengorbankan ekonomi terlalu besar ketika mengurangi emisi karbon. Terdapat nuansa lebih harmonis di sini.

Berita-berita pada Sabtu (15 Desember 2007) sore menyebutkan bahwa Amerika akhirnya berkompromi. Keputusan yang disebut ‘mengejutkan’ tersebut disambut gembira seluruh delegasi. Tapi sebenarnya siapa berkompomi? Amerika dan kawan-kawan bersedia sepakat setelah negara berkembang setuju bahwa titik berat pengendalian global warming dibagi rata antara negara berkembang dan negara maju. Sikap mereka mencair juga setelah negara berkembang setuju bahwa kewajiban menurunkan emisi karbon 25-40 persen dari level 1999 tahun 2020 dihilangkan dari preambule Bali Roadmap. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya negara berkembang, bukan Amerika dan sekutunya yang berkompromi (baca: mengalah). Jelas, keinginan sebagian besar bangsa meminta tanggung jawab Amerika selaku penghasil emisi karbon terbesar dunia belum berhasil.

Maka tidak ada yang ‘luar biasa’ dihasilkan UNFCCC Bali. Kekurangan utama Bali Roadmap adalah penghapusan kewajiban negara maju mengurangi emisi 20-40 persen tersebut. Dengan kata lain, Bali Roadmap memang hanya sekedar peta jalan, tanpa komitmen apapun. Semua negara masih leluasa menghamburkan karbon ke udara sesukanya. Sepertinya, sidang sebesar UNFCCC yang diselenggarakan institusi sebeesar PBB mubazir jika hanya menghasilkan sebuah roadmap.

Amerika masih seperti dulu, ‘keras kepala.’ Padahal Australia, satu-satunya sekutu Amerika yang menolak Protokol Kyoto telah berpaling. Negeri Kangguru meratifikasi protokol dunia itu di awal sidang. Amerika tetap tidak mengakui Protokol Kyoto, Juga tidak mengakui temuan ilmiah Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tentang climate change dan target penurunan emisi tiap negara. Sikap Paman Sam perlu disesalkan.

Keterlibatan Jepang dan Canada sebagai ’sekutu’ dadakan Amerika di UNFCCC Bali juga menarik disimak. Ketiga negara punya kepentingan sama. Jika digabung, ketiganya menyumbang lebih separuh emisi karbon dunia. Kesuksesan menghilangkan angka 25-40 persen membuat posisi mereka tidak terusik, minimal hingga 2009. Mereka tidak dibebani kewajiban menurunkan emisi karbon, dalam bahasa mereka, “tidak perlu mengorbankan ekonomi dalam negeri.” Sangat ironis, karena Canada adalah penandatangan Protokol Kyoto, dan Jepang bahkan sekaligus menjadi pelaksana konferensi yang melahirkan protokol tersebut pada 1997.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan helat besar ini, sidang ini merupakan prestasi tersendiri bagi Indonesia. Tidak berlebihan jika dunia mengucapkan selamat pada presiden SBY, Meneg LH sekaligus Presiden Conference of the Parties (COP) 13 Rachmat Witoelar, ketua delegasi Indonesia Prof Emil Salim, Menlu Hassan Wirajuda dan seluruh delegasi atas kepiawaian mereka di meja sidang.

Ban Ki-moon mengingatkan, “Ini adalah awal, bukan akhir. Kita masih punya perundingan lebih panjang, lebih kompleks dan lebih sulit.” Persidangan Warsawa dan Kopenhagen mesti meyakinkan bahwa pengganti Protokol Kyoto akan menjadi solusi bagi kesinambungan hidup di Bumi. Setiap negara mesti mendapat tanggungjawab proporsional dengan kontribusi pada kerusakan atau kelestarian Bumi. “Jangan sampai Road Map menjadi “Road Kill,” kata Greenpeace Australia.

Padahal, Amerika punya kata-kata bijak seperti, “Kita bukan mewarisi planet ini dari generasi terhadulu, tapi kita meminjamnya dari generasi yang akan datang.” Amerika juga punya senator yang punya kata-kata “Sains telah mengatakan bahwa pemanasan iklim adalah nyata, makin lama menunggu, makin sulit masalah ini ditangani.”

Kali ini kita mesti lebih banyak berdo’a.

Penulis adalah dosen UIN Suska Riau

Kini belajar Energy Studies di Australia