Jika Tidak Ditemukan Cadangan baru, 12 tahun lagi minyak Indonesia habis

12 06 2016

Menurut Kementerian ESDM, RI Masih Punya Potensi Minyak 7,5 Miliar Barel.

“Cadangan minyak terbukti milik Indonesia saat ini diperkirakan hanya sekitar 3,692 miliar barel. Jika tak ada tambahan cadangan, maka diperkirakan minyak Indonesia akan habis 10-12 tahun lagi.

Di luar cadangan terbukti, Indonesia masih memiliki potensi tambahan minyak baru sebanyak 3,857 miliar barel lagi. Namun untuk membuktikannya harus dilakukan pengeboran. Sehingga jika dihitung cadangan terbukti dan potensi maka total cadangan minyak Indonesia mencapai 7,549 miliar barel.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Jumat (23/5/2014), berikut lokasi sebaran cadangan minyak Indonesia:

BlokMinyakInd
Lokasi blok-blok minyak di Indonesia (Sumber: offshorecrews)

  • Sulawesi Tengah dengan jumlah cadangan minyak sebanyak 3,386 miliar barel
  • Jawa Timur potensi cadangan minyak sebanyak 1,312 miliar barel
  • Sulawesi Selatan 1,005,34 miliar barel
  • Kalimantan jumlah cadangan minyak 573,50 juta barel
  • Jawa Barat sebanyak 494 juta barel
  • Natuna sebanyak 373,23 juta barel
  • Aceh sebanyak 150,68 juta barel
  • Sumatera Utara potensi minyak sebanyak 110,67 juta barel
  • Papua dengan potensi minyak sebanyak 65,97 juta barel
  • Sulawesi dengan potensi minyak sebanyak 51,87 juta barel
  • Maluku dengan potensi minyak sebanyak 24,96 juta barel”

http://finance.detik.com/read/2014/05/23/185217/2591220/1034/ri-masih-punya-potensi-minyak-75-miliar-barel-ini-lokasinya

Advertisements




Arab Saudi Kapok Bergantung pada Minyak, Riau Apa Kabar?

12 06 2016

Late is better than never. Dari pada tidak, terlambat tak apa lah.

Revolusi kebijakan energi di Arab Saudi dilakukan karena terpaksa, gegara profit dari jualan minyak turun drastis menyusul bisnis minyak global rontok satu per satu.

Riau bagaimana? Provinsi yang sebenarnya sudah lama miskin minyak ini masih sering merasa superior sebagai negeri kaya minyak. Perasaan hebat, memang selalu membuat orang berhenti melangkah maju.

Banyak orang lain, saya juga, sudah puas berteriak di media, supaya Riau berhenti merasa sebagai negeri minyak. Cukup lah jadi sejarah tapi bukan untuk masa depan. Jika tidak, sangat mungkin nanti Riau ‘terpaksa,’ seperti Saudi, melakukan revolusi energi, tapi saat segalanya sudah terlambat. Revolusi hanya dua ujungnya; hancur lebur, atau sedikit sukses. Riau pun hanya ‘butiran debu’ dibanding Saudi dalam hal minyak.

Saudioil
Salah satu tambang minyak Saudi, Foto: The Guardian.

Inilah yang bertahun-tahun disuarakan di UIN Suska Riau, melakukan riset dan mempersiapkan generasi muda Riau untuk menekuni suplai energi berkelanjutan di Riau dan Indonesia, di mana bahan bakar fosil dikurangi perannya, sedangkan energi terbarukan dan efisiensi energi ditambah porsinya. UIN Suska adalah universitas pertama di Indonesia yang memiliki konsentrasi Energi S1, yang fokus pada energi berkelanjutan. Beberapa tahun belakangan universitas negeri dan swasta di Jawa dan pulau lain membuka program yang sama.

Kalau Riau mau menyesal, menyesallah sekarang. Sesal kemudian tiada gunanya.





INDONESIA KEMBALI MENJADI ANGGOTA OPEC

31 03 2016

Keanggotaan Indonesia di OPEC telah aktif lagi, walaupun sebenarnya Indonesia bukan lagi eksportir minyak.

Inilah untungnya menjadi pendiri OPEC.

http://finance.detik.com/read/2015/09/14/210253/3018716/1034/jadi-anggota-opec-lagi-ini-keuntungan-buat-ri





Era Minyak Murah Telah Berlalu (Cheap Oil Era is Ending)

14 12 2010

Artikel ini diterbitkan Riau Pos, 14 Desember 2010

Pada 1973 dan 1979 harga minyak mentah dunia secara tiba-tiba meroket hingga tiga kali lipat. Kejadian beruntun ini membuat ekonomi global terpuruk ke dalam resesi parah. Sejak itu harga minyak bumi tidak pernah stabil; tak jarang mengacaukan ekonomi suatu negara bahkan dunia. Terakhir, tahun 2008 minyak kembali memberi kejutan pada ekonomi global saat harganya naik hingga $US 147 per barrel dari sebelumnya sekitar $US 50 per barrel. Indonesia merasakan akibatnya dalam bentuk defisit APBN sehingga banyak proyek terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan, dan antrian penduduk di pangkalan minyak bertambah panjang. Banyak analis menterjemahkan krisis minyak global sebagai peringatan bahwa cadangan minyak dunia makin sedikit, dan ketergantungan berlebihan pada ekonomi berbasis bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, dan batu bara) adalah pilihan yang amat rapuh.

Sejarah dan perkiraan harga minyak menurut International Energy Agency. Terlihat bahwa tahun 2035 harga minyak diperkirakan $200 per barrel. Harga minyak saat ini adalah sekitar $  (Sumber:Reuters)

Kini rakyat Indonesia diresahkan oleh rencana pemerintah mencabut subsidi BBM bagi mobil pribadi, bagai ‘pil pahit’ hadiah tahun baru 2011. Rencana ini menurut pemerintah, diambil untuk mengantisipasi lonjakan subidi BBM tahun 2011 yang diperkirakan mencapai 10 persen akibat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor. Pencabutan subsidi BBM akan dilakukan dua tahap; dimulai di Jabodetabek dan kawasan lain di Jawa-Bali pada 2011. Sedangkan tahap dua di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi pada 2012. Tahun 2013 kebijakan ini ditargetkan berlaku di seluruh Indonesia.

Artikel ini mendiskusikan kondisi dan tantangan perminyakan Riau serta langkah awal yang perlu diinisiasi Pemda untuk menjamin keamanan suplai energi, khususnya minyak bumi, masa depan.

Riau Kaya Minyak Tinggal Sejarah

Minyak telah dijadikan komoditi ekonomi utama nasional terutama zaman orde baru. Tahun 1977 tercatat sebagai puncak produksi minyak nasional, sehingga Riau sebagai penghasil (namun bukan penikmat) utama minyak nasional mendapat julukan sebagai negeri “petro-dollar.”

Kini kejayaan itu telah berlalu. Indonesia terlalu semangat menghisap “sang emas hitam” dari perut bunda pertiwi tanpa memperhitungkan cadangan minyak nasional yang sebenarnya cuma sedikit, sehingga perlu dihemat. Puncak produksi minyak nasional telah berlalu dalam waktu amat dini. Sejak 2000, produksi minyak (lifting) tidak pernah mencapai 1 juta barel per hari (bph). Tahun ini, target lifting nasional sebesar 965 ribu bph dalam APBN tidak tercapai.

Bahkan, setelah 47 tahun menjadi anggota organisasi negara-negara elit pengekspor minyak (OPEC), efektif Januari 2009 Indonesia terpaksa hengkang karena telah berubah menjadi net oil importer sejak 2003, alias meng-impor minyak lebih banyak daripada meng-ekspor. Penyebanya jelas, bahwa saat kebutuhan minyak dalam negeri meningkat terus-menerus, lifting menurun secara pasti, yang dalam teori ekonomi disebut oil supply-demand gap. Jika dulu kenaikan harga minyak dunia membawa berkah bagi Indonesia, kini justru menjadi petaka.

Apa indikasi minyak Indonesia segera kering? Pertama, perhatikan statistik. Menurut Bappenas (4/11/2010), jika tidak ditemukan sumur baru, cadangan minyak Indonesia hanya bertahan hingga 18 tahun ke depan. Estimasi ini lebih optimis dibanding hitungan British Petroleum (2010) yaitu 15,6 tahun. Lihat juga pernyataan raksasa Chevron (CPI) bahwa produksi CPI di Riau, turun sekitar 10 persen per tahun (21/03/2005).

Kedua, di Riau, dalam delapan tahun terakhir satu-per-satu ladang minyak yang dikelola perusahaan asing dilepas kepada pemerintah setelah kontraknya berakhir. Sebagian diraih melalui perjuangan rakyat seperti CPP Block yang diserahkan CPI pada 2002. Sebagian lagi diserahkan melalui proses yang lebih mulus seperti Blok Langgak CPI (2010). Dalam waktu dekat Riau akan mengambil pengelolaan Mountain Front Kuantan Block dari CPI. Telah diwacanakan pulua mengambil Siak Block dari CPI yang berakhir 2013, dan South and Central Sumatera Block dari Medco E&P Indonesia (habis kontrak 2013). Inilah indikasi bahwa dalam hitungan para raksasa industri minyak, eksploitasi sumur-sumur minyak Riau yang sudah uzur tidak menarik lagi.

Ketiga, dalam lima tahun belakangan Presiden telah mengeluarkan dua Inpres terkait penghematan energi, mengindikasikan kekhawatiran akan keamanan suplai energi masa depan di tengah kebutuhan kian meningkat. Kedua Inpres tersebut adalah Inpres 10/2005 tentang Penghematan Energi dan Inpres 02/2008 tentang Penghematan Energi dan Air.

Apa Strategi Riau?

Riau dapat mengadopsi dua strategi paling populer di berbagai negara untuk memperlambat habisnya cadangan minyak. Pertama, gerakan hemat energi (energy efficiency) secara menyeluruh. Memang pencabutan subsidi BBM memiliki potensi dampak sosial- ekonomi seperti penurunan daya beli masyarakat dan memicu peningkatan jumlah kendaraan roda dua dengan BBM bersubsidi. Namun, kebijakan ini berpotensi menekan konsumsi BBM berlebihan. Selama ini kita dimanjakan oleh BBM murah sehingga tidak jarang berperilaku boros BBM. Mulai tahun depan, kita perlu berpikir untuk mempersingkat perjalanan dengan mobil pribadi.

Selain efisiensi energi di industri, perkantoran, dan transportasi, di rumah anda juga bisa hemat energi

(Sumber: http://www.solar-green-wind.com/archives/energy-efficiency)

Gerakan hemat energi adalah wajib setelah dikeluarkannya PP 70/2009 tentang Konservasi Energi. Disebutkan bahwa Pemprov, Pemkab/Pemko bertanggung jawab melaksanakan langkah-langkah penghematan energi. Maka, Pemrov Riau beserta Pemkab/Pemko perlu segera melaksanakan PP 70/2009 dengan merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi, dan program konservasi energi serta mengalokasikan dana untuk hal tersebut. Program hemat energi tidak hanya menurunkan konsumsi BBM, tapi juga menghemat anggaran dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Strategi kedua adalah mengurangi ketergantungan pada minyak bumi melalui strategi bauran energi (energy-mix), di mana konsumsi minyak dikurangi sementara pemanfaatan energi terbarukan ditingkatkan. Strategi ini juga wajib dilakukan. Kebijakan Energi Nasional 2025 mengamanatkan bahwa pembangunan energi masa depan dititikberatkan pada pemanfaatan energi terbarukan secara maksimal. UU 30/2007 tentang Energi juga mengatur bahwa “penyediaaan energi baru dan terbarukan wajib ditingkatkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah.” Langkah awal adalah menyusun Rencana Umum Energi Daerah (RUED) tingkat propinsi dan kabupaten/kota, yang mencantumkan pola pengembangan energi terbarukan di Riau.

Sumber: http://www.theenergyresources.com/images/renewable-energy.jpg

Kesimpulan

Melihat konsumsi minyak yang berlebihan, the Association for the Study of Peak Oil and Gas secara ekstrim memperkirakan bahwa dunia akan kehilangan ‘orang perminyakan’ akhir abad ini karena sumur minyak ditutup di mana-mana. Walaupun cukup meresahkan, rencana pencabutan subsidi BBM untuk mobil pribadi sesungguhnya dapat menggugah kesadaran kita bahwa era minyak murah telah berlalu. Karena kita masih memerlukan BBM untuk menggerakkan ekonomi dan kehidupan, mari mulai berpikir efisiensi energi dan energi terbarukan. Pemerintah Propinsi/Kabupaten/Kota diharap dapat memulainya dengan menetapkan instrumen kebijakan pendukungnya.

Kunaifi, PgDipEnSt., M.Sc.

Peneliti di Energy Research Centre (EnReach)

UIN Suska Riau

Note: Bagian yang diberi warna biru diedit oleh redaksi Riau Pos.





Duluan mana, minyak habis atau udara habis? (Run out of oil or atmosphere, what is first?)

7 04 2008

Ilmuwan peraih hadiah Nobel yang pertama kali menemukan bahaya penipisan lapisan ozon beberapa tahun lalu, baru-baru ini berbicara mengenai climate change. Dia mengatakan, “jika pemansan Bumi mencapai 2,5 derajat Cessius di atas suhu seharusnya, bencana yang ditimbulkan hampir tak dapat dihindari.” Perlu disadari bahwa kini kenaikan suhu Bumi hampir mencapai 1 derajat Celsius dan terus bertambah.

“Tidak ada keraguan bahwa pemanasan global adalah akibat dari kegiatan manusia,” lanjut Mario Molina, warga negara Mexico yang mendapatkan Nobel di bidang Kimia pada 1995 atas jasanya mengungkapkan bahaya gas chlorofluorocarbon (CFC) terhadap lapisan Ozon Bumi. Menurut Columbia Encyclopedia edisi 6, CFC adalah gas yang digunakan dalam proses pendinginan di lemari es, AC, dll, biasanya dijual dengan merek dagang Freon, CFC-11, dan CFC-12.

Foto: Reuters

“Jauh sebelum kita kehabisan minyak bumi, kita akan kehabisan atmosfer,” kata akademisi Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini.

Molina mengatakan bahwa kondisi Bumi kini ada “di ujung tanduk,” berada di bawah ancaman lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.

“Perubahan suhu Bumi yang anda lakukan memang secara perlahan-lahan, tapi kemudian anda terkejut bahwa bencana yang ditimbulkannya terjadi secara tiba-tiba dan dramatis, ” katanya.

“Ide menjaga suhu tidak mencapai 2,5 (derajat Celsius) adalah semata-mata untuk mengurangi kemungkinan keadaan “di ujung tanduk” itu menimpa kita,” dia menambahkan.

Dari article by Tom Brown, Reuters, Apr 5, 2008

Komentar tambahan dari saya:

Menurut data International Energy Agency (IEA), tahun 2005, sektor kelistrikan adalah penyumbang terbesar emisi karbon dunia (41%), disusul transportasi (23%), industri (19%), rumah tangga (7%), dan lain-lain (10%).

Artinya kita, selaku penduduk Bumi, mesti mulai berpikir dan bertindak, minimal mengurangi pemakaian listrik dan BBM untuk kendaraan bermotor.

Mari ikut menyumbang peran untuk kesehatan Bumi.

Untuk memberi komentar atas informasi ini, silahkan klik di samping Comments di bawah.





Batubara, monster lingkungan.

14 12 2007

058.jpgBanyak negara kini mengembangkan energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga air dan tenaga angin untuk menghasilkan listrik. Tapi pada saat yang sama dua negara kaya baru, penggerak ekonomi utama Asia (juga dunia), China dan India malah meningkatkan konsumsi batu bara. Mereka diperkirakan akan sangat tergantung pada batubara selaku sumber energy kotor selama beberapa dekade ke depan.

Saat sebagian besar perwakilan negara-negara yang bersidang dalam konferensi perubahan iklim (UNFCCC) di Bali bersepakat menurunkan emisi gas rumah kaca mereka sebagai upaya mengurangi pemanasan global, lima negara menentang. Mereka adalah China, India, Jepang, Kanada, dan tentu saja Amerika. Lima sekawan dalam “keburukan” ini menggunakan alasan klasik, bahwa kesepakatan itu akan menghambat kemajuan ekonomi mereka. Artinya, mereka tetap akan menggunakan batubara sebanyak-banyaknya.

092.jpg

Salah satu pertambangan batubara di Indonesia (GLOBAL DISTRIBUTION OF ELEMENTS)

Jika tidak memikirkan keadaan Bumi yang sudah sakit parah, batubara memang menarik, sebab murah dan tersedia dalam jumlah besar. Kontribusi batubara pada suplai energi komersial dunia pada 2006 mencapai 25 %, diikuti minyak bumi. Tapi, sehubungan dengan densitas karbonnya yang tinggi, batubara bertanggungjawab terhadap sekitar 40 % pelepasan karbon dioksida ke udara, sementara karbon dioksida menyumbang 80 % pada keseluruhan gas rumah kaca. Jadi dapat dikatakan bahwa Batubara adalah monster lingkungan. (World Renewables).

018.jpgBulan lalu, pembangkit listrik berbahan bakar batubara terbesar di Cina dengan kapasitas 4 ribu MW, mulai beroperasi. Sementara, awal tahun 2007, Cina juga mengoperasikan pembangkit-pembangkit listrik serupa dengan kapasitas total 90 ribu MW.

Bukan hanya Cina, tapi India, beberapa negara Eropa, Australia, dan tentu saja Amerika, adalah negara-negara yang membakar monster global warming ini untuk mencukupi kebutuhan listrik mereka. International Energy Agency (IEA) memperkirakan akan terjadi kenaikan emisi karbon dioksida di udara sebesar 57 % sejak 2005 hingga 2030, jika negara-negara ini tidak menghentikan kebiasaan buruknya.

China di akhir 2007 ini diperkirakan melampaui Amerika sekaligus menjadi negara paling banyak melepaskan karbon dioksida ke udara. Posisi ketiga ditempati Indonesia, dan India segera menyusul.

Indonesia?

Ada dua alasan mengapa Indonesia harus memperhatikan persoalan global warming secara serius. Pertama, Indonesia adalah negara ketiga penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar dunia. Kedua, Indonesia adalah negara kedua yang memiliki hutan terluas di dunia setelah Brazil, disusul Congo. Jika Indonesia meningkatkan penggunaan batubara sekaligus membiarkan terjadinya pembabatan hutan (resmi atau illegal), maka Indonesia akan menjadi negara yang menghancurkan dunia.

Tapi sayang, walaupun dalam pidato-pidato para menteri dan pemimpin negeri ini mengatakan peduli terhadap global warming, belum terlihat dalam tindakan nyata. Jutaan hektar hutan Indonesia telah dibabat, baik untuk bahan baku Indah Kiat dan RAPP, maupun diubah menjadi kebun kelapa sawit. Pada saat yang sama, Indonesia membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tersebar di empat pulau dengan kapasitas total 10 ribu MW. Proyek ini adalah milik PLN dan akan dirampungkan 2009. Belum puas juga, PT ASEAN Aceh Fertilizer yang beberapa tahun belakangan tidak beroperasi, kembali akan digerakkan. Tapi tidak akan menggunakan bahan bakar gas seperti dulu, melainkan batubara.

Selamat berpidato, para petinggi.