Apakah ada potensi energi biomassa di kota?

9 01 2018

Apakah di kawasan perkotaan ada potensi energi dari biomassa? Studi dari Yelmira Zafriati bersama saya ini dapat menjawab pertanyaan anda untuk kasus di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Berdasarkan data-data sekunder dari berbagai sumber, analisis dilakukan menggunakan prosedur dari Biomass Energy Europe.

Total energi pontensial teoritis di Pekanbaru adalah 91,158,663.54 GJ/tahun meliputi limbah pertanian sebesar 4,309,632.37 GJ/tahun (4.73%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (83.50%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (9.97%). Total energi pontensial teknis 88,542,679.88 GJ/tahun yang terdiri dari limbah pertanian 1,693,648.71 GJ/tahun (1.91%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (87.82%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (10.26%).

Semoga pertanyaan anda terjawab.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: POTENSI ENERGI TEORITIS DAN TEKNIS DARI LIMBAH BIOMASSA DI PEKANBARU.

Pku

Advertisements




Limbah Pertanian menjadi Listrik

9 01 2018

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui potensi biomassa dari sisa hasil pertanian, mencakup jerami dan sekam padi sawah, jerami dan sekam, padi ladang, batang dan tongkol jagung, batang ubi kayu, serta serat, cangkang, tandan kosong, kernel dan limbah cair yang terdapat di perkebunan kelapa sawit. Lokasi studi di Provinsi Riau. Hasil studi menunjukkan total potensi teoritis energi biomassa adalah sebesar 77.466.754,8 Gj/Tahun yang dapat menghasilkan energi listrik sebesar 21.518.542,8 MWh/Tahun. Studi dilakukan oleh Petir Papilo, Kunaifi, Erliza Hambali, Nurmiati, dan Rizfi Fariz Pari.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI KELISTRIKAN.

pasti.jpg





Potensi Biomass di Kampar Besar (Big Potential of Biomass Energy in Kampar, Indonesia)

9 01 2018

** English below **

Apakah anda bekerja di lembaga pemerintah atau konsultan energi? Atau anda berminat menjadi investor pembangkit listrik energi biomassa? Maka hal pertama yang perlu anada ketahui adalah: ‘berapa potensi energi biomassa’ di lokasi yang anda minati?

Jika lokasi tersebut adalah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, mungkin hasil studi berikut berguna bagi anda sebagai informasi awal.

Studi ini menilai potensi teoritis energi biomassa di Kabupaten Kampar menggunakan prosedur dari Biomass Energy Europe. Jenis sumber biomassa yang dinilai adalah biomassa hutan, tanaman energi, residu pertanian, dan limbah organik.

Total potensi teoritis energi biomassa di Kabupaten Kampar adalah 127.635.417,90 GJ/tahun di mana 97,933 % residu pertanian, 2,066 % biomassa hutan dan 0,001 % limbah organik. Residu pertanian juga mencakup residu perkebunan (kelapa sawit dan kelapa) dan residu kotoran ternak (sapi, kerbau, kambing, dan unggas).

Kelapa sawit menyumbang 88,15%, diikuti oleh ayam dan itik (5,28%), padi dan jagung (3,77%), dan residu hutan primer (2%). Pelepah sawit menyumbang 58,8% pada total potensi energi dari kelapa sawit dan 51,8% pada total potensi energi biomassa di Kabupaten Kampar.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: 2011_STINKI-IV_Biomas Energy Potential in Kampar Regency.

Kampar.jpg

This study assessed the biomass energy potential in Kampar Regency, Indonesia. It considered forest biomass, energy crops, agricultural residues and organic wastes. Using the procedure from Biomass Energy Europe, it was found that the total theoretical potential of biomass energy in Kampar Regency was 127,635,417.90 GJ/year where 97.933% come from agricultural residues, 2.066% forest biomass and 0.001% organic waste. Agricultural residues included residues from plantations (oil palm and coconut) and animal residues (cow, buffalo, goat, and poultry). Oil palm contributes to 88.15%, followed by chickens and ducks (5.28%), rice and maize (3.77%), and primary forest residues (2%). The oil palm fronds are the largest contributor i.e. 58.8% of the total oil palm potential and 51.8% of the total biomass energy potential in Kampar Regency.

Download the article for more information: 2011_STINKI-IV_Biomas Energy Potential in Kampar Regency





Dengan PLTS dan Digester Biogas, Rumah Anda Mungkin Mandiri Energi

9 01 2018

Bermasalah dengan listrik PLN dan suplai gas dari Pertamina? Sistem PLTS digabung dengan sistem biogas mungkin cocok untuk rumah anda.

Pada studi ini, Devi Nuryadi dan saya merancang pembangkit listrik PLTS untuk kebutuhan rumah tangga menggunakan standar AS 4509.2—2002, sedangkan digester biogas dirancang berdasarkan kebutuhan gas dan jumlah ternak sapi di rumah. Dengan konsumsi listrik per hari rata-rata 2,5 kWh dan beban puncak 362 Watt, dihasilkan sistem PLTS yang terdiri dari inverter 900 VA, 6 baterai 102 Ah, 10 modul surya 210 Wp, dan BCR 40 A.

Sedangkan sistem biogas terdiri dari digester biogas 4 m3 dan digester kontrol 2 m3, dengan lama waktu memasak rata-rata 2,4 jam per hari dan jumlah sapi minimal 2 ekor per rumah tangga.

Menggunakan life-cycle cost analysis dengan data tahun 2011, biaya sistem PLTS selama usia sistem 20 tahun adalah Rp. 113,6 juta dan digester biogas dalam periode yang sama membutuhkan biaya Rp. 8,7 juta.

Info selanjutnya, silahkan download artikel: Rumah Mandiri Energi Menggunakan Tenaga Surya dan Biogas.

PLTS dan Biogas.jpg





Mengubah sampah menjadi listrik (From wastes to electricity)

25 01 2009

Tentu kita belum lupa tragedi Leuwigajah. Leuwigajah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota Bandung. Bulan Februari 2005 bukit sampah setinggi 30 meter di TPA ini longsor, menelan korban jiba lebih dari 100 penduduk lokal dan mengakibatkan kerugian material dan merusak lingkungan sekitar TPA tersebut.

Sebenarnya sampah kota bisa diolah supaya memberikan mafaat bagi manusia. Teknologi untuk melakukan hal tersebut sudah ada dan sudah diterapkan di banyak kota dan negara. Tulisan ini menceritakan pengalaman saya beberapa minggu lalu mengunjungi lokasi pembangkit listrik tenaga biogas dari TPA di Perth, Western Australia. Kunjungan ini digagas dalam rangka mengajak jalan-jalan dua orang mahasiswa S3 USU Medan dan IPB Bogor yang sedang mengikuti penelitian singkat di Universitas Murdoch tempat saya belajar. Ditemani Direktur dan salah satu peneliti di Environmental Technology Centre (ETC) Universitas Murdoch, kami mengunjungi satu dari lima pembangkit milik LGP di kawasan Canning Vale, diterima oleh salah satu pegawai LGP yang sedang bertugas. Oh ya, ETC Universitas Murdoch adalah salah satu dari hanya lima ETC yang didirikan PBB (lewat UNEP-IETC) di seluruh dunia.

Perusahaan pembangkit listrik dari TPA ini bernama Landfill Gas and Power Pty Ltd disingkat LGP, sebuah perusahaan swasta milik ACE Holdings Australia. Mulai beroperasi sejah 1993, LGP telah menjadi salah satu pemimpin di pasar energi terbarukan Australia. Mereka bukan hanya bermain di bisnis pembangkit listrik, tapi juga berkontribusi mengurangi emisi CO2 dan methane ke atmosfer. Perlu diketahui bahwa methane adalah gas berbahaya yang dihasilkan oleh tumpukan sampah di TPA. Bahaya bagi kehidupan dan bagi atmosfer. Kontribusi methan terhadap pemanasan global sekitar 21 kali lebih besar daripada CO2.

Setahun, LGP menghasilkan listrik sekitar 75 GWh dari tiga pembangkit merk Catterpilar di Canning Vale, dijual lewat jaringan listrik pemerintah (Western Power) ke pelanggan khusus seperti kantor-kantor pemerintah lokal dan industri-industri skala kecil dan menengah.

Setelah beroperasi selama 16 tahun, pembangkit LGP Canning Vale sudah memasuki tahap akhir dari kontrak yang dimilikinya. Produksi gas mulai turun, demikian juga dengan produksi listrik. Untuk memperpanjang “umur”nya sebelum pindah ke lokasi lain, pihak LGP Canning Vale sedang menjajaki kemungkinan memanfaatkan panas terbuang dari ketiga mesin yang mereka miliki. Setiap mesin melepaskan panas hingga 600 dejarat Celsius pada cerobong asapnya. Salah satu aplikasi yang sedang dijajaki adalah menggunakan panas untuk pembangkit listrik skala lebih kecil.

Foto-foto berikut diambil saat kunjungan ke LGP Canning Vale. Klik pada foto untuk memperbesar. Saya menyandang tas hitam, berbaju lengan pendek.

Apakah Indonesia tertarik mengubah sampah-sampah kota menjadi listrik? Kita tunggu gebrakannya.





Pro Kontra Biofuels

23 12 2007

098.jpgPro kontra biofuel (bahan baker nabati) nampaknya berlanjut. Tidak sedikit yang meragukan efektivitas, keekonomian dan kesinambungan lingkungan sumber energi terbarukan (ET) satu ini. Namun banyak juga yang optimis. (Foto kiri: tebu bahan bakan biofuel)

Berikut adalah kisah yang mengelaborasi kedua pendapat, dicuplik secara bebas dari sebuah artikel di Worldofrenewables (http://www.worldofrenewables.com/index.php?s=4213a4e5221705fa304b4b5452529362&do=viewarticle&artid=910&title=biofuels-and-sustainability-biofuels-boom-or-bust).

· Biofuel (terutama ethanol dan biodiesel) diperkirakan booming di Amerika Latin. Kawasan ini secara alamiah memiliki prospek bagus untuk pengembangan biofuel; kawasan pertanian luas, tanah subur, tenaga kerja murah. Jenis tanaman utama yang prospek adalah tebu dan kacang kedelai.

· Pemerintah Brazil mengembangkan biofuel sejak tahun 70an ketika harga minyak mentah melambung. Sebuah terobosan berani.

· Kini, 8 dari 10 mobil baru di Brazil memiki mesin fleksibel, alias dapat menggunakan BBM biasa sekaligus ethanol.

· Di kawasan selatan Brazil, yang merupakan pusat perkebunan tebu, kini beroperasi 400an pabrik ethanol.

· Konsumsi ethanol di Brazil diupayakan meningkat dari 14 Miliar liter tahun 2006 menjadi 39 Miliar liter tahun 2012.

· Isu ini juga merambah ke dunia olah raga. Pada musim perlombaan Formula 1 tahun 2008 ini, tim AT&T William akan menggunakan mobil menggunakan campuran biofuel, disponsori oleh Petrobras, produsen biofuel Brazil. Petrobras menyebut biofuel sebagai “green gold.”

· Selain Brazil, beberapa negara di kawasan tersebut juga mengikuti langkah sukses Brazil.

· Awal 2007 Argentina membuat peraturan yang menawarkan keringanan pajak dan insentif lain kepada produsen biofuel.

· Negara-negara Costa Rica, Colombia, El Salvador, Jamaica, Venezuela, Peru, Paraguay, Ecuador, Cuba dan Venezuela sedang memulai pengembangan biofuel. Satu-satunya negara yang menutup pintu di kawasan ini adalah Mexico.

099.jpgApa kata kritikus?

· Pemanfaatan lahan untuk pengembangan biofuel akan menaikkan harga-harga bahan makanan yang ujung-ujungnya dapat menyebabkan kelangkaan pangan. Yang lain mengatakan upaya ini akan mempercepat deforestasi, kesulitan air dan erosi. (Foto kiri: kacang kedelai bahan baku biofuel. Sumber: http://cropwatch.unl.edu/photos/cwphoto/crop05-6soybean.jpg)

· Oktober 2007 Pelapor Khusus untuk PBB (UN Special Rapporteu) menyebut pengembangan biofuel sebagai “kejahatan kemanusiaan” karena mendorong melambungnya harga-harga sereal dan bahan makanan lain. Dia mengusulkan moratorium biofuel dalam 5 tahun ke depan dan mendesak ilmuwan mencari cara lain memproduksi ethanol selain dari tumbuhan.

· Seiring meningkatnya harga bahan baku pertanian, harga biofuel juga naik. The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), organisasi negara-negara maju yang amat berpengaruh melaporkan kenaikan harga biofuel 20-50 % hingga 2016. Artinya, terbuka kemungkinan harga biofuel tidak jauh beda dibanding harga BBM. Jika tidak ada regulasi yang bagus, persoalan ini, plus persoalan oversupply tak dapat dihindari.

100.jpgKomentar saya.

· Keunggulan utama biofuel adalah karena dia terbarukan. Jika dikelola dengan baik, maka ketersediaannya tidak putus-putus. (Foto kiri: Jarak pagar bahan baku biofuel. Sumber: http://www.rain-tree.com/Plant-Images/Jatropha_curcas_p2.jpg)

· Menggantikan semua BBM dengan biofuel memang merupakan keinginan yang terlalu ambisius. Menurut saya, minimal 20 tahun ke depan, biofuel dapat memainkan peran penting dalam struktur energy mix nasional. Katakanlah sector industri diwajibkan beralih dari BBM ke biofuel. Ini baru keinginan yang realistis.

· Pertumbuhan penduduk yang cepat memberi tekanan pada kebutuhan ruang hidup yang lebih luas, dan pada gilirannya membutuhkan lahan yang lebih luas pula untuk memproduksi makanan. Pengembanggan biofuel secara massive memang akan bentrok dengan kebutuhan di atas. Solusinya, karena biofuel hanya akan menjadi komponen dalam energy mix, lahannya dapat menggunakan lahan kritis atau lahan marginal. Sebab sebagian besar tanaman biofuel dapat tumbuh di lahan seperti itu.

Semoga bermanfaat