Arab Saudi pun Mau Energi Surya (Saudi Arabia is Willing to Go Solar)

26 05 2015

Sebuah laporan Damian Carrington di The Guardian, 22 Mei 2015, berjudul “Saudi Arabia’s solar-for-oil plan is a ray of hope,” telah menghembuskan semangat dan optimisme baru bagi dunia energi terbarukan (ET), khususya energi matahari.

Mengapa demikian? Saudi Arabia, raja minyak dunia, negara yang sangat kaya, melalui Menteri Perminyakan Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan di Paris beberapa hari lalu bahwa negaranya pada suatu hari, mungkin 2040, 2050, atau setelah itu, akan mengekspor listrik tenaga matahari, bukan minyak bumi. Pada tahun 2012 Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa 100% suplai listrik akan berasal dari ET.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Arab Saudi adalah pemilik 1/5 cadangan terbukti minyak bumi dunia, eksportir minyak bumi terbesar, pendiri dan anggota yaang sangat berperngaruh di OPEC, menggantungkan 75% APBN pada minyak bumi dan 90% pendapatan ekspornya dari industri minyak bumi.

Ini adalah sebuah target yang ambisius bagi Arab Saudi. Target ini mungkin akan berdampak dalam sekali pada ekonomi (baca: kemewahan) minyak Arab Saudi. Bagian yang paling sulit, menurut saya, adalah bagaimana mempersiapkan rakyatnya untuk beradaptasi dengan ET. Syarat pertama untuk mengadopsi ET adalah melakukan efisiensi energi (EE) dulu. Sementara itu konon warga Arab Saudi yang makmur itu tidak begitu familiar dengan EE.

Sebelum melihat rencana yang lengkap, saya sepakat bahwa target ini untuk sementara bisa dilihat secara skeptis. Misalnya, sang menteri baru bicara tentang listrik, namun belum bicara tentang bbm untuk transportasi jika ditargetkan 100% suplai energi ET.

Terlepas dari berbagai skeptisme, rencana besar Arab Saudi ini telah menghembuskan angin segar bari pengembangan ET dan perbaikan iklim dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri ‘mantan’ anggota OPEC, yang sering merasa kaya minyak? Aapakah sudah memiliki rencana yang lebih baik untuk pengembangan ET? Bagaimana menurut anda?

22 May 2013, Saudi Arabia --- A Saudi man walks on a street past a field of solar panels at the King Abdulaziz city of Sciences and Technology, Al-Oyeynah Research Station, in this May 21, 2012 file photo. A slide in solar power costs and a surge in oil prices over the last few years has made solar power a win-win strategy for Saudi Arabia: saving billions of dollars of crude for export while making electricity at less than half the cost. To match Analysis SAUDI-SOLAR/ REUTERS/Fahad Shadeed/Files (SAUDI ARABIA - Tags: ENERGY BUSINESS) --- Image by © FAHAD SHADEED/Reuters/Corbis

22 May 2013, Seorang pria Saudi Arabia berjalan di sisi pembangkit listrik tenaga surya di kota King Abdulaziz. (Foto: The Guardian)





Atap Bangunan Baru di Perancis Wajib Dipasang Modul Surya

21 03 2015

Pada tanggal 19 Maret 2015, Perancis mengesahkan UU baru yang mewajibkan sebagian atau keseluruhan atap gedung baru di kawasan komersil dipasang panel surya atau ditanam tumbuhan.

Sebagai negara yang mengandalkan lebih 80% suplai listriknya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Perancis memang masih tertinggal dari sebagian negara Eropa dalam memanfaatkan energi surya. Jermal, Spanyol, dan Italia memimpin aplikasi energi surya di Eropa dan dunia.

Selain pasangan PLTS, UU baru tersebut mendorong atap gedung baru di Perancis untuk ditanami tanaman. Konsep atap hijau ini memberikan berbagai keuntungan. Dengan atap hijau, bangunan akan memerlukan lebih sedikit energi untuk mencapai temperatur ruang yang diinginkan.

Sumber: http://thinkprogress.org/climate/2015/03/20/3636746/franch-rooftops-go-green/

IMG_6806
Sumber: http://homeli.co.uk/eco-villa-concepts-in-flavours-orchard-china-by-vincent-callebaut-architecture/





Solar Sel Full Spektrum (Full-spectrum Solar Cells)

4 02 2011

Salah satu alasan utama mengapa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kesulitan mengimbangi pembangkit listrik konvensional adalah karena efisiensinya yang rendah. Sehingga untuk mendapatkan energi listrik yang besar diperlukan luasan modul surya yang besar pula, yang berarti biaya pun besar.

Mayoritas solar sel komersial saat ini memiliki efisiensi sekitar 15%. Sedangkan efisiensi sebesar 30% sudah berhasil diuji di laboratorium namun belum dapat diproduksi untuk keperluan komersial.

Mengapa solar sel belum bisa mengkonversi radiasi matahari dengan efisiensi tinggi? Alasannya adalah karena material solar sel hanya mampu mengkonversi sebagian dari spektrum cahaya matahari yang diterimanya. Menurut Tomas Marvart dalam bukunya berjudul Solar Electricity, hanya sekitar 2/3 dari spektrum cahaya matahari yang dapat dikonversi menjadi listrik oleh material solar sel yang ada sekarang.

Namun kini ada harapan baru untuk mengkonversi semua spektrum cahaya matahari menjadi listrik. Riset yang dilakukan oleh Wladek Walukiewicz di Lawrence Berkeley National Laboratory telah berhasil mengkonversi seluruh spektrum. Dan yang juga menarik adalah bahwa proses produksi solar sel baru ini dapat dilakukan menggunakan teknik produksi konvensional.

Prinsip yang digunakan oleh Wladek Walukiewicz dan kawan-kawan adalah bahwa: tidak ada material yang mampu merespon semua panjang gelombang radiasi matahari, masing-masing material bekerja pada panjang gelombang yang berbeda pula, maka untuk memungkinkan proses konversi seluruh spektrum dilakukan penggabungan beberapa bahan berbeda dengan sensitifitas spektrum berbeda pula.

Satu cara untuk menggabungkan berbagai bahan adalah dengan menumpuk lapisan-lapisan semikonduktor berbeda dan menggabungkannya secara seri menggunakan kawat. Teknik ini walaupun mampu menggabungkan lapisan-lapisan berbeda, namun strukturnya masih rumit sehingga menyulitkan dalam proses fabrikasi. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat satu lapisan namun mampu bekerja dengan spektrum berbeda.

Tim peneliti mengatakan bahwa teknik baru yang mereka perkenalkan akan menghasilkan solar sel efisiensi tinggi dengan harga yang labih murah. Namun sayang, mereka belum menyebutkan setinggi apa efisiensi yang dapat dihasilkan.

Sumber: http://newscenter.lbl.gov/feature-stories/2011/01/24/practical-full-spectrum/





Mendulang uang dari atap rumah (Making money from your house’s roofs)

5 02 2009

Energi terbarukan makin mendapat tempat dalam wadah kebijakan ekonomi dunia. Makin banyak negara – terutama negara-negara maju – membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Walhasil, sekitar 36% pertumbuhan energi angin diraih tahun 2007, terutama dari pasar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia (Sumber: Renewableenergyworld). Begitu juga dengan energi surya, justru mengalami pertumbuhan lebih tinggi, hampir 50% per tahun (Sumber: Worldofrenewables).

Salah satu kelemahan dari energi surya dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan kapasitas energi besar. Sebuah inovasi kebijakan yang digagas di Amerika sungguh menarik.

Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV systems). Instalasi solar energi rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasari atas filosofi pembangkit listrik tersebar (distributed power generation), bukan terpusat sebagaimana lazimnya. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema solar power purchase agreements (PPAs) dan penyewaan atap rumah (solar leasing).

2051Solar system di atap Perpustakaan Universitas Murdoch Australia, almamater saya. Merupakan sistem surya tersambung jaringan listrik (grid) terbesar di Western Australia. Kapsital 26 kW terdiri dari hampir 200 panel surya, menghasilkan sekitar 30kWh energi listrik sehari. (Sumber: Murdoch University)

Sebegaimana dirilis Worldofrenewables, pemerintah kota Santa Barbara di California baru-baru ini menyewakan atap bangunan pemerintah kota untuk sistem PV berkapasitas 330 kW untuk masa 20 tahun PPA. Proyek ini tidak hanya menguntungkan secara estetika, tapi juga memberi peluang bagi 1.040 rumah untuk mendapat suplai listrik dari sistem PV. Mengingat besarnya peluang dari inovasi ini, pemerintah kota dalam waktu dekat juga akan menyewakan lokasi parkir di Santa Barbara Airport.

2062Desain solar sistem pada lokasi parkir. Memiliki 3 keuntungan; menghasilkan listrik, tidak memerlukan lokasi khusus, dan melindungi kendaraan dari panas sinar matahari (Foto: PV-tech)

Penyewaan atap untuk solar sistem juga penting untuk pengembangan energi surya di perkotaan, seiring dengan biaya pengadaan dan instalasi solar sistem yang makin murah.

Bagaimana Indonesia. Tertarik?





Desa mandiri energi pertama dunia (world first self-sufficient energy village)

14 05 2008

Donggwang barangkali adalah desa paling ramah lingkungan se dunia. Desa yang terletak di pulau Jeju-do, pulau terbesar di kawasan selatan Korea Selatan, ini telah berhasil menjadi desa mandiri energi pertama di dunia.

Panel surya di salah satu rumah di desa mandiri Donggwang, pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: www.enn.com)

Di desa pulau beriklim semi-tropis ini benar-benar hanya menggantungkan kebutuhan energi listriknya dari energi matahari. Di setiap atap 40 rumah dan sekolah di Donggwang terdapat panel-panel surya berukuran besar. Dengan memanfaatkan teknologi ini seluruh penduduk dapat menikmati listrik gratis setiap hari. Setiap rumah memiliki kapasitas panel surya berbeda. Choo Chan Lee misalnya, memasang system dengan kapasitas 2100 Watt.

Donggwang, desa mandiri energy di pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: ecoworldly)

Program ini dibangun tahun 2004. Ketika itu pemerintah membantu biaya pemasangan sebesar 70%. Masyarakay Jeju sangat menikmati pulau mereka yang berudara bersih dan segar.





Seni Energi Surya (The Art of Solar Power)

14 05 2008

Di tangan para arsitek, panel-panel surya bisa dibikin artistic. Sebuah konsep dari ZM Architecture, perusahaan yang berbasis di Glasgow, baru-baru ini memenangkan kompetisi International Design Awards (IDA) Land and Sea Competition. Perusahaan ini mendisain panel-panel surya dengan mengambil bentuk bunga teratai, bunga mengambang yang banyak ditemukan di River Clyde, Glasgow.

Lembaran panel-panel surya berbentuk bunga teratai di permukaan sungai River Clyde, Glasgow (Foto: BBC London)

Bunga teratai mengambang di permukaan sungai (Foto: nathanfarb)

Di dalam proposal yang sudah disetujui pemerintah Glasgow tersebut dikatakan bahwa desain mereka dimaksudkan supaya panel-panel surya tersebut membaur dengan kondisi alami sungai Clyde.

Listrik yang dihasilkan oleh panel-panel surya yang tiangnya dipancangkan ke dasar sungai tersebut diekspor ke jaringan listrik nasional. Supaya “bunga-bunga teratai” dapat bergerak mengikuti arah matahari, akan dipasang motor-motor listrik.

Sebelum ini solar sel sudah digunakan untuk memperindah taman. Jika anda punya kolam kecil di taman rumah, anda bisa memasang air mancur mengunakan solar sel berbentuk bunga teratai. Energi listrik yang dihasilkan solar sel bunga teratai ini akan disimpan ke baterai yang menggerakkan pumpa air.

Air mancur mini menggunakan solar sel bunga teratai (Foto: earthwhile)

Solar set bunga teratai yang berukuran 9 inci x 3 inci ini dapat memancarkan air setinggi 18 inci. Jika pada kolam dipasang cukup banyak air mancur mini, maka kolam anda akan bertambah indah. Yang juga menarik, anda bisa punya air mancur sepanjang hari tanpa membebani rekening listrik anda.





Balon Surya (Solar Balloons)

7 04 2008

Seorang ilmuwan Israel melakukan pengembangan sumber energi terbarukan dengan cara baru. Dia menempelkan modul surya ke sebuah balon dan digantungkan di udara. Sistem ini memiliki keuntungan antara lain: dapat menangkap cahaya matahari secara langsung tanpa tertutup pohon, bagungan, dsb.

Silahkan klik pada foto di bawah untuk menonton video-nya.

Foto: Reuters

Untuk memberi komentar atas informasi ini, silahkan klik di samping Comments di bawah.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers