EFISIENSI SOLAR CELL SUDAH MENCAPAI 46%

12 06 2016

Penelitian masih berlangsung dengan hasil yang semakin baik. Inilah grafik historis efisiensi solar sel hingga kini. Peningkatan efisiensi adalah indikasi penurunan biaya.

Energi surya menunjukkan trend semakin murah dengan penurunan harga signifikan. Kita berharap pengambil kebijakan di negeri membiasakan diri membaca fakta seperti ini untuk merebut peluang besar di masa depan. Tidak sedikit orang berkuasa (termasuk sebagian dinas-dinas terkait di daerah) yang masih mempertahankan argumen bahwa energi matahari mahal dan tidak perlu dipertimbangkan; hanya menggunakan data lama, tanpa melihat trend ini. Pemerintah di banyak negara maju membuat kebijakan masa kini dengan melihat informasi hostoris dan estimasi masa depan.

Malaysia sudah jauh di depan kita dalam pengembangan energi matahari. Akankah dalam sektor ini kita kembali di posisi inferior di banding negara tetangga, sehingga pada akhirnya kita hanya bisa habis-habisan mempertahankan lagu dan tari sebagai keunggulan kita?

CellEff2016
Best Research Cell Efficiency, NREL (sumber: http://phys.org/news/2016-02-solar-cell-efficiency-nrel.html).

Megaproyek pembangunan pembangkit listrik 35 GW didominasi dengan PLTU batubara (sangat mungkin beli dari China, kita saksikan nanti). Berapa efisiensi PLTU batubara. Rekor dunia ada di Denmark, 47%, tetapi rata-rata yang beroperasi 32-35%.

http://cornerstonemag.net/setting-the-benchmark-the-worlds…/

Kita sudah berpengalaman terlambat mengambil keputusan yang berorientasi masa depan. Maka kita sering menjadi pengguna teknologi (pasar bagi bangsa lain), yang sadarnya terlambat.

http://www.power-technology.com/…/featurecharting-progress…/





Energi Surya di Atap, Wajib di San Fransico

12 06 2016

Untuk kesehatan iklim bumi dan keamanan suplai energi masa depan, negara yang mengaku paling demokratis pun memilih sikap ‘memaksa.’ San Fransisco mewajibkan rumah-rumah yang dibangun mulai 1 Januari 2017 memasang panel surya atau pemanas air surya di atap.

Silahkan simak infonya di http://www.pv-tech.org/news/paving-the-way-san-francisco-first-big-us-city-require-rooftop-solar#.VyAYb2nYsJ0.facebook

SF
Gambar: pv-tech.org

Apa kabar Indenesia Raya, sang jawara sumber energi matahari?





POMPA AIR TENAGA SURYA UIN SUSKA BEROPERASI

12 06 2016

Sebuah Pompa Air Tenaga Surya (PATS) mulai beroperasi di UIN Suska Riau sejak 11 April 2016. Berbeda dengan pompa konvensional yang digerakkan dengan tenaga listrik PLN, sistem PATS yang dipasang di gedung Laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ini beroperasi menggunakan cahaya matahari.

Energi matahari tersedia melimpah sepanjang tahun, terutama di kawasan khatulistiwa seperti Riau. Pemanfaatan energi matahari untuk membangkitkan listrik dapat mengurangi biaya operasional dan perawatan dan ramah lingkungan.

Pembangunan PATS di UIN Suska terwujud karena kontribusi banyak pihak. Sepuluh modul surya berkapasitas mini (500 Wp) didapatkan atas inisiatif Energy Research Centre/EnReach (www.enreach.or.id) FST UIN Suska Riau dari Pemkab Kuantan Singingi. Pompa air dan sistem kontrol (charger dan inverter) didapatkan dari Ostbayerische Technische Hochschule (OTH) Amberg-Weiden Jerman atas inisiasi EnReach melalui skema kerjasama UIN Suska dan OTH, terimakasih kepada Prof. H.M. Nazir atas supportnya. Rangka modul surya, pengkabelan, dan pembuatan sumur bor didanai dari penelitian LPPM ibu Liliana Muchtar, ST., M.Eng., ibu Susi Afriani, ST., MT., pak M. Irsyad, ST., MT., dan Kunaifi. Sedangkan empat buah baterai dipinjamkan oleh Dr. Alex Wenda, ST., M.Eng. (Ketua Jurusan Teknik Elektro) dan Pak Mulyono Mulyono, ST., MT. (Kepala Laboratorium Teknik Elektro).

Sistem PATS ini dapat menyediakan suplai air di gedung laboratorium FST, menggantikan pompa air yang saat ini digerakkan dengan listrik PLN. Pada awalnya, PATS ini direncanakan dipasang di Masjid Al Jamiah UIN Suska. Namun karena atap masjid masih dikerjakan, pemasangan modul surya di sana tidak dapat dilakukan. Di masa depan, tidak tertutup kemungkinan suplai air untuk keperluan wudhu dan lain-lain di masjid UIN dipompa dengan tenaga matahari.

Koordinator Tim, Kunaifi, menjelaskan bahwa sistem PATS tersebut beroperasi dengan biaya NOL rupiah karena tidak menggunakan listrik PLN, melainkan memanfaatkan energi gratis dari Allah SWT yang dipancarkan 12 jam sehari oleh matahari. Aplikasi listrik tenaga matahari beragam. Liliana, ST., MT., dosen di Jurusan Teknik Elektro mengatakan bahwa tenaga matahari dapat digunakan untuk penerangan ruangan, jalan, dan taman; menggerakkan peralatan listrik di rumah, yang dapat dipasang di atas tanah, atap bangunan, atau atap parkir kendaraan bermotor.

Cahaya matahari diubah menjadi listrik searah (dc) oleh modul-modul surya. Listrik dc bertegangan 90 V ini diubah menjadi listrik bolak-balik (ac) 220 V oleh inverter dan selanjutnya digunakan untuk menggerakkan pompa air yang ditanamkan di dalam sumur bor. Sisa listrik yang tidak dipakai untuk menggerakkan pompa air diisikan ke dalam baterai menggunakan charger, sehingga pada malam hari sistem PATS masih dapat bekerja dengan baterai tanpa sinar matahari.

Tim juga mengucapkan terima kasih kepada Bpk Dr. Hartono, MPd., Dekan FST, yang memberikan dukungan penuh untuk kegiatan ini dan memberi izin penggunakan gedung di FST sebagai tuan rumah peralatan tersebut. Terima kasih juga disampaikan kepada mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, khususnya Konsentasi Energi, yang telah membantu sejak proses dari awal hingga peralatan dioperasikan (Yurnalis, Ilham Lubis Ba, Fadly Muhammad Bin Muhammad, Faisal, Heri, dll.).

Ikuti galeri foto kegiatan di bawah ini.

Ikuti video sederhanyanya dari link di bawah ini.

 





Arab Saudi pun Mau Energi Surya (Saudi Arabia is Willing to Go Solar)

26 05 2015

Sebuah laporan Damian Carrington di The Guardian, 22 Mei 2015, berjudul “Saudi Arabia’s solar-for-oil plan is a ray of hope,” telah menghembuskan semangat dan optimisme baru bagi dunia energi terbarukan (ET), khususya energi matahari.

Mengapa demikian? Saudi Arabia, raja minyak dunia, negara yang sangat kaya, melalui Menteri Perminyakan Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan di Paris beberapa hari lalu bahwa negaranya pada suatu hari, mungkin 2040, 2050, atau setelah itu, akan mengekspor listrik tenaga matahari, bukan minyak bumi. Pada tahun 2012 Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa 100% suplai listrik akan berasal dari ET.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Arab Saudi adalah pemilik 1/5 cadangan terbukti minyak bumi dunia, eksportir minyak bumi terbesar, pendiri dan anggota yaang sangat berperngaruh di OPEC, menggantungkan 75% APBN pada minyak bumi dan 90% pendapatan ekspornya dari industri minyak bumi.

Ini adalah sebuah target yang ambisius bagi Arab Saudi. Target ini mungkin akan berdampak dalam sekali pada ekonomi (baca: kemewahan) minyak Arab Saudi. Bagian yang paling sulit, menurut saya, adalah bagaimana mempersiapkan rakyatnya untuk beradaptasi dengan ET. Syarat pertama untuk mengadopsi ET adalah melakukan efisiensi energi (EE) dulu. Sementara itu konon warga Arab Saudi yang makmur itu tidak begitu familiar dengan EE.

Sebelum melihat rencana yang lengkap, saya sepakat bahwa target ini untuk sementara bisa dilihat secara skeptis. Misalnya, sang menteri baru bicara tentang listrik, namun belum bicara tentang bbm untuk transportasi jika ditargetkan 100% suplai energi ET.

Terlepas dari berbagai skeptisme, rencana besar Arab Saudi ini telah menghembuskan angin segar bari pengembangan ET dan perbaikan iklim dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri ‘mantan’ anggota OPEC, yang sering merasa kaya minyak? Aapakah sudah memiliki rencana yang lebih baik untuk pengembangan ET? Bagaimana menurut anda?

22 May 2013, Saudi Arabia --- A Saudi man walks on a street past a field of solar panels at the King Abdulaziz city of Sciences and Technology, Al-Oyeynah Research Station, in this May 21, 2012 file photo. A slide in solar power costs and a surge in oil prices over the last few years has made solar power a win-win strategy for Saudi Arabia: saving billions of dollars of crude for export while making electricity at less than half the cost. To match Analysis SAUDI-SOLAR/ REUTERS/Fahad Shadeed/Files (SAUDI ARABIA - Tags: ENERGY BUSINESS) --- Image by © FAHAD SHADEED/Reuters/Corbis

22 May 2013, Seorang pria Saudi Arabia berjalan di sisi pembangkit listrik tenaga surya di kota King Abdulaziz. (Foto: The Guardian)





Atap Bangunan Baru di Perancis Wajib Dipasang Modul Surya

21 03 2015

Pada tanggal 19 Maret 2015, Perancis mengesahkan UU baru yang mewajibkan sebagian atau keseluruhan atap gedung baru di kawasan komersil dipasang panel surya atau ditanam tumbuhan.

Sebagai negara yang mengandalkan lebih 80% suplai listriknya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Perancis memang masih tertinggal dari sebagian negara Eropa dalam memanfaatkan energi surya. Jermal, Spanyol, dan Italia memimpin aplikasi energi surya di Eropa dan dunia.

Selain pasangan PLTS, UU baru tersebut mendorong atap gedung baru di Perancis untuk ditanami tanaman. Konsep atap hijau ini memberikan berbagai keuntungan. Dengan atap hijau, bangunan akan memerlukan lebih sedikit energi untuk mencapai temperatur ruang yang diinginkan.

Sumber: http://thinkprogress.org/climate/2015/03/20/3636746/franch-rooftops-go-green/

IMG_6806
Sumber: http://homeli.co.uk/eco-villa-concepts-in-flavours-orchard-china-by-vincent-callebaut-architecture/





Solar Sel Full Spektrum (Full-spectrum Solar Cells)

4 02 2011

Salah satu alasan utama mengapa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kesulitan mengimbangi pembangkit listrik konvensional adalah karena efisiensinya yang rendah. Sehingga untuk mendapatkan energi listrik yang besar diperlukan luasan modul surya yang besar pula, yang berarti biaya pun besar.

Mayoritas solar sel komersial saat ini memiliki efisiensi sekitar 15%. Sedangkan efisiensi sebesar 30% sudah berhasil diuji di laboratorium namun belum dapat diproduksi untuk keperluan komersial.

Mengapa solar sel belum bisa mengkonversi radiasi matahari dengan efisiensi tinggi? Alasannya adalah karena material solar sel hanya mampu mengkonversi sebagian dari spektrum cahaya matahari yang diterimanya. Menurut Tomas Marvart dalam bukunya berjudul Solar Electricity, hanya sekitar 2/3 dari spektrum cahaya matahari yang dapat dikonversi menjadi listrik oleh material solar sel yang ada sekarang.

Namun kini ada harapan baru untuk mengkonversi semua spektrum cahaya matahari menjadi listrik. Riset yang dilakukan oleh Wladek Walukiewicz di Lawrence Berkeley National Laboratory telah berhasil mengkonversi seluruh spektrum. Dan yang juga menarik adalah bahwa proses produksi solar sel baru ini dapat dilakukan menggunakan teknik produksi konvensional.

Prinsip yang digunakan oleh Wladek Walukiewicz dan kawan-kawan adalah bahwa: tidak ada material yang mampu merespon semua panjang gelombang radiasi matahari, masing-masing material bekerja pada panjang gelombang yang berbeda pula, maka untuk memungkinkan proses konversi seluruh spektrum dilakukan penggabungan beberapa bahan berbeda dengan sensitifitas spektrum berbeda pula.

Satu cara untuk menggabungkan berbagai bahan adalah dengan menumpuk lapisan-lapisan semikonduktor berbeda dan menggabungkannya secara seri menggunakan kawat. Teknik ini walaupun mampu menggabungkan lapisan-lapisan berbeda, namun strukturnya masih rumit sehingga menyulitkan dalam proses fabrikasi. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat satu lapisan namun mampu bekerja dengan spektrum berbeda.

Tim peneliti mengatakan bahwa teknik baru yang mereka perkenalkan akan menghasilkan solar sel efisiensi tinggi dengan harga yang labih murah. Namun sayang, mereka belum menyebutkan setinggi apa efisiensi yang dapat dihasilkan.

Sumber: http://newscenter.lbl.gov/feature-stories/2011/01/24/practical-full-spectrum/





Mendulang uang dari atap rumah (Making money from your house’s roofs)

5 02 2009

Energi terbarukan makin mendapat tempat dalam wadah kebijakan ekonomi dunia. Makin banyak negara – terutama negara-negara maju – membuat kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan. Walhasil, sekitar 36% pertumbuhan energi angin diraih tahun 2007, terutama dari pasar di Eropa, Amerika Utara, dan Asia (Sumber: Renewableenergyworld). Begitu juga dengan energi surya, justru mengalami pertumbuhan lebih tinggi, hampir 50% per tahun (Sumber: Worldofrenewables).

Salah satu kelemahan dari energi surya dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan kapasitas energi besar. Sebuah inovasi kebijakan yang digagas di Amerika sungguh menarik.

Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV systems). Instalasi solar energi rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasari atas filosofi pembangkit listrik tersebar (distributed power generation), bukan terpusat sebagaimana lazimnya. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema solar power purchase agreements (PPAs) dan penyewaan atap rumah (solar leasing).

2051Solar system di atap Perpustakaan Universitas Murdoch Australia, almamater saya. Merupakan sistem surya tersambung jaringan listrik (grid) terbesar di Western Australia. Kapsital 26 kW terdiri dari hampir 200 panel surya, menghasilkan sekitar 30kWh energi listrik sehari. (Sumber: Murdoch University)

Sebegaimana dirilis Worldofrenewables, pemerintah kota Santa Barbara di California baru-baru ini menyewakan atap bangunan pemerintah kota untuk sistem PV berkapasitas 330 kW untuk masa 20 tahun PPA. Proyek ini tidak hanya menguntungkan secara estetika, tapi juga memberi peluang bagi 1.040 rumah untuk mendapat suplai listrik dari sistem PV. Mengingat besarnya peluang dari inovasi ini, pemerintah kota dalam waktu dekat juga akan menyewakan lokasi parkir di Santa Barbara Airport.

2062Desain solar sistem pada lokasi parkir. Memiliki 3 keuntungan; menghasilkan listrik, tidak memerlukan lokasi khusus, dan melindungi kendaraan dari panas sinar matahari (Foto: PV-tech)

Penyewaan atap untuk solar sistem juga penting untuk pengembangan energi surya di perkotaan, seiring dengan biaya pengadaan dan instalasi solar sistem yang makin murah.

Bagaimana Indonesia. Tertarik?








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers