Baru 1% Energi Terbarukan Indonesia Digunakan

12 06 2016

Kementerian ESDM: “Baru 1% dari 801,2 GW potensi ET Indonesia yang dimanfaatkan” (detik.com)

Indonesia-Energy-Map
Peta Energi Panas Bumi Indonesia (Sumber: BaliSOS)

Cukup kentara tidak kompak di pusat. Dirjen EBTKE, mungkin karena sesuai tugasnya, mengatakan ET perlu diprioritaskan, tetapi kenyataan sekitar 19 GE (54%) program 35 GW adalah untuk batubara. Simak berita detik.com selengkapnya di bawah ini.

“Kementerian ESDM menjadikan sektor energi baru terbarukan (EBT) sebagai fokus pengembangan energi ke depan. Dari potensi yang dimiliki Indonesia 801,2 Giga Watt (GW), pemanfaatan EBT baru mencapai 1%, atau sekitar 8,66 GW.

“Pemanfaatan energi terbarukan baru 1% dari potensi 801,2 GW atau sekitar 8,66 GW artinya hampir utuh karena nggak dipakai,” ujar Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana, dalam Sarasehan Media, di Hotel Neo Plus Green Savana, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/5/2016).

Sebagai informasi, potensi energi terbarukan di Indonesia berasal dari berbagai macam sumber energi, seperti air, angin, surya, bio energi, energi laut, dan panas bumi, namun pemanfaatannya masih minim.

Tenaga Air dari potensi 75 GW baru dimanfaatkan 5,02 GW (7%), tenaga Angin 113,5 GW baru dimanfaatkan 6,5 MW (0,01%), tenaga Surya 532,6 GWp baru dimanfaatkan 0,08 GWp (0,01%), dan Bio Energi 32,6 GW baru dimanfaatkan 1,74 GW (5,3%).

Potensi pembangkit listrik dari tenaga energi laut 18 GW baru dimanfaatkan 0,3 MW (0,002%) dan panas bumi 29,5 GW baru dimanfaatkan 1,44 GW (5%).”





Butuh Kompromi Harga Listrik Mikrohidro

12 06 2016

“Menteri ESDM, Sudirman Said, menegur manajemen PLN karena membuat aturan sendiri soal tarif listrik dari pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH)” (detik.com)

uH
Pembangkit Listrik Mikrohidro (Foto: Energypedia)

Dua-duanya benar. Akar masalahnya yang kusut. PLN sacara hirarki berada di bawah Kementerian BUMN, namun sektor yang digarapnya di bawah koordinasi Kementerian ESDM. Diperlukan komitmen (dalam bentuk kebijakan dan instruksi yang tegas) dari lembaga yang lebih tinggi (Menko terkait atau bahkan Presiden) tentang komitmen pada ET.

Tanpa komitmen dari level paling atas, maka ET hanya jadi slogan, sementara di negara lain ada yang bahkan komit 100% ET. Suatu hari nanti, jika tidak cepat ambil keputusan, negaa ini akan mengulangi kejadian yang sama, seperti banyak pengalaman-pengalaman lain, bahwa terlambat mengambil pilihan membuat bangsa ini berakhir sebagai bangsa konsumen teknologi dan penonton negara lain bermain di pasar yang basah.

ET tidak bisa dibiarkan bertarung head-to-head dengan energi fosil. Bisnis energi fosil yang ‘kotor’ sudah terlalu teramat besar, menggurita ganas, dan teramat kuat, sementara ET adalah ibarat bayi mungil tanpa dosa yang baru hadir di dunia ini. Jika pemerintah diibaratkan sebagai orang tua, orang tua macam apa yang membiarkan kedua anak dengan beda kondisi seperti itu bertarung head-to-head?

Sebenarnya keduanya tidak perlu dipertarungkan. Keduanya perlu diberi peran masing-masing. ET yang masih muda sacara pasti diberi peran makin besar dan makin besar, sedangkan energi fosil yang sudah beranjak tua mulai dikurangi perannya. Dalam terminologi kebijakan ini dinamakan ‘sustainable energy mix scenario?’ Kami di perguruan tinggi siap. Pemerintah? BUMN?





IBUKOTA AUSTRALIA 100% ENERGI TERBARUKAN 2020

12 06 2016

Ibukota Australia (Australian Capital Teritory) menaikkan target suplai listriknya dari sebelumnya 90% menjadi 100% pada tahun 2020.

Ikuti beritanya di sini: http://www.pv-tech.org/news/australian-capital-territory-targets-100-renewable-energy-by-2020

AU100
Gambar: pv-tech.org

Undang-Undang Energi di Indonesia sebenarnya juga mendorong provinsi-provinsi untuk membuat target pengembangan ET masing-masing. Kita tunggu atau kita dorong?





Pertamina Akan Bangun 1 GW ET

12 06 2016

“Pertamina mendukung proyek 35.000 megawatt dengan membangun 1.000 megawatt pembangkit listrik dari energi baru terbarukan dalam 5 tahun ke depan” (detik.com edisi 05-03-2016).

823282c1-ddd5-4f04-b2c3-a80f1e483912_169
Foto: detik.com

Semoga tekad Pertamina ini bukan karena kepepet gara-gara harga minyak bumi terjun bebas, lalu mulai berpikir beralih ke energi terbarukan (ET). Ketika nanti harga minyak bumi normal lagi semoga Pertamina konsisten dengan tekad ini, tidak kembali menyebut ET mahal dan tidak reliable. Semoga tidak begitu. Kalau begitu, maka kejadian (=kesalahan) yang sama, mengandalkan ekonomi dan ketahanan energi pada energi fosil, akan berulang-ulang.





INDONESIA KINI ANGGOTA IEA dan OPEC. BAGAIMANA IRENA?

31 03 2016

Sejak pertengahan November 2015, Indonesia sudah bergabung dengan International Energy Agency (IEA), www.iea.org. Organisasi energi internasional ini sesungguhnya beranggotakan negara-negara maju, namun Indonesia bergabung sebagai anggota mitra (associated member).

IEA mungkin merupakan organisasi energi paling bersar di dunia. Walaupun IEA sering dianggap lebih fokus pada energi fosil (minyak, batu bara dan gas bumi), pemerintah menyebutkan juga akan memanfaatkan status keanggotaanya untuk mengembangkan energi terbarukan.

Sebelumnya, Indonesia juga sudah bergabung (lagi) dengan OPEC, setelah 7 tahun keanggotaan Indonesia digantung (suspended) oleh karter minyak terbesar di dunia itu karena telah menjadi negara yang lebih banyak impor daripada ekspor minyak bumi. Masuknya Indonesia kembali ke OPEC berjalan mulus karena Indonesia adalah salah satu pendiri OPEC, walaupun jumlah produksi minyak Indonesia tidak banyak berubah. Keikutsertaan Indonesia di OPEC yang berkantor di Wina (sebelumnya di Arab Saudi) diharapkan berguna untuk menjamin suplai minyak dalam negeri.

Satu organisasi energi dunia lain adalah IRENA (international renewable energi agency). IRENA fokus mengembangkan energi terbarukan dan berkantor pusat di Abu Dhabi. Dengan IEA dan OPEC Indonesia dapat berberan lebih besar dalam jaringan energi fossil. Dengan kebijakan energi nasional 2014 yang memberi porsi signifikan pada EBTKE, Indonesia rasanya juga perlu berabung dengan IRENA. Suplai emergi kini tidak bisa lagi jika hanya mengandalkan kemampuan domestik. Peran serta dalam organisasi Internasional dapat bermanfaat besar jika dimainkan secara baik.





PROMOSI ENERGI TERBARUKAN BUTUH PERJUANGAN

31 03 2016

Terlepas dari segala keunggulan yang dimiliki oleh berbagai sumber dan teknologi energi terbarukan dan fakta bahwa dunia sedang bergerak menuju masa depan dengan energi terbarukan, tenyata promosi energi terbarukan tidak selalu mudah. Ada tembok besar yang harus dilompati atau dirubuhkan terlebih dahulu, penghalang yang datang bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga bisnis dan pemerintah.

Bahkan dii Amerika Serikat, negara maju dan berpengalaman lama mengembangkan energi matahari, tembok besar tersebut masih ada. Sebuah proposal pembangunan energi surya di Woodland, North Carolina, telah ditolak oleh warga dan pemerintahnya karena takut panel-panel surya akan menghisap semua energi dari matahari sehingga bisnis lain tidak bisa tumbuh di sana. Bahkan seorang pensiunan guru sains mengatakan bahwa panel surya dapat menghambat fotosintesis dan pertumbuhan tumbuhan karena dia melihat daun-daun menjadi coklat di sekitar panel surya.

Modul surya tentu tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghisap sinar matahari karena dia secara pasif hanya menerima sinar matahari yang menimpanya, lalu mengubahnya menjadi listrik. Sedangkan daun-daun menjadi coklat di sekitar panel adalah karena pestisida yang sengaja disemprotkan untuk menghambat rumput dan pohon di sekitar panel menjadi tinggi dan menimbulkan naungan (bayang-bayang) di atas modul. Tetapi, alasan warga Woodland tersebut disepakati pemerintahnya dan proposal energi surya tersebut telah ditolak. Analis mengatakan mungkin penolakan tersebut disupport oleh bisnis energi fosil yang tidak tidak suka melihat energi terbarukan sukses dan menjadi saingan bisnisnya.

Bagaimana dengan kita? Ya, penolakan kepada energi terbarukan di sini masih cukup tinggi, dari masyarakat, bisnis, dan pemerintah. Masyarakat enggan menggunakan energi terbarukan karena kualitasnya tidak sebaik energi dari sumber konvensional. Bisnis menolak karena belum menuntungkan. Pemerintah menolak karena mahal.

Penolakan-penolakan tersebut dipahami, namun sesungguhnya kita punya pilihan untuk melompati tembok itu bahkan merubuhkannya. Berbagai teknologi telah tersedia untuk membuat energi terbarukan memiliki kualitas sama dengan energi konvensional. Harga sesungguhnya sedang melompat turun dengan cepat sehingga mulai bersaing dengan energi fosil. Kebijakan dan insentif yang mendukung juga dapat membuat energi terbarukan bersaing dengan energi fosil. Banyak negara telah sukses mengembangkan energi terbarukan dan kini sedang meningkatkan porsi energi terbarukan dalam struktur bauran energinya.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan subsidi kepada energi terbarukan sehingga bisnis di sektor ini berjalan cepat dan menjadi kokoh serta mandiri. Mengapa kita memberi subsidi ratusan triliun untuk energi fosil yang jelas-jelas membawa kerusakan pada kehidupan di Bumi? Bukankah energi fosil dan energi terbarukan keduanya adalah anak kandung dari sebuah pemerintah? Mengapa ketika mereka disuruh bertanding, energi fosil diberi pedang dan pistol, sedangkan energi terbarukan diberi lidi?

Kita yang memilih, dan pilihan kita akan menentukan masa depan. Pilihan kita akan diuji oleh generasi nanti. Buatlah pilihan yang baik untuk kita dan mereka nanti. Sesungguhnya pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah tepat, namun masih perlu ditingkatkan beberapa puluh kali lipat lagi.

*******
Renungan pagi dari sebuah kelas di Konsentrasi Energi, Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau, di mana generasi muda di sini bersemangat berlatih menjadi “pelompat tembok” atau bahkan merubuhkannya demi masa depan energi yang berkelanjutan di Indonesia.





KETIKA OTONOMI DAERAH DIPRETELI SATU-PER SATU.

31 03 2016

Mulai 2016, Urusan Sektor Kehutanan, Kelautan, Energi, Sumberdaya Mineral, ditarik ke pusat. Sebagian urusan-urusan tersebut akan dikelola langsunh oleh pusat, dan sebagian akan dilaksanakan oleh pemprov sebagai perpanjangan tangan pusat di daerah. Keputusan tersebut adalah amanat UU 23/2014.

Maka dinas-dinas Kehutanan, Kelautan, Energi dan Sumberdaya Mineral, serta urusan terkait di kantor Wako dan Bupati, akan dilikuidasi.

Apakah ada sahabat yang bisa membantu menjelaskan alasan rasional dari keputusan tersebut?