Puskesmas Desa Terpencil Lebih Cocok Menggunakan PLTS Saja

9 01 2018

Di desa-desa terpencil, banyak puskesmas tidak bisa menggunakan beberapa peralatan karena tidak ada listrik. Studi ini mengusulkan solusi untuk membangkitkan listrik bagi puskesmas-puskesmas tak berlistrik di Kecamatan Gema, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Sisten yang diusulkan menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan generator diesel sebagai back-up, dirancang menggunakan Australian Standard AS 4509.2—2002. Dengan potensi energi matahari rata-rata tahunan sebesar 4,81 kWh/m2/hari, beban puncak 90 Watt dan konsumsi energi harian 992 Wh, kebutuhan listrik puskesmas dapat disuplai dengan pembangkit sistem hibrida PLTS/genset yang terdiri dari modul surya 220 Wp, BCR 10 A, baterai 2 x 360 Ah, inverter 100 VA, dan genset 12 VA. Setelah perancangan, ditemukan bahwa puskesmas desa Gema tidak cocok menggunakan sistem hybrid, melainkan lebih cocok menggunakan sistem PLTS saja.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: DESAIN PEMBANGKIT LISTRIK HYBRID (PLTS-DIESEL) UNTUK MENINGKATKAN PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS KECAMATAN GEMA KABUPATEN KAMPAR.

Gema

Advertisements




Biaya Listrik Energi Terbarukan di Desa Terpencil Lebih Murah Dibanding Menggunakan Genset

9 01 2018

Menggunakan software HOMER, sebuah sistem pembangkit listrik hibrida (hybrid) dirancang di sebuah desa terpencil di Provinsi Riau. Sistem terdiri dari PLTS 5 kW, Darrieus Hydrokinetic Turbine 2 x 3 kW, baterai 14.400 Ah, inverter 20 kW, dan generator diesel 18 kW sebagai back-up.

Biaya energi listrik (COE) dari sistem hibrida lebih tinggi dibanding biaya listrik PLN. Namun saat itu, listrik PLN belum menjangkau desa tersebut sehingga masyarakat menggunakan genset. Biaya listrik sistem hibrida lebih murah dibanding biaya dengan genset. Emisi CO2 dari sistem hibridia juga jauh lebih rendah.

Untuk informasi selanjutnya, silahkan download artikel berikut: 2010_SEMNASIF_PROGRAM HOMER UNTUK STUDI KELAYAKAN PEMBANGKIT LISTRIK HIBRIDA DI PROPINSI RIAU.

2010_SEMNASIF_PROGRAM HOMER UNTUK STUDI KELAYAKAN PEMBANGKIT LISTRIK HIBRIDA DI PROPINSI RIAU

 





Keandalan listrik Indonesia menurut pengguna dan PLN

6 01 2018

Pengguna layanan publik tidak selalu mengalami pengalaman yang sama dengan apa yang dilaporkan oleh pihak berwenang. Misalnya tentang kehandalan listrik, terdapat perbedaan signifikan antara pengalaman pengguna dan laporan dari utilitas. Artikel di Jurnal Energies menyajikan perbedaan tersebut di Pekanbaru, Kupang, dan Jayapura.

Artikel dapat ditemukan  pada link berikut:

Abstrak: http://www.mdpi.com/1996-1073/11/1/140/
Artikel Penuh (HTML): http://www.mdpi.com/1996-1073/11/1/140/html
Download .pdf: http://www.mdpi.com/1996-1073/11/1/140/pdf

Kunaifi, Reinders A. Perceived and Reported Reliability of the Electricity Supply at Three Urban Locations in Indonesia. Energies. 2018; 11(1):140.

Untitled

Enter a caption

Untitled-2

 





Wierden: (3/3) Desa Enter

24 07 2017

Sebelumnya diceritakan, setelah pulang dari Pasar Maluku, kemudian tanpa rencana kami berkunjung ke ‘rumah pisang,’ kami masih tersesat. Tapi syukurlah, Jo menemukan rumah kenalannya. Berkat penjelasan dari kenalannya, akhirnya kami sampai juga ke rumah Jo di Enter sekitar jam 5 sore.

Salah satu tujuan kami ke sana adalah mengunjungi D**e, suami Jo yang sedang sakit. [Karena belum izin, saya tidak menuliskan namanya lengkap. Selanjutnya saya panggil Da saja. Kami menemukan pak Da sedang membaca novel di taman belakang. Da suami Jo, adalah orang Inggris yang sudah 30 tahun tinggal di Belanda.

Sambil bercakap-cakap dengan Da tentang topik-topik ringan, pisang goreng dari Pasar Maluku dimakan. Saya membeli tiga bungkus. Satu bungkus sudah saya habiskan dengan sempurna. Maklum, sudah setahun tidak makan pisang goreng. Da ditawari tidak mau. Jo juga tidak mau. Mereka memang tidak suka makanan berminyak. Zia, Abihv dan mamanya saya tawari, berharap juga tidak mau. Ternyata mereka mengangguk tegas. Mau. Saya simpulkan dengan ikhlas, jatah saya memang hanya satu bungkus.

photo_2017-07-23_23-38-47

Jo dan istri saya kemudian sibuk memasak di dapur. Da dan saya ngobrol di taman belakang. Zia dan Abhiv di depan telah tenggelam dalam permainan pingpong mini yang telah disiapkan Jo dan Da sebelum kami datang. Tidak lama kemudian mereka pun mulai melukis. Peran seiap orang telah dipersiapkan secara matang.

Jika mereka mengundang orang, selalu lengkap dengan susunan acaranya, walaupun tidak selalu ditulis. Inilah yang juga ingin saya pelajari dari budaya Barat. Beberapa tahun lalu, saat diundang barbeque ke rumah seorang kolega di Jerman, susunan acaranya bahkan sudah diemailkan sebelum saya tiba.

Melukis

Persis seperti kepanitiaan sebuah acara resmi. Persiapan susunan acara juga bertujuan supaya waktu setiap orang terisi penuh, sehingga tidak ada yang merasa bosan. Juga untuk meyakinkan bahwa peralatan dan kebutuhan untuk setiap orang dan peran, telah disiapkan dengan baik sebelum tamu datang. beda dengan saya kalau menerima tamu, modalnya hanya mulut (untuk ngobrol dan makan) dan remote TV jika kehabisan bahan untuk dibincangkan.

Enter adalah sebuah desa tua. Usianya lebih 1.200 tahun. Zaman dulu, pekerjaan utama penduduk Enter adalah kerja kayu, termasuk membuat sepatu kayu. Maka tidak heran jika saat ini di Enter masih terdapat pabrik sepatu kayu. Bahkan, sepatu kayu paling besar di dunia ada di Enter dan masuk ke dalam Guinness Book of Records.

Pada abad ke 18 dan 19, Enter juga merupakan tempat membuat sejenis kapal kecil, yang mereka beri nama Zomp. Oleh karena itu, hingga kini, di Enter ada semacam perayaan di mana penduduk pergi naik kapal lalu berlayar ke kota-kota yang jauh dari Enter. Hal tersebut mungkin, karena di Belanda terdapat ribuan kanal-kanal buatan yang tersambung satu dengan lain.

photo_2017-07-24_01-15-56   photo_2017-07-24_01-15-54
Sepatu kayu terbesar di dunia dibuat dari satu batang kayu, panjang 403 cm, lebar 171 cm, tinggi 169 cm di Enter
photo_2017-07-24_01-15-35

Sebagian besar penduduk Enter beragama Katolik Roma atau ateis. Untuk yang terakhir, memang tidak asing di Belanda. Lebih separoh orang Belanda tidak beragama. Kebanyakan mereka mengadopsi nilai-nilai kebaikan dari agama dan kepercayaan apa saja.

Suasana di Desa Enter
photo_2017-07-24_01-15-16   photo_2017-07-24_01-15-50
Suasana desa Enter                                            
Salah satu pabrik sepatu kayu di Enter yang masih berproduksi  (kiri)
photo_2017-07-24_01-15-36  Abhiv dan traktorphoto_2017-07-24_01-15-58 Penduduk desa Enter dan kuda poni

Penduduk Enter juga ramah-ramah. Dalam kunjungan ke sana sebelumnya, kami diajak Jo berkeliling desa jalan kaki. Saling sapa saat berpapasan di jalan adalah hal lumrah di sana. Beberapa orang penduduk berjalan-jalan di desa dengan hewan peliharaannya. Kebanyakan penduduk desa memelihara anjing atau kuda. Mereka tidak segan-segan menyapa orang asing dan memperkenalkan hewan peliharaannya jika melihat kita tertarik.

Jika tidak punya kenalan di Enter, memang cukup bingung juga apa yang akan dilakukan di sana? Namun sebenarnya di Enter ada dua agenda tahunan, yaitu karnaval dan pasar kuda. Pada kunjungan berikutnya ke Enter, saya dan keluarga insha Allah akan mengunjungi pasar kuda tradisional. Dari setiap kunjungan selalu ada hal baru.

— selesai —

Untitled-2

 





Wierden: (2/3) Pohon Pisang dan Sesat Lagi

24 07 2017

Sebelumnya, saat berkunjung ke Pasar Maluku, saya memesan pisang goreng, bahkan rela antri setengah jam untuk mendapatkannya. Agenda kami selanjutnya adalah berangkat ke Enter.

Karena terlihat bergairah sekali dengan pisang, dalam perjalanan menuju Enter, Jo ingin menunjukkan kepada kami sebuah rumah di dekat Enter, yang ada pohon pisang di depannya. Dengan antusias, dia bercerita tentang rumah tersebut. Saya dan istri tentu saja merasa lumayan geli di dalam hati. Apalagi saat Jo menyadari bahwa dia lupa alamat rumah yang dimaksud. Berulang-ulang kami berputar-putar di tempat yang sama dan salah jalan. Kami tidak keberatan sama sekali jika rumah tersebut tidak ditemukan. Tapi Jo bersikeras. Dia ingin menunjukkan kepada kami seperti apa bantuknya pohon pisang.

Saat Jo berjuang ‘menggali’ lokasi rumah tersebut dalam ingatannya, memori saya terbang ke masa kecil di kampung. Saat usia SD sampai SMP, salah satu tugas saya dari Ibu adalah mengambil kelapa dan pisang. Langsung dari pohonnya. Jika turun perintah mengambil kelapa, artinya tidak lama kemudian saya sudah berada di puncak pohon kelapa. Biasanya upahnya adalah, saya jatuhkan satu atau dua butir kelapa muda untuk saya minum. Jika disuruh mengambil pisang, artinya saya segera menjadi ksatria Samurai, terutama ketika menebaskan parang ke tubuh pohon pisang, sampai tumbang. Pohon pisang sebnarnya bukan sesuatu yang baru bagi saya.

Khayalan saya terputus ketika Jo dengan riang memberi tahu bahwa dia telah menemukan rumah yang di depannya ada pohon pisang. Karena dia merasa sudah biasa melihat pohon pisang, kami berempat dipersilahkan turun, mendekat ke ‘rumah pisang,’ sedangkan Jo memilih tetap di mobil. Kami pun tak kuasa mengecewakannya. Sambil bertatapan mata lucu, saya dan istri mengajak anak-anak turun. Ibarat empat sekawan yang lama tinggal di kota metropolitan masa depan, kami melangkah pasti menuju rumah dengan pohon pisang. Padahal, kami semua hanyalah orang kampung. Tulen.

Sampai di sana, kami menemukan serumpun kecil pohon pisang. Yang paling besar seukuran betis orang dewasa. Dengan maksud bercanda kami mengeluarkan komentar-komentar takjub melihat pohon pisang. Saya berkata, “coba lihat, ada garis-garis di daunnya.” Istri saya tertawa dan menimpali “pohonnya lunak ya.” Anak saya yang besar, Zia, menegur kami “lebay kali lah orang ni,” katanya.

Suara berisik kami rupanya terdengar oleh pemilik rumah. Pemilik pohon pisang. Sepasang suami-istri seusia sekitar 55-60 tahun keluar dari rumah. Saya mulai khawatir akan ditegur atau ditanya macam-macam. Bagaimanapun kami telah berhenti di depan properti orang dan menunjuk-nunjuk tanamanannya. Dari perawakan kami juga langsung terlihat bahwa kami bukan orang Eropa. Istri saya berkerudung pula.

Suaminya mengatakan sesuatu yang tidak saya pahami dalam bahasa Belanda. Saya minta Zia terjemahkan. Ternyata mereka berkata, “ayo sini, masuk, di belakang masih ada pohon pisang yang lain.” Kami ragu-ragu, tapi Jo yang juga mulai tertarik, datang dan mengajak kami masuk.

Di belakang rumah tersebut ada sebuah taman kecil, seluas sekitar 5 m x 5 m. Taman itu terawat baik oleh pasangan senior tersebut. Ada tumbuhan yang berasal dari negara tropis, bunga-bunga banyak warna, berbagai jenis rumput, jahe, dan…. tentu saja, …. pohon pisang. Pohon pisang menjadi mahluk yang menjadi pusat perhatian saat itu karena kami datang ke sana karena pohon istimewa itu. Kedua mereka dengan antusias menjelaskan tentang pohon pisang dan tumbuhan lain. Mereka ingin meyakinkan kami paham tentang tanaman itu, sama pahamnya dengan mereka. Untung istrinya bisa sedikit berbahasa Inggris, sehingga langsung ‘direbut’ oleh istri saya. Tinggallah saya dengan suaminya yang hanya bisa bahasa Belanda. Untung ada Zia yang berperan sebagai penerjemah.

photo_2017-07-23_23-38-41Penjelasan-demi-penjelasan yang rinci mengalir deras. Sebuah album foto yang memperlihatkan koleksi tanamaan di sana, termasuk pisang, pun diambil dari dalam rumah. Diceritakan bahwa setiap tanaman punya sejarah. Tibalah di bagian puncaknya, saat sang bapak berkata, “ketahuilah bahwa sebelum ini, di sini ada pohon pisang yang lebih besar,” katanya sambil menunjuk ke pangkal pohon pisang. “Kami sudah panen buahnya dan kami tebang pohonnya,” katanya melanjutkan. Sebagai buktinya beliau memperlihatkan sebuah bekas lobang kecil menandakan sebelumnya di sana ada sebuah pohon lain. Yakinlah kami bahwa itulah bekas pohon pisang.

Karena penjelasan yang super lengkap, tentu cukup memakan waktu. Anak saya yang kecil, Abhiv, mulai terlihat bosan. Dia tidak paham bahasa Inggris dan belum belajar bahasa Belanda. Dia mulai duduk di lantai dan bertanya, “kok lama kali ni?” Sang ibu pemilik rumah tidak kehabisan akal untuk mengendalikan suasana. Dua buah es krim di ambil dari dalam rumah. Anak-anak gembira, dan kami bertahan di sana setengah jam lagi.

photo_2017-07-23_23-38-39Akhirnya kami harus meninggalkan rumah pasangan yang ramah itu. Sebelum pergi, ibu sang pemilik rumah, memberi namanya kepada Jo, mencatat alamat dan meninggalkan nomor telepon. Pesannya, “musim gugur nanti akan muncul beberapa anak pohon pisang yang baru, para sahabat ini datanglah lagi nanti, akan kami siapkan bibit pisang di dalam pot kecil, untuk kalian bawa pulang.”

Bagi saya keramahan seperti itu tidak terlalu asing. Kami pernah tinggal dua tahun di Australia dan bertemu keramahan yang sama dari penduduk asli. Tapi saya tidak berhenti kagum dengan masyarakat-masyarakat maju itu. Mereka hidup tanpa rasa curiga dan ketulusannya yang tinggi. Di Pekanbaru, saya mungkin belum akan sanggup mengundang orang asing, berbeda ras, yang berkumpul di depan rumah saya, menunjuk-nunjuk, untuk masuk dan melihat bagian dalam rumah dan kemudian melibatkan diri dalam percakapan yang menstimulasi kunjungan kedua.

Oleh pasangan pemilik ‘rumah pisang,’ kami dilepas masuk ke dalam mobil dengan senyuman lebar dan lambaian tangan. “Sampai jumpa di musim gugur, katanya.”

Masih Sesat

Edisi tersesat belum berakhir. Tadi Jo sulit menemukan ‘rumah pisang.’ Kali ini dia kesulitan menemukan jalan ke rumahnya. Setelah beberapa kali berbutar-putar, Jo mengenali rumah salah satu kenalannya. Di depan rumah ada dua anak lelaki yang tidak berbaju sedang main semprot-semprotan air. Saat musim panas di Eropa, memang main semprotan air adalah kebiasaan. Di rumah saya, saat hari cerah, saya adalah sasaran tembak anak-anak dengan pistol-pistol air.

Kepada kedua anak lelaki tersebut, Jo menanyakan arah jalan ke rumahnya. Mendengar ada suara-suara di depan, ayah sang anak keluar rumah. Melihat kami orang-orang asing, terjadilah pembicaraan seru. Dengan penuh semangat, ayahnya bercerita bahwa dia pernah ke Danau Toba. Kedua anak-nya juga berusaha mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang mereka tahu. Ada perasaan yang kuat bahwa saya dan keluarga diterima dengan tulus dalam lingkungan seperti itu.

Setelah menunjukkan jalan ‘pulang,’ kami dilepas oleh ayah dan kedua anaknya dengan salaman erat, hangat dan senyuman lebar.





Wierden: (1/3) Pasar Maluku

23 07 2017

Kemarin Sabtu, 22 Juli 2017, untuk kesekian kali (lima atau enam), kami sekeluarga diboyong oleh sebuah keluarga Belanda ke rumahnya di Enter. Seperti biasa, perjalanan selalu menarik. Sebelum ke Enter, kami singgah di sebuah pasar unik. Juga mampir ke beberapa rumah orang Belanda tanpa rencana. Kisah tiga seri kali ini adalah tentang perjalanan tersebut, pasar, dan orang-orang yang ditemui.

Tidak lama setelah waktu sholat zuhur masuk di Enschede, Ibu Jo*****e tiba dengan mobilnya. [Nama beliau tidak ditulis lengkap karena belum minta izin. Selanjutnya akan saya sebut Jo saja]. Jo memang belum mengizinkan kami ke rumahnya naik bus atau kereta api. Katanya, “terlalu lama di jalan.” Jo tidak salah. Mengingat jarak yang hanya 25 km, mestinya bisa dijangkau dalam 30 menit dari rumah kami. Tapi karena Enter adalah sebuah desa, dengan kendaraan umum butuh waktu sekitar 1,5 jam. Memang lebih lama tapi sebenarnya kami tidak keberatan.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada dalam perjalanan. Suasana dalam perjalanan 20 menit tersebut, ketika beralih dari satu kota ke kota lain, satu desa ke desa lain, satu kompleks pemukiman dengan pemukiman lain, memanjakan mata. Kombinasi perumahan, pohon, lapangan, danau, kanal, atau sungai silih berganti, menyuguhkan dominasi hijau yang lembut di mata. Bagi orang dewasa, suasana alami dan kreasi manusia tersebut membuat perjalanan tidak membosankan. Sedangkan bagi anak-anak, suasana yang damai, ditambah hembusan lembut angin musim panas masuk lewat jendela yang sedikit dibuka, adalah syarat sempurna untuk memejamkan mata.

Untitled-3
Suasana perjalanan menuju Wierden (foto: Google Map)

Pasar Maluku

Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di Wierden, sebuah ‘Kabupaten’ di kawasan Timur Belanda. Wierden masih satu Provinsi dengan Enschede, tempat kami tinggal. Nama provinsinya Overijssel. Dalam bahasa Belanda, kabupaten dinamakan Gemeente. Saya sebenarnya ragu apakah gemeente ini sekelas Kabupaten atau Kecamatan di Indonesia? Jika ditinjau dari hirarkinya, posisi Gemeente di bawah Provinsi, sehingga cocok disebut Kabupaten. Namun, dari segi luasnya, hanya seluas Kecamatan di Indonesia pada umumnya.

Keperluan kami singgah di Wierden adalah mengunjungi sebuah pasar yang unik. Pasar Maluku namanya. Diadakan sekali setahun setiap pertengahan musim panas oleh organisasi warga keturunan Maluku yang tergabung di Gereja Injil Maluku/GIM (Molukse Evangelische Kerk) di Wierden. GIM adalah organisasi jaringan gereja yang cukup besar dengan 65 gereja yang tersebar di setiap penjuru Belanda (sumber: http://www.geredjaindjilimaluku.nl/).

Pasar Maluku telah berlangsung lima kali di Wierden sebagai bagian dari Festival Musim Panas di Wierden yang dinamakan Wierdense Zomerfeesten (WIEZO). Kata Jo, di Pasar Maluku akan banyak bertemu orang keturunan dari Maluku Selatan, Indonesia. Sekitar 70 dekade lalu belasan ribu orang dari Maluku Selatan hijrah ke Belanda. Mereka yang saat itu berusia di bawah 15 tahun, kini sudah berusia tua. Konon di antara mereka, generasi pertama yang lahir di Maluku, banyak yang memorinya masih terikat kuat dengan Maluku. Ibarat hidup di dua dunia berbeda, ada yang berharap suatu saat kembali ke Maluku. Bahkan ada yang masih menyimpan kopor dalam keadaan siap diangkat kapan saja kembali ke Maluku.

Generasi kedua, lahir di Belanda. Kebanyakan mereka bicara bahasa Indonesia di rumah. Mereka menyebutnya bahasa Melayu. Generasi kedua telah menjadi orang Belanda sejak lahir, namun tetap tidak terlepas dari pengaruh orang tuanya yang kebanyakan memperkenalkan Maluku dengan baik kepada mereka.

Pertama kali diadakan lima tahun lalu, hanya ada enam stand yang berpartisipasi dalam Pasar Maluku, namun tahun ini jumlahnya lebih 40 stand. Pada 2016, hampir semua aspek dari budaya Maluku ditampilkan, misalnya Sapa Lawan, penampilan penyair Maluku Djodjie Rinsampessy, musik harmoni tampilan lagu Adik-Kaka Patawala, dan sebagainya. Pasar Maluku memang ajang menampilkan budaya Maluku, pulau-pulau yang ada di sana, musik, makanan, dan sebagainya.

photo_2017-07-23_23-38-24Saat tiba di Jalan Appelhofdwarsstraat, Wierden, kami langsung menemukan banyak stand berjejer rapi di pinggir jalan. Orang-orang yang duduk menunggu stand-stand tersebut memang kebanyakan seperti saya, berkulit agak gelap. Mereka memang berbahasa Melayu. Bertemu mereka seperti bertemu orang Maluku di Indonesia saja. Bedanya, mereka juga berbahasa Belanda, saat melayani pengunjung orang Belanda. Gerak-gerik mereka juga seperti orang Belanda tempatan.

Spanduk Pasar Maluku, 2017

Di Pasar Maluku, ada orang menjual alat musik band yang unik, terutama drum-nya. Drum band yang saya ketahui selama ini terbuat dari bahan kulit hewan. Namun yang dijual di Pasar Maluku berbentuk kotak dan semuanya dari bahan kayu (plywood) khusus. Kayunya terbuat dari bahan yang lembut, tapi tidak rusak saat dimainkan. Namanya adalah Cajon, sebuah alat musik perkusi asal Peru yang sering dimainkan mengiringi lagu Jazz. Pemain duduk di atas kotak sambil memukul permukaan depan yang tipis dengan telapak tangan, jari, atau stik. Seperti bermain gendang. Karena tidak akan membeli, maka anak, istri, dan saya mencoba memainkannya di tempat. Hasilnya tidak mengecewakan dan mengundang cukup banyak penonton.

photo_2017-07-23_23-39-02Pada stand-stand lain, banyak dijual pernak-pernik dari Maluku. Ada juga yang menjual kaos dengan tulisan dan gambar dari Maluku, selendang, lukisan dan foto-foto. Seorang perempuan muda menyediakan jasa pijit khas dari Maluku. Ada juga yang menjual buku-buku. Sebagian besar berbahasa Belanda, tapi ada juga yang berbahasa Indonesia.

Mencoba alat musik Cajon
photo_2017-07-23_23-38-57  photo_2017-07-23_23-38-53

photo_2017-07-23_23-38-59 photo_2017-07-23_23-38-29

Lama-lama, hari yang cerah dan banyaknya stand yang ingin dilihat membuat tenggorokan kering dan perut berbunyi. Perburuan makanan dimulai. Cukup banyak makanan khas Maluku dijual di sana. Tentu jangan berharap di sana ada Papeda, ikan kuah pala, nasi lapola, kohu-kohu atau sagu woku komu-komu. Juga tidak akan ada sambal colo-colo atau talam sagu bakar. Semua itu terlalu spesifik untuk komunitas yang sudah puluhan tahun jauh dari tanah kelahiran dan terlalu rumit untuk dimakan di tempat. Tahun depan mungkin ada, siapa tahu? Pilihan saya jatuh ke goreng pisang. Memang bukan khas Maluku, tapi bagi saya yang sudah setahun lebih tidak makan goreng pisang, rugi besar jika dilewatkan. Antri selama setengah jam cukup terbayar melihat pisang-pisang imut masuk minyak panas dan menghasilkan bau yang semerbak.

Karena goreng pisang masih panas keluar dari kuali, tidak bisa langsung dimakan di tempat. Sebelum menutup kunjungan ke Pasar Maluku, kami menyaksikan penampilan lagu-lagu Maluku. Melihat jumlah penonton yang ramai dan menyaksikan interaksi yang mulus antara sesama pengunjung yang berbeda warna kulit, saya berasumsi bahwa Pasar Maluku bukan lagi hal yang asing bagi penduduk Wierden.

Untuk siapa pun yang punya memori tentang Maluku, Pasar Maluku adalah even yang cukup bagus untuk mengenang atau melepas rindu ke tanah Maluku Selatan. Lagu ‘Parcuma,’ yang mendayu-dayu mungkin saja membuka lebar kenangan sebagian generasi pertama Maluku yang hadir di sana. Nada lagu itu sesekali turun, rendah sekali, membawa emosi pelantun dan pendengar masuk jauh ke relung hati yang paling dalam. Lagu yang mengisahkan sepasang kekasih yang terpisah jauh, itu cukup powerful untuk membangkitkan emosi siapapun yang punya seseorang istimewa tinggal di Maluku sana. Saat tiba-tiba nadanya naik melengking, seolah sebuah gunung api besar, yang menyimpan gelombang lava yang selama ini tersumbat di dalamnya, tiba-tiba menyembur ke atas seketika, menumpahkan segala isinya ke luar, bersamaan. Memang sangat emosional.

Kami mengakhiri kegiata di Wierden dengan makan es krim. Anak-anak riang gembira. Untuk yang tertarik dengan budaya Maluku, inilah pasar yang perlu dikunjungi. Tahniah untuk penyelenggara. Tahun depan, saya ingin datang lagi.

 





BAYAR LISTRIK MAKIN MAHAL

15 06 2017

Kita yang dicabut subsidinya kini bayar listrik lebih mahal. Yang punya kesanggupan melawan, silahkan lawan. Namun sambil menunggu hasilnya, sesungguhnya ada yang bisa kita lakukan, yaitu hemat menggunakan energi.

Mari berhenti teriak listrik mahal, energi mahal, jika di rumah lampu WC dan ruangan kosong dibiarkan menyala. Atau ada TV yang menonton orang. Atau pemanas air listrik dinyalakan dengan air penuh lalu diminum segelas dan sisanya dibiarkan dingin lagi.

Jangan protes harga BMM naik dan BBM langka, jika untuk ke warung 200 m kita menyalakan sepeda motor. Atau saat antri setengah jam di SPBU mesin sepeda motor tetap menyala.

Pemko Pekanbaru, Pemprov Riau. Berhentilah menyuruh rakyat untuk hemat energi sebelum TV-TV besar di depan Kantor Walikota, Kantor Gubernur, Kejaksaan Tinggi dan tempat lainnya belum dipadamkan permanen. Atau saat sopir mobil dinas membiarkan mesin menyala berjam-jam sambil menunggu sang pejabat makan siang di restoran. Atau ketika AC-AC raksasa di kantor melahap listrik demi suhu ruangan di bawah 25 der. C., lalu kita memasang jaket kedinginan. Atau, jendela ditutup dengan tirai dan gorden mahal, lalu kegelapan di ruang kerja, lampu dinyalakan, matahari pun ‘menganggur’ kecewa.

Gambat: http://www.kreavi.com/portofolio/Assadullah/Bayer-Hemat-Energi/21251

Bagusnya negara ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua. Jika semua yang di atas masih kita lakukan, maka seseungguhnya kita juga menyumbang pada kelangkaan energi dan harganya yang naik laju.Jika saat ini kita marah sebab harga energi makin mahal, ingat, ini belum berakhir. Harga energi akan semakin mahal. Harga komoditas ini tidak terlatih untuk turun.

Tidak panyak pilihan tersedia untuk kita. Tapi, menghemat energi ada di depan mata. Biasakan keluarga kita menggunakan energi secara hemat. Sampaikan di surau, masjid, rumah ibadah, sekolah.

Tularkan aksi HEMAT ENERGI DARI DIRI SENDIRI kepada semua.