Kinerja PLTS di tiga iklim

5 08 2020

Pasar surya fotovoltaik (PV) berkembang pesat di Indonesia. Namun, studi tentang kinerja sistem PV di negara hutan hujan tropis ini masih kurang. Dalam karya ini, kami membandingkan kinerja sistem PV di Indonesia dengan sistem PV di Australia dan Italia. Data monitoring dari 2008 hingga 2019, mulai dari dua hingga sembilan tahun, dari lima belas sistem PV dari enam teknologi dianalisis. Kinerja sistem PV disajikan dengan menggunakan rasio kinerja (PR) dan tingkat kehilangan kinerja (PLR). PR dihitung menggunakan standar IEC 61724, dan PLR dihitung menggunakan dekomposisi musiman dan tren, menerapkan smoothing scatterplot tertimbang secara lokal (dekomposisi STL) dan pendekatan tahun-ke-tahun dari NREL / RdTools. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem CIGS (tembaga indium gallium selenide) memiliki nilai PR rata-rata tertinggi 0,88 ± 0,04. PR rata-rata terendah ditemukan dalam sistem PV a-Si (silikon amorf) (0,78 ± 0,05). Sistem p-Si (silikon polikristalin) dalam iklim Cfb (sedang, tanpa musim kemarau, musim panas yang hangat) di Italia memiliki PR rata-rata lebih tinggi 0,84 daripada yang dioperasikan di iklim BWh (arid, gurun, panas) Australia dan Af (tropis, hutan hujan) Indonesia, dengan nilai yang sama 0,81. Sistem p-Si menunjukkan PLR terendah, dengan nilai .60,6% / tahun. Degradasi tercepat dialami oleh modul a-Si di −1,58% / tahun. Perbedaan metodologis dalam perhitungan PLR menggunakan kedua pendekatan yang diuji menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam nilai degradasi, yang menuntut standardisasi istilah dan metodologi perhitungan.

Artikel lengkap dapat disimak di: https://www.mdpi.com/2076-3417/10/16/5412

Kunaifi, K.; Reinders, A.; Lindig, S.; Jaeger, M.; Moser, D. Operational Performance and Degradation of PV Systems Consisting of Six Technologies in Three Climates. Appl. Sci. 202010, 5412.





Menginstall style referensi baru ke Mendeley

25 07 2020

Jika anda adalah pengguna software referensi Mendeley, mungkin anda pernah mengalami masalah seperti yang saya alami berikut.

Setelah mengirim artikel ke sebuah jurnal, reviewer meminta saya untuk menyesuaikan format/style referensi dengan style yang dipakai oleh jurnal tersebut. Untuk memenuhi permintaan tersebut, sebenarnya tidak sulit jika style yang diminta sudah ada di database style bawaan Mendeley seperti IEEE, Harvard, dll. Anda tinggal mengganti style pada Ms. Word dengan style yang tersedia (Gambar 1). Selanjutnya otomatis style pada daftar pustaka akan berubah.

Gambar 1. Mengganti style referensi Mendeley dari Ms. Word

Namun bagaimana jika style yang diinginkan oleh jurnal tersebut tidak ada dalam daftar style bawaan Mendeley? Itulah yang saya alami.

Pilihan paling tradisional adalah dengan mengubah style secara manual. Tapi ini akan menjadi kerja besar. Apalagi jika daftar pustaka anda puluhan atau bahkan ratusan jumlahnya. Jenisnya pun beragam. Mulai dari artikel jurnal, buku, laporan, prosiding, dll. Pertama, anda harus pelajari panduan referensi dari jurnal tersebut. Setelah itu anda ubah satu-per-satu daftar pustaka sesuai panduan.

Adakah solusi yang lebih cepat dan elegan? Ada. Yaitu menginstall referensi baru ke Mendeley. Tapi ada syaratnya, yaitu jurnal tersebut sudah membuat installer untuk Mendeley. Saya akan jelaskan langkah-langkahnya di bawah ini.

Pertama. Buka halaman https://csl.mendeley.com/searchByName/. Lalu ketikkan nama jurnal yang diinginkan. Dalam contoh berikut (Gambar 2) saya masukkan jurnal Applied Sciences dari MDPI. Nama style referensi dari jurnal tersebut adalah Multidisciplinary Digital Publishing Institute.

Gambar 2. Mencari style referensi yang belum tersedia di Mendeley

Setelah itu, anda klik pada tombol install. Anda akan diminta untuk membuka Mendeley. Jika lancar-lancar saja, maka style referensi jurnal tersebut sudah terinstall di Mendeley.

Jika anda mendapat pesan error di mana koneksi ke server tidak tersambung, mungkin anda perlu menyegarkan Mendeley di komputer anda. Caranya, dalam keadaan Mendeley terbuka, tekan bersamaan Ctrl+Shift+D. Setelah muncul jendela Mendeley Desktop Debug Console, klik pada “Reset Last Sync State.” Setelah itu tutup Mendeley, lalu buka lagi dan ulangi lagi dari awal.

Kedua. Setelah style yang anda inginkan terinstall di Mendeley, kembali ke Ms. Word dan ganti dengan nama referensi yang baru anda install. Caranya, lihat Gambar 1. Setelah itu semua daftar pustaka anda akan berubah sesuai style baru.

Semoga bermanfaat dan silahkan komen di bawah ini.





Seorang ‘Doktor’ di bengkel tambal ban

21 07 2020

Pemandangan indah pagi ini. Di sebuah bangku dan balai-balai kayu, seorang anak sedang ‘belajar dari rumah’. Ibunya membantu penuh semangat. Yang mengesankan bagi saya adalah bahasa dan intonasi sang ibu ketika ‘menjadi guru’ bagi sang anak, sungguh penuh kasih sayang. Ibu ini mungkin bergelar Doktor.

Jika mengikuti hukum alam, insya Allah anak ini sukses. Dalam hati saya berdoa semoga peluh ayahnya yang mengucur setiap hari di bengkel tambal ban dan lelah ibunya menjaga warung dan mengurus rumah, kelak terbayar dengan rasa syukur karena capaian sukses sang anak.





EMPAT PASAL DARI MAS MENTERI

6 07 2020

Inilah empat kebijakan baru Menteri Nadiem. Saya langsung sepakat dengan yang tiga pertama. Nanti insya Allah dibahas satu per satu. Sedangkan yang ke-4, saya netral.

Terbayang jelas bahwa saat empat kebijakan ini diterapkan, Prodi-prodi di seluruh Indonesia, puluhan ribu jumlahnya, akan melakukan beberapa kerja besar. Kerja besar pertama adalah revisi kurikulum besar-besaran, mungkin juga serentak. Biasanya prodi merevisi kurikulum setiap lima tahun. Namun revisi kecil-kecil saja supaya menghindari dampaknya pada Prodi dan mahasiswa. Revisi kurikulum ini nanti bukan soal mudah, terutama untuk perguruan tinggi yang administrasinya kaku. Adminsitrasi kaku misalnya jika setiap mahasiswa, dari setiap angkatan, diikat dengan kurikulum yang sama saat mereka memulai semester 1. Misal, jika perubahan ini dimulai 2025, maka di perguruan tinggi kaku ini, mahasiswa angkatan 2024 tidak bisa menikmati kurikulum baru sampai mereka tamat. Hal ini akan menimbulkan masa transisi yang lama sebab minimal selama 5 tahun prodi bekerja dengan dua kurikulum berbeda.

Kedua, dunia kerja mungkin akan kaget karena tiba-tiba begitu banyak perguruan tinggi mendekati mereka untuk menitipkan mahasiswa melaksanakan dua semester di luar kampus. Jika dunia kerja tidak
disiapkan dengan amat matang dalam menghadapi perubahan besar ini, program dua semester di luar kampus beresiko menjadi program buang waktu dua semester. Saat ini, amat sedikit perusahaan yang punya program yang tertata untuk mahasiswa magang. Salah satu yang baik adalah PT. Chevron Pacific Indonesia di Pekanbaru. Angkat topi untuk mereka.

Masalahnya, apakah dunia kerja berkepentingan dengan program mahasiswa dua semester di luar kampus? Saya khawatir banyak yang bilang tidak.

Namun, melihat tiga kebijakan pertama yang keren itu, saya percaya bahwa yang ke-4 sudah disiapkan matang. Semoga.

Yang jelas, ke empat kebijakan Menteri Nadiem ini akan mengubah dunia pendidikan tinggi Indonesia langsung dari akarnya.

Walaupun demikian, rasanya akan baik jika Menteri Nadiem punya lima kebijakan. Yang ke-5 adalah otonomi luas bagi perguruan tinggi, terutama PTN. Dengan otonomi luas, segala belitan administrasi (terutama administrasi keuangan) yang membuat sulit bergerak, dapat diputus. Tapi faktanya yang ke-5 itu tidak ada, maka peluang otonomi dapat digesa di kebijakan ke-3.





HABIS MINYAK TERBITLAH NIKEL

5 07 2020

Dulu, Indonesia berdiri di barisan elit negara produsen minyak dunia. Tandatangan Indoneaia ada di piagam pembentukan OPEC. Tapi sayang, selama puluhan tahun, Indonesia mengeksploitasi minyak secara terlalu bernafsu. Seperti menggunakan aji mumpung. Ketika itu, dunia memang sangat tergantung pada minyak. Provinsi Riau ketika itu dijuluki provinsi petro dolar, yang artinya (menurut saya) petronya di Riau, dolarnya di Jakarta. Dolarnya sangat sangat banyak, kawan. Sangat banyak. Sangat.

Eksploitasi minyak yang terlalu cepat, itu membuat Indonesia juga terlalu cepat keluar dari grup elit produsen minyak dunia karena minyaknya hampir habis. Ini kisah sedih.

Kini, dunia berubah. Minyak secara perlahan ditinggalkan. Dunia mulai mengandalkan baterai. Mungkin tidak lama lagi dunia tergantung pada baterai. Lihat saja kendaraan hibrida (minyak+baterai) mulai banyak ditemukan di jalan. Jenis kendaraan ini adalah wujud transisi minyak ke baterai. Bahkan kendaraan full listrik pun mulai berkeliaran sebagai wujud optimisme dunia beralih ke baterai.

Selain lithium ion, material penting untuk memproduksi baterai isi ulang adalah NIKEL.

Tahukah anda negara mana yang punya nikel paling banyak di dunia? Ketik saja di Google “world largest nickel producer” maka negara “tongkat kayu jadi tanaman” akan muncul. Namanya Indonesia.

Apa artinya ini? Indonesia punya sumberdaya energi utama dunia masa depan. Lokasi terbesarnya di Sulawesi dan Halmahera.

Foto: ET Auto

Jangan sampai kisah sedih minyak terulang lagi di tanah ini. Ekploitasilah nikel secara bijak. Buat baterai kensaraan listrik di SINI, jangan terlalu banyak ekspor nikel dan impor baterai. Dan Jakarta, please play fair, bro. Jika Sulawasi dan Halmahera, produsen nikel terbesar di Indonesia, nanti menjadi provinsi-provinsi ‘nickel dollar’, maka tidak hanya nickel nya di sana, tapi 40% dolarnya juga. Itu baru namanya NKRI.





Bagaimana Caranya?

24 12 2019

Kategori ini memuat panduan singkat dan praktis menyelesaikan soal-soal yang sering ditemukan di sekolah, kampus, atau pekerjaan. Topik utama kategori ini adalah energi terbarukan dan statistika. Namun, beberapa topik random lain juga ada. Jika anda ada masalah yang belum terpecahkan, silahkan tulis di kolom komentar, mungkin bisa dibuatkan postingannya.





Merdeka belajar

8 12 2019

Merdeka belajar itu adalah pendidikan oleh para pendidik yang merdeka, bersama peserta didik yang merdeka, dalam lingkungan yang merdeka, dengan niat menghasilkan generasi yang merdeka.

Satu saja dari empat komponen ‘merdeka’ itu masih “terjajah,’ tak jalan dia.





The Electricity Grid in Indonesia: The Experiences of End-users and their Attitudes Toward Solar Photovoltaics

28 11 2019

Praise to Allah, I am happy to introduce our new book.

Buku ini memuat tiga hal utama:

(1) Memperkenalkan Indonesia sebagai sebuah negara besar yang memiliki banyak kelebihan alamiah untuk pengembangan energi bersih serta status kelistrikan di Indonesia,

(2) Melaporkan hasil survei kami di Riau, NTT, dan Papua yang memotret perilaku dan pandangan pengguna listrik di sana terkait suplai listrik, keandalan suplai listrik, energi terbarukan, perubahan iklim, dan pembangkilt listrik tenaga surya (PLTS),

(3) Menampilkan hitungan detail kami tentang potensi energi surya (PLTS) di 34 provinsi di negara tropis Indonesia, mencakup potensi PLTS tersambung jaringan (grid-connected) dan tak tersambung jaringan (off-grid). Potensi ditampilkan dalam dua bentuk, yaitu potensi menurut sumbernya dan potensi menurut kebutuhan (demand)

Saya sangat senang dan bersykur karena penerbit top SpringerNature berbaik hati menerbitkan buku ini. Semoga buku yang kualitasnya masih perlu ditingkatkan, ini menjadi ibadah bagi penulis dan berguna untuk pembaca, bangsa dan negara Indonesia.

https://www.springer.com/gp/book/9783030383411

flyer





Tiket kereta sudah dibeli, uang minta dikembalikan

19 11 2019

Beberapa minggu lalu saya menerima tamu istimewa di Belanda. Mereka berkunjung beberapa hari. Lalu tibalah masanya pasangan muda ini pulang ke Indonesia. Mereka mesti naik kereta. Dari kota tempat saya tinggal, Enschede, ke bandara Schiphol. Dekat Amsterdam. Dengan tiket reguler, satu orang membayar sekitar Eur 27. Berdua Eur 34. Tapi, di Belanda ada beberapa pilihan tiket lebih murah. Salah satunya ‘tiket grup.’ Dengan tiket grup, cukup membayar Eur 32 untuk berempat. Dipakai berdua pun bisa. Masukkan saja dua nama orang lain. Penumpang senang. Jika berdua, hemat beberapa euro. Jika bertiga atau berempat, hemat banyak. Perusahaan kereta pun tidak rugi.

Saya pun membantu teman membeli tiket grup. Dibayar dari kartu kreditnya. Tapi, setelah dibeli, saya sadar, bahwa tiket grup hanya bisa dipakai setelah jam 9 pagi. Mereka harus berangkat sebelum itu. Supaya tidak tinggal pesawat. Teman saya pun membeli tiket baru. Tiket reguler untuk berdua saja. Harga penuh.

Artinya, kami dua kali membeli tiket. Tapi yang pakai satu kali saja. Rugi. Saya pun menghubungi perusahaan kereta. Namanya NS. Singkatan dari Nederand Spoor. Ada aplikasi di webiste NS untuk minta pengembalian uang. Seminggu kemudian saya dapat email. Katanya, uang saya tak bisa dikembalikan. Alasanya, tidak tercatat ada nama saya membeli tiket grup tersebut. Saya balas emailnya. Saya katakan tiket grup tersebut memang dibeli oleh teman saya. Tapi karena tidak jadi dipakai, teman saya beli tiket baru. Uangnya untuk membeli tiket grup sudah saya ganti. Sekarang giliran saya minta uang saya dikembalikan. Sebagai bukti saya kirimkan nomor seri semua tiket yang dibeli.

Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin periksa catatan. Pada tanggal tersebut orang yang sama membeli dua tiket. Tapi dari catatan perjalanan hanya satu tiket yang dipakai. Jadi, permintaan saya valid. Sata tak tahu. Yang pasti, tadi mereka kirim email. Isinya permintaan saya dipenuhi, seperti pesan di bawah. Pakai minta maaf pula. Saya terkesan. Di dunia ini banyak hal sulit yang bisa dipermudah. Tapi banyak orang justru suka mempersulit yang mudah. NS patut dapat jempol. Sudah beberapa kali saya lakukan. NS selalu membuat keputusan adil. Inilah the power of “data,” “niat baik,” dan “profesionalitas,” jika disatukan.

061

 





APAKAH MENTERI NADIEM MAKARIM AKAN MEMPERKENALKAN “GENERASI NUNDUK?”

27 10 2019

Ada banyak spekulasi bahwa Menteri Nadiem Makarim akan membawa dunia internet secara massive ke sekolah.

Semoga ini tidak benar dan saya kurang percaya.

Namun, jika itu benar, kita perlu waspada. Penggunaan IT membawa sangat banyak kebaikan terutama dalam meningkatkan efisiensi. Namun, pemanfaatan IT yang mengharuskan siswa memiliki laptop dan smartphone untuk pendidikan, sebaiknya dimulai di level SLTA. Di tingkat SD dan SMP lebih baik manual saja. IT digunakan oleh guru di kelas, bukan oleh siswa pada smartphone dan laptop milik masing-masing. Alasannya, memperkenalkan internet dengan kepemilikan laptop dan smartphone ke usia-usia terlalu dini akan memperkenalkan masalah baru, yaitu “generasi nunduk”. Di Eropa, anak usia di bawah 14 tahun tidak disarankan untuk diberikan smart phone karena dikhawatirkan belum sanggup memegangnya secara bertanggungjawab.

Ilustrasi generasi nunduk. Foto: https://www.the100yearlifestyle.com/smartphone-generation/

Generasi nunduk punya ciri antara lain kurangnya hubungan antar manusia, potensi kerusakan mata, depresi, kecemasan, dan sebagainya. Bahkan menurut WHO, kecanduan internet dan smart phone dikategorikan sebagai penyakit jiwa.

Jika Menteri Makarim memperkenalkan IT yang mendorong siswa SD dan SMP memiliki smartphone dan laptop sendiri, maka beliau memperkenalkan hal baru untuk dilawan, selain asap di Sumatra dan Kalimantan.

Foto: generasi nunduk.