LISTRIK ANGIN di INDONESIA?

18 01 2018

Dalam sebulan belakangan, angin badai sering terjadi di tempat kami, termasuk pagi ini. Universitas pun mengeluarkan kode merah (gambar pertama terlampir); menyarankan yang di rumah tetap di rumah, yang di kantor tetap di kantor, dan mahasiswa boleh minta ujian diundur. Sambil menonton energi badai dan menunggu jam istirahat siang, izinkan saya berbagi video 1 menit yang diambil dari ruangan kerja saya baru saja, memperlihatkan pohon digoncang badai. Karena situs ini ini tidak support video, silahkan lihat di sini.

Dari webiste www.buienradar.nl (foto kedua dan lingkaran merah) terbaca kecepatan angin 91 km/jam atau sekitar 25 m/detik. Hampir secepat anda ngebut dengan kendaraan dan mampu menyulitkan melangkah jika berjalan ke arah berlawanan.

Mari kita hubungkan dengan listrik. Berapa energi listrik yang bisa dihasilkan dari angin? Terpaksa pakai angka. yang tidak suka, silahkan baca kalimat-kalimat ujung setiap paragraf.

Misal, kita memasang turbin angin 1 MW dengan panjang bilah baling-baling 25 m (diameter rotor 50 m), efisiensi turbin 34%, dan faktor kapasitas (CF) 25%. Kecepatan angin 12 m/s (sekitar 43 km/jam) saja, karena turbin angin biasanya dipadamkan jika kecepatan angin di atas 20 m/detik. Turbin tersebut bisa menghasilkan listrik sekitar 9 juta kWh/tahun, atau sekitar 4 ribu rumah tangga kelas menengah di Indonesia dengan konsumsi rata-raya 6 kWh/hari.

Tapi, kecepatan angin setinggi itu hanya terdapat di negara-negara yang terletak pada garis lintang 30 derajat ke atas, misal Amerika Utara, Rusia, Eropa, dan Australia. Sedangkan di Indonesia, hanya sedikit lokasi yang memiliki kecepatan angin lumayan, Misal, sebagian pantai selatan Jawa, Bali, NTT, NTB, sebagian Sulawesi dan Maluku bagian selatan, memiliki kecepatan angin sekitar 4 m/s. Jika kita punya turbin angin 0,8 MW, FC turun menjadi sekitar 7%, maka listrik yang dihasilkan per tahun adalah sekitar 460 ribu kWh yang cukup untuk sekitar 200 rumah.

Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik batu bara dengan kapasitas sama (effisiensi 35% dan CF 60%), maka jumlah rumah tangga Indonesia yang bisa dilistriki pembangkit listrik batubara sekitar 1,5 kali lipat dibanding turbin angin.

Tentu hitungan di atas adalah pendekatan umum. Untuk hitungan detail, banyak lagi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan, seperti: suhu sekitar, tekanan udara, kerapatan udara, kehalusan permukaan tanah di sekitar turbin angin, jenis turbin yang digunakan, ketinggian rotor, dll.

Untuk Indonesia, energi surya dari matahari lebih besar peluangnya. Itulah alasannya mengapa mahasiswa Konsentrasi Energi di UIN Suska Riau belajar melakukan hitungan-hitungan seperti di atas, supaya mereka cepat membuat pilihan-pilihan di dalam karirnya.

 

Untitled2

Kode Merah dari Universitas

Untitled

Sumber: Buienradar.nl

Untitled-2

Advertisements




100% LISTRIK HIJAU

17 01 2018

Berbeda dengan negara besar Indonesia yang ‘nyaris’ memiliki hanya satu perusahaan listrik, di Belanda yang seluas Provinsi Riau, terdapat hampir 40 perusahaan seperti ‘PLN’. Pelanggan bebas memilih perusahaan mana pun sesuai kriteria masing-masing. Ada yang memilih karena tarif lebih murah, atau karena jenis energi yang digunakan menghasilkan listrik.

Di Belanda, listrik dihasilkan dari energi terbarukan (green) atau dari energi fosil dan nuklir (grey). Tarif kedua jenis hampir sama. Terpaksa menyebut merk, 100% listrik dari perusahaan Engie dihasilkan dari energi terbarukan, yaitu energi surya (matahari) dan energi angin (foto terlampir). Beberapa perusahaan lain juga menghasilkan energi hijau, sedangkan sisanya memanfaatkan nuklir, batubara, dan gas untuk memproduksi listrik. Sebagai pendukung dan pelaku energi terbarukan, tidak perlu berpikir dua kali untuk melistriki rumah dari energi hijau.

Semoga suatu saat nanti konsumen listrik di tanah air pun bisa memilih dari mana mereka ingin membeli listrik.

photo_2018-01-17_15-33-25

Email dari Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_b

Terjemahan Google Translate

photo_2018-01-17_15-33-25_c

Foto: Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_d

Foto: Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_e

Foto: Engie

Untitled-2

 





Potensi PLTS/energi surya di setiap provinsi di Indonesia dalam MWp (PV/solar energy potentials for each province in Indonesia in MWp)

9 01 2018

** Bahasa Indonesia di Bawah **

What is the potential capacity of grid-connected PV systems in Indonesia for each province? This study gives you the answer; for each province, in Megawatt (MWp) units, NOT in kWh/m2/day. You can also find the variation among the potentials in urban core, suburb, and village. This study was published in 2017 and used data from 2015. It was and update from the previous study from H. Veldhuis and A. Reinders who used data from 2010.

For full method, please contact me.

Figure below shows the main results. 

Download the article for more information: Technical Potential of Grid-Connected PV Systems in Indonesia. (should you find difficulty in using this link, please send me email to: kunaifi.set@gmail.com).

Berapa potensi kapasitas sistem PV (PLTS) on-grid (tersambung jaringan PLN) di setiap provinsi di Indonesia? Studi ini memberi jawabannya, untuk setiap provinsi, dalam satuan Megawatt Peak (MWp), BUKAN dalam kWh/m2/hari. Anda juga bisa menemukan variasi potensi antara perkotaan, pinggiran kota, dan desa. Penelitian ini dipublikasikan pada 2017 berdasarkan data 2015. Studi ini memperbaharui metode dan data dari penelitian sebelumnya oleh H. Veldhuis dan A. Reinders yang menggunakan data 2010.

Pada artikel ini, metode tidak ditampilkan secara utuh sesuai keperluannya. Bagi yang berminat melihat metode, saya bisa kirimkan secara secara pribadi, karena ada di dalam artikel saya yang lain, tapi masih dalam proses review/belum terbit).

Gambar berikut menampilkan hasil utama dari studi ini.

Untuk info lebih lanjut, download artikelnya: Technical Potential of Grid-Connected PV Systems in Indonesia.  (jika kesulitan menggunakan link tersebut, silahkan email saya di: kunaifi.set@gmail.com).

gvpv

 

Peta

Untitled-2





Apakah ada potensi energi biomassa di kota?

9 01 2018

Apakah di kawasan perkotaan ada potensi energi dari biomassa? Studi dari Yelmira Zafriati bersama saya ini dapat menjawab pertanyaan anda untuk kasus di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Berdasarkan data-data sekunder dari berbagai sumber, analisis dilakukan menggunakan prosedur dari Biomass Energy Europe.

Total energi pontensial teoritis di Pekanbaru adalah 91,158,663.54 GJ/tahun meliputi limbah pertanian sebesar 4,309,632.37 GJ/tahun (4.73%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (83.50%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (9.97%). Total energi pontensial teknis 88,542,679.88 GJ/tahun yang terdiri dari limbah pertanian 1,693,648.71 GJ/tahun (1.91%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (87.82%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (10.26%).

Semoga pertanyaan anda terjawab.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: POTENSI ENERGI TEORITIS DAN TEKNIS DARI LIMBAH BIOMASSA DI PEKANBARU.

Pku





Limbah Pertanian menjadi Listrik

9 01 2018

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui potensi biomassa dari sisa hasil pertanian, mencakup jerami dan sekam padi sawah, jerami dan sekam, padi ladang, batang dan tongkol jagung, batang ubi kayu, serta serat, cangkang, tandan kosong, kernel dan limbah cair yang terdapat di perkebunan kelapa sawit. Lokasi studi di Provinsi Riau. Hasil studi menunjukkan total potensi teoritis energi biomassa adalah sebesar 77.466.754,8 Gj/Tahun yang dapat menghasilkan energi listrik sebesar 21.518.542,8 MWh/Tahun. Studi dilakukan oleh Petir Papilo, Kunaifi, Erliza Hambali, Nurmiati, dan Rizfi Fariz Pari.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI KELISTRIKAN.

pasti.jpg





Potensi Biomass di Kampar Besar (Big Potential of Biomass Energy in Kampar, Indonesia)

9 01 2018

** English below **

Apakah anda bekerja di lembaga pemerintah atau konsultan energi? Atau anda berminat menjadi investor pembangkit listrik energi biomassa? Maka hal pertama yang perlu anada ketahui adalah: ‘berapa potensi energi biomassa’ di lokasi yang anda minati?

Jika lokasi tersebut adalah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, mungkin hasil studi berikut berguna bagi anda sebagai informasi awal.

Studi ini menilai potensi teoritis energi biomassa di Kabupaten Kampar menggunakan prosedur dari Biomass Energy Europe. Jenis sumber biomassa yang dinilai adalah biomassa hutan, tanaman energi, residu pertanian, dan limbah organik.

Total potensi teoritis energi biomassa di Kabupaten Kampar adalah 127.635.417,90 GJ/tahun di mana 97,933 % residu pertanian, 2,066 % biomassa hutan dan 0,001 % limbah organik. Residu pertanian juga mencakup residu perkebunan (kelapa sawit dan kelapa) dan residu kotoran ternak (sapi, kerbau, kambing, dan unggas).

Kelapa sawit menyumbang 88,15%, diikuti oleh ayam dan itik (5,28%), padi dan jagung (3,77%), dan residu hutan primer (2%). Pelepah sawit menyumbang 58,8% pada total potensi energi dari kelapa sawit dan 51,8% pada total potensi energi biomassa di Kabupaten Kampar.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: 2011_STINKI-IV_Biomas Energy Potential in Kampar Regency.

Kampar.jpg

This study assessed the biomass energy potential in Kampar Regency, Indonesia. It considered forest biomass, energy crops, agricultural residues and organic wastes. Using the procedure from Biomass Energy Europe, it was found that the total theoretical potential of biomass energy in Kampar Regency was 127,635,417.90 GJ/year where 97.933% come from agricultural residues, 2.066% forest biomass and 0.001% organic waste. Agricultural residues included residues from plantations (oil palm and coconut) and animal residues (cow, buffalo, goat, and poultry). Oil palm contributes to 88.15%, followed by chickens and ducks (5.28%), rice and maize (3.77%), and primary forest residues (2%). The oil palm fronds are the largest contributor i.e. 58.8% of the total oil palm potential and 51.8% of the total biomass energy potential in Kampar Regency.

Download the article for more information: 2011_STINKI-IV_Biomas Energy Potential in Kampar Regency





Dengan PLTS dan Digester Biogas, Rumah Anda Mungkin Mandiri Energi

9 01 2018

Bermasalah dengan listrik PLN dan suplai gas dari Pertamina? Sistem PLTS digabung dengan sistem biogas mungkin cocok untuk rumah anda.

Pada studi ini, Devi Nuryadi dan saya merancang pembangkit listrik PLTS untuk kebutuhan rumah tangga menggunakan standar AS 4509.2—2002, sedangkan digester biogas dirancang berdasarkan kebutuhan gas dan jumlah ternak sapi di rumah. Dengan konsumsi listrik per hari rata-rata 2,5 kWh dan beban puncak 362 Watt, dihasilkan sistem PLTS yang terdiri dari inverter 900 VA, 6 baterai 102 Ah, 10 modul surya 210 Wp, dan BCR 40 A.

Sedangkan sistem biogas terdiri dari digester biogas 4 m3 dan digester kontrol 2 m3, dengan lama waktu memasak rata-rata 2,4 jam per hari dan jumlah sapi minimal 2 ekor per rumah tangga.

Menggunakan life-cycle cost analysis dengan data tahun 2011, biaya sistem PLTS selama usia sistem 20 tahun adalah Rp. 113,6 juta dan digester biogas dalam periode yang sama membutuhkan biaya Rp. 8,7 juta.

Info selanjutnya, silahkan download artikel: Rumah Mandiri Energi Menggunakan Tenaga Surya dan Biogas.

PLTS dan Biogas.jpg