Kompor Rusak Langsung Diganti

7 11 2016

Saat masih di tempat kerja, saya mendapat pesan whatsapp dari istri di rumah. Katanya, sebuah tombol kecil di kompor listrik di rumah tiba-tiba lepas dari tempatnya dan terpental ke atas. Tidak tahu apakah kompornya rusak atau tidak. Tapi istri saya jadi ragu untuk menyalakan kompor lagi. 

Segera saya telepon kantor pengelola perumahan karyawan universitas menyampaikan hal tersebut. Sebelum menelepon saya sudah membayangkan berbagai kesulitan gegara tidak bisa memasak. Juga membayangkan uang yang mungkin harus dikeluarkan karena kejadian itu. Tapi tanpa disangka saya ditawarkan kompor baru, sebagai cadangan sebelum besok kompor saya diperbaiki atau diganti baru.

Kurang 20 menit kemudian, kompor sudah sampai di rumah. Saat serah terima tidak ada pertanyaan menyelidik seperti: mengapa kompornya rusak? Siapa yang merusakkan? Bagaimana kronologi kejadiannya?

 
Saat serah terima kompor juga tidak ada diminta menunjukkan apalagi foto copy tanda pengenal saya. Juga tidak diminta menandatangani tanda terima barang. Juga tidak diminta menandatangani surat pernyataan di atas materai bahwa saya bersedia mengembalikan lagi kompor sementara ini setelah kompor lama diganti/diperbaiki, atau pernyataan bahwa saya bersedia mengganti kerugian jika pengaduan saya tidak benar adanya.

Serah terima barang berlangsung tanpa pertanyaan, tanpa pernyataan, tanpa biaya. 

Karena hari sudah malam, maka perbaikan/penghantian kompor lama akan dilakukan besok. Tapi untuk malam ini kami masih bisa makan. Kompor lama berdampingan dengan kompor baru.


Sebuah pelayanan yang mengagumkan.





Ketinggalan Barang Berharga di Dalam Bus

15 10 2016

Pernahkah anda naik bus kota lalu barang bawaan anda tertinggal di dalam bus? Apakah barang milik anda kembali dalam keadaan utuh?

Pertanyaan di atas tentu jawabannya bervariasi. Cukup besar kemungkinan barang anda kembali utuh, karena di luar sana banyak orang-orang jujur dan baik. Namun mungkin juga ada kemungkinan lain, tergantung nilai barang yang tertinggal dan dibawa oleh bus kota. Jika yang tertinggal adalah sebuah tas tua berisi buku, mungkin tinggi harapan anda bahwa tas dan isinya tidak akan kemana-mana saat anda mencegat bus itu lagi. Namun jika yang tertinggal adalah sebuah tas yang cukup bagus dan di dalamnya ada barang elektronik yang cukup bagus, mungkin peluangnya lebih kecil.

Jumat, 15 Oktober 2016 sore, anak saya pulang sekolah menggunakan bus kota. Saat turun di halte bus dekat rumah dan bus yang ditumpanginya telah berlalu, dia baru sadar bahwa tas-nya tertinggal di dalam bus. Tentu saja timbul kepanikan karena di dalam tas itu terdapat buku-buku dan peralatan sekolah yang tidak ternilai harganya. Ada juga sebuah handphone dari merk bagus yang harga second hand nya jutaan rupiah.

05Bus kota di Enschede. Foto: https://c2.staticflickr.com/6/5487/11195085845_51d0a8a646_b.jpg

Salah satu pilihan tindakan adalah menunggu bus yang sama kembali lewat di tempat yang sama, mencegatnya dan mencari tas di dalam bus. Tapi di Belanda tentu tidak mudah melakukan itu. Pertama, mencegat bus yang lewat, lalu mencari sesuatu di dalamnya di depan banyak penumpang lain, membuat mereka menunggu dan bertanya-tanya, tentu bukan hal yang menyenangkan. Kedua, tidak ada jaminan bus yang sama akan kembali lewat di tempat yang sama karena pertukaran trayek sopir dan bus sering dilakukan.

Saya tidak terlalu khawatir saat ditelepon anak saya memberitahu kejadian tersebut. Saya percaya di negara ini amat kecil kemungkinan orang tertarik pada barang milik orang lain, apalagi di tempat umum seperti itu. Sopir bus apalagi, dia terikat dengan aturan integritas dan nilai moral individu sehingga kecil kemungkinan menggelapkan barang di dalam bus yang dikendarainya. Saya menceritakan ulang cerita anak saya di telepon kepada teman sekantor, dan dia berkata, “Tas dan isinya akan kembali dalam keadaan utuh. Ini Eropa, kawan.”

Lalu saya mengirim email ke Syntus, perusahaan bus tersebut. Sekitar 30 menit kemudian email saya dibalas dan saya diminta membuka bagian “Lost and Found” pada websitnya. Disebutkan di dalam emailnya bahwa daftar barang-barang yang tertinggal di dalam armada Syntus (bus dan kereta api) dapat dilihat di website mereka, lengkap dengan fotonya. Saya buka halaman tersebut. Benar. Foto tas anak saya sudah muncul di sana. Artinya tidak lebih 30 menit setelah kejadian, perusahaan bus sudah mencari pemilik tas yang ketinggalan tersebut.

03Email balasan dari perusahaan bus Syntus.

02Tampilan barang-barang tertinggal di bus/kereta api Syntus.

Foto barang yang hilang tidak ditampilkan lengkap. Untuk bisa mengambil barang tersebut, saya harus membuktikan bahwa itu milik anak saya. Saya harus bisa menyebutkan ciri-ciri atau isi tas yang tidak dimunculkan di foto. Lalu saya diminta meninggalkan alamat email.

Tidak lama kemudian, saya mendapat pesan di bawah ini, yang artinya, “Kami sangat senang barang milik anda telah ditemukan. Silahkan datang ke alamat ini untuk mengambilnya.”

04Konfirmasi bahwa barang yang hilang sudah bisa diambil.

Selanjutnya, kita tinggal memilih apakah akan mengambil barang ke alamat yang ditentukan atau minta barangnya diantar ke alamat kita. Untuk jasa antar alamat, pemilik barang dikenai biaya pengantaran yang cukup murah. Atas nama penghematan, saya memilih datang sendiri mengambil karena jaraknya dekat.

Teman-teman. Jika anda mengalami hal yang sama, apakah anda punya harapan besar barang anda akan didapatkan kembali? Apakah anda bisa berharap bantuan dari perusahaan bus di kota anda untuk mendapatkan bawaan anda kembali, misalnya dengan mengirim email kepada mereka? Saya percaya bahwa anda bisa berharap pada perusahaan bus di kota anda dan barang milik anda kembali dalam keadaan utuh.





DUA+ KEBIJAKAN MEMBINGUNGKAN

18 08 2016

Dalam dua bulan terakhir pemerintah mengeluarkan satu kebijakan, dan mungkin akan mengeluarkan satu lagi, yang menurut saya membingungkan.

Pertama, Pemerintah mendirikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Perpres sudah ditandatangi 29 Juni 2016. http://nasional.kompas.com/…/75.persen.universitas.islam.in….

Kedua, pemerintah berencana memulangkan akademisi Indonesia di di luar negeri untuk mengabdi di tanah air. Sepertinya rencana ini terinspirasi dari kejadian Menteri ESDM yang ternyata bukan orang Indonesia lagi. “Profesor kita di Amerika Serikat ada 74, pintar-pintar itu. Saya belum bicara (ada berapa) di China, di Jepang, saya belum bicara (jumlah) doktor-doktornya,” tutur Jokowi, Kamis (18/8/2016). http://news.detik.com/…/jokowi-ada-74-profesor-ri-di-as-ken….

Pembentukan UIII bagi saya membingungkan, karena didirikan di tengah-tengah jerih-payah perguruan tinggi-perguruan tinggi keIslaman yang ada untuk meningkatkan kualitasnya. Terdapat ratusan UIN, IAIN, PTAIN dan perguruan tinggi swasta keIslaman yang telah puas berjuang di tengah segala keterbatasan. Pemerintah seolah kehilangan kepercayaan kepada PT keIslaman yang ada untuk mengemban misi khusus yang kemudian dipercayakan kepada UIII. Juga disayangkan karena UIII didirikan di Depok, padahal kawasan dan Jakarta & sekitarnya telah sangat lama menjadi pusat segala hal di negeri ini. Jika mau dibuat juga, mengapa tidak di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua, sehingga dapat membangun locus baru pendidikan berkualitas di kawasan lain Indonesia? Juga disayangkan, karena 75% mahasiswa UIII akan berasal dari luar Indonesia, padahal PT keIslaman yang ada sebenarnya juga bisa menampung mereka dengan baik.

Memulangkan akademisi RI di luar negeri juga kebijakan membingungkan. Presiden mengatakan “mereka hebat di negara lain, mengapa tidak bekerja di Indonesia? “Pemerintah jangan menutup mata, bahwa ratusan akademisi RI di negara lain menjadi ilmuwan hebat bukan semata karena individunya yang hebat. Ada kondisi lingkungan kerja, regulasi, dll. yang menunjang sehingga mereka hebat. Andai mereka bekerja di Indonesia, mungkin mereka tidak sehebat sekarang. Andai mereka dibawa pulang ke Indonesia dengan kondisi sekarang, mungkin kehebatan mereka tinggal sejarah. Mereka telah memilih bekerja di negara lain, sebagian bahkan memilih melepas status WNI. Berikan kebebasan kepada mereka untuk mengharumkan nama Indonesia dari perantauan.

Sebaliknya, andai kondisi lingkungan kerja yang baik diciptakan di perguruan tinggi Indonesia, maka akademisi Indonesia juga bisa hebat. Dengan kondisi seperti saat ini saja, sudah banyak yang hebat. Pemerintah sebaiknya fokus untuk mewujudkan lingkungan kerja terbaik untuk ribuan akademisi yang memilih tetap WNI dan memilih (baik sukarela atau terpaksa) bekerja di Indonesia. Dampaknya akan lebih terasa untuk jangka panjang.

Pemerintah, pusat dan daerah, gemar sekali membuat sesuatu yang baru untuk menutupi kekurangan yang ada. Di daerah misalnya, banyak dibangun sekolah-sekolah unggulan, sekolah plus, dll. Mereka diberi fasilitas unggul dan dikelola lebih baik. Mereka wajar berprestasi. Tapi mereka hanya diisi oleh sebagian kecil warganegara. Prestasi mereka dijadikan berita besar, tenggelam ditengah gelombang fakta bahwa mayoritas lembaga pendidikan kita terengah-tengah di seperempat pendakian yang tinggi sambil membawa beban berat di punggung dan persediaan makanan menipis.

0001

Murid SD di Papua berjalan ke sekolah selama satu jam melalui padang rumput dan hutan.
© UNICEF Indonesia/2014/Andy Brown [http://indonesiaunicef.blogspot.nl/2014/04/sekolah-sekolah-terpencil-menginspirasi.html]

Daripada membuat yang baru, mengapa tidak membesarkan, membaguskan, dan melambungkan yang ada? Sehingga kualitas pendidikan terdistribusi merata, tanpa ada kelas VIP, kelas kedua hingga kelas seribu. Tidak perlu ada lagi lembaga pendidikan anak emas dan anak lumpur busuk. Tidak perlu ada lagi kawasan di mana lembaga-lembaga pendidikan terbaik menumpuk, di mana siswa belajar dengan Power Point, sedangkan di tempat lain ada murid sekolah yang keinginannya untuk melihat wujud sebuah komputer sampai terbawa mimpi.

Bagaimanapun itu, pekik merdeka harus tetap dikumandangkan.
Dirgahayu RI ke 71. Tetap optimis.





Kamar Mandi dan Toilet Pun Dibersihkan Kampus

18 08 2016

Hari ini saya mendapat email menarik dari pengelola akomodasi mahasiswa di Universitas Twente. Email ini menginspirasi saya untuk menulis tentang pentingnya memasukkan indikator kepuasan mahasiswa ke dalam metode penentuan ranking perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Begini emailnya:

On Wednesday August 24th of August, 2016 the company ‘namaperusahaan’ will perform the cleaning of the showers and toilets. Given the importance of the monthly cleaning, we will provide access with a spare key to the company ‘namaperusahaan’ in your absence. Please make sure the toilet and shower are as empty as possible. If you do not agree, I urge you to send me an email. Thanks in advance for your cooperation.”

Poin penting di dalam email tersebut adalah: pihak pengelola perumahan mahasiswa menyampaikan bahwa utusan mereka datang ke rumah mahasiswa untuk membersihkan kamar mandi dan toilet.

Bulan Agustus 2016, Kemenritek Dikti kembali mengeluarkan ranking universitas terbaik di Indonesia. Sebanyak 12 perguruan tinggi, 10 di Pulau Jawa dan 2 di luar Pulau Jawa, mendapat posisi paling atas. Selamat atas capaian ke-12 perguruan tinggi, tentu tidak terlepas dari kerja keras yang telah dicurahkan selama ini.

Menurut Menristekdikti, M. Nasir, lima indikator digunakan untuk menentukan peringkat perguruan tinggi terbaik, yaitu: kualitas dosen (12 persen), kecukupan dosen (18 persen), kualitas manajemen (30 persen), kualitas kegiatan kemahasiswaan (10 persen), dan kualitas kegiatan penelitian (30 persen).

Indikator kualitas dosen misalnya mencakup jumlah dosen berpendidikan S3, jumlah dosen dalam jabatan rektor kepala dan guru besar serta jumlah total dosen. Kualitas manajemen diukur dengan akreditasi institusi, jumlah program studi terakreditasi A dan B serta jumlah Program Studi. Kualitas kegiatan kemahasiswaan mencakup jumlah capaian emas, perak, dan perunggu pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan lomba internasional. Sedangkan kualitas kegiatan penelitian melingkupi capaian kinerja penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) serta jumlah dokumen terindeks scopus dan dosen tetap.

Dua belas perguruan tinggi terbaik di Indonesia tahun 2016 adalah: ITB, UGM, UI, IPB, Universitas Brawijaya, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Andalas, dan Universitas Sebelas Maret.

Salah satu faktor penting dalam kesuksesan pendidikan yang belum terlihat dalam kriteria-kriteria di atas adalah kualitas pelayanan, baik kepada mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat. Tingkat kepuasan pada pelayanan, telah dimasukkan menjadi slaah satu indikator penting dalam rangking QS Stars. http://www.iu.qs.com/services/qs-stars/qs-stars-methodology/.

Sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan tinggi kita menerapkan pelayanan terbaik kepada semua warga kampus. Kita tidak jarang mendengar bagaimana mahasiswa sangat kecewa dengan cara dosen mengajar dan membimbing; tugas yang tidak dikoreksi oleh dosen; pelayanan administrasi yang menguras tenaga, waktu dan emosi; masalah yang lebih sering tidak ada solusi; staff kesulitan mengurus pangkat, dan sebagainya. Sementara di tempat lain universitas bahkan sudah berpikir bahwa membersihkan kamar mandi dan toilet di akomodasi mahasiswa mereka adalah salah satu tugas mereka.





HAPPY RAMADHAN 2016

12 06 2016

Ramadan is here and the atmosphere is filled with the spirit of mirth and love,
here is hoping this festival of beauty brings your way, bright sparkles of contentment, that stay with you through the days ahead.

Ramadan is the month chosen to reveal the first verse in Al Quaran, the Iqra’ or Read. This is the month to Read more about the meaning of hunger and thirst during the days of Ramadhan by training to stop doing vain.

Ramadhan2016
This image was copied from internet, but I forgot to save the link.

Read by spending Ramadhan nights counting all the blessings of God, the Creator of man and the universe, which has been received during the past 11 months, even from the birth to the earth. Read with regretting the sins have been done, by thanking the Supreme Giver, by spreading as much as kindness to His creations. This is the month of training, while the rest of lifetime is for actions.





MEMANJAKAN DIRI DENGAN MUSIK

12 06 2016

Ibarat sebuah drama yang hadir silih berganti dalam fragmen-fragmen yang membawa kesan masing-masing, begitu pula parade musik klasik yang disuguhkan oleh para musisi dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) malam ini di Gedung Pertunjukan Idrus Tintin, Pekanbaru.

Satu per satu lagu klasik dibawakan dengan apik, ada yang populer dan ada pula yang berat.

Four Seasons-Summer yang ditulis oleh Antonio Vivaldi dibawakan dengan baik sekali, membawa kesan suasana musim panas di Eropah yang kering dan kuning, sehingga terasa menghisap tenaga pendengarnya, membuat badan lemas. Daun-daun kering ‘nampak’ lepas dari dahan lalu melayang perlahan jatuh ke tanah, menyentuh bumi dengan pelan, namun tajam. Vivaldi menulis empat seri karyanya yang paling terkenal itu tahun 1700-an dan dipublikasikan pertama kali di Amsterdam. Mirip dengan karya Vivaldi lain, serial ini juga mengandung nuansa puitis dalam bunyi yang digubahnya.

Piano solo yang dibawakan salah satu pemusik setelah itu, adalah termasuk penampilan yang berat. Polonaise Opus 53 yang juga dikenal dengan Polonaise héroïque dalam bahasa Perancis, menggambarkan kuda-kuda perang yang penuh semangat. Berlari dan melompat, melewati barisan tentara musuh. Gagah. Lagu ciptaan Frédéric Chopin ini ditulis pada zaman klasik, tidak hanya mendemonstrasikan bunyi yang enerjik, kejutan-kejutan, tetapi juga gerakan jari pemain di atas tuts harus lincah, cepat dan keras. Lagu ini bisa membuat cedera jari pemainnya, dan malam ini telah dimainkan dengan apik.

Itulah dua lagu yang bagi saya paling berkesan malam ini. Lagu lain juga tidak kalah indahnya. Ada juga salawat badar dalam kemasan orkestra, penanda konser yang diadakan dua malam sebelum Ramadhan itu.

Telinga, rasa, dah raga terasa dimanjakan.

AKMR1

Awalnya enggan untuk hadir karena badan tidak fit. Tetapi rugi untuk dilewatkan. Bukan saja karena pernah menjadi dosen di AKMR, tetapi juga karena konser musik klasik tidak sering di Pekanbaru. Saya tidak memainkan satu pun alat musik. Namun saat di Jogja dulu bergaul dengan musisi. Beberapa kali menginisiasi dan mengadakan konser sejenis, memfasilitasi para pianis kota Pelajar dan sesama penikmat musik klasik, juga sekaligus sebagai cara asik menonton gratis hehe. Saat bermukim di Australia juga sering menyambung waktu kuliah, pindah ke ruang sebelah di kampus, di mana secara berkala diadakan konser musik klasik.

Kedua putra saya menikmati pertunjukan malam ini dengan hikmad. Sama hikmadnya ketika menyetor hafalan Al Quran kepada mamanyaMurparsaulian Murparsaulian, yang seniman betulan. Si bungsi Abhiv menyerah lalu tertidur mendekati penghujung pertunjukan. Sedangkan abangnya Zia, yang sudah belajar piano klasik 4 tahun belakangan, tak hendak mengedipkan mata. Dia larut dalam nikmatnya bunyi dalam harmoni.

AKMR2

Bravo AKMR. Very good performance.





Obama vs Yang Lain, tentang green economy

12 06 2016

Ini kata Barrack Obama:

“The shift to a cleaner-energy economy won’t happen overnight, and it will require tough choices along the way. But a low-carbon, clean-energy economy can be an engine of growth for decades to come. America will build that engine. America will build the future, a future that’s cleaner, more prosperous and full of good jobs.”

obama green eco
Foto: The White House

Calon pemimpin kita bilang apa?