INDONESIA KEMBALI MENJADI ANGGOTA OPEC

31 03 2016

Keanggotaan Indonesia di OPEC telah aktif lagi, walaupun sebenarnya Indonesia bukan lagi eksportir minyak.

Inilah untungnya menjadi pendiri OPEC.

http://finance.detik.com/read/2015/09/14/210253/3018716/1034/jadi-anggota-opec-lagi-ini-keuntungan-buat-ri





[ASAP, SUMUR KERING, LISTRIK PADAM] dan [SAWIT] dan [RIAU]

31 03 2016

Tahun ini mungkin puncak derita rakyat Riau (mungkin juga Kalimantan, Jambi dan Sumsel). Sejak 18 tahun terakhir asap dari pembakaran hutan dan lahan menjadi langganan tetap, setiaaa sekali… menggantikan udara Riau yang bersih dengan abu (particulate matters). Sedangkan manusia yang tinggal Riau masih menggunakan paru-paru yang sama, tidak berubah menjadi berbahan otot besi dan urat kawat.

Tahun-tahun lalu, kerinduan luar biasa pada udara bersih biasanya digantikan senyuman riang gembira rakyat Riau saat hujan datang memadamkan api, lalu rakyat Riau yang pemaaf melupakan derita hingga tahun depan menjelang, dengan kisah yang sama. Kalaupun ada yang konsisten tetap berjuang untuk perbaikan permanen, suara mereka tenggelam dalam hembusan isu yang datang dari segala penjuru bahwa pelaku pembakaran bukanlah perusahaan, tetapi warga biasa; “ayah, anak, ponakan, paman, atau adik kalian juga, katanya.”

Tahun ini nampaknya rakyat Riau memilih untuk sesekali muak daripada terus-menerus memberi maaf. Sungguh, tak ingin terjadi lagi di tahun-tahun menjelang. Tahun ini mulai terbongkar sebagian fakta; ternyata jutaan orang dikorbankan, disalai, untuk satu tujuan, yaitu memudahkan mereka yang sudah kaya raya untuk menjadi semakin kaya raya. Inikah ciri ekonomi kapitalis itu?

Saat tulisan ini dibuat, kondisi udara di Pekanbaru berstatus BERBAHAYA.

Mengapa ‘puncak derita’? Karena tahun ini asap tidak hadir sendiri ke Riau. Dia mungkin melihat Riau adalah kawasan yang lucu dan menggemaskan saat menderita dan megap-megap bernafas asap, sehingga asik juga dijadikan hiburan. Tahun ini asap datang bersama dua koleganya, yaitu sumur kering dan pemadaman listrik bergilir.

Tulisan ini mencoba menghubungkan asap, kekeringan air dan pemadaman listrik bergilir dengan satu sektor, yaitu perkebunan kelapa sawit. Jujur, ulasan dibuat bermodalkan ilmu yang sedikit, jadi anda bebas menambahkan dan meluruskan, sebab nuansa emosinya lumayan kental.

SAWIT

Kelapa sawit telah menjadi primadona kedua di Riau setelah minyak bumi. Karena hasil kelapa sawit langsung dinikmati rakyat, maka kelapa sawit telah menjadi anugerah ekonomi luar biasa bagi rakyat ke level yang paling bawah. Ini berbeda dengan minyak bumi yang dinikmati oleh elit (terutama Jakarta-nya NKRI) dan hanya sedikit menetes kepada rakyat dalam bentuk CSR. Terima kasih kelapa sawit.

Bagi pemerintah kelapa sawit juga menjadi sektor yang dibanggakan, disebut-sebut di mana-mana dengan suka cita. Sampai akhirnya dimunculkan istilah populer “Riau adalah: minyak di bawah minyak di atas.” Hebat.

Tapi sebenarnya kalangan penggiat perlindungan lingkungan hidup sudah lama mengingatkan tentang ‘bom waktu’ yang telah dipicu oleh sawit. Kini bom waktu itu sudah meledak sebagian. Di antaranya: sawit akan mengubah lahan hijau yang subur, jutaan hektar, menjadi gurun tandus, nanti ketika usia hidup sawit (setelah replanting) berakhir. Bayangkan padang pasir di Arab pindah ke Riau, demikian ilustrasi bebasnya.

Selain itu, sawit adalah tanaman yang rakus air sehingga ratusan hektar dengan deretan pohon sawit dewasa bisa mengeringkan sungai di dekatnya.

Masih bisa kita tambah daftarnya, misalnya kerugian karena mengubah hutan alam menjadi kebun sawit, konflik (vertikal, horizontal) dll.

Intinya: kebanggan Riau ini bukanlah tanpa cacat.

ASAP

Nah, asap durjana ini menurut berita banyak terkait dengan pembersihan lahan untuk diubah menjadi kebun sawit. Hari ini di Riau status Berbahaya. Di Kalimantan kabarnya 6 kali lipat di atas Bahaya. Derita asap ini mungkin ada peran dari sektor sawit.

KEKERINGAN

Berjalanlah anda sekarang ke penjuru Riau. Kalau tidak sempat teleponlah kenalan anda di sana. Amati atau tanyakan bagaimana kondisi sumur mereka sekarang? Maka anda akan mengetahui saat ini kekeringan terjadi di mana-mana. Sumur-sumur tidak berair. Orang mengemis air kepada tanah.

Mengapa kini sumur-sumur lebih gampang kering? Mungkin sawit juga berperan. Kawasan penyimpan air kini semakin sempit. Dulu sebelum era sawit, saat hujan turun, sebagian air hujan akan disimpan di dalam tanah untuk dijadikan cadangan suplai air pada musim kemarau. Pohon punya kemampuan menyimpan air. Begitulah desain Tuhan untuk kebaikan manusia. Namun sejak era sawit, saat hujan datang air tidak lagi masuk ke dalam tanah sehingga lebih sering terjadi banjir atau genangan air. Sawit tidak punya kemampuan menyimpan air sebaik pohon lain. Saat kemarau datang, sumur-sumut kering karena tidak ada cadangan air di tanah. Begitulah campur tangan manusia atas desain Tuhan membawa derita.

Derita kekeringan mungkin ada juga peran sektor sawit.

PEMADAMAN LISTRIK BERGILIR

Saat ini sering muncul status teman di FB seperti, “habis sudah kita karena asap, lalu terbitlah pemadaman listrik bergilir.”

Salah satu sumber listrik utama di Pekanbaru adalah PLTA Koto Panjang. PLTA sangat mengandalkan air yang cukup di bendungan untuk menjaga stabilitas produksi listrik. Tidak ada masalah saat musim hujan. Namun kita telah menjadi saksi setiap musim kemarau datang, pemadalam listrik bergilir pun menjelang.

Mengapa terjadi? Karena level air di bendungan PLTA turun, sehingga produksi listrik tidak bisa optimal. Sebagian kawasan harus dipadamkan listriknya. Penurunan level air di bendungan PLTA mestinya tidak terlalu signifikan jika kawasan penyimpan air masih cukup. Namun kawasan hutan yang mestinya menyimpan air untuk PLTA di musim kemarau kini telah berubah menjadi kebun sawit yang tidak punya kemampuan menyimpan air.

Pemadaman listrik bergilir pun mungkin ada peran sektor sawit.

LALU BAGAIMANA?

(1) Stop izin untuk penambahan lahan sawit, walaupun hanya 1m2.
(2) Tinjau ulang izin replanting untuk menghindari penggurunan.
(3) Pemerintah mesti lebih cerdas menciptakan lapangan ekonomi lain untuk rakyat, jika tidak ada ide sebaiknya tarik lagi formulir pendaftran menjadi anggota Dewan, Bupati, Walikota, Gubernur; tandanya anda tidak berbakat membawa rakyat Riau menjadi lebih baik.
(4) lanjutkan gerakan menanam 1 juta pohon peninggalan SBY, dan prioritaskan ke kawasan pencadangan air.
(5) lanjutkan tindakan hukum bagi para pembakar hutla, tangkap pembakarnya, otaknya, bekingnya, dan orang yang menerim setorannya (jika ada).
(6) Pemerintah pusat harus memberi kompensasi pada Riau atas eksploitasi SDA puluhan tahun yang keuntungannya jauh lebih banyak dibawa ke Jakarta. Salah satu contohnha, jadikan pendidikan Dasar, Mengengah, dan Tinggi di Riau menjadi yang terbaik di Indonesia. Karena kami percaya pendidikan yang baik akan menyelamatkan masa depan kami. Pendidikan yang baik akan menghindarkan kami dari perilaku tidak adil dan perilaku mengekspoitasi orang seperti yang kami alami sejak bergabung manjadi bagian dari Indonesia ini.

Itulah derita Riau yang bertubi-tubi, dengan intensitas yang setiap tahun semakin tinggi.

Negeri yang menyumbang bahasa pada negara ini. Negeri yang membuat Indonesia mendapat posisi penting di kalangan OPEC (negara pengekspor minyak). Negeri yang pernah dibujuk rayu dengan diberi julukan negeri petrodolar padahal faktanya petro-nya ada di Riau, dolarnya pergi ke Jakarta. Negeri yang menghasilkan jutaan dolar untuk negara dari sawit. Negeri yang paling banyak menyuplai kebutuhan kelapa negara ini. Tapi inilah negeri yang dibiarkan itu.

Akhirnya apa yang tersisa di Riau? Hanya bahasa. Hanya bahasa. Maka kami akan terus bicara.





INDONESIA KINI ANGGOTA IEA dan OPEC. BAGAIMANA IRENA?

31 03 2016

Sejak pertengahan November 2015, Indonesia sudah bergabung dengan International Energy Agency (IEA), www.iea.org. Organisasi energi internasional ini sesungguhnya beranggotakan negara-negara maju, namun Indonesia bergabung sebagai anggota mitra (associated member).

IEA mungkin merupakan organisasi energi paling bersar di dunia. Walaupun IEA sering dianggap lebih fokus pada energi fosil (minyak, batu bara dan gas bumi), pemerintah menyebutkan juga akan memanfaatkan status keanggotaanya untuk mengembangkan energi terbarukan.

Sebelumnya, Indonesia juga sudah bergabung (lagi) dengan OPEC, setelah 7 tahun keanggotaan Indonesia digantung (suspended) oleh karter minyak terbesar di dunia itu karena telah menjadi negara yang lebih banyak impor daripada ekspor minyak bumi. Masuknya Indonesia kembali ke OPEC berjalan mulus karena Indonesia adalah salah satu pendiri OPEC, walaupun jumlah produksi minyak Indonesia tidak banyak berubah. Keikutsertaan Indonesia di OPEC yang berkantor di Wina (sebelumnya di Arab Saudi) diharapkan berguna untuk menjamin suplai minyak dalam negeri.

Satu organisasi energi dunia lain adalah IRENA (international renewable energi agency). IRENA fokus mengembangkan energi terbarukan dan berkantor pusat di Abu Dhabi. Dengan IEA dan OPEC Indonesia dapat berberan lebih besar dalam jaringan energi fossil. Dengan kebijakan energi nasional 2014 yang memberi porsi signifikan pada EBTKE, Indonesia rasanya juga perlu berabung dengan IRENA. Suplai emergi kini tidak bisa lagi jika hanya mengandalkan kemampuan domestik. Peran serta dalam organisasi Internasional dapat bermanfaat besar jika dimainkan secara baik.





PROMOSI ENERGI TERBARUKAN BUTUH PERJUANGAN

31 03 2016

Terlepas dari segala keunggulan yang dimiliki oleh berbagai sumber dan teknologi energi terbarukan dan fakta bahwa dunia sedang bergerak menuju masa depan dengan energi terbarukan, tenyata promosi energi terbarukan tidak selalu mudah. Ada tembok besar yang harus dilompati atau dirubuhkan terlebih dahulu, penghalang yang datang bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga bisnis dan pemerintah.

Bahkan dii Amerika Serikat, negara maju dan berpengalaman lama mengembangkan energi matahari, tembok besar tersebut masih ada. Sebuah proposal pembangunan energi surya di Woodland, North Carolina, telah ditolak oleh warga dan pemerintahnya karena takut panel-panel surya akan menghisap semua energi dari matahari sehingga bisnis lain tidak bisa tumbuh di sana. Bahkan seorang pensiunan guru sains mengatakan bahwa panel surya dapat menghambat fotosintesis dan pertumbuhan tumbuhan karena dia melihat daun-daun menjadi coklat di sekitar panel surya.

Modul surya tentu tidak memiliki kemampuan apapun untuk menghisap sinar matahari karena dia secara pasif hanya menerima sinar matahari yang menimpanya, lalu mengubahnya menjadi listrik. Sedangkan daun-daun menjadi coklat di sekitar panel adalah karena pestisida yang sengaja disemprotkan untuk menghambat rumput dan pohon di sekitar panel menjadi tinggi dan menimbulkan naungan (bayang-bayang) di atas modul. Tetapi, alasan warga Woodland tersebut disepakati pemerintahnya dan proposal energi surya tersebut telah ditolak. Analis mengatakan mungkin penolakan tersebut disupport oleh bisnis energi fosil yang tidak tidak suka melihat energi terbarukan sukses dan menjadi saingan bisnisnya.

Bagaimana dengan kita? Ya, penolakan kepada energi terbarukan di sini masih cukup tinggi, dari masyarakat, bisnis, dan pemerintah. Masyarakat enggan menggunakan energi terbarukan karena kualitasnya tidak sebaik energi dari sumber konvensional. Bisnis menolak karena belum menuntungkan. Pemerintah menolak karena mahal.

Penolakan-penolakan tersebut dipahami, namun sesungguhnya kita punya pilihan untuk melompati tembok itu bahkan merubuhkannya. Berbagai teknologi telah tersedia untuk membuat energi terbarukan memiliki kualitas sama dengan energi konvensional. Harga sesungguhnya sedang melompat turun dengan cepat sehingga mulai bersaing dengan energi fosil. Kebijakan dan insentif yang mendukung juga dapat membuat energi terbarukan bersaing dengan energi fosil. Banyak negara telah sukses mengembangkan energi terbarukan dan kini sedang meningkatkan porsi energi terbarukan dalam struktur bauran energinya.

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan subsidi kepada energi terbarukan sehingga bisnis di sektor ini berjalan cepat dan menjadi kokoh serta mandiri. Mengapa kita memberi subsidi ratusan triliun untuk energi fosil yang jelas-jelas membawa kerusakan pada kehidupan di Bumi? Bukankah energi fosil dan energi terbarukan keduanya adalah anak kandung dari sebuah pemerintah? Mengapa ketika mereka disuruh bertanding, energi fosil diberi pedang dan pistol, sedangkan energi terbarukan diberi lidi?

Kita yang memilih, dan pilihan kita akan menentukan masa depan. Pilihan kita akan diuji oleh generasi nanti. Buatlah pilihan yang baik untuk kita dan mereka nanti. Sesungguhnya pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah tepat, namun masih perlu ditingkatkan beberapa puluh kali lipat lagi.

*******
Renungan pagi dari sebuah kelas di Konsentrasi Energi, Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau, di mana generasi muda di sini bersemangat berlatih menjadi “pelompat tembok” atau bahkan merubuhkannya demi masa depan energi yang berkelanjutan di Indonesia.





KETIKA OTONOMI DAERAH DIPRETELI SATU-PER SATU.

31 03 2016

Mulai 2016, Urusan Sektor Kehutanan, Kelautan, Energi, Sumberdaya Mineral, ditarik ke pusat. Sebagian urusan-urusan tersebut akan dikelola langsunh oleh pusat, dan sebagian akan dilaksanakan oleh pemprov sebagai perpanjangan tangan pusat di daerah. Keputusan tersebut adalah amanat UU 23/2014.

Maka dinas-dinas Kehutanan, Kelautan, Energi dan Sumberdaya Mineral, serta urusan terkait di kantor Wako dan Bupati, akan dilikuidasi.

Apakah ada sahabat yang bisa membantu menjelaskan alasan rasional dari keputusan tersebut?





MUSIM PANAS, MUSIM DINGIN, DERITA YANG SAMA

31 03 2016

MUSIM PANAS:
Api di hutan dan lahan, asap menyelimuti negeri masuk ke paru-paru, tanah kerontang, air sumur kering, orang bingung hendak mandi-mencuci-minum, tumbuhan meranggas, sekolah tutup, debu tebal menutup atap dan jendela rumah, orang berteriak.

MUSIM HUJAN:
Banjir di mana-mana, tanaman mati saat siap dipanen, air masuk ke kamar tidur menyisakan lumpur hingga ke dapur, sekolah libur, jalan putus dan hancur, orang berteriak.

Indonesia, sebuah negeri yang konon tongkat kayu jadi tanaman, lautan air susu, adalah negeri dua musim; musim panas dan musin hujan. Tidak sedikit di antara kita yang berteriak, di kedua musim, karena hidup tak lepas dari bencana.

Pertanyaannya: apakah ini natural disaster (bencana alam) atau antropogenic disaster (bencana buatan kita, manusia, homo sapien, intelligent species)? Apakah kita sudah sampai di ujung asa dan tidak bisa lagi berbuat apa-apa?





PRESTASI AKADEMIK PELAJAR INDONESIA PALING RENDAH?

31 03 2016

Risau sekali melihat grafik ini. Inilah daftar negara dengan persentasi akademik siswa yang rendah tahun 2012, berdasarkan studi dari OECD. Indonesia adalah negara yang persentasi siswa berprestasi akademik rendah paling banyak. Jauuhhh di bawah Viet Nam.

Apa yang harus kita (=bukan orang lain) lakukan?

Saya mulai dari diri saya sebagai akademisi: sebagai pendidik di universitas, saya harus lebih fokus pada tugas-tugas kependidikan dengan menerapan standar akademik tertinggi yang mungkin, untuk diri saya dan untuk mahasiswa saya.

226

Versi lengkap grafik ini dapat dilihat di: http://www.oecd-ilibrary.org/docserver/download/5jm3xh670q7g.pdf?expires=1456621248&id=id&accname=guest&checksum=10120ED4BFF5D81DB45E6B8E6DB4FE39

 








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 28 other followers