NASA: Suhu Harian di Indonesia 40 Derajat pada tahun 2100

23 06 2015

Sebagaimana dilaporkan oleh National Geographic Indonesia, sebuah studi yang dilakukan oleh NASA memperkirakan bahwa “suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 nanti bisa mencapai 40 derajat Celcius.”

Perkiraan tersebut disimpulkan dari analisis dataset Earth Exchange Global Daily Downscaled Projections (NEX-GDDP) oleh NASA. Data tersebut berisi informasi historis suhu sejak 1950 dilengkapi dengan skenario emisi CO2 selama beberapa puluh tahun ke depan.

Dua skenario dihasilkan dari studi tersebut, yaitu skenario emisi rendah dan skenario emisi tinggi. Skenario emisi rendah menghasilkan estimasi suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 berkisar 30 – 35 derajat Celsius. Sedangkan dengan skenario emisi tinggi antara 35 – 40 derajat Celsius.

Bulan-bulan paling panas akan terjadi dari Juli hingga Oktober di mana suhu bisa di atas 40 derajat Celsius.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, suhu harian rata-rata kawasan pantai di Indonesia adalah 28°C, pedalaman dan pegunungan rata-rata 26°C, dan gunung tinggi rata-rata 23°C (Sumber: Weather Online).

Estimasi tersebut tidak hanya akan menimpa Indonesia, tetapi juga beberapa negara lain seperti Afrika Utara, India, dan kawasan khatulistiwa di Amerika Selatan yang akan mengalami suhu harian di atas 45 derajat Celsius pada musim panas. Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, pada tahun 2015 ini gelombang suhu panas ekstrim telah menerjang India dan menelan korban lebih 2.000 orang meninggal duni akarena kepanasan (Sumber: CNN Indonesia). Saat artikel ini ditulis, kejadian serupa sedang berlangsung di Pakistan. Sebanyak 450 orang meninggal dunia karena suhu tinggi mencapai 45 derajat Celsius di Karachi (Sumber: Riau Pos).

Informasi selengkapnya tentang estimasi suhu global tersebut dapat dilihat pada http://climateinternational.org/#map.

NASA_warmingFoto: http://climateinternational.org/#map

Kawasan dengan suhu rata-rata di atas 40 °C berada di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Kuwait dan Ahwaz adalah dua kota di Teluk Persia yang memiliki bulan-bulan dengan suhu rata-rata harian di atas 46 °C. Selama periode 1970-2000 kota Ahwaz mengalami tiga kali suhu 52 °C – 54°C . Di Irak bagian Selatan, suhu mencapai 44,8 °C (Sumber: http://www.currentresults.com/Weather-Extremes/hottest-cities-in-the-world.php).

Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau juga mengalami peningkatan suhu. Sebagaimana diberitakan Riau Pos (23/06/2015), berdasarkan data BMKG, awal Ramadhan 2015 disongsong oleh suhu 31,5 sampai 34,5 derajat celcius di Pekanbaru. Dari BPS Riau, suhu rata-rata di Pekanbaru telah naik dari 34,6 °C pada tahun 2208 menjadi 35,1 °C pada tahun 2012.

Prediksi NASA untuk Indonesia di atas menambah literatur bahwa pemanasan global dan perubahan iklim sedang berlangsung. Kelestarian Bumi dan segala penghuninya berada di tengah resiko besar. Langkah-langkah nyata untuk mengurangi pemanasan global tidak bisa ditunda lagi. Caranya adalah dengan mengurangi pembakaran energi fosil yang menghasilkan banyak emisi CO2 dan memelihara hutan.

Bangsa Indonesia perlu beralih ke energi bersih. Alasan bahwa teknologi energi bersih masih mahal dapat dipahami, namun bukan berarti menghentikan langah-langkah untuk mengembangkannya. Banyak negara, terutama negara-negara maju telah berhasil mengembangkan energi terbarukan dan efisiensi energi. Peran utama dari pemerintah kita dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi bersih, membuat harganya lebih murah, dan bersinergi dengan swasta, akademik, dan LSM untuk bergerak bersama.

Beberapa upaya untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui peningkatan peran energi bersih telah dimulai di Riau. Sebuah organisasi di tingkat Provinsi Riau yang bernama Riau Renewable Energy Centre (www.rirec.org) telah dibentuk dan mulai bergerak untuk mendorong pengembangan energi bersih. Dalam wilayah praktis, beberapa pusat riset dan konsultansi terkait telah berdiri di Riau, salah satu di antaranya adalah Energy Research Centre (www.enreach.or.id) di UIN Suska Riau.

Nasib Bumi terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim, juga membutuhkan ‘tangan-tangan bersih’ dan terampil dari generasi yang lebih muda. Untuk meyakinkan generasi muda yang peduli energi bersih, di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau sejak tahun 2010 telah dibuka Konsentrasi Energi yang fokus pada pendidikan dan riset sistem tenaga listrik, energi terbarukan, efisiensi energi, dan kebijakan energi. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau mendorong suplai energi (listrik, gas, dan bahan bakar cair) yang ramah lingkungan. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau dapat dilihat di http://ee.uin-suska.ac.id/konsentrasi-energi/.





Arab Saudi pun Mau Energi Surya (Saudi Arabia is Willing to Go Solar)

26 05 2015

Sebuah laporan Damian Carrington di The Guardian, 22 Mei 2015, berjudul “Saudi Arabia’s solar-for-oil plan is a ray of hope,” telah menghembuskan semangat dan optimisme baru bagi dunia energi terbarukan (ET), khususya energi matahari.

Mengapa demikian? Saudi Arabia, raja minyak dunia, negara yang sangat kaya, melalui Menteri Perminyakan Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan di Paris beberapa hari lalu bahwa negaranya pada suatu hari, mungkin 2040, 2050, atau setelah itu, akan mengekspor listrik tenaga matahari, bukan minyak bumi. Pada tahun 2012 Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa 100% suplai listrik akan berasal dari ET.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Arab Saudi adalah pemilik 1/5 cadangan terbukti minyak bumi dunia, eksportir minyak bumi terbesar, pendiri dan anggota yaang sangat berperngaruh di OPEC, menggantungkan 75% APBN pada minyak bumi dan 90% pendapatan ekspornya dari industri minyak bumi.

Ini adalah sebuah target yang ambisius bagi Arab Saudi. Target ini mungkin akan berdampak dalam sekali pada ekonomi (baca: kemewahan) minyak Arab Saudi. Bagian yang paling sulit, menurut saya, adalah bagaimana mempersiapkan rakyatnya untuk beradaptasi dengan ET. Syarat pertama untuk mengadopsi ET adalah melakukan efisiensi energi (EE) dulu. Sementara itu konon warga Arab Saudi yang makmur itu tidak begitu familiar dengan EE.

Sebelum melihat rencana yang lengkap, saya sepakat bahwa target ini untuk sementara bisa dilihat secara skeptis. Misalnya, sang menteri baru bicara tentang listrik, namun belum bicara tentang bbm untuk transportasi jika ditargetkan 100% suplai energi ET.

Terlepas dari berbagai skeptisme, rencana besar Arab Saudi ini telah menghembuskan angin segar bari pengembangan ET dan perbaikan iklim dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri ‘mantan’ anggota OPEC, yang sering merasa kaya minyak? Aapakah sudah memiliki rencana yang lebih baik untuk pengembangan ET? Bagaimana menurut anda?

22 May 2013, Saudi Arabia --- A Saudi man walks on a street past a field of solar panels at the King Abdulaziz city of Sciences and Technology, Al-Oyeynah Research Station, in this May 21, 2012 file photo. A slide in solar power costs and a surge in oil prices over the last few years has made solar power a win-win strategy for Saudi Arabia: saving billions of dollars of crude for export while making electricity at less than half the cost. To match Analysis SAUDI-SOLAR/ REUTERS/Fahad Shadeed/Files (SAUDI ARABIA - Tags: ENERGY BUSINESS) --- Image by © FAHAD SHADEED/Reuters/Corbis

22 May 2013, Seorang pria Saudi Arabia berjalan di sisi pembangkit listrik tenaga surya di kota King Abdulaziz. (Foto: The Guardian)





Ketika Perubahan Iklim Merenggut Kehidupan (When Climate Change Takes Your Life)

26 05 2015

“Lebih dari 500 orang meninggal karena serangan hawa panas di India dengan temperatur tertinggi mencapai 47,7′ Celcius di kota Allahabad, negara bagian Uttar Pradesh.”

Karena perubahan iklim, kejadian cuaca ekstrim semakin sering. Kini di Eropa banyak korban karena musim dingin terlalu dingin. Sedangkan di kawasan sub tropis seperti India, Bangladesh dan lain-lain banyak orang meninggal karena musim panas terlalu panas.

Energi terbarukan dan efisiensi energi adalah solusi yang ada saat ini untuk menurunkan emisi karbon diaoksida yang menjadi penyebab perubahan iklim. Energi berkelanjutan kini bukan sekedar bagaimana menyediakan energi bagi masyarakat. Energi berkelanjutan adalah tentang manusia dan kemanusiaan.

Info lebih lengkap tentang dampak cuaca ekstim dapat dilihat pada website IPCC, lembaga PBB yang mengurus perubahan iklim http://www.ipcc.ch/ipccreports/tar/wg2/index.php?idp=354

Gambar berikut memperlihatkan beberapa kejadian cuaca ekstrim di seluruh dunia. Lihat saja, dalam beberapa dekade belakangan kita memecahkan bangak rekor.

IMG_7324





Atap Bangunan Baru di Perancis Wajib Dipasang Modul Surya

21 03 2015

Pada tanggal 19 Maret 2015, Perancis mengesahkan UU baru yang mewajibkan sebagian atau keseluruhan atap gedung baru di kawasan komersil dipasang panel surya atau ditanam tumbuhan.

Sebagai negara yang mengandalkan lebih 80% suplai listriknya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Perancis memang masih tertinggal dari sebagian negara Eropa dalam memanfaatkan energi surya. Jermal, Spanyol, dan Italia memimpin aplikasi energi surya di Eropa dan dunia.

Selain pasangan PLTS, UU baru tersebut mendorong atap gedung baru di Perancis untuk ditanami tanaman. Konsep atap hijau ini memberikan berbagai keuntungan. Dengan atap hijau, bangunan akan memerlukan lebih sedikit energi untuk mencapai temperatur ruang yang diinginkan.

Sumber: http://thinkprogress.org/climate/2015/03/20/3636746/franch-rooftops-go-green/

IMG_6806
Sumber: http://homeli.co.uk/eco-villa-concepts-in-flavours-orchard-china-by-vincent-callebaut-architecture/





Efisiensi Energi dan Konservasi Lingkungan (Energy Efficiency and Environmental Conservation)

18 02 2015

Artikel ini diterbitkan di Majalah Suara Bumi Th. X/Edisi 3, 2014 terbitan Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumatera.

energy_eff_progress_img1

Sumber gambar: app.mewr.gov.sg/web/contents/contents.aspx?contid=1544

Setiap kegiatan produksi dan konsumsi energi menimbulkan dampak pada lingkungan hidup. Oleh sebab itu kebijakan negara tentang energi dan lingkungan hidup mesti disambungkan erat. Namun hal ini tidak selalu mudah. Masih tertanam paradigma; jika lingkungan hidup diberi perhatian maka ekonomi akan dikorbankan. Pihak otoritas dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan di Indonesia sepertinya masih sering tergoda untuk lebih mendahulukan ekonomi saat terjadi tabrakan dengan kepentingan lingkungan hidup. Padahal, jika pola pikir jangka panjang dikedepankan, tantangan memproduksi dan menggunakan sumber daya energi berkelanjutan dapat dilakukan bersama-sama dengan mengejar pertumbuhan ekonomi untuk mewujudkan ekonomi berkelanjutan alias green economy. Tujuan artikel ini adalah untuk mengemukakan beberapa argumen bahwa energi, ekonomi, dan lingkungan hidup sesungguhnya dapat berjalan beriringan secara harmonis tanpa mengganggu satu sama lain. Artikel ini juga memaparkan tinjauan singkat tentang kebijakan efisiensi energi nasional dan kemudian mengusulkan langkah-langkah penting yang harus dilakukan ke depan untuk mewujudkan target efisiensi energi pada tingkat pusat dan daerah.
Gerakan efisiensi energi adalah kunci utama menuju masa depan energi dan ekonomi berkelanjutan. Efisiensi energi berarti mengurangi laju pertumbuhan konsumsi energi dan menghindari penggunaan peralatan energi yang tidak dibutuhkan. Karena penggunaan energi saat ini didominasi bahan bakar hidrokarbon (minyak bumi, batu bara, dan gas alam), maka efisiensi energi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, polusi udara, dampak aktifitas energi pada air permukaan dan air tanah, dan sebagainya.
Pada koferensi Perubahan Iklim PBB di Copenhagen tahun 2009, International Energy Agency (IEA) memaparkan potensi besar sektor efisiensi energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memotong emisi GRK. IEA mengidentifikasi bahwa 57% target pengurangan emisi GRK dapat dicapai melalui gerakan efisiensi energi. Sedangkan energi terbarukan seperti energi surya, angin, biomassa, air, panas bumi, dan lain-lain; dapat berkontribusi sebesar 23% pada pengurangan emisi GRK. Artinya, dua pilar energi berkelanjutan; efisiensi energi dan energi terbarukan, bersama-sama dapat menyumbang 80% pada upaya dunia untuk menghidari dampak pemasan global.
Manfaat efisiensi energi untuk ekonomi juga diidentifikasi Bank Dunia. Pada awal 2014, dalam publikasi berjudul “Adding up the Benefits,” Bank Dunia melaporkan bahwa kebijakan pemerintah di beberapa negara-negara Amerika, Asia, dan Eropa yang merangsang pergeseran ke transportasi bersih dan meningkatkan efisiensi energi di pabrik-pabrik, gedung-gedung dan peralatan, akan meningkatkan pertumbuhan PDB global sekitar US$ 1,8-26 triliun per tahun pada 2030. Selain itu, kontribusi sebesar 30% dari total pengurangan emisi GRK untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat Celcius, juga dapat diraih melalui efisiensi energi. Laporan ini memberikan landasan akademis kuat bahwa dengan kebijakan yang tepat, maka sektor energi, ekonomi, dan lingkungan hidup dapat dibangun bersaamaan untuk masa depan dunia yang lebih baik.
IESR Indonesia (2014) mengklaim bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan mengalami pertumbuhan energi yang cenderung boros dan tidak produktif, ditandai dengan elastisitas energi yang tinggi. Elastisitas Energi adalah perbandingan antara laju pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan konsumsi energi disebuah negara. Semakin kecil angka elastisitas energi, maka semakin efisien penggunaan energi. Angka elastisitas energi dibawah 1,0 dicapai apabila energi yang tersedia telah dimanfaatkan optimal. Elastisitas energi Indonesia saat ini mencapai 2,69; jauh lebih tinggi dari Singapura (1,1) Thailand (1.4), atau negara-negara OECD yang berkisar 0.6 – 1,0. IESR juga mengingatkan jika kecenderungan tersebut tidak diatasi, maka elastisitas energi akan melampaui 3,0 pada 2025. Hal ini akan mempercepat laju pengurasan energi, memperburuk perubahan iklim, dan melemahkan daya saing ekonomi nasional.
Penggunaan energi secara efisien adalah hal mendesak di Indonesia. Ketergantungan pada energi fosil masih tinggi. Lebih 95% konsumsi energi final didomonasi oleh 48% minyak bumi (sekitar 50% import). Rumah tangga dan transportasi yang mengkonsumi 10,2% dan 33,4% energi final, adalah sektor yang masih disubsidi sehingga bangunan energi Indonesia rentan terhadap gangguan suplai dan fluktuasi harga energi di pasar global. Namun demikian, resiko tersebut dapat dikurangi jika dilakukan efisiensi energi secara masif, terutama minyak bumi.
Pemerintah telah menetapkan lebih 10 instrumen kebijakan untuk mendorong efisiensi energi nasional. Payung utama adalah UU No. 30/2007 tentang Energi yang diturunkan pada PP No.70/2009 tentang Konservasi Energi. Selain itu juga telah dikeluarkan dua Perpres, satu Inpres, dan tidak kurang delapan Peraturan Menteri untuk mendorong penerapan efisiensi energi di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut memberikan tanggung jawab kepada pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan prioritas dan insentif pada pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.
Berbagai aktifitas telah dilaksanakan pemerintah pusat sebagai wujud pelaksanaan kebijakan dan peraturan tentang efisiensi energi, khususnya terkait dengan penyiapan instrumen kebijakan, kelembagaan, peningkatan SDM, dan membangun awareness dan kerjasama internasional. Kalangan industri pengguna energi dalam jumlah di atas 6000 ton of oil equivalent/toe kebanyakan juga sudah melaksanakan program efisiensi energi karena diwajibkan pemerintah, semangat efisiensi anggaran dan menciptakan reputasi sebagai industri ‘hijau.’ Namun demikian gerakan yang mestinya masif ini belum menjadi tren meluas di dunia usaha non industri dan pemerintah daerah.
Sesungguhnya potensi penghematan energi di Indonesia cukup besar. Kementerian ESDM menghitung bahwa sektor industri, bangunan komersial, transportasi dan rumah tangga memiliki potensi penghematan antara 15-30%. Sedangkan Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) menetapkan target penurunan konsumsi energi sebesar 18% dari business-as-usual pada 2025. Angka tersebut adalah angka besar, setara dengan penundaan pembangunan pembangkit listrik sekitar 600-700 MW setiap tahun atau 7000 MW secara kumulatif hingga 2025 (IESR 2014).
Untuk mendorong dunia usaha dan menstimulus aliran investasi ke proyek efisiensi energi, adalah kewenangan pemerintah untuk mengurangi hambatan investasi di kegiatan efisiensi energi. Di antara yang mestinya dilakukan pemerintah menurut IESR antara lain membuat kebijakan dan regulasi terukur dan dapat diperkirakan, menerapkan mekanisme compliance terhadap pengguna energi diatas 6000 TOE, penguatan standarisasi dan kapasitas Energy Service Company (ESCO) melalui standarisasi dan sertifikasi, pengembangan kapasitas teknis dan finansial, pembentukan fasilitas pendanaan publik untuk proyek efisiensi energi yang dapat menarik pendanaan swasta, serta mengoreksi subsidi energi. Terkait subsidi energi yang hingga saat ini masih diberikan pemerintah, pihak investor memandang investasi efisiensi energi menjadi tidak feasible and bankable. Walaupun pemerintah telah menyediakan berbagai insentif fiskal, namun belum berhasil membangkitkan daya tarik investor karena diredam subsidi energi.
Oleh sebab itu, dalam waktu dekat pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mendorong efisiensi energi. Di antara langkah penting yang dapat dilakukan adalah meninjau ulang kebijakan subsidi energi sekarang, menyediakan insentif lebih menarik bagi dunia usaha, dan mendorong skema-skema investasi efisiensi energi melibatkan dunia usaha, bank, dan pemerintah.
Selain pemerintah pusat dan dunia usaha, tanggungjawab pelaksanaan efisiensi energi juga dibebankan undang-undang kepada Pemerintah Daerah (Pemda) baik tingkat propinsi maupun Kabupaten/Kota. Karena kebijakan efisiensi energi relatif baru di Indonesia, maka belum menjangkau secara meluas hingga ke seluruh daerah di Indonesia. Dengan demikian, Pemda perlu lebih proaktif untuk memulai gerakan penting ini tanpa menunggu pemerintah pusat. Sejak dikeluarkan Inpres tentang penghematan penggunaan energi dan air di lembaga pemerintahan sejak 2008 dan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi untuk kendaraan pemerintah, Pemda diharapkan sudah membiasakan diri dengan semangat penghematan energi dan bersiap untuk gerakan lain yang lebih luas dan terarah.
Sejalan dengan PP No.70/2009 tentang Konservasi Energi, berikut adalah delapan kewajiban dan kewenangan Pemerintah Daerah dalam pengembangan efisiensi energi di daerah, termasuk Pemda Riau dan Kabupaten/Kota di Provinsi Riau: (1) merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi dan program konservasi energi daerah; (2) mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang konservasi energi; (3) melakukan sosialisasi menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan teknologi yang menerapkan konservasi energi; (4) mengalokasikan dana dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi; (5) memberikan kemudahan dan/atau insentif dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi; (6) melakukan bimbingan teknis konservasi energi kepada pengusaha, pengguna sumber energi, dan pengguna energi; (7) melaksanakan program dan kegiatan konservasi energi; dan (8) melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program konservasi energi.
Hampir semua kewajiban Pemda di atas dapat dilakukan melalui kerjasama erat dengan dunia pendidikan, organisasi non-pemerintah dan dunia usaha, kecuali kewajiban ke-4 dan ke-5 yang harus dilaksanakan sendiri oleh Pemda. Menurut MIT (2012), Pemda, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil memiliki tiga jenis atribut umum yang dapat berkontribusi terhadap implementasi efisiensi energi, yaitu: mekanisme pengaturan; insentif keuangan; dan hubungan dengan masyarakat lokal. Pemda memiliki pengaruh langsung atas kebijakan terhadap komunitas dan sekaligus juga memiliki hubungan kuat dengan banyak komunitas. Selain itu, Pemda juga dapat mengalokasikan anggaran kegiatan konservasi energi dalam APBD, sama dengan dunia usaha yang dapat menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk kegiatan sejenis. Organisasi non-pemerintah lokal hanya memiliki pengaruh tidak langsung atas kebijakan, tetapi memiliki kemampuan langsung untuk meningkatkan hubungan dalam masyarakat. Kolaborasi antara para pihak dapat membawa perubahan penting dalam upaya efisiensi energi di daerah.
Tanggungjawab implementasi efisiensi energi juga ada di pundak masyarakat. Masyarakat bertanggung jawab mendukung dan melaksanakan program efisiensi energi. Cara paling mudah adalah dengan membangun kesadaran bahwa efisiensi energi tidak hanya akan memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat, namun juga dapat membantu daerah dan negara dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan. Beberapa contoh sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, memanfaat cahaya alami untuk penerangan di siang hari, dan sebagainya.
Sebagai kesimpulan, berangkat dari kesadaran bawah kegiatan produksi dan konsumsi energi membawa dampak pada lingkungan hidup dan ekonomi, maka gerakan efisiensi energi adalah strategi potensial untuk mewujudkan green economy. Efisiensi energi yang sukses tidak hanya akan berbuah efisiensi ekonomi, namun juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara lebih ‘bersih.” Selain itu, dalam konteks Indonesia, efisiensi energi juga berarti mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan emisi GRK. Jika dilaksaakan secara terencana oleh Pemerintah (pusat dan daerah), dunia usaha, dunia pendidikan, dan masyarakat, maka kita akan mencapai kondisi di mana energi, ekonomi, dan lingkungan hidup berjalan seiring secara akurberjalan seiring secara akur.





Wina, ibukota musik dunia (Vienna, the world’s music capital)

22 07 2014

WInaPhilh

vienna philharmonic (Source: tbn3)

Awal Juli 2014 saya berkunjung ke kota Wina – Austria, dan saya akan mengulas tentang Wina, ibukota musik dunia ini dengan anda. Agenda utama kunjungan adalah menjajaki kerjasama akademik antara UIN Suska Riau dengan The University of Natural Resources and Life Sciences, Vienna, atau lebih dikenal dengan nama BOKU. BOKU adalah salah satu universitas senior di Austria, didirikan tahun 1872 dan merupakan pusat pendidikan dan riset sumber-sumber terbarukan di Austria. Sedangkan UIN Suska Riau adalah universitas yang amat progresif di Indonesia dengan visi mulia mengembalikan integrasi/persebatian antara Ilmu dan Islam. Sepertinya kedua universitas cocok berdiri berdampingan.

Dalam tulisan lain insya Allah saya akan bercerita tentang misi utama dari kunjungan ini. Kali ini saya ingin menulis yang relatif lebih ringan; tentang komposer dunia dari Wina.

Wina adalah salah satu kota idaman saya sejak kecil. Ketika masih SMP, saya jarang melewatkan acara musik klasik di Radio Jerman Bahasa Indonesia atau Deutsche Welle setiap kamis jam 20:30 – 21:30 malam. Kawan-kawan saya sering menganggap aneh hobby saya yang satu ini. Jika mendengar musik klasik dari siaran gelombang short wave (SW) Deutsche Welle di kamar, teman saya suka berkata, “lagu film kartun lagiii.” Yang menarik dari acara tersebut adalah, pembawa acara tidak hanya memutar lagu-lagu klasik, namun juga memberi ulasan yang mendalam dari setiap lagi. Pada saat itu disebutlah nama-nama komposer hebat, dan kebanyakan meraka berasal dari Wina. Dalam hati saya berkata, “saya akan ke Wina dan menonton konser musik klasik langsung dari ibukotanya.”

Musik klasik adalah seni musik yang berakar pada tradisi musik Barat yang dihasilkan selama periode waktu yang lama sejak abad ke-11 sampai hari ini. Akar dari musik klasik adalah dari seni musik dan orkestra Mesir. Pengaruh Yunani kuno telah menjadi dasar pembentukan musik klasik sekarang. Zaman musik klasik adalah antara abad ke-15 sampai ke-19. Awalnya tidak ada istilah “musik klasik” ​​hingga awal abad 19. Istilah ini dimunculkan untuk memberi penamaan pada periode Johann Sebastian Bach hinga Beethoven yang dikenal sebagai zaman keemasan.

Tidak mudah membedakanan antara musik klasik dengan jenis musik lain. Namun ada beberapa sifat musik klasik yang berbeda dengan jenis musik lain. Sifat yang paling menonjol dari musik klasik adalah bahwa repertoar musik klasik cenderung ditulis dalam notasi musik, membentuk bagian musik yang disebut skor. Skor ini biasanya menentukan rincian ritme, pitch, dan, di mana dua atau lebih musisi (baik penyanyi atau instrumentalis) dapat berkoordinasi. Kualitas tertulis dari musik klasik ditentukan oleh tingkat kompleksitas dari musik yang ditulis.

Sifat kedua musik kalisik adalah bahwa instrumen yang digunakan dalam sebagian besar musik klasik kebanyakan ditemukan sebelum pertengahan abad ke-19 (sering jauh lebih awal), dan dikodifikasi di abad 18 dan 19. Instrumen musik klasik biasanya juga ditemukan dalam sebuah orkestra seperti piano, harpsichord, dan organ. Simfoni orkestra adalah media yang paling banyak dikenal untuk musik klasik.

Dibandingkan sebagian besar musik populer yang ditampilkan dalam lagu berlirik, ciri ketiga musik klasik adalah bahwa musik klasik berkembang dari sebagai musik instrumental. Adapun bentuk lagu musik klasik adlaah concerto, simfoni, sonata, suite, étude, puisi simfoni, opera, dan lain-lain. Komposer klasik sering bercita-cita untuk mengilhami musik mereka dengan hubungan yang sangat kompleks antara emosional dan intelektualitas. Banyak dari karya-karya yang paling terhormat pada musik klasik memanfaatkan perkembangan musik, proses dimana ide musik diulang dalam konteks yang berbeda atau dalam bentuk diubah. Bentuk sonata dan fugue menggunakan bentuk ketat perkembangan musik.

Secara umum, periode musik klasik dibagi menjadi tiga kelompok masa, yaitu periode awal, periode praktek umum, dan periode modern & kontemporer. Periode awal meliputi Medieval (tahun 500-1400) dan Renaissance (tahun 1400-1600). Periode praktek umum meliputi Baroque (tahun 1600-1750), Klasik (tahun 1750-1830) dan Romantis (tahun 1804-1949). Sedangkan periode modern dan kontemporer mencakup abad ke-20 (1900-2000) dan kontemporer (1975-sekarang).

ANTHONY TOMMASINI dalam artikelnya di New York Times membuat daftar 15 komposer musik klasik paling besar dalam sejarah dan anda akan melihat bagaimana peran kota Wina bagi karir musik mereka. Dari kelimabelas komposer paling besar di dunia, delapan di antaranya berasal dari Wina atau berkarir di Wina, atau hidup sampai meninggal dunia di Wina. Inilah mereka:

BeethovenLudwig van Beethoven, adalah seorang komponis dan pianis dari Jerman. Beethoven adalah tokoh penting musik klasik dalam transisi antara era Klasik dan Romantic. Komposisinya paling terkenal termasuk 9 simfoni, 5 konserto untuk piano, 32 piano sonata, dan 16 kuartet gesek. Ia juga memiki karya musik kamar, paduan suara, dan lagu-lagu. Selama 22 tahun pertamanya di Bonn, Beethoven belajar dari Wolfgang Amadeus Mozart. Beethoven pindah ke Wina pada tahun 1792 dan mulai belajar dengan Joseph Haydn, dan dengan cepat mendapatkan reputasi sebagai pianis virtuoso. Dia tinggal di Wina hingga akhir hayatnya. Pada sekitar 1800 pendengarannya memburuk, dan pada dekade terakhir hidupnya ia hampir benar-benar tuli. Dia tidak lagi tampil di depan umum tapi terus menulis; banyak karya Beethoven yang paling dikagumi berasal dari periode ini.

MozartWolfgang Amadeus Mozart, adalah seorang komponis produktif asal Jerman dan berpengaruh dari era klasik. Mozart menunjukkan kemampuannya yang luar biasa dari masa kecilnya. Saat mengunjungi Wina pada 1781, dia kemudian memutuskan tinggal di sana, di mana ia mencapai ketenaran ke seluruh dunia. Selama tahun-tahun terakhirnya di Wina, ia palig banyak menulis simfoni terkenalnya, konserto, dan opera, dan lain-lain. Mozart menghasilkan lebih dari 600 karya, banyak diakui sebagai puncak dari simfoni, concertante, kamar, opera, dan musik paduan suara. Pengaruh Mozart pada seni musik Barat selanjutnya mendalam; bahkan karya-karya Beethoven awalnya dalam bayangan Mozart. Joseph Haydn menulis bahwa “anak cucu kita tidak akan melihat bakat seperti ini lagi dalam 100 tahun.”  Tidak hanya indah, musik Mozart juga diperkirakan bermanfaat untuk kecerdasan. Riset-riset dari Tomatis (1991), Rauscher (1993), dan didukung oleh Ross (1994), Campbell (1997) menunjukkan bahwa karya Mozart bisa membantu mempercepat kesembuhan, meningkatkan kecerdasan umum dan kecerdasan spasial.

HaydnFranz Joseph Haydn, adalah komposer terkemuka dan produktif pada periode Klasik. Dia berperan dalam perkembangan musik kamar seperti trio piano dan kontribusinya terhadap bentuk musik telah mendapatkan dia julukan sebagai “Bapak Symphony” dan “Bapak String Quartet”. Dia juga merupakan teman dari Wolfgang Amadeus Mozart dan guru Ludwig van Beethoven. Haydn adalah warga seumur hidup Austria, dan saat kematiannya, berusia 77, ia adalah salah satu komponis paling terkenal di Eropa. Haydn memiliki rasa humor yang kuat dan sering terlihat dalam musiknya. Dia memiliki banyak teman dan ia selalu terlihat bahagia dan ceria dengan temperamen yang alami. Namun di akhir kehidupannya, Haydn kemungkinan mengalami depresi, terutama terkait dengan seseorang bernama Mrs Genzinger. Dia menulis 340 jam musik, lebih banyak dari komposer lain. Meskipun banyak dicari-cari pencinta musik, Simfoni Haydn, namun dia sendiri mengatakan, “Saya baru saja menemukan cara untuk menggunakan angin.”

BrahmsJohannes Brahms, adalah komposer dan pianis dari Jerman namun menghabiskan sebagian besar kehidupan musiknya di Wina. Brahms adalah salah satu pengrajin terbaik dalam sejarah musik. Dia menulis 2 piano konserto, dan yang ke-2 adalah concerto piano terbesar yang pernah disusun. Bukan karea sulit secara teknis seperti concerto 3 Rachmaninov, tapi piano yang diperlukan sangat besar . Dia menulis 4 simfoni, semuanya luar biasa, sebuah Requiem dalam bahasa Jerman, terbaiknya dalam kelasnya, dan salah satu konserto biola terbesar dalam sejarah.

 

 

Mahler

Gustav Mahler, adalah seorang komponis akhir-Romantis dan salah satu konduktor terkemuka dari generasinya. Ia lahir di Bohemia yang dulu masuk Kekaisaran Austria, namun kini menjadi bagian Republik Ceko. Dikenal dengan jukukan symphonist kematian. Dia hanya menulis 10 simfoni, yang terakhir “Das Lied von der Erde,” disebut sebagai simfoni terbaiknya. Meskipun ia menulis puluhan lagu lainnya, iya tetap banyak sibuk dengan simfoni pertama, yang kental ide-ide kematian. Dalam karyanya, “Resurrection,” bagian akhirnya dikatakan dapat membuat perempuan pingsan, dan pria dewasa menangis.

 

 

SchubertFranz Peter Schubert, adalah seorang komponis Austria. Meski meninggal pada usia tiga puluh satu, Schubert sangat produktif. Karyanya terdiri dari lebih dari enam ratus karya sekuler vokal (terutama Lieder), tujuh simfoni lengkap, musik suci, opera, musik insidental dan dan musik piano. Apresiasi musik saat ia masih hidup terbatas pada lingkaran yang relatif kecil dari pengagumnya di Wina, tetapi kekaguman pada karyanya meningkat secara signifikan dalam dekade setelah kematiannya. Schubert berada pada peringkat atas di antara komponis terbesar dari era Romantic awal.

Penulis lagu terbesar sepanjang masa. Schubert menulis lagu dengan begitu cepat sehingga segera setelah selesai dengan yang satu, ia melemparkannya ke lantai dan meraih selembar kertas untuk memulai yang baru. Dia menulis “Hark, Hark, burung,” salah satu dari karya terbaiknya, saat menunggu tagihan minumnya, sekali duduk. Dia menulis sekitar 650 lagu, dan yang paling terkenal adalah Quintet Piano nya, dijuluki Trout. Ia juga menulis, 9 simfoni. Karya terbaiknya adalah simfoni 8 dan 9.

LisztFranz Liszt, Pianis terbesar sepanjang masa. Liszt bermain piano dengan sempurna pertama kalinya ia melihat musik. Dia menulis ratusan potongan-potongan pendek, lagu, preludes, etudes, dua piano konserto, puisi simfoni. Sebagian besar karya pianonya adalah yang paling teknis, hampir mustahil untuk dimainkan sehingga mungkin merupakan bagian yang paling sulit dari musik yang pernah ditulis untuk instrumen apapun. Bahkan para profesional piano veteran menolak untuk bermain “Feux Follets No. 5″. Di Wina, Liszt menerima pelajaran piano dari Carl Czerny, yang di masa mudanya sendiri pernah menjadi mahasiswa Beethoven dan Hummel. Dia juga menerima pelajaran dalam komposisi dari Antonio Salieri, yang saat itu direktur musik dari pengadilan Wina. Dia disambut baik dalam lingkungan bangsawan Austria dan Hungaria.

VivaldiAntonio Lucio Vivaldi, adalah komposer Baroque asal Italia, pemain biola virtuoso, guru dan ulama. Lahir di Venice, ia diakui sebagai salah satu komposer Baroque terbesar, dan pengaruhnya selama hidupnya tersebar luas di seluruh Eropa. Setelah bertemu Kaisar Charles VI, Vivaldi pindah ke Wina. Namun, Kaisar meninggal tak lama setelah kedatangan Vivaldi, dan Vivaldi sendiri meninggal kurang dari satu tahun kemudian dalam kemiskinan. Setelah kematiannya, musik Vivaldi meluncur ke dalam ketidakjelasan sampai kebangkitan yang kuat di abad ke-20. Hari ini, dia peringkat di antara yang paling populer dan banyak dicatat komposer Baroque. Bahkan Johann Sebastian Bach, mengaku dirinya sangat dipengaruhi oleh karya Vivaldi.

 

Melihat daftar nama para musikus terbesar dunia sepanjang sejarah di atas dan waktu yang mereka habiskan di Wina untuk menghasilkan karya-karya besar, tidak salah jika Wina dijuluki ibukota musik dunia. Sejak awal dalam kunjungan ke Wina saya mencoba mencuri-curi waktu untuk menonton salah satu konser yang banyak ditawarkan di tempat umum, namun akhirnya saya tidak berhasil dan harus menunggu kunjungan berukutnya insya Allah. Walaupun penikmat musik klasik, saya tidak memainkan alat musik apapun selain sedikit bermain gitar. Namun kesukkan yang tinggi nampaknya turun pada Zia Alkhair Nailian, anak pertama saya yang kini dengan tekun, tanpa paksaan (bahkan tanpa motivasi) belajar piano di Yamaha Music School Pekanbaru.





Rindu menulis

22 07 2014

Sahabat blog.

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis sesuatu di blog ini. Kesibukan seringkali menguras tenaga dan menelan waktu.
Namun saya masih mengamati komentar sahabat sekalian di sini. Namun akhir-akhir ini saya tidak bisa lagi menanggapi semua komentar seperti biasa.

Semoga dalam waktu dekat bisa kembali menulis sesuatu lagi.

Salam

Kunaifi








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers