Bagaimana Caranya?

24 12 2019

Kategori ini memuat panduan singkat dan praktis menyelesaikan soal-soal yang sering ditemukan di sekolah, kampus, atau pekerjaan. Topik utama kategori ini adalah energi terbarukan dan statistika. Namun, beberapa topik random lain juga ada. Jika anda ada masalah yang belum terpecahkan, silahkan tulis di kolom komentar, mungkin bisa dibuatkan postingannya.





Merdeka belajar

8 12 2019

Merdeka belajar itu adalah pendidikan oleh para pendidik yang merdeka, bersama peserta didik yang merdeka, dalam lingkungan yang merdeka, dengan niat menghasilkan generasi yang merdeka.

Satu saja dari empat komponen ‘merdeka’ itu masih “terjajah,’ tak jalan dia.





The Electricity Grid in Indonesia: The Experiences of End-users and their Attitudes Toward Solar Photovoltaics

28 11 2019

Praise to Allah, I am happy to introduce our new book.

Buku ini memuat tiga hal utama:

(1) Memperkenalkan Indonesia sebagai sebuah negara besar yang memiliki banyak kelebihan alamiah untuk pengembangan energi bersih serta status kelistrikan di Indonesia,

(2) Melaporkan hasil survei kami di Riau, NTT, dan Papua yang memotret perilaku dan pandangan pengguna listrik di sana terkait suplai listrik, keandalan suplai listrik, energi terbarukan, perubahan iklim, dan pembangkilt listrik tenaga surya (PLTS),

(3) Menampilkan hitungan detail kami tentang potensi energi surya (PLTS) di 34 provinsi di negara tropis Indonesia, mencakup potensi PLTS tersambung jaringan (grid-connected) dan tak tersambung jaringan (off-grid). Potensi ditampilkan dalam dua bentuk, yaitu potensi menurut sumbernya dan potensi menurut kebutuhan (demand)

Saya sangat senang dan bersykur karena penerbit top SpringerNature berbaik hati menerbitkan buku ini. Semoga buku yang kualitasnya masih perlu ditingkatkan, ini menjadi ibadah bagi penulis dan berguna untuk pembaca, bangsa dan negara Indonesia.

https://www.springer.com/gp/book/9783030383411

flyer





Tiket kereta sudah dibeli, uang minta dikembalikan

19 11 2019

Beberapa minggu lalu saya menerima tamu istimewa di Belanda. Mereka berkunjung beberapa hari. Lalu tibalah masanya pasangan muda ini pulang ke Indonesia. Mereka mesti naik kereta. Dari kota tempat saya tinggal, Enschede, ke bandara Schiphol. Dekat Amsterdam. Dengan tiket reguler, satu orang membayar sekitar Eur 27. Berdua Eur 34. Tapi, di Belanda ada beberapa pilihan tiket lebih murah. Salah satunya ‘tiket grup.’ Dengan tiket grup, cukup membayar Eur 32 untuk berempat. Dipakai berdua pun bisa. Masukkan saja dua nama orang lain. Penumpang senang. Jika berdua, hemat beberapa euro. Jika bertiga atau berempat, hemat banyak. Perusahaan kereta pun tidak rugi.

Saya pun membantu teman membeli tiket grup. Dibayar dari kartu kreditnya. Tapi, setelah dibeli, saya sadar, bahwa tiket grup hanya bisa dipakai setelah jam 9 pagi. Mereka harus berangkat sebelum itu. Supaya tidak tinggal pesawat. Teman saya pun membeli tiket baru. Tiket reguler untuk berdua saja. Harga penuh.

Artinya, kami dua kali membeli tiket. Tapi yang pakai satu kali saja. Rugi. Saya pun menghubungi perusahaan kereta. Namanya NS. Singkatan dari Nederand Spoor. Ada aplikasi di webiste NS untuk minta pengembalian uang. Seminggu kemudian saya dapat email. Katanya, uang saya tak bisa dikembalikan. Alasanya, tidak tercatat ada nama saya membeli tiket grup tersebut. Saya balas emailnya. Saya katakan tiket grup tersebut memang dibeli oleh teman saya. Tapi karena tidak jadi dipakai, teman saya beli tiket baru. Uangnya untuk membeli tiket grup sudah saya ganti. Sekarang giliran saya minta uang saya dikembalikan. Sebagai bukti saya kirimkan nomor seri semua tiket yang dibeli.

Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin periksa catatan. Pada tanggal tersebut orang yang sama membeli dua tiket. Tapi dari catatan perjalanan hanya satu tiket yang dipakai. Jadi, permintaan saya valid. Sata tak tahu. Yang pasti, tadi mereka kirim email. Isinya permintaan saya dipenuhi, seperti pesan di bawah. Pakai minta maaf pula. Saya terkesan. Di dunia ini banyak hal sulit yang bisa dipermudah. Tapi banyak orang justru suka mempersulit yang mudah. NS patut dapat jempol. Sudah beberapa kali saya lakukan. NS selalu membuat keputusan adil. Inilah the power of “data,” “niat baik,” dan “profesionalitas,” jika disatukan.

061

 





APAKAH MENTERI NADIEM MAKARIM AKAN MEMPERKENALKAN “GENERASI NUNDUK?”

27 10 2019

Ada banyak spekulasi bahwa Menteri Nadiem Makarim akan membawa dunia internet secara massive ke sekolah.

Semoga ini tidak benar dan saya kurang percaya.

Namun, jika itu benar, kita perlu waspada. Penggunaan IT membawa sangat banyak kebaikan terutama dalam meningkatkan efisiensi. Namun, pemanfaatan IT yang mengharuskan siswa memiliki laptop dan smartphone untuk pendidikan, sebaiknya dimulai di level SLTA. Di tingkat SD dan SMP lebih baik manual saja. IT digunakan oleh guru di kelas, bukan oleh siswa pada smartphone dan laptop milik masing-masing. Alasannya, memperkenalkan internet dengan kepemilikan laptop dan smartphone ke usia-usia terlalu dini akan memperkenalkan masalah baru, yaitu “generasi nunduk”. Di Eropa, anak usia di bawah 14 tahun tidak disarankan untuk diberikan smart phone karena dikhawatirkan belum sanggup memegangnya secara bertanggungjawab.

Ilustrasi generasi nunduk. Foto: https://www.the100yearlifestyle.com/smartphone-generation/

Generasi nunduk punya ciri antara lain kurangnya hubungan antar manusia, potensi kerusakan mata, depresi, kecemasan, dan sebagainya. Bahkan menurut WHO, kecanduan internet dan smart phone dikategorikan sebagai penyakit jiwa.

Jika Menteri Makarim memperkenalkan IT yang mendorong siswa SD dan SMP memiliki smartphone dan laptop sendiri, maka beliau memperkenalkan hal baru untuk dilawan, selain asap di Sumatra dan Kalimantan.

Foto: generasi nunduk.





SUSTAINABLE ENERGY DI IBUKOTA BARU

27 08 2019
Saya setuju ibukota pindah dari Jakarta. Alasannya banyak. Sebagian alasan sama dengan alasan pemerintah. Sebagian lagi mungkin hanya bisa dipahami oleh ‘orang daerah.’ Sayang, ibukota dipindahkan ke Kalimantan Timur, bukan ke Papua.
Pemerintah punya target-target tentang energi terbarukan, efisiensi energi, dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Pada 2025, 23% suplai energi akan berasal dari energi terbarukan. Pada 2025 target efisiensi energi adalah 17,4% dan ditingkatkan menjadi 38,9% pada 2050. Pada 2030, emisi GRK turun 29% hingga 41%.
Rencana konsep forest city untuk ibukota baru, adalah bagus. Namun selain itu, pemerintah juga harus menunjukkan tanggungjawab atas target-target di atas. Memberi contoh dan teladan. Juga menunjukkan komitmen. Caranya? Pemerintah harus membuktikan sendiri bagaimana mencapai target-target itu. Kongkritnya, minimal 23% suplai energi di ibukota baru mestinya dari energi terbarukan. Ibukota baru harus lebih hemat energi, minimal 17%, dibanding bukan ibukota. Emisi dari ibukota baru minimal 29% lebih rendah dibanding kota-kota sebanding.
Yang paling bertanggungjawab mestinya mulai paling duluan. Mereka adalah Bappenas, Kementerian LHK, ESDM, Perindustrian, Perhubungan, BUMN, Pertanian, PUPR, DEN, PLN dan anak-anaknya, dan lain-lain. Minimal diterapkan di kantor-kantor mereka dan operasional sehari-hari. Jika serius dengan target-target di atas, Istana Presiden yang baru, mestinya dibangun dengan capaian lebih tinggi dari target-target di atas.
Mumpung baru mau membangun. Jika nanti semua sudah terbangun, urusannya menjadi lebih sulit.




Kinerja PLTS CIS di Cirata lebih baik dibanding silikon kristalline, temuan tim riset UT dan PJB

21 08 2019

Namun, saat durasi data nanti lebih panjang, kesimpulan bisa berubah.

Kondisi geografis dan sebaran penduduk yang unik adalah modal besar Indonesia untuk mengembangkan pembangkit listrik tersebar (distributed power generation). Sebuah tim riset terdiri dari lima peneliti dari University of Twente (UT) dan PT. Pembangkitan Jawa Bali (PJB) membuktikan bahwa potensi energi matahari di negara tropis Indonesia, besar.

maxresdefault

PLTS CIS 1 MW di Cirata. (Foto: PJB)

“Setelah menganalisis data 2017 hingga 2018 dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Cirata, ditemukan bahwa final yield rata-rata PLTS di Cirata berkisar 3.3 hingga 3.8 kWh/kWp per hari,” kata Kunaifi, salah satu peneliti. Analisis tersebut diyakini akurat karena berdasarkan data dari pengukuran langsung, bukan menggunakan data satelit sebagaimana dilakukan peneliti selama ini. Angka tersebut juga bermakna bahwa energi matahari di Indonesia lebih besar dibanding Jerman dan setara dengan Italia. Padahal, Jerman adalah pengguna PLTS terbesar di dunia sedangkan Italia adalah salah satu negara dengan potensi energi surya terbesar di Bumi. “Temuan ini adalah indikasi yang jelas bahwa masa depan PLTS di negara kepulauan yang luas ini sungguh cerah,” imbuh peneliti dari UT ini.

Irr_Tm_Cir

Variable meteorologi di Cirata. Kiri: Distribusi iradiasi pada bidang dengan kemiringan 10 derajat menghadap sudut azimut 15 derajat searah jarum jam dari Utara. Kanan: iradiasi total per bulan dan suhu modul PLTS pada siang hari.

Selain kesimpulan di atas, tim peneliti juga menemukan bahwa kinerja PLTS CIS (copper, indium, dan selenium) di PJB Cirata lebih baik dibanding silikon kristalline (c-Si). “Performance ratio PLTS CIS lebih tinggi sekitar 12 persen dibanding c-Si, sedangkan final yield sistem CIS lebih besar 14 persen dibanding sistem c-Si kita,” imbuh Aripriantoni Harmanto dari PJB Cirata.

Cir_compare_PRs

Performance ratio sistem PLTS di Cirata. Hijau untuk CIS Central, orange untuk CIS String, dan magenta untuk c-Si.

Demikian juga dengan degradasi kedua teknologi. Pada skala sistem, PLTS c-Si mengalami degradasi tahunan lebih dari 3 persen per tahun, sedangkan degradasi PLTS CIS di bawah 2 persen per tahun. “Namun, karena baru punya data selama dua tahun, kesimpulan ini masih sementara,” pungkas Kunaifi, yang juga merupakan pengajar di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau dan peneliti di Enreach. Dia menambahkan, saat nanti PLTS Cirata sudah beroperasi lebih lama, analisis lanjutan bisa menghasilkan kesimpulan berbeda. Bias pada analisis juga dimungkinkan karena modul PLTS c-Si tidak pernah dibersihkan, sedangkan modul CIS dibersihkan secara rutin.

Rd Laju degradasi per tahun PLTS di Cirata: (a) CIS, (b) c-Si

Hasil kajian yang dibimbing oleh Prof. Angele Reinders dari UT dan Dimas Kaharudin dari PJB, serta didukung secara teknis oleh Kirjono Mudiarto dari PJB, ini dipresentasikan pada The 4th International Tropical Renewable Energy Conference (i-TREC) 2019 di The Anvaya Beach Resorts, Bali, 14-16 Agustus 2019. Dukungan dana berasal dari LPDP dan Universitas Twente. Pada i-TREC 2019, hampir 300 peneliti dari universitas, perusahaan, dan lembaga riset, memaparkan hasil penelitian terbaru dalam topik energi terbarukan. Pemateri berasal dari berbagai negara seperti Jepang, Brunei Darussalam, Perancis, Malaysia, Turki, Jerman, Taiwan, Benin, dan Indonesia.

Setelah menyajikan hasil riset yang tergolong baru untuk Indonesia tersebut, paper berjudul “A Comparative Performance Analysis of a 1 MWatt CIS PV system and a 5 kWatt crystalline-Si PV system under the Tropical Climate of Indonesia” yang dibawakan tim UT dan PJB dipilih sebagai “the best paper” untuk kategori Smart Grid and Regulation oleh komite ilmiah i-TREC.

Best_paper_handing

Tim UT dan PJB diwakili oleh Kunaifi, ke dua dari kiri, menerima penghargaan “the best paper” dalam i-TREC 2019 dari ketegori Smart Grid and Regulation.

i-TREC adalah sebuah konferensi ilmiah bergengsi di kawasan Asia Tenggara dalam bidang energi terbarukan tropis. Digagas oleh Dr. -Ing. Eko Adhi Setyawan, salah seorang pakar energi nasional paling disegani dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia bersama akademisi UI lain. Pada 2019, i-TREC diselenggarakan bersama oleh FTUI, University of Chulalongkorn, dan FT Universitas Udayana. Untuk 2020, i-TREC ke-5 akan diadakan di Lombok. Jangan lupa cek webnya untuk informasi lebih lanjut.

University of Twente adalah salah satu dari empat universitas riset dalam bidang teknologi di Belanda. Kampus UT yang luas dan asri berada di kota Enschede yang berbatasan langsung dengan Jerman. Memiliki motto “high tech, human touch,” UT masuk di dalam jajaran 200 universitas terbaik dunia dan menempati posisi ke 65 sebagai universitas paling inovatif di Eropa. Selama bertahun-tahun, UT merupakan “the most entrepreneurial university” di Belanda. UT adalah tempat di mana bluetooth bermula dan lebih seribu perusahaan lahir di business incubator nya, antara lain Booking.com. Dalam dua tahun belakangan, program Stata 1 UT menempati posisi pertama di Belanda. UT memiliki tradisi yang panjang dalam riset PLTS. Peneliti PLTS dari UT berharap kerjasama dengan PJB berlanjut. Proyek riset berikutnya akan dimulai pertengahan September 2019 melibatkan peneliti dari Italia, Jerman, Portugal, Australia, Cyprus, dan Indonesia. Tim riset ini masih bisa ditambah. Peneliti yang memiliki akses ke data PLTS (minimal 25 bulan) dari luar Indonesia atau dari Indonesia (Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusatenggara, Maluku), silahkan menghubungi k.kunaifi@utwente.nl sebelum akhir Agustus 2019.

PJB adalah anak perusahaan PT. PLN (Persero). PJB merupakan salah satu pelopor research and development (R&D) dalam bidang PLTS di Indonesia. Sebagai wujud keseriusan, PJB membangun infrastruktur riset PLTS berstandar internasional di Cirata yang dijalankan oleh sebuah tim riset yang bersemangat. Selain memiliki pembangkit dengan kapasitas total 7 GW, saat ini, PJB mengoperasikan PLTS 1 MW di Cirata dan beberapa PLTS skala kecil lainnya.

Artikel dapat didownload dari SINI.