Mengapa Harga Minyak Turun?

16 08 2015

Artikel ini diterbitkan Riau Pos, edisi 13 Agustus 2015.

Dalam tujuh bulan terakhir, harga minyak dunia turun secara drastis. Pada pertengahan 2014 harga masih bertahan pada angka sekitar $110/barel. Namun kini minyak mentah Brent hanya dihargai $50/barel, nilai paling rendah sejak pertengahan 2009. Sedangkan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) telah merosok ke angka $48/barel. Artikel ini ditulis khusus untuk anda yang penasaran mengapa harga komoditas paling primadona ini terjun bebas, siapa yang diuntungkan dan dirugikan, berapa lama situasi ini berlangsung, apa solusinya, dan yang paling penting adalah apa sikap kita sebagai konsumen BBM?

Mengapa?

Ini adalah pertanyaan yang tidak gampang dijawab. Bisnis minyak bumi mengandung terlalu banyak parameter yang saling terkait; tidak hanya ekonomi belaka, tetapi juga politik, keamanan, lingkungan hidup, sosial, dan sebagainya. Namun, jika boleh menyederhanakan masalah, kejadian ini dapat dikatakan sebagai refleksi dari ekonomi supply-demand sederhana. Dari sisi suplai, alasan utama adalah jumlah minyak di pasar global kini melimpah ruah. Suplai minyak AS yang selama puluhan tahun belakangan didominasi minyak dari luar negeri, kini diganti dengan produksi domestik sehingga impor minyak ke AS menurun drastis. Walhasil, Arab Saudi, Nigeria dan Algeria yang sebelumnya mengekspor sejumlah besar minyak ke AS terpaksa mencari pasar baru di Asia yang sebenarnya sudah diisi oleh produsen lain. Negara-negara tersebut terpaksa menurunkan harga jual supaya tahan bersaing. Situasi makin memuncak dengan ditingkatkannya produksi minyak di Kanada, Irak dan Rusia. Tidak cukup sampai di situ, beberapa pekan belakangan, keadaan semakin menggila karena embargo ekonomi beberapa negara maju pada Iran dicabut, sehingga minyak Iran yang sebelumnya hanya bisa dipakai di dalam negeri, kini juga masuk pasar minyak dunia. Jumlah minyak di pasar global melimpah ruah.

Dari sisi demand, rata-rata kebutuhan minyak bumi secara global sedang turun karena ekonomi di Eropa dan banyak negara berkembang sedang lesu. Selain itu, kendaraan bermotor terknologi terbaru dirancang lebih hemat BBM.

Kedua hal tersebut di atas menyebabkan permintaan minyak menurun pada saat yang sama dengan suplai yang melimpah. Harga terjun bebas.

Koran The New York Times menyebutkan adanya teori konspirasi yang dapat dijadikan alasan. Katanya, ini adalah langkah yang sedang ditempuh Arab Saudi untuk memberi pukulan langsung ke jantung ekonomi Russia, Iran, dan AS. Sebagai pembanding, penurunan harga minyak dunia tahun 1980-an telah menjatuhkan Uni Soviet. Tetapi yang namanya teori konspirasi tentu tidak bisa dibuktikan.

Siapa Untung dan Siapa Rugi?

Pihak yang diuntungkan oleh situasi ini adalah kita, para pengguna minyak. Pada awal pemerintahan Presiden Jokowi, harga premium dinaikkan dari Rp 6.500/liter menjadi Rp 8.500/liter. Pada saat itu sebenarnya harga minyak dunia telah turun dari $ 105/barel (Juli 2014) menjadi $ 75/barel. Publik melihat kontroversi ini dan memicu unjuk rasa di hampir seluruh Indonesia. Namun pada Januari 2015, sering terus menurunnya harga minak dunia ke angka sekitar $ 55/barel, pemerintah Jokowi menurunkan harga premium sebanyak dua kali menjadi Rp 7.600/liter (1 Januari) dan Rp 6.700/liter (15 Januari). Namun kemudian harga premium dinaikkan lagi menjadi Rp 6.800/liter (1 Maret) dan kemudian Rp 7.300/liter (28 Maret) sampai sekarang. Sejak 15 Maret 2015 memang harga minyak dunia naik dari $ 52/barel dan mencapai titik tertinggi $ 62/barel pada 15 Mei 2015. Namun sejak saat itu kembali turun secara mantap ke harga sekarang $ 50/barel. Oleh karena itu, jika penurunan berlanjut, ada kemungkinan pemerintah akan menurunkan lagi harga premium. Kita lihat saja.

Saat kita diuntungkan, negara-negara yang mengandalkan ekonominya dari ekspor minyak dan perusahaan produsen minyak, tentu saja menderita kerugian yang parah. Banyak sumur minyak saat ini dihentikan operasinya. Investasi pada eksplorasi dan produksi juga sedang dipotong besar-besaran. The New York Times melaporkan Lebih 100 ribu pekerja sektor minyak dirumahkan. Penyedia jasa dan peralatan eksplorasi dan produksi kini gigit jari. Venezuela, Iran, Nigeria, Ecuador, Brazil dan Russia bisa saja mengalami guncangan ekonomi bahkan politik. Negara-negara miskin dan berkembang yang selama ini mendapat banyak bantuan dana pembangunan dari negara pengekspor minyak, kini mengalami pemotongan atau penghentian bantuan. Secara global situasi ini membuat ekonomi menjadi pucat pasi.

Sampai Kapan dan Apa Soluisnya?

Mungkin akan perlu waktu bertahun-tahun untuk memulihkan harga minyak ke angka keekonomian $ 90/barel. Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan tergantung sebesar apa energi para produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), AS, dan lainnya, untuk kuat-kuatan. Harapan ditumpukan kepada OPEC, kartel minyak paling berpengaruh di dunia untuk melakukan intervensi. Negara-negara penderita berusaha menekan OPEC untuk memotong produksi guna meredakan banjir suplai minyak. Namun Arab Saudi dan UEA, anggota penting di OPEC, belum bersedia. Bahkan Irak sedang meningkatkan kerja pompanya. Arab Saudi beralasan, jika produksi dipotong, lalu harga naik, maka mereka akan kehilangan sebagian pasar, dan yang diuntungkan adalah pesaingnya. Harapan yang sama juga ditujukan pada AS untuk menurunkan produksi domestiknya. Solusi tercepat mungkin akan tercapai jika Arab Saudi dan AS duduk bersama. Namun perundingan kedua negera ini tidak sering berjalan mulus.

Apa Sikap Kita?

Walaupun saat ini dan beberapa bulan atau tahun ke depan kita mungkin masih akan menikmati minyak murah, adalah sangat tidak bijak jika situasi ini mendorong kita menggunakan BBM secara boros. Aksi kuat-kuatan para raksasa produsen minyak bukan disebabkan jumlah minyak di dalam perut bumi bertambah. Cadangan minyak sudah amat sedikit dan segera akan habis. Mereka juga tidak akan tahan berlama-lama mengorbankan ekonominya. Akan ada masa di mana mereka membahayakan ekonominya jika aksi tersebut dilanjutkan. Pada saat itu harga akan ’dinormalkan’ kembali dan harga BBM dalam negeri akan ikut naik. Ingat, sebagian besar BBM saat ini tidak disubsidi lagi, sehingga kenaikan harga nanti akan mengejutkan kita. Tindakan yang sedang mereka lakukan tersebut hanya mempercepat habisnya minyak. Kita, sebagai pengguna, akan ikut mempercepat habisnya minyak jika menggunakannya secara boros karena harganya murah. Yang namanya boros, tetap saja temannya syaitan, bukan?





Pembakaran Hutan VS Pembuangan Energi (Forest Fire vs Energy Wasting)

31 07 2015

0064Analisis tentang dampak negatif kebakaran (baca: pembakaran) hutan di Riau pada ekonomi, aktifitas sosial, lingkungan hidup, dan kesehatan, sudah banyak disampaikan ahli. Karena hanya mengerti tentang energi (itu pun sedikit), saya ingin mengajak pembaca untuk ’bermain-main’ menghitung kerugian (imajiner) pembakakaran hutan Riau ditunjau dari sudut pandang energi.

Menurut BBC (30 Juli 2015), dalam satu bulan belakangan seluas 1.264 ha lahan Riau telah dibakar. Mari kita asumsikan lahan yang dibakar adalah hutan asli yang mengandung 63 m3 kayu per hektar (FAO 2000).

Dari informasi di atas, dalam satu bulan belakangan telah dibakar sejumlah 1.264 ha x 63 m3/ha = 79.632 m3 kayu hutan di Riau.

Menurut Biomass Energy Centre di Inggris, kayu gelondongan (log) dengan kelembaban (moisture content) 20% mengandung energi atau calorific value sebesar 7,600-11,400 Megajoule/m3. Mari kita ambil lagi nilai tengah, 9.500 Megajoule/m3.

Maka, dalam sebulan belakangan pembakaran hutan di Riau telah melepaskan energi sebesar 79.632 m3 x 9.500 Megajoule/m3 = 756.504.000 Megajoule.

Tahukah Anda berapa listrik yang bisa dihasilkan jika kayu sebanyak itu dibakar pada pembangkit listrik? Begini hitungannya. Setiap Megajoule energi kalor setara dengan 0.277777778 kWh energi listrik. Maka 756.504.000 Megajoule setara dengan 210.140 MWh listrik. Jika kayu tersebut dibakar pada pembangkit listrik biomassa konvensional (pembakaran langsung) dengan efisiensi 35%, maka akan dihasilkan listrik sebanyak 73.549 MWh.

Sebesar apa angka 73.549 MWh ini? PLTGU Teluk Lembu, yang menjadi salah satu andalan suplai listrik di Pekanbaru ini memiliki kapasitas terpasang 5 MW. Walaupun daya mampunya tidak mungkin mencapai 5MW, dalam hitungan ini kita anggap efisiensi PLTGU Teluk Lembu beroperasi dengan 5 MW. Dengan asumsi faktor kapasitas PLTGU Teluk Lembu adalah 65%, maka dalam satu bulan produksi listrik rata-rata dari PLTGU Teluk Lembu 2.372 MWh.

Dengan membandingkan dua situasi di atas, yaitu listrik yang dihasilkan jika kayu hutan dibakar pada pembangkit listrik konvensional, dan listrik yang saat ini dihasilkan oleh PLTGU Teluk Lembu; maka listrik yang bisa dihasilkan dari pembakaran hutan setara dengan operasional PLTGU Teluk Lembu selama 31 bulan.

Jika listrik yang dihasilkan dari pembakaran kayu hutan di pembangkit listrik konvensional dijual oleh ke pelanggan rumah tangga 1.300 VA dengan harga sesuai TLD Juni 2015 sebesar Rp. 1.352/kWh, maka nilaia kerugian dari penjualan listrik dari pembakatan hutan di Riau selama sebulan terakhir adalah Rp. 99,4 Miliar.

Anda mungkin tidak sepakat menggunakan PLTGU Teluk Lembu sebagai pembanding dan mungkin ingin merubah parameter lain. Baiklah, terlampir adalah sebuah kalkulator ’mainan’ yang sudah saya siapkan untuk anda bermain sendiri lebih lanjut. Silahkan download Kalkulator Pelepasan Energi dari Pembakaran Hutan.

Sumber:

  1. http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/07/150730_indonesia_kabutasap_riau,
  2. http://www.fao.org/docrep/004/y1997e/y1997e07.htm.
  3. http://www.biomassenergycentre.org.uk/portal/page?_pageid=75,20041&_dad=portal&_schema=PORTAL
  4. Foto: http://www.thejakartapost.com/files/images2/PEATT-1.jpg




NASA: Suhu Harian di Indonesia 40 Derajat pada tahun 2100

23 06 2015

Sebagaimana dilaporkan oleh National Geographic Indonesia, sebuah studi yang dilakukan oleh NASA memperkirakan bahwa “suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 nanti bisa mencapai 40 derajat Celcius.”

Perkiraan tersebut disimpulkan dari analisis dataset Earth Exchange Global Daily Downscaled Projections (NEX-GDDP) oleh NASA. Data tersebut berisi informasi historis suhu sejak 1950 dilengkapi dengan skenario emisi CO2 selama beberapa puluh tahun ke depan.

Dua skenario dihasilkan dari studi tersebut, yaitu skenario emisi rendah dan skenario emisi tinggi. Skenario emisi rendah menghasilkan estimasi suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 berkisar 30 – 35 derajat Celsius. Sedangkan dengan skenario emisi tinggi antara 35 – 40 derajat Celsius.

Bulan-bulan paling panas akan terjadi dari Juli hingga Oktober di mana suhu bisa di atas 40 derajat Celsius.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, suhu harian rata-rata kawasan pantai di Indonesia adalah 28°C, pedalaman dan pegunungan rata-rata 26°C, dan gunung tinggi rata-rata 23°C (Sumber: Weather Online).

Estimasi tersebut tidak hanya akan menimpa Indonesia, tetapi juga beberapa negara lain seperti Afrika Utara, India, dan kawasan khatulistiwa di Amerika Selatan yang akan mengalami suhu harian di atas 45 derajat Celsius pada musim panas. Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, pada tahun 2015 ini gelombang suhu panas ekstrim telah menerjang India dan menelan korban lebih 2.000 orang meninggal duni akarena kepanasan (Sumber: CNN Indonesia). Saat artikel ini ditulis, kejadian serupa sedang berlangsung di Pakistan. Sebanyak 450 orang meninggal dunia karena suhu tinggi mencapai 45 derajat Celsius di Karachi (Sumber: Riau Pos).

Informasi selengkapnya tentang estimasi suhu global tersebut dapat dilihat pada http://climateinternational.org/#map.

NASA_warmingFoto: http://climateinternational.org/#map

Kawasan dengan suhu rata-rata di atas 40 °C berada di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Kuwait dan Ahwaz adalah dua kota di Teluk Persia yang memiliki bulan-bulan dengan suhu rata-rata harian di atas 46 °C. Selama periode 1970-2000 kota Ahwaz mengalami tiga kali suhu 52 °C – 54°C . Di Irak bagian Selatan, suhu mencapai 44,8 °C (Sumber: http://www.currentresults.com/Weather-Extremes/hottest-cities-in-the-world.php).

Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau juga mengalami peningkatan suhu. Sebagaimana diberitakan Riau Pos (23/06/2015), berdasarkan data BMKG, awal Ramadhan 2015 disongsong oleh suhu 31,5 sampai 34,5 derajat celcius di Pekanbaru. Dari BPS Riau, suhu rata-rata di Pekanbaru telah naik dari 34,6 °C pada tahun 2208 menjadi 35,1 °C pada tahun 2012.

Prediksi NASA untuk Indonesia di atas menambah literatur bahwa pemanasan global dan perubahan iklim sedang berlangsung. Kelestarian Bumi dan segala penghuninya berada di tengah resiko besar. Langkah-langkah nyata untuk mengurangi pemanasan global tidak bisa ditunda lagi. Caranya adalah dengan mengurangi pembakaran energi fosil yang menghasilkan banyak emisi CO2 dan memelihara hutan.

Bangsa Indonesia perlu beralih ke energi bersih. Alasan bahwa teknologi energi bersih masih mahal dapat dipahami, namun bukan berarti menghentikan langah-langkah untuk mengembangkannya. Banyak negara, terutama negara-negara maju telah berhasil mengembangkan energi terbarukan dan efisiensi energi. Peran utama dari pemerintah kita dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi bersih, membuat harganya lebih murah, dan bersinergi dengan swasta, akademik, dan LSM untuk bergerak bersama.

Beberapa upaya untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui peningkatan peran energi bersih telah dimulai di Riau. Sebuah organisasi di tingkat Provinsi Riau yang bernama Riau Renewable Energy Centre (www.rirec.org) telah dibentuk dan mulai bergerak untuk mendorong pengembangan energi bersih. Dalam wilayah praktis, beberapa pusat riset dan konsultansi terkait telah berdiri di Riau, salah satu di antaranya adalah Energy Research Centre (www.enreach.or.id) di UIN Suska Riau.

Nasib Bumi terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim, juga membutuhkan ‘tangan-tangan bersih’ dan terampil dari generasi yang lebih muda. Untuk meyakinkan generasi muda yang peduli energi bersih, di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau sejak tahun 2010 telah dibuka Konsentrasi Energi yang fokus pada pendidikan dan riset sistem tenaga listrik, energi terbarukan, efisiensi energi, dan kebijakan energi. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau mendorong suplai energi (listrik, gas, dan bahan bakar cair) yang ramah lingkungan. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau dapat dilihat di http://ee.uin-suska.ac.id/konsentrasi-energi/.





Arab Saudi pun Mau Energi Surya (Saudi Arabia is Willing to Go Solar)

26 05 2015

Sebuah laporan Damian Carrington di The Guardian, 22 Mei 2015, berjudul “Saudi Arabia’s solar-for-oil plan is a ray of hope,” telah menghembuskan semangat dan optimisme baru bagi dunia energi terbarukan (ET), khususya energi matahari.

Mengapa demikian? Saudi Arabia, raja minyak dunia, negara yang sangat kaya, melalui Menteri Perminyakan Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan di Paris beberapa hari lalu bahwa negaranya pada suatu hari, mungkin 2040, 2050, atau setelah itu, akan mengekspor listrik tenaga matahari, bukan minyak bumi. Pada tahun 2012 Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa 100% suplai listrik akan berasal dari ET.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Arab Saudi adalah pemilik 1/5 cadangan terbukti minyak bumi dunia, eksportir minyak bumi terbesar, pendiri dan anggota yaang sangat berperngaruh di OPEC, menggantungkan 75% APBN pada minyak bumi dan 90% pendapatan ekspornya dari industri minyak bumi.

Ini adalah sebuah target yang ambisius bagi Arab Saudi. Target ini mungkin akan berdampak dalam sekali pada ekonomi (baca: kemewahan) minyak Arab Saudi. Bagian yang paling sulit, menurut saya, adalah bagaimana mempersiapkan rakyatnya untuk beradaptasi dengan ET. Syarat pertama untuk mengadopsi ET adalah melakukan efisiensi energi (EE) dulu. Sementara itu konon warga Arab Saudi yang makmur itu tidak begitu familiar dengan EE.

Sebelum melihat rencana yang lengkap, saya sepakat bahwa target ini untuk sementara bisa dilihat secara skeptis. Misalnya, sang menteri baru bicara tentang listrik, namun belum bicara tentang bbm untuk transportasi jika ditargetkan 100% suplai energi ET.

Terlepas dari berbagai skeptisme, rencana besar Arab Saudi ini telah menghembuskan angin segar bari pengembangan ET dan perbaikan iklim dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri ‘mantan’ anggota OPEC, yang sering merasa kaya minyak? Aapakah sudah memiliki rencana yang lebih baik untuk pengembangan ET? Bagaimana menurut anda?

22 May 2013, Saudi Arabia --- A Saudi man walks on a street past a field of solar panels at the King Abdulaziz city of Sciences and Technology, Al-Oyeynah Research Station, in this May 21, 2012 file photo. A slide in solar power costs and a surge in oil prices over the last few years has made solar power a win-win strategy for Saudi Arabia: saving billions of dollars of crude for export while making electricity at less than half the cost. To match Analysis SAUDI-SOLAR/ REUTERS/Fahad Shadeed/Files (SAUDI ARABIA - Tags: ENERGY BUSINESS) --- Image by © FAHAD SHADEED/Reuters/Corbis

22 May 2013, Seorang pria Saudi Arabia berjalan di sisi pembangkit listrik tenaga surya di kota King Abdulaziz. (Foto: The Guardian)





Ketika Perubahan Iklim Merenggut Kehidupan (When Climate Change Takes Your Life)

26 05 2015

“Lebih dari 500 orang meninggal karena serangan hawa panas di India dengan temperatur tertinggi mencapai 47,7′ Celcius di kota Allahabad, negara bagian Uttar Pradesh.”

Karena perubahan iklim, kejadian cuaca ekstrim semakin sering. Kini di Eropa banyak korban karena musim dingin terlalu dingin. Sedangkan di kawasan sub tropis seperti India, Bangladesh dan lain-lain banyak orang meninggal karena musim panas terlalu panas.

Energi terbarukan dan efisiensi energi adalah solusi yang ada saat ini untuk menurunkan emisi karbon diaoksida yang menjadi penyebab perubahan iklim. Energi berkelanjutan kini bukan sekedar bagaimana menyediakan energi bagi masyarakat. Energi berkelanjutan adalah tentang manusia dan kemanusiaan.

Info lebih lengkap tentang dampak cuaca ekstim dapat dilihat pada website IPCC, lembaga PBB yang mengurus perubahan iklim http://www.ipcc.ch/ipccreports/tar/wg2/index.php?idp=354

Gambar berikut memperlihatkan beberapa kejadian cuaca ekstrim di seluruh dunia. Lihat saja, dalam beberapa dekade belakangan kita memecahkan bangak rekor.

IMG_7324





Atap Bangunan Baru di Perancis Wajib Dipasang Modul Surya

21 03 2015

Pada tanggal 19 Maret 2015, Perancis mengesahkan UU baru yang mewajibkan sebagian atau keseluruhan atap gedung baru di kawasan komersil dipasang panel surya atau ditanam tumbuhan.

Sebagai negara yang mengandalkan lebih 80% suplai listriknya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Perancis memang masih tertinggal dari sebagian negara Eropa dalam memanfaatkan energi surya. Jermal, Spanyol, dan Italia memimpin aplikasi energi surya di Eropa dan dunia.

Selain pasangan PLTS, UU baru tersebut mendorong atap gedung baru di Perancis untuk ditanami tanaman. Konsep atap hijau ini memberikan berbagai keuntungan. Dengan atap hijau, bangunan akan memerlukan lebih sedikit energi untuk mencapai temperatur ruang yang diinginkan.

Sumber: http://thinkprogress.org/climate/2015/03/20/3636746/franch-rooftops-go-green/

IMG_6806
Sumber: http://homeli.co.uk/eco-villa-concepts-in-flavours-orchard-china-by-vincent-callebaut-architecture/





Efisiensi Energi dan Konservasi Lingkungan (Energy Efficiency and Environmental Conservation)

18 02 2015

Artikel ini diterbitkan di Majalah Suara Bumi Th. X/Edisi 3, 2014 terbitan Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumatera.

energy_eff_progress_img1

Sumber gambar: app.mewr.gov.sg/web/contents/contents.aspx?contid=1544

Setiap kegiatan produksi dan konsumsi energi menimbulkan dampak pada lingkungan hidup. Oleh sebab itu kebijakan negara tentang energi dan lingkungan hidup mesti disambungkan erat. Namun hal ini tidak selalu mudah. Masih tertanam paradigma; jika lingkungan hidup diberi perhatian maka ekonomi akan dikorbankan. Pihak otoritas dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan di Indonesia sepertinya masih sering tergoda untuk lebih mendahulukan ekonomi saat terjadi tabrakan dengan kepentingan lingkungan hidup. Padahal, jika pola pikir jangka panjang dikedepankan, tantangan memproduksi dan menggunakan sumber daya energi berkelanjutan dapat dilakukan bersama-sama dengan mengejar pertumbuhan ekonomi untuk mewujudkan ekonomi berkelanjutan alias green economy. Tujuan artikel ini adalah untuk mengemukakan beberapa argumen bahwa energi, ekonomi, dan lingkungan hidup sesungguhnya dapat berjalan beriringan secara harmonis tanpa mengganggu satu sama lain. Artikel ini juga memaparkan tinjauan singkat tentang kebijakan efisiensi energi nasional dan kemudian mengusulkan langkah-langkah penting yang harus dilakukan ke depan untuk mewujudkan target efisiensi energi pada tingkat pusat dan daerah.
Gerakan efisiensi energi adalah kunci utama menuju masa depan energi dan ekonomi berkelanjutan. Efisiensi energi berarti mengurangi laju pertumbuhan konsumsi energi dan menghindari penggunaan peralatan energi yang tidak dibutuhkan. Karena penggunaan energi saat ini didominasi bahan bakar hidrokarbon (minyak bumi, batu bara, dan gas alam), maka efisiensi energi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, polusi udara, dampak aktifitas energi pada air permukaan dan air tanah, dan sebagainya.
Pada koferensi Perubahan Iklim PBB di Copenhagen tahun 2009, International Energy Agency (IEA) memaparkan potensi besar sektor efisiensi energi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memotong emisi GRK. IEA mengidentifikasi bahwa 57% target pengurangan emisi GRK dapat dicapai melalui gerakan efisiensi energi. Sedangkan energi terbarukan seperti energi surya, angin, biomassa, air, panas bumi, dan lain-lain; dapat berkontribusi sebesar 23% pada pengurangan emisi GRK. Artinya, dua pilar energi berkelanjutan; efisiensi energi dan energi terbarukan, bersama-sama dapat menyumbang 80% pada upaya dunia untuk menghidari dampak pemasan global.
Manfaat efisiensi energi untuk ekonomi juga diidentifikasi Bank Dunia. Pada awal 2014, dalam publikasi berjudul “Adding up the Benefits,” Bank Dunia melaporkan bahwa kebijakan pemerintah di beberapa negara-negara Amerika, Asia, dan Eropa yang merangsang pergeseran ke transportasi bersih dan meningkatkan efisiensi energi di pabrik-pabrik, gedung-gedung dan peralatan, akan meningkatkan pertumbuhan PDB global sekitar US$ 1,8-26 triliun per tahun pada 2030. Selain itu, kontribusi sebesar 30% dari total pengurangan emisi GRK untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat Celcius, juga dapat diraih melalui efisiensi energi. Laporan ini memberikan landasan akademis kuat bahwa dengan kebijakan yang tepat, maka sektor energi, ekonomi, dan lingkungan hidup dapat dibangun bersaamaan untuk masa depan dunia yang lebih baik.
IESR Indonesia (2014) mengklaim bahwa Indonesia dalam sepuluh tahun belakangan mengalami pertumbuhan energi yang cenderung boros dan tidak produktif, ditandai dengan elastisitas energi yang tinggi. Elastisitas Energi adalah perbandingan antara laju pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan konsumsi energi disebuah negara. Semakin kecil angka elastisitas energi, maka semakin efisien penggunaan energi. Angka elastisitas energi dibawah 1,0 dicapai apabila energi yang tersedia telah dimanfaatkan optimal. Elastisitas energi Indonesia saat ini mencapai 2,69; jauh lebih tinggi dari Singapura (1,1) Thailand (1.4), atau negara-negara OECD yang berkisar 0.6 – 1,0. IESR juga mengingatkan jika kecenderungan tersebut tidak diatasi, maka elastisitas energi akan melampaui 3,0 pada 2025. Hal ini akan mempercepat laju pengurasan energi, memperburuk perubahan iklim, dan melemahkan daya saing ekonomi nasional.
Penggunaan energi secara efisien adalah hal mendesak di Indonesia. Ketergantungan pada energi fosil masih tinggi. Lebih 95% konsumsi energi final didomonasi oleh 48% minyak bumi (sekitar 50% import). Rumah tangga dan transportasi yang mengkonsumi 10,2% dan 33,4% energi final, adalah sektor yang masih disubsidi sehingga bangunan energi Indonesia rentan terhadap gangguan suplai dan fluktuasi harga energi di pasar global. Namun demikian, resiko tersebut dapat dikurangi jika dilakukan efisiensi energi secara masif, terutama minyak bumi.
Pemerintah telah menetapkan lebih 10 instrumen kebijakan untuk mendorong efisiensi energi nasional. Payung utama adalah UU No. 30/2007 tentang Energi yang diturunkan pada PP No.70/2009 tentang Konservasi Energi. Selain itu juga telah dikeluarkan dua Perpres, satu Inpres, dan tidak kurang delapan Peraturan Menteri untuk mendorong penerapan efisiensi energi di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut memberikan tanggung jawab kepada pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan prioritas dan insentif pada pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi.
Berbagai aktifitas telah dilaksanakan pemerintah pusat sebagai wujud pelaksanaan kebijakan dan peraturan tentang efisiensi energi, khususnya terkait dengan penyiapan instrumen kebijakan, kelembagaan, peningkatan SDM, dan membangun awareness dan kerjasama internasional. Kalangan industri pengguna energi dalam jumlah di atas 6000 ton of oil equivalent/toe kebanyakan juga sudah melaksanakan program efisiensi energi karena diwajibkan pemerintah, semangat efisiensi anggaran dan menciptakan reputasi sebagai industri ‘hijau.’ Namun demikian gerakan yang mestinya masif ini belum menjadi tren meluas di dunia usaha non industri dan pemerintah daerah.
Sesungguhnya potensi penghematan energi di Indonesia cukup besar. Kementerian ESDM menghitung bahwa sektor industri, bangunan komersial, transportasi dan rumah tangga memiliki potensi penghematan antara 15-30%. Sedangkan Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) menetapkan target penurunan konsumsi energi sebesar 18% dari business-as-usual pada 2025. Angka tersebut adalah angka besar, setara dengan penundaan pembangunan pembangkit listrik sekitar 600-700 MW setiap tahun atau 7000 MW secara kumulatif hingga 2025 (IESR 2014).
Untuk mendorong dunia usaha dan menstimulus aliran investasi ke proyek efisiensi energi, adalah kewenangan pemerintah untuk mengurangi hambatan investasi di kegiatan efisiensi energi. Di antara yang mestinya dilakukan pemerintah menurut IESR antara lain membuat kebijakan dan regulasi terukur dan dapat diperkirakan, menerapkan mekanisme compliance terhadap pengguna energi diatas 6000 TOE, penguatan standarisasi dan kapasitas Energy Service Company (ESCO) melalui standarisasi dan sertifikasi, pengembangan kapasitas teknis dan finansial, pembentukan fasilitas pendanaan publik untuk proyek efisiensi energi yang dapat menarik pendanaan swasta, serta mengoreksi subsidi energi. Terkait subsidi energi yang hingga saat ini masih diberikan pemerintah, pihak investor memandang investasi efisiensi energi menjadi tidak feasible and bankable. Walaupun pemerintah telah menyediakan berbagai insentif fiskal, namun belum berhasil membangkitkan daya tarik investor karena diredam subsidi energi.
Oleh sebab itu, dalam waktu dekat pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mendorong efisiensi energi. Di antara langkah penting yang dapat dilakukan adalah meninjau ulang kebijakan subsidi energi sekarang, menyediakan insentif lebih menarik bagi dunia usaha, dan mendorong skema-skema investasi efisiensi energi melibatkan dunia usaha, bank, dan pemerintah.
Selain pemerintah pusat dan dunia usaha, tanggungjawab pelaksanaan efisiensi energi juga dibebankan undang-undang kepada Pemerintah Daerah (Pemda) baik tingkat propinsi maupun Kabupaten/Kota. Karena kebijakan efisiensi energi relatif baru di Indonesia, maka belum menjangkau secara meluas hingga ke seluruh daerah di Indonesia. Dengan demikian, Pemda perlu lebih proaktif untuk memulai gerakan penting ini tanpa menunggu pemerintah pusat. Sejak dikeluarkan Inpres tentang penghematan penggunaan energi dan air di lembaga pemerintahan sejak 2008 dan pelarangan penggunaan BBM bersubsidi untuk kendaraan pemerintah, Pemda diharapkan sudah membiasakan diri dengan semangat penghematan energi dan bersiap untuk gerakan lain yang lebih luas dan terarah.
Sejalan dengan PP No.70/2009 tentang Konservasi Energi, berikut adalah delapan kewajiban dan kewenangan Pemerintah Daerah dalam pengembangan efisiensi energi di daerah, termasuk Pemda Riau dan Kabupaten/Kota di Provinsi Riau: (1) merumuskan dan menetapkan kebijakan, strategi dan program konservasi energi daerah; (2) mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang konservasi energi; (3) melakukan sosialisasi menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan teknologi yang menerapkan konservasi energi; (4) mengalokasikan dana dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi; (5) memberikan kemudahan dan/atau insentif dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi; (6) melakukan bimbingan teknis konservasi energi kepada pengusaha, pengguna sumber energi, dan pengguna energi; (7) melaksanakan program dan kegiatan konservasi energi; dan (8) melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program konservasi energi.
Hampir semua kewajiban Pemda di atas dapat dilakukan melalui kerjasama erat dengan dunia pendidikan, organisasi non-pemerintah dan dunia usaha, kecuali kewajiban ke-4 dan ke-5 yang harus dilaksanakan sendiri oleh Pemda. Menurut MIT (2012), Pemda, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil memiliki tiga jenis atribut umum yang dapat berkontribusi terhadap implementasi efisiensi energi, yaitu: mekanisme pengaturan; insentif keuangan; dan hubungan dengan masyarakat lokal. Pemda memiliki pengaruh langsung atas kebijakan terhadap komunitas dan sekaligus juga memiliki hubungan kuat dengan banyak komunitas. Selain itu, Pemda juga dapat mengalokasikan anggaran kegiatan konservasi energi dalam APBD, sama dengan dunia usaha yang dapat menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) untuk kegiatan sejenis. Organisasi non-pemerintah lokal hanya memiliki pengaruh tidak langsung atas kebijakan, tetapi memiliki kemampuan langsung untuk meningkatkan hubungan dalam masyarakat. Kolaborasi antara para pihak dapat membawa perubahan penting dalam upaya efisiensi energi di daerah.
Tanggungjawab implementasi efisiensi energi juga ada di pundak masyarakat. Masyarakat bertanggung jawab mendukung dan melaksanakan program efisiensi energi. Cara paling mudah adalah dengan membangun kesadaran bahwa efisiensi energi tidak hanya akan memberikan keuntungan ekonomi kepada masyarakat, namun juga dapat membantu daerah dan negara dalam menciptakan pembangunan berkelanjutan. Beberapa contoh sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, memanfaat cahaya alami untuk penerangan di siang hari, dan sebagainya.
Sebagai kesimpulan, berangkat dari kesadaran bawah kegiatan produksi dan konsumsi energi membawa dampak pada lingkungan hidup dan ekonomi, maka gerakan efisiensi energi adalah strategi potensial untuk mewujudkan green economy. Efisiensi energi yang sukses tidak hanya akan berbuah efisiensi ekonomi, namun juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cara lebih ‘bersih.” Selain itu, dalam konteks Indonesia, efisiensi energi juga berarti mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan emisi GRK. Jika dilaksaakan secara terencana oleh Pemerintah (pusat dan daerah), dunia usaha, dunia pendidikan, dan masyarakat, maka kita akan mencapai kondisi di mana energi, ekonomi, dan lingkungan hidup berjalan seiring secara akurberjalan seiring secara akur.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers