Menghitung MCB untuk Bank Kapasitor

30 10 2015

MENGHITUNG MCB UNTUK CAPACITOR BANK

Maaf, kali ini agak teknis. Khusus buat kawan-kawan yang punya latar belakang listrik atau yang tertarik. Jadi saya usahakan bahasa teknis ini se-sosial mungkin.

Dalam dunia kelistrikan ada sebuah komponen yang bernama kapasitor. Kapsitor dapat menyimpan energi dalam bentuk medan listrik. Kapasitor yang besar atau gabungan banyak kapasitor disebut bank kapasitor. Kegunaan umum bank kapasitor dalam kelistrikan adalah:

  1. Menaikkan nilai Faktor Daya
  2. Kompensasi daya reaktif.

Listrik yang kita gunakan dinyatakan dalam daya nyata atau daya aktif. Satuannya adalah kilowatt (kW). Daya inilah yang mesti dihasilkan oleh pembangkit listrik dan kebanyakan sistem kontrol pada sistem tenaga listrik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini.

Namun ada juga jenis daya lain yang sering muncul dalam sistem kelistrikan, yaitu daya reaktif. Daya reaktif ini dinyatakan dalam satuan kilo VAR (kVAR). Daya reaktif ini muncul begitu saja dari peralatan listrik yang di dalamnya terdapat kumparan listrik (kawat yang digulung sedemikian rupa), misalnya:

– motor listrik (contoh: pompa air di rumah kita),

– Transformer listrik,

– Induktansi jaringan transmisi dan distribusi,

– Lampu neon, dll.

Daya reaktif ini sifatnya merugikan, karena rasio antara daya yang SEBENARNYA kita pakai dibandingkan dengan TOTAL DAYA yang kita bayar, akan menjadi lebih kecil. Total Daya adalah penjumlahan vektor antara daya aktif dan reaktif. Semakin besar total daya (karena daya reaktif besar), maka semakin banyak kita membayar listrik yang tidak kita pakai. Rasio tersebut disebut dengan faktor daya (power factor). Faktor daya paling tinggi adalah 1 atau 100%. Semakin dekat dengan 1, semakin kecil daya reaktif.

Untuk mengurangi daya reaktif, perlu dilakukan kompensasi daya reaktif.

Ada dua peralatan yang umumnya digunakan untuk mengkompensasi daya reaktif, yaitu kondensor sikron dan kapasitor statis atau bank kapasitor.

Pada saat dioperasikan bank kapasitor harus diberi perlindungan untuk mengamankan peralatan dan manusia, misalkan menggunakan miniature circuit breaker (MCB)

Gambar di bawah ini menjelaskan rumus untuk menentukan kapasitas MCB yang digunakan pada bank kapasitor, bersumber dari http://elecengworld.blogspot.com/2015/10/how-to-calculate-main-circuit-breaker.html

main circuit breaker of capacitor bank





Mengapa Harga Minyak Turun?

16 08 2015

Artikel ini diterbitkan Riau Pos, edisi 13 Agustus 2015.

Dalam tujuh bulan terakhir, harga minyak dunia turun secara drastis. Pada pertengahan 2014 harga masih bertahan pada angka sekitar $110/barel. Namun kini minyak mentah Brent hanya dihargai $50/barel, nilai paling rendah sejak pertengahan 2009. Sedangkan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) telah merosok ke angka $48/barel. Artikel ini ditulis khusus untuk anda yang penasaran mengapa harga komoditas paling primadona ini terjun bebas, siapa yang diuntungkan dan dirugikan, berapa lama situasi ini berlangsung, apa solusinya, dan yang paling penting adalah apa sikap kita sebagai konsumen BBM?

Mengapa?

Ini adalah pertanyaan yang tidak gampang dijawab. Bisnis minyak bumi mengandung terlalu banyak parameter yang saling terkait; tidak hanya ekonomi belaka, tetapi juga politik, keamanan, lingkungan hidup, sosial, dan sebagainya. Namun, jika boleh menyederhanakan masalah, kejadian ini dapat dikatakan sebagai refleksi dari ekonomi supply-demand sederhana. Dari sisi suplai, alasan utama adalah jumlah minyak di pasar global kini melimpah ruah. Suplai minyak AS yang selama puluhan tahun belakangan didominasi minyak dari luar negeri, kini diganti dengan produksi domestik sehingga impor minyak ke AS menurun drastis. Walhasil, Arab Saudi, Nigeria dan Algeria yang sebelumnya mengekspor sejumlah besar minyak ke AS terpaksa mencari pasar baru di Asia yang sebenarnya sudah diisi oleh produsen lain. Negara-negara tersebut terpaksa menurunkan harga jual supaya tahan bersaing. Situasi makin memuncak dengan ditingkatkannya produksi minyak di Kanada, Irak dan Rusia. Tidak cukup sampai di situ, beberapa pekan belakangan, keadaan semakin menggila karena embargo ekonomi beberapa negara maju pada Iran dicabut, sehingga minyak Iran yang sebelumnya hanya bisa dipakai di dalam negeri, kini juga masuk pasar minyak dunia. Jumlah minyak di pasar global melimpah ruah.

Dari sisi demand, rata-rata kebutuhan minyak bumi secara global sedang turun karena ekonomi di Eropa dan banyak negara berkembang sedang lesu. Selain itu, kendaraan bermotor terknologi terbaru dirancang lebih hemat BBM.

Kedua hal tersebut di atas menyebabkan permintaan minyak menurun pada saat yang sama dengan suplai yang melimpah. Harga terjun bebas.

Koran The New York Times menyebutkan adanya teori konspirasi yang dapat dijadikan alasan. Katanya, ini adalah langkah yang sedang ditempuh Arab Saudi untuk memberi pukulan langsung ke jantung ekonomi Russia, Iran, dan AS. Sebagai pembanding, penurunan harga minyak dunia tahun 1980-an telah menjatuhkan Uni Soviet. Tetapi yang namanya teori konspirasi tentu tidak bisa dibuktikan.

Siapa Untung dan Siapa Rugi?

Pihak yang diuntungkan oleh situasi ini adalah kita, para pengguna minyak. Pada awal pemerintahan Presiden Jokowi, harga premium dinaikkan dari Rp 6.500/liter menjadi Rp 8.500/liter. Pada saat itu sebenarnya harga minyak dunia telah turun dari $ 105/barel (Juli 2014) menjadi $ 75/barel. Publik melihat kontroversi ini dan memicu unjuk rasa di hampir seluruh Indonesia. Namun pada Januari 2015, sering terus menurunnya harga minak dunia ke angka sekitar $ 55/barel, pemerintah Jokowi menurunkan harga premium sebanyak dua kali menjadi Rp 7.600/liter (1 Januari) dan Rp 6.700/liter (15 Januari). Namun kemudian harga premium dinaikkan lagi menjadi Rp 6.800/liter (1 Maret) dan kemudian Rp 7.300/liter (28 Maret) sampai sekarang. Sejak 15 Maret 2015 memang harga minyak dunia naik dari $ 52/barel dan mencapai titik tertinggi $ 62/barel pada 15 Mei 2015. Namun sejak saat itu kembali turun secara mantap ke harga sekarang $ 50/barel. Oleh karena itu, jika penurunan berlanjut, ada kemungkinan pemerintah akan menurunkan lagi harga premium. Kita lihat saja.

Saat kita diuntungkan, negara-negara yang mengandalkan ekonominya dari ekspor minyak dan perusahaan produsen minyak, tentu saja menderita kerugian yang parah. Banyak sumur minyak saat ini dihentikan operasinya. Investasi pada eksplorasi dan produksi juga sedang dipotong besar-besaran. The New York Times melaporkan Lebih 100 ribu pekerja sektor minyak dirumahkan. Penyedia jasa dan peralatan eksplorasi dan produksi kini gigit jari. Venezuela, Iran, Nigeria, Ecuador, Brazil dan Russia bisa saja mengalami guncangan ekonomi bahkan politik. Negara-negara miskin dan berkembang yang selama ini mendapat banyak bantuan dana pembangunan dari negara pengekspor minyak, kini mengalami pemotongan atau penghentian bantuan. Secara global situasi ini membuat ekonomi menjadi pucat pasi.

Sampai Kapan dan Apa Soluisnya?

Mungkin akan perlu waktu bertahun-tahun untuk memulihkan harga minyak ke angka keekonomian $ 90/barel. Waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan tergantung sebesar apa energi para produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), AS, dan lainnya, untuk kuat-kuatan. Harapan ditumpukan kepada OPEC, kartel minyak paling berpengaruh di dunia untuk melakukan intervensi. Negara-negara penderita berusaha menekan OPEC untuk memotong produksi guna meredakan banjir suplai minyak. Namun Arab Saudi dan UEA, anggota penting di OPEC, belum bersedia. Bahkan Irak sedang meningkatkan kerja pompanya. Arab Saudi beralasan, jika produksi dipotong, lalu harga naik, maka mereka akan kehilangan sebagian pasar, dan yang diuntungkan adalah pesaingnya. Harapan yang sama juga ditujukan pada AS untuk menurunkan produksi domestiknya. Solusi tercepat mungkin akan tercapai jika Arab Saudi dan AS duduk bersama. Namun perundingan kedua negera ini tidak sering berjalan mulus.

Apa Sikap Kita?

Walaupun saat ini dan beberapa bulan atau tahun ke depan kita mungkin masih akan menikmati minyak murah, adalah sangat tidak bijak jika situasi ini mendorong kita menggunakan BBM secara boros. Aksi kuat-kuatan para raksasa produsen minyak bukan disebabkan jumlah minyak di dalam perut bumi bertambah. Cadangan minyak sudah amat sedikit dan segera akan habis. Mereka juga tidak akan tahan berlama-lama mengorbankan ekonominya. Akan ada masa di mana mereka membahayakan ekonominya jika aksi tersebut dilanjutkan. Pada saat itu harga akan ’dinormalkan’ kembali dan harga BBM dalam negeri akan ikut naik. Ingat, sebagian besar BBM saat ini tidak disubsidi lagi, sehingga kenaikan harga nanti akan mengejutkan kita. Tindakan yang sedang mereka lakukan tersebut hanya mempercepat habisnya minyak. Kita, sebagai pengguna, akan ikut mempercepat habisnya minyak jika menggunakannya secara boros karena harganya murah. Yang namanya boros, tetap saja temannya syaitan, bukan?





Pembakaran Hutan VS Pembuangan Energi (Forest Fire vs Energy Wasting)

31 07 2015

0064Analisis tentang dampak negatif kebakaran (baca: pembakaran) hutan di Riau pada ekonomi, aktifitas sosial, lingkungan hidup, dan kesehatan, sudah banyak disampaikan ahli. Karena hanya mengerti tentang energi (itu pun sedikit), saya ingin mengajak pembaca untuk ’bermain-main’ menghitung kerugian (imajiner) pembakakaran hutan Riau ditunjau dari sudut pandang energi.

Menurut BBC (30 Juli 2015), dalam satu bulan belakangan seluas 1.264 ha lahan Riau telah dibakar. Mari kita asumsikan lahan yang dibakar adalah hutan asli yang mengandung 63 m3 kayu per hektar (FAO 2000).

Dari informasi di atas, dalam satu bulan belakangan telah dibakar sejumlah 1.264 ha x 63 m3/ha = 79.632 m3 kayu hutan di Riau.

Menurut Biomass Energy Centre di Inggris, kayu gelondongan (log) dengan kelembaban (moisture content) 20% mengandung energi atau calorific value sebesar 7,600-11,400 Megajoule/m3. Mari kita ambil lagi nilai tengah, 9.500 Megajoule/m3.

Maka, dalam sebulan belakangan pembakaran hutan di Riau telah melepaskan energi sebesar 79.632 m3 x 9.500 Megajoule/m3 = 756.504.000 Megajoule.

Tahukah Anda berapa listrik yang bisa dihasilkan jika kayu sebanyak itu dibakar pada pembangkit listrik? Begini hitungannya. Setiap Megajoule energi kalor setara dengan 0.277777778 kWh energi listrik. Maka 756.504.000 Megajoule setara dengan 210.140 MWh listrik. Jika kayu tersebut dibakar pada pembangkit listrik biomassa konvensional (pembakaran langsung) dengan efisiensi 35%, maka akan dihasilkan listrik sebanyak 73.549 MWh.

Sebesar apa angka 73.549 MWh ini? PLTGU Teluk Lembu, yang menjadi salah satu andalan suplai listrik di Pekanbaru ini memiliki kapasitas terpasang 5 MW. Walaupun daya mampunya tidak mungkin mencapai 5MW, dalam hitungan ini kita anggap efisiensi PLTGU Teluk Lembu beroperasi dengan 5 MW. Dengan asumsi faktor kapasitas PLTGU Teluk Lembu adalah 65%, maka dalam satu bulan produksi listrik rata-rata dari PLTGU Teluk Lembu 2.372 MWh.

Dengan membandingkan dua situasi di atas, yaitu listrik yang dihasilkan jika kayu hutan dibakar pada pembangkit listrik konvensional, dan listrik yang saat ini dihasilkan oleh PLTGU Teluk Lembu; maka listrik yang bisa dihasilkan dari pembakaran hutan setara dengan operasional PLTGU Teluk Lembu selama 31 bulan.

Jika listrik yang dihasilkan dari pembakaran kayu hutan di pembangkit listrik konvensional dijual oleh ke pelanggan rumah tangga 1.300 VA dengan harga sesuai TLD Juni 2015 sebesar Rp. 1.352/kWh, maka nilaia kerugian dari penjualan listrik dari pembakatan hutan di Riau selama sebulan terakhir adalah Rp. 99,4 Miliar.

Anda mungkin tidak sepakat menggunakan PLTGU Teluk Lembu sebagai pembanding dan mungkin ingin merubah parameter lain. Baiklah, terlampir adalah sebuah kalkulator ’mainan’ yang sudah saya siapkan untuk anda bermain sendiri lebih lanjut. Silahkan download Kalkulator Pelepasan Energi dari Pembakaran Hutan.

Sumber:

  1. http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/07/150730_indonesia_kabutasap_riau,
  2. http://www.fao.org/docrep/004/y1997e/y1997e07.htm.
  3. http://www.biomassenergycentre.org.uk/portal/page?_pageid=75,20041&_dad=portal&_schema=PORTAL
  4. Foto: http://www.thejakartapost.com/files/images2/PEATT-1.jpg




NASA: Suhu Harian di Indonesia 40 Derajat pada tahun 2100

23 06 2015

Sebagaimana dilaporkan oleh National Geographic Indonesia, sebuah studi yang dilakukan oleh NASA memperkirakan bahwa “suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 nanti bisa mencapai 40 derajat Celcius.”

Perkiraan tersebut disimpulkan dari analisis dataset Earth Exchange Global Daily Downscaled Projections (NEX-GDDP) oleh NASA. Data tersebut berisi informasi historis suhu sejak 1950 dilengkapi dengan skenario emisi CO2 selama beberapa puluh tahun ke depan.

Dua skenario dihasilkan dari studi tersebut, yaitu skenario emisi rendah dan skenario emisi tinggi. Skenario emisi rendah menghasilkan estimasi suhu harian di Indonesia pada tahun 2100 berkisar 30 – 35 derajat Celsius. Sedangkan dengan skenario emisi tinggi antara 35 – 40 derajat Celsius.

Bulan-bulan paling panas akan terjadi dari Juli hingga Oktober di mana suhu bisa di atas 40 derajat Celsius.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, suhu harian rata-rata kawasan pantai di Indonesia adalah 28°C, pedalaman dan pegunungan rata-rata 26°C, dan gunung tinggi rata-rata 23°C (Sumber: Weather Online).

Estimasi tersebut tidak hanya akan menimpa Indonesia, tetapi juga beberapa negara lain seperti Afrika Utara, India, dan kawasan khatulistiwa di Amerika Selatan yang akan mengalami suhu harian di atas 45 derajat Celsius pada musim panas. Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, pada tahun 2015 ini gelombang suhu panas ekstrim telah menerjang India dan menelan korban lebih 2.000 orang meninggal duni akarena kepanasan (Sumber: CNN Indonesia). Saat artikel ini ditulis, kejadian serupa sedang berlangsung di Pakistan. Sebanyak 450 orang meninggal dunia karena suhu tinggi mencapai 45 derajat Celsius di Karachi (Sumber: Riau Pos).

Informasi selengkapnya tentang estimasi suhu global tersebut dapat dilihat pada http://climateinternational.org/#map.

NASA_warmingFoto: http://climateinternational.org/#map

Kawasan dengan suhu rata-rata di atas 40 °C berada di wilayah Timur Tengah dan Afrika. Kuwait dan Ahwaz adalah dua kota di Teluk Persia yang memiliki bulan-bulan dengan suhu rata-rata harian di atas 46 °C. Selama periode 1970-2000 kota Ahwaz mengalami tiga kali suhu 52 °C – 54°C . Di Irak bagian Selatan, suhu mencapai 44,8 °C (Sumber: http://www.currentresults.com/Weather-Extremes/hottest-cities-in-the-world.php).

Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau juga mengalami peningkatan suhu. Sebagaimana diberitakan Riau Pos (23/06/2015), berdasarkan data BMKG, awal Ramadhan 2015 disongsong oleh suhu 31,5 sampai 34,5 derajat celcius di Pekanbaru. Dari BPS Riau, suhu rata-rata di Pekanbaru telah naik dari 34,6 °C pada tahun 2208 menjadi 35,1 °C pada tahun 2012.

Prediksi NASA untuk Indonesia di atas menambah literatur bahwa pemanasan global dan perubahan iklim sedang berlangsung. Kelestarian Bumi dan segala penghuninya berada di tengah resiko besar. Langkah-langkah nyata untuk mengurangi pemanasan global tidak bisa ditunda lagi. Caranya adalah dengan mengurangi pembakaran energi fosil yang menghasilkan banyak emisi CO2 dan memelihara hutan.

Bangsa Indonesia perlu beralih ke energi bersih. Alasan bahwa teknologi energi bersih masih mahal dapat dipahami, namun bukan berarti menghentikan langah-langkah untuk mengembangkannya. Banyak negara, terutama negara-negara maju telah berhasil mengembangkan energi terbarukan dan efisiensi energi. Peran utama dari pemerintah kita dibutuhkan untuk mendorong pengembangan energi bersih, membuat harganya lebih murah, dan bersinergi dengan swasta, akademik, dan LSM untuk bergerak bersama.

Beberapa upaya untuk membantu mengurangi pemanasan global melalui peningkatan peran energi bersih telah dimulai di Riau. Sebuah organisasi di tingkat Provinsi Riau yang bernama Riau Renewable Energy Centre (www.rirec.org) telah dibentuk dan mulai bergerak untuk mendorong pengembangan energi bersih. Dalam wilayah praktis, beberapa pusat riset dan konsultansi terkait telah berdiri di Riau, salah satu di antaranya adalah Energy Research Centre (www.enreach.or.id) di UIN Suska Riau.

Nasib Bumi terkait dengan pemanasan global dan perubahan iklim, juga membutuhkan ‘tangan-tangan bersih’ dan terampil dari generasi yang lebih muda. Untuk meyakinkan generasi muda yang peduli energi bersih, di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau sejak tahun 2010 telah dibuka Konsentrasi Energi yang fokus pada pendidikan dan riset sistem tenaga listrik, energi terbarukan, efisiensi energi, dan kebijakan energi. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau mendorong suplai energi (listrik, gas, dan bahan bakar cair) yang ramah lingkungan. Kurikulum konsentrasi Energi di Jurusan Teknik Elektro UIN Suska Riau dapat dilihat di http://ee.uin-suska.ac.id/konsentrasi-energi/.





Arab Saudi pun Mau Energi Surya (Saudi Arabia is Willing to Go Solar)

26 05 2015

Sebuah laporan Damian Carrington di The Guardian, 22 Mei 2015, berjudul “Saudi Arabia’s solar-for-oil plan is a ray of hope,” telah menghembuskan semangat dan optimisme baru bagi dunia energi terbarukan (ET), khususya energi matahari.

Mengapa demikian? Saudi Arabia, raja minyak dunia, negara yang sangat kaya, melalui Menteri Perminyakan Ali Al-Naimi membuat pernyataan mengejutkan di Paris beberapa hari lalu bahwa negaranya pada suatu hari, mungkin 2040, 2050, atau setelah itu, akan mengekspor listrik tenaga matahari, bukan minyak bumi. Pada tahun 2012 Arab Saudi telah mengeluarkan pernyataan bahwa 100% suplai listrik akan berasal dari ET.

Pernyataan ini cukup mengejutkan, mengingat Arab Saudi adalah pemilik 1/5 cadangan terbukti minyak bumi dunia, eksportir minyak bumi terbesar, pendiri dan anggota yaang sangat berperngaruh di OPEC, menggantungkan 75% APBN pada minyak bumi dan 90% pendapatan ekspornya dari industri minyak bumi.

Ini adalah sebuah target yang ambisius bagi Arab Saudi. Target ini mungkin akan berdampak dalam sekali pada ekonomi (baca: kemewahan) minyak Arab Saudi. Bagian yang paling sulit, menurut saya, adalah bagaimana mempersiapkan rakyatnya untuk beradaptasi dengan ET. Syarat pertama untuk mengadopsi ET adalah melakukan efisiensi energi (EE) dulu. Sementara itu konon warga Arab Saudi yang makmur itu tidak begitu familiar dengan EE.

Sebelum melihat rencana yang lengkap, saya sepakat bahwa target ini untuk sementara bisa dilihat secara skeptis. Misalnya, sang menteri baru bicara tentang listrik, namun belum bicara tentang bbm untuk transportasi jika ditargetkan 100% suplai energi ET.

Terlepas dari berbagai skeptisme, rencana besar Arab Saudi ini telah menghembuskan angin segar bari pengembangan ET dan perbaikan iklim dunia.

Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri ‘mantan’ anggota OPEC, yang sering merasa kaya minyak? Aapakah sudah memiliki rencana yang lebih baik untuk pengembangan ET? Bagaimana menurut anda?

22 May 2013, Saudi Arabia --- A Saudi man walks on a street past a field of solar panels at the King Abdulaziz city of Sciences and Technology, Al-Oyeynah Research Station, in this May 21, 2012 file photo. A slide in solar power costs and a surge in oil prices over the last few years has made solar power a win-win strategy for Saudi Arabia: saving billions of dollars of crude for export while making electricity at less than half the cost. To match Analysis SAUDI-SOLAR/ REUTERS/Fahad Shadeed/Files (SAUDI ARABIA - Tags: ENERGY BUSINESS) --- Image by © FAHAD SHADEED/Reuters/Corbis

22 May 2013, Seorang pria Saudi Arabia berjalan di sisi pembangkit listrik tenaga surya di kota King Abdulaziz. (Foto: The Guardian)





Ketika Perubahan Iklim Merenggut Kehidupan (When Climate Change Takes Your Life)

26 05 2015

“Lebih dari 500 orang meninggal karena serangan hawa panas di India dengan temperatur tertinggi mencapai 47,7′ Celcius di kota Allahabad, negara bagian Uttar Pradesh.”

Karena perubahan iklim, kejadian cuaca ekstrim semakin sering. Kini di Eropa banyak korban karena musim dingin terlalu dingin. Sedangkan di kawasan sub tropis seperti India, Bangladesh dan lain-lain banyak orang meninggal karena musim panas terlalu panas.

Energi terbarukan dan efisiensi energi adalah solusi yang ada saat ini untuk menurunkan emisi karbon diaoksida yang menjadi penyebab perubahan iklim. Energi berkelanjutan kini bukan sekedar bagaimana menyediakan energi bagi masyarakat. Energi berkelanjutan adalah tentang manusia dan kemanusiaan.

Info lebih lengkap tentang dampak cuaca ekstim dapat dilihat pada website IPCC, lembaga PBB yang mengurus perubahan iklim http://www.ipcc.ch/ipccreports/tar/wg2/index.php?idp=354

Gambar berikut memperlihatkan beberapa kejadian cuaca ekstrim di seluruh dunia. Lihat saja, dalam beberapa dekade belakangan kita memecahkan bangak rekor.

IMG_7324





Atap Bangunan Baru di Perancis Wajib Dipasang Modul Surya

21 03 2015

Pada tanggal 19 Maret 2015, Perancis mengesahkan UU baru yang mewajibkan sebagian atau keseluruhan atap gedung baru di kawasan komersil dipasang panel surya atau ditanam tumbuhan.

Sebagai negara yang mengandalkan lebih 80% suplai listriknya dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), Perancis memang masih tertinggal dari sebagian negara Eropa dalam memanfaatkan energi surya. Jermal, Spanyol, dan Italia memimpin aplikasi energi surya di Eropa dan dunia.

Selain pasangan PLTS, UU baru tersebut mendorong atap gedung baru di Perancis untuk ditanami tanaman. Konsep atap hijau ini memberikan berbagai keuntungan. Dengan atap hijau, bangunan akan memerlukan lebih sedikit energi untuk mencapai temperatur ruang yang diinginkan.

Sumber: http://thinkprogress.org/climate/2015/03/20/3636746/franch-rooftops-go-green/

IMG_6806
Sumber: http://homeli.co.uk/eco-villa-concepts-in-flavours-orchard-china-by-vincent-callebaut-architecture/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 27 other followers