ENERGI TERBARUKAN SATU RASA SATU HARGA UNTUK INDONESIA

26 05 2018

Cadangan energi fosil Indonesia makin berkurang. Harganya pun semakin garang. Belum lagi jika dihitung dampaknya pada perubahan iklim yang panjang. Namun, energi fosil telah dan sedang mendapat subsidi dari yang berwenang. Jika dijumlah, sejak puluhan tahun lalu, subsidi pada energi fossil itu lebih dari Rp. 1000 Triliun uang. Setelah mengeluarkan dana sebanyak itu, kini kita tetap menggesa produksinya dari perut ibu pertiwi dan melepaskan CO2 ke atmosfer yang makin berlobang. Kebijakan BBM satu harga adalah cemerlang. Walaupun harus disubsidi, ini adalah demi mereka yang jauh dari pusat negara yang selalu terang benderang.

Namun, di pihak lain, energi terbarukan terjepit di sudut. Walaupun sesama ‘anak kandung’ bumi pertiwi, ia seperti berjuang dalam takut. Begitu berat pemerintah memberinya subsidi; kemarin ada, sekarang dicabut. Padahal harganya makin murah, dia bersih, dan cadangannya tak surut.

Banyak saudara kita hidup di kampung ujung di Papua, di pulau jauh di Maluku Utara, dan di tempat lain di kepulauan kita. Tak sedikit mereka membeli listrik dengan harga Germania. Sementara, di ibu kota, orang tidur bermandi cahaya dan TV terbiasa menonton pemirsa.

Atas nama keadilan buat seluruh rakyat Indonesia. Maka kebijakan Energi Terbarukan Satu Rasa Satu Harga (SARASAGA) perlu digesa. Artinya, jika suplai energi didapat dari sumber-sumber energi terbarukan, mereka mendapat suplai dan harga yang sama dengan saudara sebangsa di kota. Jika jawaban untuk SARASAGA adalah subsidi juga, jangan ragu dan gundah. Karena pada energi fosil, kita sudah lakukan sangat lama.

Catatan:

Inilah kesimpulan yang saya sampaikan sebagai catatan penutup dalam diskusi yang ditaja oleh Formal Jerman 26 Mei 2018.

Advertisements




SALAM …. MUSIM SEMI ….

23 04 2018

Mungkin The Four Seasons adalah karya utama Vivaldi, komposer asal Italia. Dengan empat seri konser biola ini Vivaldi ‘mengawal’ penggemarnya melalui transisi setiap musim.

Baru saja (tepatnya abad 17 ):), dia ‘melambai tangan’ tanda berpisah pada musim dingin, dengan gesekan-gesekan kaku pada senar-senar beku dan ‘hanya putih’ itu. Kini, seketika dia sudah sedia dengan kedua tangan terbuka lebar, berucap selamat datang pada musim berbunga nan harum. Tapi kini, gesekan-gesekan itu begitu gembira, nakal, menggelitik tali-tali yang tetiba berubah menjadi melodius.

Biasanya Vivaldi menggelar ‘le quattro stagioni‘ (bahasa Itali untuk the four season) bersamaan dengan puisi. Tapi pada video ini (link di bawah), puisi diwakili bunga warna-warni dan sayap kupu-kupu. Ada juga burung-burung bernyanyi, kucing berburu serangga yang sembunyi di balik rumput, hembusan angin, dan orang-orang menari. Dunia kembali ‘hidup.’

Benvenuta Primavera, Mamma….” teriak mereka berdua.

https://www.youtube.com/watch?v=jYfAncKfru0

Semi1  Semi2

photo_2018-04-23_15-05-47  photo_2018-04-23_15-05-48

Semi3      Untitled-2





LISTRIK ANGIN di INDONESIA?

18 01 2018

Dalam sebulan belakangan, angin badai sering terjadi di tempat kami, termasuk pagi ini. Universitas pun mengeluarkan kode merah (gambar pertama terlampir); menyarankan yang di rumah tetap di rumah, yang di kantor tetap di kantor, dan mahasiswa boleh minta ujian diundur. Sambil menonton energi badai dan menunggu jam istirahat siang, izinkan saya berbagi video 1 menit yang diambil dari ruangan kerja saya baru saja, memperlihatkan pohon digoncang badai. Karena situs ini ini tidak support video, silahkan lihat di sini.

Dari webiste www.buienradar.nl (foto kedua dan lingkaran merah) terbaca kecepatan angin 91 km/jam atau sekitar 25 m/detik. Hampir secepat anda ngebut dengan kendaraan dan mampu menyulitkan melangkah jika berjalan ke arah berlawanan.

Mari kita hubungkan dengan listrik. Berapa energi listrik yang bisa dihasilkan dari angin? Terpaksa pakai angka. yang tidak suka, silahkan baca kalimat-kalimat ujung setiap paragraf.

Misal, kita memasang turbin angin 1 MW dengan panjang bilah baling-baling 25 m (diameter rotor 50 m), efisiensi turbin 34%, dan faktor kapasitas (CF) 25%. Kecepatan angin 12 m/s (sekitar 43 km/jam) saja, karena turbin angin biasanya dipadamkan jika kecepatan angin di atas 20 m/detik. Turbin tersebut bisa menghasilkan listrik sekitar 9 juta kWh/tahun, atau sekitar 4 ribu rumah tangga kelas menengah di Indonesia dengan konsumsi rata-raya 6 kWh/hari.

Tapi, kecepatan angin setinggi itu hanya terdapat di negara-negara yang terletak pada garis lintang 30 derajat ke atas, misal Amerika Utara, Rusia, Eropa, dan Australia. Sedangkan di Indonesia, hanya sedikit lokasi yang memiliki kecepatan angin lumayan, Misal, sebagian pantai selatan Jawa, Bali, NTT, NTB, sebagian Sulawesi dan Maluku bagian selatan, memiliki kecepatan angin sekitar 4 m/s. Jika kita punya turbin angin 0,8 MW, FC turun menjadi sekitar 7%, maka listrik yang dihasilkan per tahun adalah sekitar 460 ribu kWh yang cukup untuk sekitar 200 rumah.

Jika dibandingkan dengan pembangkit listrik batu bara dengan kapasitas sama (effisiensi 35% dan CF 60%), maka jumlah rumah tangga Indonesia yang bisa dilistriki pembangkit listrik batubara sekitar 1,5 kali lipat dibanding turbin angin.

Tentu hitungan di atas adalah pendekatan umum. Untuk hitungan detail, banyak lagi faktor-faktor yang harus dipertimbangkan, seperti: suhu sekitar, tekanan udara, kerapatan udara, kehalusan permukaan tanah di sekitar turbin angin, jenis turbin yang digunakan, ketinggian rotor, dll.

Untuk Indonesia, energi surya dari matahari lebih besar peluangnya. Itulah alasannya mengapa mahasiswa Konsentrasi Energi di UIN Suska Riau belajar melakukan hitungan-hitungan seperti di atas, supaya mereka cepat membuat pilihan-pilihan di dalam karirnya.

 

Untitled2

Kode Merah dari Universitas

Untitled

Sumber: Buienradar.nl

Untitled-2





100% LISTRIK HIJAU

17 01 2018

Berbeda dengan negara besar Indonesia yang ‘nyaris’ memiliki hanya satu perusahaan listrik, di Belanda yang seluas Provinsi Riau, terdapat hampir 40 perusahaan seperti ‘PLN’. Pelanggan bebas memilih perusahaan mana pun sesuai kriteria masing-masing. Ada yang memilih karena tarif lebih murah, atau karena jenis energi yang digunakan menghasilkan listrik.

Di Belanda, listrik dihasilkan dari energi terbarukan (green) atau dari energi fosil dan nuklir (grey). Tarif kedua jenis hampir sama. Terpaksa menyebut merk, 100% listrik dari perusahaan Engie dihasilkan dari energi terbarukan, yaitu energi surya (matahari) dan energi angin (foto terlampir). Beberapa perusahaan lain juga menghasilkan energi hijau, sedangkan sisanya memanfaatkan nuklir, batubara, dan gas untuk memproduksi listrik. Sebagai pendukung dan pelaku energi terbarukan, tidak perlu berpikir dua kali untuk melistriki rumah dari energi hijau.

Semoga suatu saat nanti konsumen listrik di tanah air pun bisa memilih dari mana mereka ingin membeli listrik.

photo_2018-01-17_15-33-25

Email dari Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_b

Terjemahan Google Translate

photo_2018-01-17_15-33-25_c

Foto: Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_d

Foto: Engie

photo_2018-01-17_15-33-25_e

Foto: Engie

Untitled-2

 





Potensi PLTS/energi surya di setiap provinsi di Indonesia dalam MWp (PV/solar energy potentials for each province in Indonesia in MWp)

9 01 2018

** Bahasa Indonesia di Bawah **

What is the potential capacity of grid-connected PV systems in Indonesia for each province? This study gives you the answer; for each province, in Megawatt (MWp) units, NOT in kWh/m2/day. You can also find the variation among the potentials in urban core, suburb, and village. This study was published in 2017 and used data from 2015. It was and update from the previous study from H. Veldhuis and A. Reinders who used data from 2010.

For full method, please contact me.

Figure below shows the main results. 

Download the article for more information: Technical Potential of Grid-Connected PV Systems in Indonesia. (should you find difficulty in using this link, please send me email to: kunaifi.set@gmail.com).

Berapa potensi kapasitas sistem PV (PLTS) on-grid (tersambung jaringan PLN) di setiap provinsi di Indonesia? Studi ini memberi jawabannya, untuk setiap provinsi, dalam satuan Megawatt Peak (MWp), BUKAN dalam kWh/m2/hari. Anda juga bisa menemukan variasi potensi antara perkotaan, pinggiran kota, dan desa. Penelitian ini dipublikasikan pada 2017 berdasarkan data 2015. Studi ini memperbaharui metode dan data dari penelitian sebelumnya oleh H. Veldhuis dan A. Reinders yang menggunakan data 2010.

Pada artikel ini, metode tidak ditampilkan secara utuh sesuai keperluannya. Bagi yang berminat melihat metode, saya bisa kirimkan secara secara pribadi, karena ada di dalam artikel saya yang lain, tapi masih dalam proses review/belum terbit).

Gambar berikut menampilkan hasil utama dari studi ini.

Untuk info lebih lanjut, download artikelnya: Technical Potential of Grid-Connected PV Systems in Indonesia.  (jika kesulitan menggunakan link tersebut, silahkan email saya di: kunaifi.set@gmail.com).

gvpv

 

Peta

Untitled-2





Apakah ada potensi energi biomassa di kota?

9 01 2018

Apakah di kawasan perkotaan ada potensi energi dari biomassa? Studi dari Yelmira Zafriati bersama saya ini dapat menjawab pertanyaan anda untuk kasus di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

Berdasarkan data-data sekunder dari berbagai sumber, analisis dilakukan menggunakan prosedur dari Biomass Energy Europe.

Total energi pontensial teoritis di Pekanbaru adalah 91,158,663.54 GJ/tahun meliputi limbah pertanian sebesar 4,309,632.37 GJ/tahun (4.73%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (83.50%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (9.97%). Total energi pontensial teknis 88,542,679.88 GJ/tahun yang terdiri dari limbah pertanian 1,693,648.71 GJ/tahun (1.91%), kotoran hewan 77,759,031.17 GJ/tahun (87.82%) dan sampah organik 9,090,000.00 GJ/tahun (10.26%).

Semoga pertanyaan anda terjawab.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: POTENSI ENERGI TEORITIS DAN TEKNIS DARI LIMBAH BIOMASSA DI PEKANBARU.

Pku





Limbah Pertanian menjadi Listrik

9 01 2018

Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui potensi biomassa dari sisa hasil pertanian, mencakup jerami dan sekam padi sawah, jerami dan sekam, padi ladang, batang dan tongkol jagung, batang ubi kayu, serta serat, cangkang, tandan kosong, kernel dan limbah cair yang terdapat di perkebunan kelapa sawit. Lokasi studi di Provinsi Riau. Hasil studi menunjukkan total potensi teoritis energi biomassa adalah sebesar 77.466.754,8 Gj/Tahun yang dapat menghasilkan energi listrik sebesar 21.518.542,8 MWh/Tahun. Studi dilakukan oleh Petir Papilo, Kunaifi, Erliza Hambali, Nurmiati, dan Rizfi Fariz Pari.

Info lebih lanjut, silahkan download artikelnya: PENILAIAN POTENSI BIOMASSA SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI KELISTRIKAN.

pasti.jpg