Jangan ada diskriminasi dalam pendidikan (No discrimination for education)

20 07 2008

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta hampir membuat malu bangsa Indonesia. Pasalnya adalah penolakan UIN terhadap calon mahasiswa tunanetra untuk belajar di universitas milik Departemen Agama tersebut. Padahal Wijaya, sang calon mahasiswa telah lulus Ujian Masuk Bersama (UMB) tahun akademik 2008. Sebagai alumni SMA Negeri 66 Jakarta Selatan, Wijaya juga sudah membuktikan bahwa kekurangan yang dimilikinya bukan hambatan dalam menjalankan pendidikan.

Menurut Detik.com, Wijaya ditolak pihak UIN ketika hendak mendaftar ulang, dengan alas an tunanatra. Uang pendaftaran pun dikembalikan pihak UIN. Betapa pedihnya perasaan anak muda ini. Cacat yang dideritanya ternyata bukan mendatangkan empati, justru membuat dia makin diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Alasan pihak UIN tidak jelas. Padahal sejak tahun 1980-an, universitas ini telah menerima beberapa mahasiswa tunanetra. Bahkan salah satu di antaranya lulus dengan predikat terbaik dari Fakultas Dakwah.

Diskriminasi terhadap penyandang cacat hendaknya tidak terulang di tanah air. Atas alasan apa pun, kebijakan ini tidak dapat dibenarkan. Dalam UUD 45 jelas disebutkan bahwa setiap warga Negara memiliki hak yang sama dalam pendidikan.

Di negara-negara maju, para penyandang cacat justru mendapat perlakukan khusus dalam mendapatkan tempat di lembaga pendidikan dan pekerjaan. Di Australia misalnya, hak penyandang cacat dalam mendapat pendidikan diatur dengan peraturan bernama Disability Discrimination Act. Peraturan ini supaya para penyandang cacat tidak mendapat diskriminasi negative dalam mendapatkan kursi di lembaga pendidikan. Peraturan ini mendorong pengelola lembaga pendidikan untuk memberikan diskriminasi positif dalam bentuk menyediakan fasilitas bagi mahasiswa penyandang cacat.

Foto: massresources.org

Memang tidak dipungkiri bahwa ada program studi-program studi tertentu yang tidak dapat diikuti oleh penyandang cacat. Bukan karena tidak boleh, tapi karena tidak mungkin. Namun demikian dalam membuat keputusan apakah seorang penyandang cacat diterima tau tidak sebagai mahasiswa, peraturan ini mewajibkan universitas untuk tidak membuat keputusan sepihak. Komunikasi dengan calon mahasiswa mesti dilakukan untuk menguji apakah penilaian universitas rasional dan dapat diterima oleh calon mahasiswa. Begitu pula dengan kurikulum, materi pelajaran, dan ujian, mesti sesuai dan dapat diakses oleh mahasiswa penyandang cacat.

Untung universitas Islam ini kemudian insyaf. Setelah berita ini merebak di berbagai media nasional, Wijaya dipersilahkan mendaftar ulang kembali. Alasan miskomunikasi pun dikedepankan.





Nenek penjual bunga cempaka

12 07 2008

Kisah ini dituturkan KH Jalaludin Rakhmat dari KH Zawawi Imron, diambil dari posting ustad Abdul Jalil Ahmad di milis Perhimpunan Pengajian Islam Perth.

“Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan ia pergi ke mesjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar mesjid dan membungkuk-bungkuk di halaman mesjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman mesjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman mesjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Masjid Nabawi (Foto: BP3). Note: Foto Masjid ini hanya untuk ilustrasi, bukan menunjukkan kejadian pada kisah ini.

Banyak pengunjung mesjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk mesjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke mesjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.”

Singkatnya cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.

Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu. “Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

(Sumber: “Sate Rohani dari Madura”, D. Zawawi Imron, Rosda, 2001)





Cogeneration, Pembangkit Listrik Paling Efisien (Cogeneration, The Most Efficient Power Plants)

12 07 2008

Pada pembangkit standard berbahan bakar fosil, pemborosan terjadi ketika batubara atau gas mulai dibakar. Pada sebagian pembangkit, hanya sejumlah 30% energy yang mengalir ke jaringan distribusi.

Sisanya dalam bentuk panas, dibuang melalui cerobong asap. Andai orang bisa membuat pembangkit yang dapat mengubah 80% bahan bakar menjadi energi terpakai (useful energy), betapa menguntungkan.

Ya, pembangkit idaman tersebut kini sudah hadir. Tapi calon pelanggan kelihatan belum tertarik. Mengapa? Penguasa listrik dan pembuat kebijakan sepertinya takut akan kehadiran pembangkit jenis baru ini.

Skema Combined Cycle Cogeneration (Photo: epcorpowerlp)

Efisiensi sebesar 80% dapat dicapai pada system yang menggabungkan panas dan pembangkit listrik, dikenal dengan pembangkit cogeneration (cogeneration plants). Pembangkit jenis ini ideal bagi institusi besar seperti universitas, rumah sakit, dan bandar udara, yang membutuhkan energi listrik dan panas dalam jumlah besar. Pada pembangkit cogeneration, energi panas tidak dibuang, tapi digunakan untuk menyediakan energi bagi system pemanas/pendingan, bahkan bisa juga digunakan kembali untuk membangkitkan listrik.

Tapi teknologi yang disukai kalangan akademisi ini, oleh perusahaan listrik justru dianggap sebagai ancaman. Mengapa? Jika institusi-instritusi besar yang kini menjadi pelanggan perusahaan listrik beralih ke pembangkit cogeneration, jelas mengancam penjualan perusahaan listrik.

“Teknologi ini tidak biasa di kalangan perusahaan listrik,” kata Rob Thornton, Presiden International District Energy Association.

Ambil kasus Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang melakukan riset bertahun-tahun di bidang ini dan mengembangkan pembangkit cogeneration berkapasitas 22 MW untuk kampus MIT. Pembangkit selesai dibangun 1995. Tapi CELCo, perusahaan listrik setempat tidak menyembut baik, bahkan menjatuhkan denda $6 juta pada universitas.

Menurut CELCo, mereka telah mengeluarkan dana besar guna membangun infrastukur listrik di MIT, dan denda tersebut dikenakan untuk mengganti kerugian mereka. Lobi-lobi kemudian berhasil menurunkan denda menjadi $4.5 juta.

Bukan hanya di MIT, sebuah rumah sakit di Massachusetts yang bermaksud membangun pembangkit cogeneration ditekan bertahun-tahun oleh perusahaan listrik setempat.

“Potensi penghematan yang bisa dicapai dengan pembangkit cogeneration sungguh besar,” kata Neal Elliott, pakar sistem cogeneration. “Berlipat-lipat kali penghematan dapat dicapai dengan menerapkan teknologi ini secara luas secara nasional,” kata Elliott.

Salah satu cara membujuk perusahaan listrik adalah dengan membangun system cogeneration yang bisa disambungkan dengan jaringan milik perusahaan listrik. Tapi usul ini pun masih dipersulit perusahaan listrik dengan menunda-nunda izin. Elliott menceritakan proses penundaan yang diamatinya. “Diperlukan 60 hari untuk melakukan studi penyambungan system baru dengan jaringan listrik milik perusahaan listrik, lalu 60 hari untuk mempresentasikan hasil studi ke perusahaan listrik, dan 90 hari untuk dibutuhkan perusahaan listrik untuk menilai hasil studi, jika mereka punya pertanyaan, dibutuhkan 30 hari. Jika dijumlahkan, bisa memakan waktu satu, dua atau tiga tahun. Penantian penuh stress ini membunuh sebagian besar proyek cogeneration. Waktu adalah uang”

Memang tidak semua perusahaan listrik melakukan hal yang sama. Tapi perlakukan terbaik oleh perusahaan listrik terhadap proyek cogeneration adalah mewajibkan mereka menjadi pelanggan perusahaan listrik, kata Ed Legge, juru bicara Edison Electric Institute.

Diterjemahkan dari tulisan Sam Purl di Worldofrenewables





Ratu Inggris ikut ‘hijau’ (Queen Elisabeth goes green)

22 05 2008

Ratu Elizabeth kini menjadi salah satu public figure paling ‘hijau’ dunia. Baru-baru ini Ratu Inggris ini melalui perusahaan pribadinya ‘the Crown Estate’ melakukan investasi pembangunan turbin angina terbesar dunia.

Ratu Elisabeth II (Foto: media.bonnint)

Sebelum ini, perusahaan yang menguasai sebagian besar dasar laut pantai Inggris ini hanya menyewakan kawasannya untuk proyek-proyek turbin angin dan tidak melakukan investasi untuk energi angin.

Tapi kini akan punya turbin berkapasitas 7,5 MW sekaligus menjadi yang terbesar di dunia, jika menjelang diperasikan 2010 tidak ada yang membuat turbin lebih besar.

Semua energi listrik yang dihasilkan akan dijual ke perusahaan listrik setempat.

Aapakah ada orang kaya Indonesia yang ingin ‘hijau’ juga?

Diterjemahkan dari: Reuters





Desa mandiri energi pertama dunia (world first self-sufficient energy village)

14 05 2008

Donggwang barangkali adalah desa paling ramah lingkungan se dunia. Desa yang terletak di pulau Jeju-do, pulau terbesar di kawasan selatan Korea Selatan, ini telah berhasil menjadi desa mandiri energi pertama di dunia.

Panel surya di salah satu rumah di desa mandiri Donggwang, pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: www.enn.com)

Di desa pulau beriklim semi-tropis ini benar-benar hanya menggantungkan kebutuhan energi listriknya dari energi matahari. Di setiap atap 40 rumah dan sekolah di Donggwang terdapat panel-panel surya berukuran besar. Dengan memanfaatkan teknologi ini seluruh penduduk dapat menikmati listrik gratis setiap hari. Setiap rumah memiliki kapasitas panel surya berbeda. Choo Chan Lee misalnya, memasang system dengan kapasitas 2100 Watt.

Donggwang, desa mandiri energy di pulau Jeju-do, Korea Selatan (Foto: ecoworldly)

Program ini dibangun tahun 2004. Ketika itu pemerintah membantu biaya pemasangan sebesar 70%. Masyarakay Jeju sangat menikmati pulau mereka yang berudara bersih dan segar.





Seni Energi Surya (The Art of Solar Power)

14 05 2008

Di tangan para arsitek, panel-panel surya bisa dibikin artistic. Sebuah konsep dari ZM Architecture, perusahaan yang berbasis di Glasgow, baru-baru ini memenangkan kompetisi International Design Awards (IDA) Land and Sea Competition. Perusahaan ini mendisain panel-panel surya dengan mengambil bentuk bunga teratai, bunga mengambang yang banyak ditemukan di River Clyde, Glasgow.

Lembaran panel-panel surya berbentuk bunga teratai di permukaan sungai River Clyde, Glasgow (Foto: BBC London)

Bunga teratai mengambang di permukaan sungai (Foto: nathanfarb)

Di dalam proposal yang sudah disetujui pemerintah Glasgow tersebut dikatakan bahwa desain mereka dimaksudkan supaya panel-panel surya tersebut membaur dengan kondisi alami sungai Clyde.

Listrik yang dihasilkan oleh panel-panel surya yang tiangnya dipancangkan ke dasar sungai tersebut diekspor ke jaringan listrik nasional. Supaya “bunga-bunga teratai” dapat bergerak mengikuti arah matahari, akan dipasang motor-motor listrik.

Sebelum ini solar sel sudah digunakan untuk memperindah taman. Jika anda punya kolam kecil di taman rumah, anda bisa memasang air mancur mengunakan solar sel berbentuk bunga teratai. Energi listrik yang dihasilkan solar sel bunga teratai ini akan disimpan ke baterai yang menggerakkan pumpa air.

Air mancur mini menggunakan solar sel bunga teratai (Foto: earthwhile)

Solar set bunga teratai yang berukuran 9 inci x 3 inci ini dapat memancarkan air setinggi 18 inci. Jika pada kolam dipasang cukup banyak air mancur mini, maka kolam anda akan bertambah indah. Yang juga menarik, anda bisa punya air mancur sepanjang hari tanpa membebani rekening listrik anda.





Foto lingkungan terbaru (newest environment picture)

14 05 2008

Di kala kita masih bisa bermandikan air, sesungguhnya tidak sedikit saudara kita di belahan dunia lain yang rindu mandi air.

Pada “Hari Bumi” 22 April 2008 seorang pria mandi di sungai kering dan kotor di kota Matagalpa city, 150 km utara Managua, Nicaragua, (Foto: reuters)





Solusi berlabel Haram? (Anathema-labelled solution?)

14 05 2008

Oleh: Kunaifi

(Ditulis atas permintaan Tabloid Teraju)

Tidak mudah menjawab pertanyaan apakah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) solusi bijak persoalan listrik Indonesia? Adalah fakta bahwa sepertiga penduduk belum pernah menikmati listrik. Selain itu, pertumbuhan ekonomi cenderung bagus, jumlah penduduk bertambah, dan krisis energi tak kunjung menemukan solusi. Semua itu mengarah satu kesimpulan tegas, bahwa kita perlu pembangkit listrik kapasitas besar, dan segera. Tidak dapat dibantah, bahwa teknologi PLTN tersedia kapanpun dibutuhkan untuk mengatasi masalah itu. Alasan lain mengembangkan PLTN, teknologi ini bebas emisi karbon, serasi upaya dunia memerangi pemasan global. Maka bukan hanya Indonesia, sederet negara lain siap mengembangkan PLTN seperti Argentina, Bulgaria, Mesir, Rumania, Afrika Selatan dan Vietnam. Negara-negara yang sudah duluan, seperti Kanada, China, India, Jepang, Rusia, Amerika dan Korea berminat menambah kapasitas PLTN mereka.

Setelah terhenti sekitar empat puluh tahun, pembangunan PLTN di Semenanjung Muria kemungkinan dimulai 2010 dengan target operasi enam tahun kemudian. Empat pembangkit berkapasitas total empat ribu Megawatt listrik (MWe) atau 35 kali lebih besar dari PLTA Koto Panjang akan menopang pasokan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali) sekitar 14 persen. Pro dan kontra mengemuka menyusul rencana ‘sensitif’ ini. Beberapa kali terjadi demonstrasi masyarakat Jepara menentang rencana pembangunan PLTN di wilayah mereka. Bahkan MUI Jawa Tengah mengeluarkan fatwa haram untuk PLTN. Pada artikel ini akan dikemukakan beberapa alasan mengapa banyak orang menentang PLTN.

Pertama, pada tahun 1986 terjadi kebocoran pada reaktor PLTN Chernobyl, Rusia. Apa akibatnya? William Sweet dalam buku Kicking the Carbon Habit mengutip temuan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) yang mengkaji masalah ini. Menurut IAEA, lima puluh orang tewas akibat radiasi tinggi setelah kecelakaan. Lalu, sekitar dua ribu kasus kanker Thyroid yang disebabkan iodine radioaktif berujung sembilan orang mati. Secara total, empat ribu manusia mati dapat dialamatkan pada kecelakaan PLTN Chernobyl. Bukan hanya itu, setelah duapuluh tahun kecelakaan, kini lima juta orang hidup di zona terkontamiasi. “Biaya ekonomi dari peristiwa ini tak dapat diperkirakan,“ kata Sweet.

Reaktor Chernobyl nomor 4 setelah kecelakaan (Foro: Answers.com)

Para pendukung PLTN mengemukakan statistik bahwa korban tewas akibat PLTN jauh lebih sedikit dibanding akibat pembangkit konvensional. Barangkali tidak ada yang salah pada klaim ini. Tapi, kelompok yang menolak PLTN mengatakan bahwa kecelakaan di pembangkit konvensional hanya menimbulkan efek pada kawasan terbatas. Jika waduk PLTA runtuh, misalnya, maka penduduk pinggir sungai di hilir waduk mungkin menjadi korban, lalu selesai. Tapi, jika reaktor PLTN Muria bocor, maka radiasi akan merambat di udara, menyebar ke mana-mana, hingga dapur rumah warga Jepara. Balanov, peneliti di IAEA mengatakan, kecelakaan Chernobyl, misalnya, melepaskan radioaktif ke udara mencakup beberapa negara Eropa terutama Belarus, Ukraina dan Rusia dengan luas lebih dari 200 ribu kilometer persegi, sekitar satu setengah kali luas pulau Jawa yang tahun 2005 berpenduduk sekitar 130 juta jiwa.

Peta level radiasi tahun 1996 - 10 tahun setelah kecelakaan (Foto:Wikimedia)

Kedua, persoalan sosial yang mengiringi pembangunan PLTN adalah fakta yang mesti diperhitungkan. Unjuk rasa masyarakat Jawa Tengah membuktikan bahwa megaproyek ini bermasalah dari sudut pandang sosial. Pendukung nuklir mengatakan, penolakan itu disebabkan warga belum paham manfaat dan keamanan nuklir. Sehingga, dengan sosialisasi lebih gencar, masyarakat akan menerima. Belum tentu! Ambil contoh. Sebuah survey di Nevada menyimpulkan, tujuh puluh persen responden menolak kawasan Yucca Mountain dijadikan tempat menyimpan limbah nuklir. Warga Nevada tidak awam tentang PLTN, sebab Amerika Serikat mengembangkan teknologi ini sejak puluhan tahun lalu.

Para ilmuwan tidak berhenti meneliti guna menghasilkan nuklir yang aman. Kini, tingkat kecemasan terhadap kecelakaan reaktor (termasuk jika diserang teroris) semakin menurun. Bahkan, dengan mengganti teknologi fisi menjadi fusi, keamanan PLTN diperkirakan meningkat tajam. Namun, ada persoalan lain yang belum ada jawabannya, yaitu limbah nuklir.

Limbah nuklir, dalam pandangan saya, adalah ‘senjata’ utama kelompok yang menolak PLTN. William Tester dan kawan-kawan di Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengatakan, hingga kini belum satu pun negara, termasuk negara nuklir utama (USA, Perancis, Jepang) yang mengantongi lisensi sebagai bukti bahwa mereka bisa menyimpan limbah nuklir secara aman. Padahal, HLW (High Level Wastes), yang merupakan limbah utama PLTN harus dikubur jauh-jauh di kawasan terpencil dan dijaga superketat. Sifat racun HLW bertahan selama ribuan tahun, walaupun setelah seribu tahun racunnya berkurang drastis. Tapi seribu tahun bukanlah waktu yang pendek jika digunakan memelihara racun.

Riset mengenai pembuangan limbah yang lebih aman juga terus dilakukan. Namun ada beberapa masalah yang masih menggantung. Antara lain, bagaimana kalau air tanah masuk lalu mengoksidasi pelindung limbah, sehingga air terkontaminasi, naik ke permukaan tanah dan dikonsumsi manusia? Atau bagaimana kalau terjadi getaran kulit bumi di lokasi penyimpanan sebagaimana sejak dulu membuat pusing Jepang? Jawaban masalah ini sesungguhnya gampang, yaitu dengan membuat fasilitas penyimpanan yang tidak memungkinkan kedua hal itu terjadi. Betul. Tapi siapa yang mampu membayar? Biayanya terlalu tinggi.

Drum limbah nuklir mengalami pelapukan di bawah laut (Foto:BBC London)

Ketersediaan lokasi penyimpanan limbah juga masalah besar. Sebagai contoh, awalnya lokasi pembuangan Yucca  Mountain adalah harapan besar. Karena, menurut Peter Beck di jurnal Anual Energy Review, sebelum lokasi Yucca ditemukan di Nevada, pencarian telah dilakukan selama 15 tahun di berbagai negara, tapi tidak ada tempat cocok. Biaya total juga tak tanggung-tanggung, sekitar 40 miliar dolar (setara Rp. 400.000.000.000.000), sama dengan 80 persen APBN Indonesia, hanya untuk satu lokasi penyimpanan. Ternyata, dengan uang dan usaha sebesar itu, Yucca hanya bisa menampung limbah 70 ribu ton. Sedangkan tahun 1999 saja, limbah nuklir dunia menurut IAEA 220.000 ton, dan terus meningkat karena dimana-mana orang ‘terjangkit demam PLTN.’ Memang, dengan teknologi terbaru, sekitar 30% limbah bisa didaur ulang. Tapi masih terlalu banyak yang tidak dapat di daur ulang.

Artinya, pertumbuhan PLTN terlalu cepat dibandingkan pertumbuhan tempat menyimpan limbahnya. Hal tersebut dikhawatirkan menjadi masalah baru, yakni perang. Negara-negara kuat, ketika kesulitan mencari tempat di negara sendiri, mungkin saja menaklukkan negara lemah untuk dijadikan tempat membuang limbah. Sebagaimana kini ada negara ditaklukkan negara lain, disinyalir karena minyak. Walhasil, PLTN yang awalnya bertujuan damai, bisa punya efek bawaan yang tidak damai, yaitu perang. Akan semakin bahaya jika perang tersebut menggunakan nuklir sebagai senjata. Karena menurut Matthew Bunn, fasilitas PLTN dengan gampang bisa dimodifikasi untuk memproduksi senjata nuklir. Sehingga, jika pemerintah Indonesia sering mengatakan bahwa PLTN tidak sama dengan bom nuklir, saya justru ingin mengatakan, politik dan ekonomi bisa membuat PLTN menjadi bom nuklir.

Perlu juga dipahami, bahwa nuklir tidak termasuk energi terbarukan, walaupun Menristek Suyanto Kadiman selalu mengklasifikasi nuklir sebagai energi terbarukan. Menurut International Energy Agency (IEA), cadangan uranium dunia, sebagai bahan bakar nuklir, hanya berkisar 85 - 100 tahun lagi. Alias, “bersenang-senang 100 tahun, bersakit-sakit ribuan tahun dengan limbahnya.”

Jika memang setelah 100 tahun dunia kehabisan uranium, maka limbah nuklir benar-benar masalah besar. Karena, PLTN dimana-mana sudah ditutup karena kehabisan bahan bakar, tapi limbahnya masih harus dipelihara, secara sangat hati-hati dan biaya tinggi. Padahal, seratus tahun kedepan, mungkin saja generasi saat itu sudah menemukan sumber energi lain yang lebih baik, sebab kini riset ke arah itu sudah menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Jika hal itu terjadi, generasi saat itu akan makin makan hati. Mengutip Kahlil Gibran, “anak cucu tak kan sudi mengakui kita sebagai nenek moyangnya,” karena kita mewariskan racun pada mereka. Seolah kita lupa, generasi terdahulu tidak mewariskan masalah apapun pada generasi kita sekarang.

Adakah negara nuklir yang beralih ke energi lain? Ada. Sebagai contoh, Jerman segera menghentikan proyek nuklir. Tidak ada pembangunan reaktor baru, tidak ada impor uranium. Sebagai gantinya, Jerman mengambangkan tenaga angin. Sedangkan Swedia mengganti semua PLTN dengan biomas rendah karbon. Austria juga sudah memadamkan semua PLTN miliknya.

Turbin angin milik Siemens di Mecklenburg-Vorpommern, German (Foto: Siemens)

Sebagai kesimpulan, ide membangun PLTN Muria memang bisa menjadi solusi manjur bagi persoalan energi nasional. Namun demikian, untuk jangka panjang teknologi ini tidak bisa diandalkan. PLTN membawa dampak mengerikan bagi generasi nanti, saat kita sudah di dalam tanah, setelah kenyang menikmati hasil nuklir kita selama seratus tahun.***





Lingkungan, Energi, dan Sains

9 05 2008

Halaman ini adalah pintu masuk ke sebuah wilayah luas yang kini banyak diperbincangkan. Selain tuntutan profesi dan ketertarikan, tema-tema yang diusung pada bagian ini saya kemukakan sebagai bagian penting sehubungan hajat hidup orang banyak. Cakupan tema yang luas mulai dari isu climate change hingga kebijakan energi mudah-mudahan dapat memuaskan rasa ingin tahu anda.

Pemakaian energi fosil secara berlebihan telah membawa umat manusia pada persoalan lingkungan serius. Dua metode yang dipercaya sebagai solusi persoalan kemanusiaan ini adalah pengembangan energi alternatif dan efisiensi energi. Beberapa jenis energi alternatif yang dibahas pada blog ini mencakup bio-energy, fuel cell dan hidrogen, tenaga air, angin, laut, matahari, dan panas bumi.

Selain itu, di sini anda juga akan menemukan informasi umum mengenai energi dan sains umum, termasuk foto-foto lingkungan hidup terbaru yang menggambarkan bahwa alam ini benar-benar dalam bahaya.

Semoga bermanfaat.

0082.jpg





Al-Qur’an di Halaman Web

9 05 2008

Di halaman web di bawah ini, semua ayat Al-qur’an dapat dibaca. Ditulis dalam bahasa Arab dan terjemahan bahasa Inggris. Ayat atau terjemahan bisa di-play, didengarkan dan diresapi maknanya.

Thx to those who provide the site.

http://www.quranexp lorer.com/